Struktur Masyarakat Timor: Self Governing Masa Pra Kolonial-1500

Atoin Pah Meto, koleksi tropenmuseum

Struktur pemerintahan di Timor mengalami akulturasi (perkawinan) dengan budaya lain setelah abad 15. Sebelum itu, Timor sendiri sudah mempunyai adat-istiadat murni. Terbukanya Timor dengan dunia luar dimulai dengan perdagangan kayu cendana (Santalum album Linn). Leluhur mereka menyebut tanah Timor dengan sebutan ‘Hau Fo Meni’ atau disingkat dengan Haumeni’ yang artinya negeri berbau harum. Para pembelinya kayu Cendana kebanyakan berasal dari Bali, Jawa dan Sumatra. Demikian juga pada masa Timor dalam penguasaan Raja Majapahit, upeti yang diminta adalah berupa kayu cendana.

Pengaruh budaya Jawa dapat diketahui pada struktur pemerintahan adat. Misalnya dalam beberapa sebutan untuk tetua adat seperti istilah Usif, berasal dari sebutan bahasa Jawa yang artinya Gusti (tuan) yang telah mengalami perubahan fonetik maupun dialek bahasa. Kemudian istilah Temuku dari kata Tumenggung, dan sebutan Lopo yang berasal dari istilah Pelopor (Lopor). Namun demikian istilah ini tidak sampai menyusup ke pedalaman, dalam arti tidak sampai merombak struktur pemerintahan yang berlaku dalam masyarakat adat.

Dalam sejarah asal-usul penduduk di TTS ini dikompilasikan oleh hadirnya orang Negro Afrika dan India (yang waktu itu bertugas sebagai tentara Portugal). Kemudian masuknya orang-orang Cina serta beberapa orang Indonesia bagian Barat. Masuknya penduduk Indonesia di pojok tenggara Indonesia ini kemudian berbaur dengan kehadiran suku-suku sebelumnya. Percampuran ini menurut beberapa sumber dimulai dari Camplong. Daerah yang tidak jauh letaknya dari ibu kota pripinsi, Kupang.

Bagaimanapun kompleksnya penduduk yang mewarnai negeri Timor ini, namun  secara garis besar penduduk ini dapat di bagi dalam dua kelompok besar. Pertama, Orang Belu Timur, Bastian (l885) melihat bahwa  orang-orang ini menunjukkan persamaan dengan  penduduk barat dari kepulauan Melayu. Dalam perjalanan selanjutnya orang Belu menyebut dirinya  ‘Dawan’. Walaupun kata ini tidak pernah digunakan oleh mereka sendiri. Dawan sebenarnya adalah nama orang, yakni leluhur dari marga Sonba’i yang pertama.

Kedua, adalah orang Timor khusus pegunungan yang ada di bagian tengah dan darat dari kepulauan Timor. Catatan terakhir tentang tipe penduduk ini tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang ada di Irian. Lebih lanjut orang Timor khusus menyebut dirinya sebagai ‘Atoin meto’, orang Meto  menyebut orang Belu dengan sebutan Kaes Belus. Koetjoroningrat menuliskan bahwa ciri-ciri tubuh orang Atoni lebih banyak dipengaruhi unsur Melanesia, jika dibandingkan dengan penduduk Timor yang lain, kebanyakan bertubuh pendek, ukuran kepala brachcyeephal, berkulit cokelat kehitam-hitaman dan berambut keriting.[1] Sebutan ‘Atoin’ yang sebenarnya adalah untuk orang Meto, dan menurut orang Meto sebutan Atoni sangat kasar sekali dan tidak tepat artinya. Istilah Atoni sebenarnya berarti manusia. Sehingga sebutan Atoin Meto artinya adalah manusia Timor yang berdiam di Pegunungan. Karena itu orang Kupang menyebut mereka datang dari pedalaman atau disebut dengan ‘orang gunung’

Pola mata pencaharian yang selalu berpindah dalam bahasa Meto disebut ‘An fun ma an non, na bonet ma na bonat, nah mate ma niun mate’  artinya mengepung, mengelilingi, makan mentah dan minum mentah, didapat dari beberapa keterangan para Kan-Uf (marga) Bay di Fatumnasi, salah satu Kecamatan di Mollo Utara. Ungkapan diatas mempunyai pengertian bahwa mereka adalah kelompok masyarakat tertua di Mollo. Sebagain keturunan Bay yang lain berpindah dan bermukim di wilayah Lelogama, Kabupaten Kupang yang juga disebut dengan Bay-Uf.

Ume kbubu

Pola hidup yang berpindah, membuat mereka terbiasa hidup dalam gua-gua sekitar Mollo, Matis dan Babmi. Warisan ini pada akhirnya nampak dalam bentuk rumah adat mereka. Bentuknya bulat dengan rumbai sampai ke bawah. Karena itu ia dinamai ‘rumah bulat’ (umebubu/umekbubu). Rumah ini hanya mempunyai satu pintu dan rendah, suasana di dalamnya gelap, mirip dengan gua-gua yang biasanya mereka tempati.

Selain pola hidup nomaden, masyarakat TTS juga akrab dengan pola hidup di atas pohon, dihutan-hutan. Mereka yang menggunakan pola ini biasanya adalah mereka yang biasa berada di wilayah yang beriklim panas. Pilihan ini disebabkan karena kondisi lingkungan dimana banyak nyamuk yang sering menyerang. Pondok tempat bernaungpun dibuat berupa para-para di atas pepohonan yang tinggi dengan menggunakan daun Gawang atau daun Enau.

Warisan pola ini adalah bentuk rumah yang disebut ‘Neob’. Namun dalam perkembangannya kedatangan suku bangsa Barat membuat modifikasi baru dimana rumah-rumah yang berbentuk Neob dirubah menjadi ‘Lopo’. Istilah ini sebenarnya datang dari bahasa Melayu atau bahasa Jawa ‘Pendopo’ , namun menurut lafal orang Timor pengertian ini berubah menjadi ‘Panlopo’ yang kemudian disingkat dengan ‘Lopo’. Lopo bukan saja difungsikan dalam penerimaan tamu. Dalam perkembangan selanjutnya Lopo digunakan untuk acara pernikahan, dan berdiskusi. Disinilah awalnya Demokratisasi di tingkat masyarakat adat Timor terjadi. Dalam Lopo ini para laki-laki dan tetua adat melakukan diskusi untuk kesejahteraan masyarakat, termasuk menentukan aturan adat dan kesepakatan lain berkaitan dengan perselisihan antar suku maupun perebutan kekuasaan yang sangat sering terjadi waktu itu. Sayang Lopo hanya diperuntukkan untuk kaum laki-laki. Selain itu Lopo juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan senjata dan peralatan kesenian (gamelan).

Selanjutnya proses Lopo ini mengalami sedikit perubahan, disamping Lopo ada juga dikenal juga rumah belakang yang berfungsi sebagai gudang makanan, serta tempat menanak nasi. Jika Lopo merupakan metafora kaum laki-laki maka ‘Rumah Bulat’ diperuntukkan untuk wanita. Rumah Bulat wajib diberi dinding sedangkan Lopo tidak .

Kehidupan struktur masyarakat di Timor tidak jauh berbeda dengan masyarakat lain pada umumnya. Mereka mengenal juga tentang rule of law  atau norma-norma sosial yang mereka sepakati secara bersama-sama. Dalam komunitas masyarakat ini telah terjadi juga proses kontak dengan kebudayaan lain (diffussion). Sebenarnya antar difusi dengan akulturasi terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaannya adalah bahwa kedua proses tersebut memerlukan adanya kontak. Tanpa kontak tidak mungkin kedua proses tersebut berlangsung. Akan tetapi proses difusi berlangsung dalam keadaan di mana kontak tersebut tidak perlu ada secara langsung dan kontinu. Misalnya difusi dari penggunaan tembakau yang tersebar di seluruh dunia. Lain halnya dengan akulturasi yang memerlukan adanya hubungan yang dekat, langsung serta kontinu. (ada kesinambungan).

Proses difusi dapat menyebabkan lancarnya proses perubahan, karena difusi dapat memperkaya dan menambah unsur-unsur kebudayaan, yang seringkali memerlukan perubahan dalam lembaga-lembaga kemasyarakatan, atau bahkan penggantian lembaga-lembaga kemasyarakatan lama dengan yang baru.[2]

Demikian juga dengan Timor, mereka mempunyai norma yang diciptakan dan ditaati bersama. Lazimnya mereka yang tertua di dalam kelompok disepakati anggota untuk menjadi pemimpin kelompok. Pemimpin ini nantinya oleh orang Meto disebut dengan “Amaf”. Para pemimpin ini dengan seluruh anggotanya secara ikhlas tunduk kepada pemimpin yang lebih tinggi yang disepakati dan memberi kepercayaan kpd pemimpin ini untuk mengatur wilayah, struktur sosial masyarakatnya serta kekayaan yang ada di wiliyahnya. Penyerahan seluruh kekuasaan ini disebut dengan ‘Pah-Tuaf’.

Dengan semakin kompleksnya permasalahan yang ada dalam masyarakat, disertai dengan perkembangan jumlah penduduk yang terus melaju, maka tugas dan fungsi para pemimpin adat ini juga semakin banyak. Untuk itu kemudian diadakan pembagian tugas dan fungsi di antara para Amaf, mereka dibagi dalam beberapa bagian antara lain.Pertama Amaf yang berfungsi di dalam bidang penataan dan pembinaan masyarakat disebut ‘Am-Uf’’. Kedua, Amaf bertugas sebagai penata dan pembina masyarakat yang disebut ‘Meo’. Ketiga Ana -amnes’ atau ‘Ana atobe’, mereka adalah para Amaf yang ditugaskan untuk melakukan pembinaan lingkungan serta konservasi alam. Sedangkan Amaf yang bertugas mengurusi kesehatan adalah”Mname’ (untuk lelaki) dan A tusit (untuk perempuan).

Dengan semakin luasnya hubungan masyarakat yang terjalin, giliran berikutnya dibutuhkan para pemimpin yang dapat menangani tugas yang lebih luas lagi. Untuk kepentingan tersebut beberapa Pah-Tuaf bersepakat untuk memilih pemimpin tersebut. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon pemimpin antara lain adalah harus mempu0nyai kemampuan lebih, cerdas, cakap, mempunyai pengaruh yang luas, bijaksana, dan berilmu. Karena sejauh ini orang berilmu sangat disegani dalam kehidupan orang Timor. Mereka akan sering disapa dengan Neno-anan, A heit, A Lalat, Man a prifat, A finit, A manut, A Tupas dan A amat. Oleh karena mereka dipandang sebagai anak dewata maka biasanya segala tutur kata mereka dianggap sebagai titah dan dipandang sebagai undang-undang yang hrs ditaati oleh masyarakat.

Kalau penguasa tertinggi (A Finit) mendapat sapaan Neno-anan maka untuk para Pah-Tuaf mendapat sapaan Pahe-Tuan, yang merupakan penguasa wilayah dan penguasa rakyat. A Finit hanya sebagai perlambang kekuasaan tertinggi, dan tidak dapat diganggu gugat. Pemilihan pemimpin untu A Finit maupun Pah-Tuaf dilakukan secara genealogis,  ini mempunyai arti bahwa pemegang pucuk pimpinan bersifat turun-temurun, baik pada tingkat A Finit, Pah-Tuaf, Mamaf Meo, Ana Atobe maupun Ana’a-Mnes.

Satu hal yang penting untuk dicatat adalah hubungan anatara Paf-Tuaf dengan Amaf ditengahnya ada satu fungsionaris, yang dan sebagainya Mafefa, yaitu juru bicara adat.  Fungsionaris ini memiliki kecakapan di dalam mengani masalah-masalah yang berkaitan dengan urusan adat-istiadat. Bukan hanya itu fungsionaris ini juga berfungsi sebagai tempat penerangan atau informasi bagi masyarakat. Meo adalah angkatan perang yang bertugas untuk menjaga daerah dari segala danguan keamanan dan ketertiban. Meo akan selalu bekerjasama dengan Raja. Sedangkan Ana Atobe bertugas sebagai pendoa upacara adat untuk kemakmuran, serta menyiapkan segala upeti untuk Raja. To ama adalah masyarakat kebanyakan, mereka tentu sangat tunduk dan hormat kepada Raja.


[1] Koentjaraninmgrat dalam FOBIA, F.H, Pemerintahan Desa Kabupaten Timor Selatan, 1995.

[2] Fox, James J. Harvest Of the Palm, Havard University Press, Cambridge, Massachusetyts and London, England, l977:6l

About these ads

About Patris Allegro

native Timorese, clasiccal-music lover, existensialist on the street....

Posted on November 17, 2011, in Budaya and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

DEEDEE

Love & Expression

VatiKos Theologie

Bible Theology Spirituality

ignatia esti sumarah

Just another WordPress.com weblog

For Christ and the Church

The official blog of Father Christopher Roberts

damdubidudam

setiap kata punya makna

mbojosouvenir™

SPESIALIS TEMPAT BIKIN JAKET, KAOS, HOODIE, VARSITY, CARDIGAN, BLAZER, KEMEJA, PIN, MUG UNTUK KELAS DAN ANGKATAN

mtmaulana

Positive Thinkring Positive Spirit

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Shitmen System

Ata pupu ta'an to'u. Iki lewo soga tana

Benyamin Lakitan

Research, Technology, and Innovation +Photography

FORESTER'S BLOG

JALAN - JALAN DI HUTAN

Nona's Life Journal

Smile, what's the used of crying?

ariesadhar.com

sebuah perspektif sederhana...

Matt Thomas Photography

Personal photographic website/blog looking at Action Sports, Portraiture, Landscape and Travel photography

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Seneng Utami

Kekuatan dalam Kesederhanaan

Yuki Hikaru

just another wordpress site

PERCETAKAN CV. NADA GROUP - JAKARTA

Percetakan | Komputer | Desain Grafis | Foto Copy | ATK | Penjilidan Dll Open 24 Jam Nonstop

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.438 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: