DANSA TIMOR: JANGAN DIPANDANG SEBELAH MATA

Minggu sore, 25 September 2011. Lalulintas di jalan timor raya sedang meningkat. Udara panas mengalir dari punggung perbukitan Tilong menuju teluk Kupang, menghempaskan debu dan dedauanan kering. Aku sedang melaju menuju Taklale Oesao- Kupang Timur.

Kostum penari "dansa asli" likurai

Di depan gereja sudah banyak orang berkumpul. Warga paroki Santa Maria Fatima taklale hari ini menyambut kedatangan seorang imam baru di antara mereka, RD Krisantus Andi Luan. Berdiri kelompok paling depan di gerbang masuk gereja , ibu-ibu berpakaian sarung dan kebaya merah muda dengan hiasan bulu ayam di kepala, (tak sempat kutanya apa namanya). Mereka memegang gendang dan memukul dengan irama yang lain dari irama likurai besikama yang kukenal selama ini. Berbeda dengan likurai belu, irama ini lebih kompleks. Ada beberapa ragam. Dan mereka pada kesempatan ini Cuma menampilkan satu ragam untuk mengiringi sebuah lagu yang digubah khusus dalam bahasa Indonesia untuk menyambut sang imam baru. Oya, mereka menamakan diri kelompok likurai dari (eks-kabupaten) Baucau.

Menyongsong kedatangan Imam Baru, dengan "dansa" Likurai

Sepuluh meter berikutnya, ada kelompok lain lagi. Mereka juga menyebut diri mereka kelompok likurai. Tapi gaya memukul kendang mereka jauh berbeda dari yang pertama. Bukan itu saja, pakaian dan hiasan yang mereka gunakan juga lain sama sekali. Kelompok kedua ini memakai sarung tanpa kebaya, dengan kalung muti dan bundaran perak sebesar  piring kecil pada leher mereka. Ini kelompok likurai dari Ex kabupaten Viqueque.

Suasana penyambutan imam baru sore itu kental sekali dengan budaya dan tradisi timor leste, yang mendapat pengaruh besar sekali dari bangsa portugis. Ingat kan, Gereja Taklale dikenal sebagai Gerejanya Eks Pengungsi Timor Timur.

Acara-acara yang ditampilkan pada saat ramah tamah pun adalah tarian-tarian folklore dari timor leste. Penarinya adalah muda-mudi, yang mungkin saja lahir di Timor leste tapi besar di lingkungan timor barat. Namun mereka berhasil menampilkan  beberapa tarian khas timor leste dengan baik.

Nampaknya pengaruh budaya portugis sangat kuat melekat dalam budaya orang-orang bagian Timur ini. Tarian likurai, yang di Timor Barat sudah mulai ditarikan oleh anak-anak sekolah, di Timor Timur justru dianggap tarian orang tua. Tariannya orang muda adalah folklore, mirip dengan tarian rakyat Portugal. Pria dan wanita berpasangan, menari berjinjit, sesekali bergandengan. Pakaian yang dikenakan juga adalah celana dan topi ala cowboy untuk pria dan rok payung untuk wanita dengan tutup kepala dari kain warna-warni.

Menarik sekali, bahwa anak-anak remaja yang meski besar di luar lingkungan Timor Timur, lincah sekali melakukan gerakan-gerakan folklore ini.

Satu hal yang bisa diperhatikan dalam tarian folklore ini adalah pengungkapan kasat mata pada kesetaraan pria dan wanita. Semboyan revolusi perancis rupanya dibahasakan dengan tepat dalam tarian ala barat yang kini diakrabi orang-orang timor timur. Pria dan wanita melakukan gerakan yang berbeda namun tetap serasi, khas harmoni barat. Berbeda namun tetap serasi seperti ini sering disalahpahami oleh para pejuang gender kita. Mereka pikir kesetraan gender itu berarti menjadi satu saja.

Coba tengok tarian asli timor: bonet, bidu atau ma’ekat , likurai penarinya sejenis, dengan satu lain jenis sebagai penegas. Likurai ditarikan oleh beberapa wanita sambil memukul kendang, dan seorang lelaki sebagai “bintang’. Sementara tari perang dawan maekat, ditarikan oleh para lelaki, para wanita bertugas sebagai penabuh gong dan kendang. Bidu ditarikan oleh para wanita, dan giliran para lelaki memainkan alat music pengiring (feku, bijol dan pasa).  Pihak yang satu menjadi sekedar latar untuk yang lain. Untuk bonet biasanya campuran antara pria dan wanita dengan gerakan yang stabil, dan berulang-ulang dan massal. Siapapun bebas untuk terlibat atau tidak terlibat melakukan gerakan melingkar tersebut.  Kata orang, music timur itu “ada” sedangkan music barat itu “menjadi”. [saya juga kurang paham dengan “ada” dan “menjadi”].

Citarasa musical orang Portugal memang cukup dalam merasuki  citarasa musikal orang timor. Yang paling kasat mata adalah acara dansa yang selalu ada setiap ada perhelatan. Dan sebagai orang timor saya sangat berbangga. Pertemuan kebudayaan ini paling kurang telah memberi warna baru untuk tanah tercinta ini. Dansa-dansi yang selalu “sampai membangunkan matahari” adalah ajang belajar menjadi individu dan mengejar kesetaraan gender.  Dalam acara dansa misalnya, seorang lelaki tak kan bisa menari kalau tidak berani unjuk diri dihadapan seorang wanita. Ia harus berinisiatif mengajak seorang pasangan untuk mulai menari. Sementara, Tradisi orang timur? Tunggu titah Amaf .  Harus ada penyanyi utama yang bertugas mengajak orang lain dengan nyanyian untuk ikut menari bersama. Karena itu dikenal bentuk solo dan refrain dalam jai, gawi, bonet dan tebe.

Walaupun orang NTT seringkali membanggakan tariannya yang bersifat massal: ja’i. bonet, gawi, dll, rupanya kehadiran pengaruh portugis di tanah timor ini tak bisa dipandang sebelah mata. Ketika kita terlampau berkiblat pada segala yang bersifat massal maka individupun akan lenyap. Tak ada saya. Yang ada hanya kami. Ini berbahaya. Bisa kau bilang ekses, tapi sebenarnya bukan, karena ini berakar dari budaya kita. Sikap massal seperti ini biasanya dipandang sebelah positifnya sebagai kerjasama, sehati seperasaan, namun janganlah menutup mata terhadap sisi lainnya yang niscaya ada. Kita kehilangan individu. Sebenarnya individu inilah dasar yang kokoh untuk demokrasi. Bila tak ada individu jangan berharap demokrasi akan berjalan mulus. Musyawarah untuk mufakat hanya mungkin terjadi kalau setiap individu bebas menyatakan pendapatnya, tanpa terbelenggu oleh status sebagai bukan raja, bukan amaf, bukan ini, bukan itu, bukan meo, bukan pendatang, [dan pemergi] asli atau tidak asli. Buktikan sendiri, ini semua masih ada dalam keseharian kita, hingga ke meja-meja birokrasi. Tak heran NTT terus berjuang untuk minimal sampai ke garis kemiskinan (karena rupanya masih berada di bawahnya). Sementara hasil alamnya melimpah. Ironis khan? Lalu kita ramai-ramai menuding para pejabat. Siapakah para pejabat itu? Semacam dewakah?

Nah, kalau orang timor suka berdansa dari malam hingga matahari terbit, itulah pelajaran awal berdemokrasi yang baik. Kau setuju?

About these ads

About aklahat

native Timorese, clasiccal-music lover, existensialist on the street....

Posted on September 25, 2011, in Budaya and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Anisa Khumaira

Berbuat Lebih Baik

Twin Lover's World (Nora Panai)

Tidak Akan Ada Lagi Namamu Dalam Cerita

wisata dieng

Paradise of Indonesia

GAYO CREATIVE

Keramat Mupakat Behu Berdedale https://gayocreative.wordpress.com

Segores Tinta Coemi

Just everything about something unique, valuable, and wonderful

..just a journal of an ancient knowledge

xenology - astrology - meta science - ocultism - local wisdom

TISYA PUNYA

Apapun yang terjadi, Nikmatilah~~

DEEDEE

Love & Expression

VatiKos Theologie

Bible Theology Spirituality

ignatia esti sumarah

Just another WordPress.com weblog

For Christ and the Church

The official blog of Father Christopher Roberts

damdubidudam

setiap kata punya makna

mbojosouvenir™

SPESIALIS TEMPAT BIKIN JAKET, KAOS, HOODIE, VARSITY, CARDIGAN, BLAZER, KEMEJA, PIN, MUG UNTUK KELAS DAN ANGKATAN

mtmaulana

Positive Thinkring Positive Spirit

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Shitmen System

Ata pupu ta'an to'u. Iki lewo soga tana

Benyamin Lakitan

Research, Technology, and Innovation +Photography

FORESTER'S BLOG

JALAN - JALAN DI HUTAN

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.469 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: