SABINA KUEGLER: ANTARAJERMAN DAN PAPUA

Satu lagi oleh-oleh tentang Papua. Tanah berbentuk  badan dinosaurus di sebelah timur Indonesia itu, punya daya tarik tersendiri (sekurang-kurangnya bagi saya!).  Minggu lalu ketika sedang sibuk-sibuknya mengerjakan rehab gedung kantor, saya menemukan seorang teman sedang asyik membaca sebuah novel.  Karena tahu saya juga doyan melahap novel, teman itu lantas menawarkan buku itu kepada saya. Darah saya lantas mendidih begitu membaca kata Papua. Kenapa? Saya pernah menuliskannya di sini. Maka jadilah, buku itu beralih sementara ke tangan saya sampai semua kata-kata di dalamnya dilahap habis.

Sabine Kuegler, (situs Sabine dalam Bahasa Jerman ada di link ini) menuliskan memoarnya sebagai anak seorang antropolog dan linguis asal Hamburg – yang tinggal bersama Suku Fayu di pedalaman Papua. Memoar itu berjudul Jungle Child (2005) ditulis dalam bahasa Jerman dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris (2007). edisi Bahasa Indonesia  diterjemahkan dari Bahasa Jerman oleh Dian Pertiwi dan diterbitkan oleh Penerbit Erlangga tahun 2006.

Sabine Kuegler with Fay children

Sabine masih berusia 7 tahun ketika ia beserta Judith (kakaknya) dan Christian (adiknya) harus tinggal di antara Suku Fayu, tempat kedua orang tuanya mempelajari bahasa dan budaya masyarakat setempat. Klaus & Doris Kuegler, orang tua Sabine, adalah seorang misionaris yang dikirim ke daerah-daerah tertinggal. Sebelum dikirim ke Papua, mereka telah tinggal beberapa tahun di Nepal. Di sana pula Sabine dilahirkan hingga usia sekitar 3 tahun.

Selama 10 tahun tinggal di antara orang Fayu, Sabine pun tumbuh menjadi layaknya anak-anak Papua yang menyatu dengan alam. Berburu dengan busur dan anak panah, memakan segala macam binatang yang bisa dimakan: babi, ikan, daging buaya, sayap kelelawar, hingga cacing panggang. Dan beradaptasi dengan budaya setempat. Nilai-nilai yang tertanam dalam diri Sabine adalah nilai-nilai budaya Fayu, bukan budaya Eropa meski ia warga negara Jerman.

Gegar budaya pun menjadi penderitaan batin yang hebat bagi Sabine, ketika orang tuanya mengirim Sabine ke Swiss, melanjutkan sekolah dan tinggal di asrama Montreux, Zurich.

“Awal Oktober 1989. Usiaku tujuh belas tahun. Pakaian yang kukenakan adalah pemberian orang, celana kedodoran berwarna gelap, baju hangat bergaris, dan sepatu berleher tinggi yang menjepit kaki. Aku hampir tidak pernah mengenakan sepatu sebelumnya, jadi rasa sakit ini asing bagiku….” (hal. 13) demikian Sabine mengawali memoarnya saat menginjak stasiun kereta api Hamburg yang asing baginya. “Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berhadap-hadapan dengan kereta api sungguhan….Apa yang harus kulakukan, dorong atau tarik?…” tulisnya.

Sabine Kuegler with a Fayu warrior

Hari pertamanya menginjak Eropa diwarnai dengan ketakutan pada dunia Barat yang membuatnya ngeri, yang begitu berbeda dengan kehidupan di hutan. Semua kisah mengerikan tentang bahaya di dunia modern yang pernah didengarnya, tiba-tiba dirasakannya begitu nyata. “Bagaimana aku harus melindungi diri? Aku tak membawa busur dan anak panah, atau bahkan sebilah pisau.” (hal 17).

Begitulah, Sabine yang sejak kecil tumbuh bersama alam di lebatnya hutan Papua, harus beradaptasi lagi sebagai orang Eropa, tanah para leluhurnya. Bukan sesuatu yang mudah bagi Sabine, karena ia merasa hutanlah kampung halamannya dan tempat di mana jiwanya merasa nyaman. Ia bahkan pernah berusaha bunuh diri, melukai tubuhnya berulang-ulang dengan silet (hal. 362) demi mengalihkan kepedihan emosinya. Sabine merasa seakan hidup di dua dunia. Dan ia selalu ingin kembali ke hutan, ke Papua.

Dengan menuliskan kisahnya dalam Jungle Child, Sabine berusaha mengobati kerinduannya pada “kampung halaman”-nya, Papua.

Novel ini telah diangkat menjadi Film Jerman Dshungelkind Februari 2011. Lokasi syuting di Taman Nasional Malaysia, dengan mendatangkan pemain dari Papua Nugini. Para pemain dari Papua ini mesti dilatih sedikit untuk mengenal tarian suku Fayu dan beberapa kosakata suku Fayu.

About these ads

About Patris Allegro

native Timorese, clasiccal-music lover, existensialist on the street....

Posted on Agustus 30, 2011, in Kisah Nyata, Refleksi and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Shitmen System

Ata pupu ta'an to'u. Iki lewo soga tana

Benyamin Lakitan

Research, Technology, and Innovation +Photography

FORESTER'S BLOG

JALAN - JALAN DI HUTAN

Nona's Life Journal

Smile, what's the used of crying?

ariesadhar.com

sebuah perspektif sederhana...

Matt Thomas Photography

Personal photographic website/blog looking at Action Sports, Portraiture, Landscape and Travel photography

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Seneng Utami

Kekuatan dalam Kesederhanaan

Yuki Hikaru

just another wordpress site

PERCETAKAN CV. NADA GROUP - JAKARTA

Percetakan | Komputer | Desain Grafis | Foto Copy | ATK | Penjilidan Dll Open 24 Jam Nonstop

Duniaku

You Can Do More Than You Can Imagine

senibenni

berkarya dalam bentuk rupa

@NotedCupu Mahasiswa "Imigran"

Terkadang Pemikir, Terkadang Gak, Terkadang Edan | #NotedCupu

KEMBARA KEHIDUPAN SEORANG THEOFILUS NATUMNEA

"Melayani dengan Setulus Hati"

Return to Rai Ketak

Ruminations on Timor my (once) island home

ManaShines

Sharing Ideas about Anything,..

Dg Situru'

catatan refleksi & pemikiran

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.373 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: