Jagung Bose: [BukanLagi] Makanan Orang Timor
Jagung bose. Uhm, kalau kau orang timor, itu makanan yang bikin bosan. Namun karena malu dibilang kurang menghargai budaya akhirnya kau ikut-ikutan memujinya sebagai salah satu makanan terlezat di … dunia (mungkin!).
Saya baru googling dan menemukan begitu banyak pujian terhadap makanan jagung bose. Sayangnya, jagung bose yang dicicipi oleh pengagum kuliner orang timor itu di dapat dari restoran mahal. Sepiring bisa seratus ribu. Ngga percaya? Boleh karena saya khan hanya mengira-ngira. Saya tak pernah pesan jagung bose kalau mau makan di resto atau pokoknya tempat jualan makanan apapun namanya. Bosan. Itu saja alasannya.
Lho, lantas kenapa masih mau juga menulis tentang jagung bose kalau memang bosan? Nah itu juga yang mau saya tanyakan. Kenapa saya mau menulis juga tentang jagung bose. Sudahlah sebelum menjawab pertanyaan itu, kita lia-lia dulu *pake dialek Bugis di pasar* apa itu jagung bose [JB].
JB itu jenis masakan dari jagung yang dikelupas kulit arinya menjadi bubur dengan campuran kacang-kacangan dan sayur-sayuran. Makannya tak perlu pake sayur, toh sudah tercampur sayuran hijau. Proses mengelupas kulit arinya itu yang makan waktu. Mula-mula jagung diturunkan dari lumbung, dibuka kulitnya, lantas diluruh (apa ya istilah bahasa Indonesianya? dipipil? Oia!) lalu dimasukkan ke dalam lesung dan ditumbuk.
Untuk mempercepat proses pengelupasan kulit, biji-biji jagung itu diberi sedikit air dan kadang tambah kapur. Setelah menumbuk sekitar limabelas menit, [ternyata ada folksong khusus pengiring irama tumbukan ini. lain kali aku posting juga] jagung yang sudah terkelupas itu dikeluarkan ke nampan. Proses berikutnya memisahkan jagung dari kulit arinya, orang menyebut tindakan ini: menapis.
Baru sesudah itu jagung siap untuk dimasak menjadi bose.

Ini jagung bose racikan chef profesional dari resto. Dijamin orang timor akan merasa asing dengan masakan ini!
Ada beragam resep memasak jagung bose ini. Yang kau temui di resto itu pasti yang paling sempurna. Yang paling sederhana: beras jagung tadi dicampur dengan air lalu dididihkan hingga melunak. Boleh berkuah, boleh sedikit garing. tingkat berikutnya dicampur dengan kacang-kacangan: kacang hijau, kacang tanah, kacang tali, kacang panjang, kacang turis. Salah satu atau campuran dari beberapa kacang itu, boleh. Bisa lagi ditambah sayuran: bayam, daun pepaya, buah pepaya, bunga pepaya, batang pepaya,,,ups batang dan akar tentu tidak. [tapi rupanya pepaya juga punya tempat khusus dalam kuliner orang timor!].
Cara lain lagi dimasak pake santan. Tapi ini cukup mewah. Satu tingkat dibawah kuah bersantan ini, adalah dicampur dengan parutan kelapa. Wah rasanya pasti rame. Tergantung dari variasi campurannya, rasa jagung bose tentu saja berbeda-beda. Nah, silakan bereksplorasi sendiri: tambah jahe, gula air, atau masako, terserah Anda. Orang Romawi bilang “de gustibus est non disputandum” [cieeeh!]
Oya, sebenarnya jagung bose itu salah satu dari beberapa cara tradisional pengolahan jagung versi orang timor dan sekitarnya. Ada juga yang namanya jagung ketemak. Kalau yang ini, jagungnya tak perlu dikelupas kuit arinya. Dan kuahnya lebih banyak, serta bercitarasa mirip sop. Atau seperti itulah. Lain lagi jagung titi. Nah ada perbedaan jagung titi timor dengan jagung titi flores timur. Di flores timur jagung titi ADALAH butir-butir jagung yang dipaksa gepeng dan lebih untuk keperluan ngemil. di timor jagung titi itu butir-butir jagung dihaluskan hingga sekecil butir-butir beras. Dan dimasak seperti orang menanak nasi. Tapi tetap saja kau bisa kreatif dengan menambah [lagi-lagi] kacang dan sayuran di dalamnya. Bisa nasijagung garing, atau buburjagung.
Kalau jagung muda lebih untuk kepentingan rekreasional. Semacam snack atawa ngemil. Sungguh menyenangkan dulu sewaktu kecil, memegang rebusan jagung dengan colokan kayu sebagai pegangan karena jagungnya masih panas. Hmm mirip orang makan lolipop. Bedanya, lolipop kecil dan bisa dikulum. Kalau jagung rebus ini mah, paling dijilat-jilat kalau kau enggan menggigit, he he.
Dengan semakin majunya perkembangan zaman, masakan merepotkan itu mulai ditinggalkan. Terutama yang di kota, buat apa repot-repot memasak jagung bose kalau beraspadinya cukup dengan sekali colokan langsung jadi nasi? Toh kalau kangen dengan jagung bose, tinggal pesan ke resto. Cepat saji!
Kembali ke kampung halaman pun sulit mendapatkan jagung bose lagi. Ketika orang kampung gagal panen, mereka dibantu dengan beras. Maka mereka pun berlomba-lomba makan nasi, walau sebenarnya bubur atau matang sebelah. Tak biasa menanak nasi soalnya… he he.
Yuk buruan pesan jagung bose, di resto terdekat!
*Gambarnya ga dapat, soalnya sulit cari jagung bose di rumah-rumah sekarang!
Hijau Daun di Jalan Piet A Tallo
Sepanjang jalan Piet A Tallo di bilangan Liliba-Oesapa Kupang, sejauh mata memandang adalah hamparan kehijauan. Segar. Dan itu mungkin terjadi hanya di bulan-bulan basah, ketika hujan sedang menggandrungi tanah tandus kota karang. Sepanjang jalan yang sebagian besar masih berupa hamparan lahan kosong ini, terlihat hijau dedauanan gamalina dan rerumputan di sela-sela pohon bidara dan lontar. Dari arah Jembatan Liliba, jembatan yang menjadi saksi bisu sekian pelaku bunuh diri ini, kau bisa menyaksikan betapa hijau dan asrinya kota Kupang, di musim penghujan.
Jalan raya dua jalur itu penuh dengan tetumbuhan. Pada bagian tengah terdapat berbagai pohon yang dengan telaten dirawat oleh kelompok kerja dari berbagai instansi di kotaKupang/Provinsi NTT. Kini pohon-pohon itu sudah rimbun dan bertambah tinggi subur.
Sudah selayaknya jalan Piet A Tallo di tata sedemikian asri sebab bersama-sama dengan jalan Adi Sucipto, kedua jalan ini merupakan pintu masuk ke kota Kupang. Kedua jalan raya ini menghubungkan Bandara kebanggaan orang NTT dengan ibukota [juga kebanggaan] Kupang.
Jalan ini bisa ditempuh selama limabelas menit berkendara dan percayalah bila kau datang di bulan musim penghujan seperti ini, matamu akan begitu dimanja, teranja-anja. Akan tetapi kalau kau memilih datang di musim kemarau, kasihan, bisa-bisa menjelang saat landing, Anda langsung membatalkan niat untuk datang ke kota Kupang.
Situasi di musim kemarau sepanjang jalan ini adalah, kalau kau beruntung, bisa melihat jilatan kobaran api pada rerumputan dengan asap menebal, dan ditonton orang yang kelihatan asyik menikmati. Karang-karang mencuat, seolah hendak mencakar tubuhmu. Sementara dari atas bahang matahari, seolah hendak menjadikan kau daging sei, seperti se’i babi kebanggaan [juga] orang Kupang.
Bakar-membakar belukar adalah ciri khas orang TImor, yang konon, merupakan bagian dari budaya. Untuk memnyongsong musim penghujan, yang dilakukan para petani di ladang mereka adalah membakar segala sisa tanaman musim lalu sebagai persiapan untuk memasuki musim tanam yang baru. Ada kepercayaan bahwa kehidupan berasal dari perkawinan antara panas dari bumi (api) dan dingin dari langit (hujan). Maka tak heran kalau dengan segala cara, segala macam sanksi bagi yang terbukti melakukan pembakaran belukar di kota kupang dan sekitarnya, toh, tak membuat para tangan-tangan iseng menjadi jera. Panas dan dingin itu salah satu bentuk dualitas orang Timor. Nah, ujung-ujungnya: ada kehijauan yang asri di musim tertentu dan kebalikan 180 derajat di musim berikutnya.
Begitulah kira-kira alam pikiran orang TImor. He he he!



