Kota ATAMBUA, Mutiara dari Timur

Oleh Manuamanlakaan

Katedral Immaculata Atambua

Hingga akhir tahun 1977 sebenarnya pergolakan di Timor-Timur (sekarang Negara Timor Leste) masih panas. Di sana-sini masih terjadi perang sporadis antara tentara dan pasukan sukarela dari Indonesia dengan tentara Fretalin. Untuk masyarakat yang tinggal di sepanjang perbatasan kejadian itu bukanlah hal yang menyenangkan. Malam hari kadang mereka lewati tanpa tidur yang cukup. Mereka bisa saja diganggu „orang asing“ entah itu tentara Fretalin atau tentara Indonesia yang lagi kejar-mengejar. Kadang mereka menderita kehilangan binatang piaraan seperti sapi, kuda, kambing dan babi. Itu sudah dianggap hal yang lumrah. Kisah orang tuaku, suatu ketika mereka pun terpaksa mengungsi ke kota, karena daerah perbatasan sudah sangat rawan. Waktu itu mama saya sedang hamil berat. Mereka harus berjalan kaki sekitar 25KM menuju kota Atambua yang dianggap aman. Hanya seminggu sekembalinya dari tempat pengungsian, dia melahirkan kakaku, putra sulung dalam keluarga kami.


ATAMBUA kota di bagian paling timur dari Timor-Barat (Indo) ini adalah ibukota kabupaten Belu (Belu juga merupakan nama bekas propinsi Belu/Timor bagian Timur, ketika penjajah Portugis membagi pulau ini dalam dua Propinsi). Letak kota ini sangat sentral, persis di tengah tengah pulau Timor. Di bagian timur ada kota-kota seperti Maliana, Suai, Likisa, Ermera, dan Dili (semua itu sekarang masuk negara Timor Leste). Di bagian barat ada Kefemenanu, Oecuse, SoE, dan Kupang (selain Oecuse yang masuk TL, semuanya termasuk Atambua adalah bagian dar wilayah Indonesia). Ketika pergolakan di bekas Propinsi ke-27 itu terjadi lagi di tahun 1999, lagi-lagi Atambua menjadi tujuan utama para pengungsi korban pergulatan politik, saudara-saudaranya se-etnis, seperti yang sudah terjadi di tahun 1975.

Adalah seorang Belanda yang coba merangkum arti nama kota Atambua, dari sumber-sumber lisan yang didengarnya. Tuan Vrocklage melukiskan, di pinggir kali Talau, dekat titik batas antara wilayah kerajaan Lidak dan Fialaran, tapi masih di bagian wilayah Fialaran (di Fatubenao sakarang), di waktu dulu orang sering bertemu untuk untuk melakukan transaksi jual-beli budak. Boleh jadi budak-budak yang dibawa ke pasar tradisional ini kebanyakan adalah orang-orang yang dicap suangi atau tukang sihir. Budak-budak itu selain berasal dari Lidak, Naetimu, Mandeu, Fialaran, Lamaknen dan Maukatar kemungkinan didatangkan juga dari daerah-daerah di Timor bagian tengah seperti dari Biboki dan Insana, juga dari daerah selatan Belu dan dari Koa-Balibo. Kata bahasa Belu (Tetun) untuk suangi adalah buan dan untuk hamba adalah ata. Dari dua kata inilah kemudian muncul nama Atambua, yang berarti ‘hamba suangi’ atau ‘Hamba yang Suangi’. Pasar ini kemudian dipindahkan ke seberang sungai Talau (di pasar lama sekarang). Dari sini para budak tersebut dibawa dalam keadaan terikat/terbelenggu ke Atapupu, pelabuhan yang terdekat. Di sana para budak itu diikat di suatu tempat sambil menunggu kapal penjajah yang datang untuk memuat mereka. Dari sinilah asal nama Atapupu dari kata ata futu (Ata: hamba – pupu dari futu: ikat): tempat para hamba diikat.

Dari tahun 80-an kota ini juga dikenal sebagai kota pelajar. Banyak pelajar dari kota-kota tetangga yang datang menuntut ilmu di SMA-SMA di kota ini. Di sana ada sekolah-sekolah tua, misalnya SMAK Surya, SMA Bina Karya, SMEA-N, STM St. Joseph Nenuk, SMAN, SMA Seminari Lalian, ada SPK (sekarang AKPER), SMKK (sekolah menengah keterampilan Keluarga: untuk tata boga, menjahit, dsb). Bagian utara Belu sejak dulu sudah terbuka. Demikian juga pengaruh budaya asing sangat kental di daerah ini. Katakan saja dansa. Dulu pesta-pesta dirayakan dengan tarian adat seperti Likurai dan tebe. Tapi pengaruh barat yang dibawa penjajah Portugis maupun Belanda telah membuat tarian dansa ala barat lebih populer di daerah ini. Tiada pesta tanpa dansa – entah itu Walz, Salsa dan Ca-ca-ca dalam motif gerak lokal ataupun dansa TOMBAK yang sangat populer di sana.

Tahun 2001 aku tinggalkan kota kesayanganku ini – paling tidak untuk waktu yang agak lama. Sampai tahun 2004 paling tidak aku mengunjungi kota ini sekali setahun. Tapi menjelang akhir 2004 aku harus pergi untuk waktu yang lebih lama. Hidup di Eropa, mengalami bagaimana orang Eropa mencintai budaya dan tanah kelahiran mereka, membangkitkan hasratku untuk mencari identatasku termasuk untuk mencintai budayaku dan kota kota kesayanganku. Tahun 2008 ketika aku kembali lagi ke kota ini, sudah ada perkembangan yang sangat besar. Di sana-sini dibangun pertokoan dan perkantoran yang besar, kotanya sudah semakin luas, semakin ramai, dan juga terkesan semakin sibuk. Atambua juga kota ojek? Untuk NTT Ojek dimulai pertama dan dipopulerkan di Atambua, sehingga tidaklah heran bahwa di dalam kota ini jumlah sepeda motor hampir 5 kali lipat dari jumlah mobil angkutan umum.

Heee…… haaa….. sebenarnya masih banyak cerita lagi dari kota kecil di sentral Timor ini. Ada banyak hal yang patut diceritakan…. Tapi mungkin lebih baik sekali mengunjungi kota ini… banyak hal menarik…… di sana kita bisa bersama menyanyikan lagu KOLAM SUSU entah itu gubahan Koes Plus (lagu ini terinpirasi dari kunjungannya di Kota ini di tahun 70-an) lagu dari John Seme….

DI ATAMBUA…………..DI SANA MENTARI TERBENAM DARI TIMOR LORO SAE (TIMUR)…….DAN SEKALLIGUS TERBIT UNTUK TIMOR LORO MONU (BARAT).
Ket. Foto: 1. depan kantor Bupati Belu – Atambua 2. Gereja katederal Atmbua 3. di salah satu sudut kota Atambua
Salah satu sudut kota Atambua: foto flickr.com/photos/34732822@N02/3550587497/

Simpang lima Atambua: foto: atambua-ntt.go.id/images/pusatkota.JPG


Gedung DPRD Belu di Atambua, foto: lh6.ggpht.com/_BuGgj28vusk/RhrtcxQgXdI/ AAAAAAAAAHg/ IaAD6XVLG4U/dprd+atmb.JPG

About these ads

About Patris Allegro

native Timorese, clasiccal-music lover, existensialist on the street....

Posted on Oktober 17, 2011, in Budaya, wisata and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. terus berkarya lewat blognya pak,,,negri kita perlu diperkenalkan keluar. lewat hal positif yg diperbuat anak negri. salam

  2. Kalau atambua sejarahnya demikian tempat pembuangan dan perdagangan para budak suanggi, saat ini menjadi pembenaran diri jika terjadi hal-hal serupa, menjual rakyat kecil dan dieksploitasi untuk kepentingan mereka. Banyak warga lokal dan warga baru yang menderita. Setiap kunjungan para pejabat negara ke suatu tempat di wilayah belu khususnya atambua disulap elok permai, menyembunyikan kejelataan dan kemiskinan. Sering video dan power point yang putar oleh para pejabat daerah ini untuk pejabat negara berupa pertokoan tingkat dan bangunan pemerintah yang tingkat mentereng yang sebenarnya untuk orang jakarta itu pembangunannya tidak hebat seberapa. Mereka datang di Bel untuk melihat kemiskinan dan kemelaratan warga yang membuat mereka menderita. Nilai jual yang tinggi bagi pejabat negara bukan yang presentasi bangunan kosmetik-lipstik. Yun Koi Asa, aktivis pers dan pegiat LSM tinggal di Atapupu.

  3. sikap tegas utnuk berbela rasa dengan masyarakat yang menderita dan miskin. Belu saat ini, Be..be…Lu..lu
    salam dari Yun Koi Asa, bagi yang merusak Belu. Belu sesungguhnya berarti kita adalah saudara selalu dan selamanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

..just a journal of an ancient knowledge

xenology - astrology - meta science - ocultism - local wisdom

TISYA PUNYA

Apapun yang terjadi, Nikmatilah~~

DEEDEE

Love & Expression

VatiKos Theologie

Bible Theology Spirituality

ignatia esti sumarah

Just another WordPress.com weblog

For Christ and the Church

The official blog of Father Christopher Roberts

damdubidudam

setiap kata punya makna

mbojosouvenir™

SPESIALIS TEMPAT BIKIN JAKET, KAOS, HOODIE, VARSITY, CARDIGAN, BLAZER, KEMEJA, PIN, MUG UNTUK KELAS DAN ANGKATAN

mtmaulana

Positive Thinkring Positive Spirit

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Shitmen System

Ata pupu ta'an to'u. Iki lewo soga tana

Benyamin Lakitan

Research, Technology, and Innovation +Photography

FORESTER'S BLOG

JALAN - JALAN DI HUTAN

Nona's Life Journal

Smile, what's the used of crying?

ariesadhar.com

sebuah perspektif sederhana...

Matt Thomas Photography

Personal photographic website/blog looking at Action Sports, Portraiture, Landscape and Travel photography

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Seneng Utami

Kekuatan dalam Kesederhanaan

Yuki Hikaru

just another wordpress site

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.440 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: