Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS): Oenam, Banam & Onam

TTS merupakan salah satu dari 4 kabupaten propinsi NTT yang dikenal sebagai penghasil Cendana terbesar, daerah ini mempunyai luas 4333,6 Km² dengan kepadatan penduduk 74/ Km². Jumlah penduduk wanita lebih banyak dari pada laki-laki. Struktur Pemeritahannya dibagai dalam 162 desa, 4 kelurahan, 8 kecamatan dan 6 perwakilan kecamatan. (sebelum perubahan). Cuaca umum wilayah TTS adalah 4 bulan basah (Desember-April), dan 8 bulan kering (April-November). Rata-rata curah hujan 1,716 mm/tahun. Suhu udara pada musim dingin (juli-Agustus) sekitar 18-21ºC.

Sekitar 2500 ha tanah yang ada di NTT digunakan untuk persawahan. Sedangkan untuk peternakan atau penggembalaan mencapai posisi paling banyak yaitu seluas 44.908 ha. Untuk lamtoro seluas 41.374 ha, 180.000 ha lainnya adalah tanah kritis. Daerah aliran sungai (DAS) yang terkenal di TTS antaranya adalah dataran Mina, Bnain, Muke, Bone, dan Tumutu. Sedangkan dataran lainnya yang luas dan potensial adalah Bena, Baus, Tatukopa, Konbaki dan Besana.

Kedudukan kabupaten TTS berbatasan dengan, sebelah utara adalah Kabupaten TTU (Timur Tengan Utara) dan Ambenu (Timor Leste). Sebelah selatan dengan lautan Indonesia, sebelah timur dengan Kabupaten Belu dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Kupang. Nama Kabupaten Timor Tengan Selatan merupakan terjemahan dari pemberian nama oleh Belanda ‘Zuid Midden Timor’ (ZMT).

Keberadaan orang-orang dan kebudayaan di wilayah TTS tidak dapat dipisahkan dengan  kebudayaan Dawan, karena mereka adalah penduduk asli TTS. Dalam masyarakat Dawan umumnya pemukiman dimulai dari pola keluarga yang terdiri dari bapak, ibu dan anak yang disebut UME. UME yang ada akan membentuk klen kecil yang disebut Puknes, baru terbentuk kemudian klen besar atau biasa disebut Kanaf.

Dalam struktur sosial TTS, masyarakat golongan Usif merupakan golongan bangsawan yang sangat dihormati. Mereka juga berkedudukan sebagai kepala suku. Dibawah Usif ada Amaf,  Amaf adalah sekelompok masyarakat yang terdiri dari klen kecil. Sejajar dengan Amaf ada Meo yang merupakan barisan hulubalang yang mempunyai tugas menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat dari segala ancaman yang datang dari dalam maupun luar daerah. Mereka juga berjuang mempertahankan marga dan kampung halaman dari segala serangan musuh.

1. Kerajaan Oenam

Kerajaan ini memiliki wilayah pemerintahan yang lebih luas dibandingkan dengan kerajaan lain. Wilayahnya meliputi Fatule’U, Mollo, Meomafo, Insana sampai di Biboki. Dinasti yang berkuasa adalah dinasti Sonba’i, yang merupakan turunan raja besar Wehali di Belu Selatan. Keluarga keturunan Sonba’i ini masih memegang “bahwa semua bahan makanan manusia datang dari tulang belulang puteri raja Sonbai (Raja Oenam), dari tulang-tulang ini kmemudian tumbuh berbagai macam bahan makanan bagi penduduk Timor. Mitos ini berkembang begitu rupa, sehingga rakyat percaya dan menerimanya.

 

Dengan mitos ini, setiap kali panen rakyat harus memasukkan hasil pendapatan mereka sebagaian kepada raja Oenam (Sonba’i) sebagai tanda terimakasih kepada putrinya. Mitos ini berkembang cukup lama dan bukan hanya di sdalam wilayah kerajaan Oenam. Namun akhirnya rakyat menyadari bahwa Sonba’i adalah manusia biasa dan bukan anak dewata  (Neno-anan), atas dasar pemahaman ini timbulah pemberontakan kepada raja, disebabkan Sonba’i tetap menuntut pemasukan hasil hulu bersamaan dengan itu harus ada seorang laki-laki dipersiapkan untuk dibunuh oleh Sonba’i.

Pembangkangan terhadap Sonba’i dimulai dari Bijela, 3 permasuri Sonba’i kacau di tengah malam. Mereka berlari mencari perlindungan. Ketiganya disembunyikan oleh Lo Afos Mella di bukit Laob dan diawasi oleh Kalu Banobe dan Lia Bahan. Sedangkan permasuri ketiganya, Bi Manel Kosat menyingkir ke Oekusi (Ambenu), krn dia berasal dari sana.  Peristiwa ini akhirnya menyebabkan Oenam terpecah, masing-masing Uis Pah memerintah sendiri wilayah kekuasaannya krn keturunan Sonba’i hampir punah.

Pemerintahan keturunan Sonba’i dipimpin oleh Boab, pada waktu ini Belanda sudah datang ke Timor untuk membeli kayu cendana. Sementara Portugis yang menduduki Oekusi memainkan politiknya dengan menyerang raja Boab Sonba’i sehingga mereka berpindah ke Kupang bersama dengan rakyatnya. Karena tidak mau tunduk terhadap pemerintahan Belanda akibatnya mereka ditangkap di Bijeli dan dibuang ke Betawi sampai meninggal di sana.

Pergolakan kedua tumbuh dalam kerajaan Oenam, dimana pusat pemerintahan waktu itu sudah berpindah ke Fatule’U. Adanya pembunuhan  orang warga, Uis Kono dan Uis Oematan menyebabkan kedua keturunan ini mengangkat sumpah (Lasi Bata) bahwa mereka tidak akan mengabdi lagi ke Raja Oenam di Kauniki. Dan sumpah ini berlanjut sampai sekarang. Tidak ada satu orangpun keturunan Uis Oematan dari Mollo pergi ke Kauniki, menyapapun bahkan tidak.

Pergolakan ketiga timbul dalam tubuh Oenam karena selisih antara akak dengan adik, yakni antara Sobe Sonba’i dengan Tua Sonbai. Ini menyebabkan Tua Sonba’i menyingkir ke Kolo Pit’ai dan kemudian meninggal disana. Tua Sonbai akhirnya dijemput oleh Uis Kono dan Uis Oematan lalu ditempatkan di Fatumnutu, kemudian menurunkan Ofi Sonba’i, Ofi Sonbai menurunkan Kau Sonba’i, Dan Kau Sonba’i menurunkan lagi Tua Sonba’i, Raja kerajaan Mollo yang memegang kekuasaan Mollo dari tahun 1933-l958.

 

2. Kerajaan Amanuban (Banam)

Kerajaan ini terbentuk sekitar abad VI, disekitar NoEbunu. Pada massa pemerintahan Nubatonia, kerajaan Amanuban berpusat di Tunbesi. Pada waktu itu datanglah seorang dari wilayah Amanatun yang juga merupakan leluhur marga Nope di Niki-niki. Mereka berdiam di di Usapi-Kolhala. Karena dia juga berasal dari suku Rote maka mata pencahariannya adalah dari mencari hasil pohon tuak, untuk mendapatkan nira sebagai bahan makanan dan minuman. Dan setiap pagi Raja mendapatkan jatah dari Nope karena itu pada proses berikutnya Nope ikutserta dalam proses jual beli kayu cendana raja. Karena itu  dia banyak berhubungan dengan Portugis.

Tidak seperti kebanyakan rakyat lainnya Nope tidak pernah mendapat tipu timbangan kayu cendana oleh Portugis karena selalu teliti. Tak heran akhirnya banyak orang meminta bantuannya. Masyarakat juga semakin setia kepada Nope, sehingga menimbulkan kecemburuan bagi raja Nubatonis, Nope dianggap sebagai penghasut. Ia dijuluki dengan Ola-kmali artinya  penghasut dan perusak mental rakyat. Setelah raja penasaran maka diadakan sayembara sebagai usaha untuk mengalahkan Nope,  dengan jaminan tahtanya. Setelah beberapa kali pertandinagn Nope selalu memenangkan kesempatan itu. Raja menjadi sangat malu, akhirnya dia menyerahkan tahta kerajaannya kepada Nope sebagai penguasa atas kerajaan Amanuban. Sebagai tanda penyerahan kekuasaan.

Setelah menduduki tahta kerajaan Amanuban, Nope berusaha memperluas wilayah kekuasannya. Perluasan ini dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, perluasan wilayah dengan penaklukkan. Untuk itu para Meo dikerahkan untuk menghalau raja Tkesnai NoEbunu. Sedang putra Tkesnai bernama Lazaruz Toto do Bosen, melarikan diri dari perang di Amanatun menuju ke Haekto-Bonatun yang selanjutnya disebut Mollo. Penaklukkan ke arah Selatan juga dilakukan dengan penaklukkan kepada Raja Jabi-Uf. Penaklukkan ini dimulai dengan awal yang sangat sederhana, yaitu pencurian kerbau. Waktu itu masih sangat kental hukum adat dipegang, pelaku pencurian harus dikebiri. Pada peristiwa ini seorang warga Jabi mati terbunuh di lapangan Sonaf (Rumah Raja) Niki-Niki dan daerah kekuasaannya diambil oleh Nope.

Kedua, usaha penaklukkan dan perluasan kerajaan juga dilakukan dengan mengawinkan putra raja dengan putri-putri sekitar kerajaan. Karena menurut adat Timor, anak gadis yang dikawini pihak lain, akan membawa harta milik orang tuanya, baik yang bersifat barang bergerak maupun tidak bergerak sebagai sumber kehidupannnya dan keturunannya. Harta bawaan dari orang tua gadis disebut ike-suti (ike adalah alat pemintal dari benang,  sedangkan suti mempunyai arti alasan untuk memintal benang).

Menurut raja peluang ini sangat bermanfaat dalam rangka perluasan wilayah kerajaan, dengan harapan mendapat tambahan wilayah sebagai ike-suti dari kerajaan sekitar, antara lain  satu putranya dikawainkan dengan puteri raja Amanatun yang bernama Fnatun Bneaek, sebagai imbalan raja meminta  wilayah dari Pisan sampai Fatu-ulan. Kemudian Puteri raja Oenam di Kauniki bernama Bi Sobe Sonba’i. Dalam perkawinan ini raja Amanuban meminta wilayah dari Neometo hingga NoEmollo (hulu sungai NoEmuke). Turunan dari perkawinan ini akhirnya menempati Basmuti. Perkawinan ketiga adalah dengan menikahkan putera Amanuban dengan bangsawan Oematan di Tobu bernama Kaunan Aononi. Perkawinan ini merupakan upaya untuk menetralisir keamanan di antara Mollo dan Amanuban yang sering terjadi konflik. Kemudian berkedudukan secara langsung sebagai pendamai maka perempuan-perampuan ini disebut sebagai Bi Kel Anoni (pendamai).

3.Kerajaan Amanatun

Kerajaan Amanatun (Onam) merupakan kerajaan yang terletak paling Selatan di wilayah TTS. Mulanya kerajaan ini hanya meliputi wialyah-wilayah kecil NoEbone dan NoEbanu. Yang dulunya disebut juga sebagai wilayah Anas, kerajaan kecil di bawah pengaruh kerajaan yang lebih besar Wehali di Belu selatan. Dinasti yang berkuasa dalam wilayah ini adalah Nesnay, namun dalam pengelolaan kerajaan dibantu oleh Nenometa dan Fay, karena  itu kerajaan Anas kadang juga disebut sebagai kerajaan Nenometa. Kerajaan ini beralih ke wilayah TTS baru pada tahun 1910 dan menjadi distrik dari kerajaan Amanatun berdasarkan Government Besluit No. 2 Tahun 1913.

Pergolakan disini dimulai dengan kedatangan suku Tkesnai dengan Amafnya serta dalam jumlah yang sangat besar (ribuan), orang Amanatun menyebutnya sebagai To nifun. Suku ini mendarat di pantai Selatan dan menghuni wilayah sekitar TunAm sampai ke gunung Sunu. Paradaban dan peralatan yang dipakai oleh suku ini jauh lebih baik, karena itu  terjadi perebutan wilayah dengan suku-suku  sebelumnya (suku Toh dan Nenomatasus).

Karena merasa terdesak dua suku terdahulu bersepakat untuk meminta bantuan dari luar, yaitu ke Oenam. Permintaan ini langsung ditunjukkan kepada Usif Nai Mella di Rijoba. Atas permintaan ini Nai Mella dan pendukungnya akhirnya dapat mengalahkan Tkesnai dari wilayah Anas.

Ramainya perdagangan kayu di Eropa membuat harga pohon cendana menjadi sangat mahal. Karena itu mereka langsung berlayar ke Timur melacak tulisan-tulisan Cina yang   menyebutkan bahwa ‘Tiwu’ (Timor) sangat kaya dengan kayu dengan cendana, bahkan kayu ini bernilai sebagai upeti kepada raja. Kedatangan bangsa asing ini bukan hanya untuk tujuan ekonomi semata, mereka juga mempunyai kepentingan lain yaitu membawa misi gospel (penyebaran agama).

Kedatangan Portugis di Indonesia melewati pantai utara pulau Jawa yang sering dilalui pelaut muslim, karena saling berebut rempah-rempah maka terjadilah bentrokan antara mereka. Untuk menghindari bentrokan lebih lanjut maka Portugis menempuh jalur Maluku, sebagai daerah penghasil rempah. Tahun 1527 jalur pergeseran ini bergeser ke utara, yakni ke Malaka, Kalimantan utara, Sulawesi dan Hindia.

Melalui jalur inilah Portugis menemukan Timor, selain berdagang rempah-rempah dan membawanya ke Eropa mereka juga membawa misi untuk penyebaran agama Katolik melalui pelabuhan Oekusi (Lifau) dan Dili (Timor Leste). Setelah beberapa kurun waktu lamanya, sistem barter dalam perdagangan kayu cendana ditinggalkan dan diganti dengan uang perak sebagai alat penukar. Sebutan uang ringgit panasmat, atau yang lazim digunakan dikalangan masyarakat Amanabuban dan Amanatun berasal dari nama uang ringgit Spanyol Pasmat. Sedangkan Luikton yang lazim digunakan di wilayah Oenam berasal dari sebutan rix dollars . Begitu juga dengan sebutan lain seperti mahuma, merupakan uang suku zaman Portugis. Sedangkan sebutan seperti rupiah, ketip, kelip, gobang, dan remis merupakan pengaruh dari Melayu. Dalam struktur pemerintahanpun terjadi beberapa perubahan. Misalnya munculnya istilah Keiser, Feitor, Kolonel (Kolnel), taninti, Alferis, dan Kabo.

Hubungan dengan Portugis dan Belanda

Dalam proses perdagangan kayu Cendana pernah terjadi pertikaian antara pemimpin pemerintahan dengan pedagan Portugis karena penipuan dalam penimbangan kayu cendana oleh para pedagang portugis. Karena pertikaian ini hubungan dagang dengan Portugis terputus selama lebih dari 50 tahun lamanya. Peluang pertikaian ini dijadikan suatu peluang bagi Belanda ke Timor.

Tahun 1613 Belanda pertamakali datang ke Pulau Timor dengan kompani dagang VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) yang sudah dibentuk sejak tahun 1906. Dalam salah satu Anggaran dasar VOC ini disebutkan salah satu hak Belanda yang disebut sebagai Ootroi. Yaitu hak dari pemerintah Belanda untuk berdagang di wilayah Semenanjung Harapan  dan Selat Magelhaens (Amerika Selatan). Dengan hak ini VOC diperkenankan merebut daerah, membangun benteng, mencetak uang, mengadili perkara serta menentukan antara perang dan damai.

Belanda memutuskan menetap di pulau Timor sejak tahun 1657 dengan merampas benteng milik Portugis yang ada di muara Mantasi. Sama seperti politiknya di Jawa, Belanda juga mengembangkan politik adu dombanya di Timor. Oleh karena Belanda mengetahui bahwa Raja Baob Sonba’i adalah raja yang paling menentang Belanda, maka Belanda mengatur siasat untuk menculiknya pada waktu malam hari, tindakan ini tentunya menimbulkan pemberontakan-pemberontakan di kalangan rakyat. Pemberontakan yang timbul antara lain Perang Penfui (l749), penfui artinya bendera asing (liar), dimaksudkan bahwa Pemerintahan Belanda dengan benderanya dipandang sebagai benda asing, bangsa asing. Kemudian pelawanan yang disebut Kotrak Paravicini (l756), disebut kotrak karena yang merencanakan adalah seorang warga Jerman bernama Paravicini yang bekerja pada VOC.  Pemberontakan Kerajaan Oenam Sobe Sonba’i II dan beberapa pemberontakan yang lain.

Perjuangan Belanda dalam menaklukkan Kerajaan-kerajaan di Timor belum berhasil seluruhnya, karena itu pemerintahan Belanda menempuh cara politik yang lain untuk menaklukkannnya. Upaya ini dilakukan dengan ditandatanganinya Traktat oleh pemerintah Belanda dan Portugis, yang berlangsung di Lisabon, dan Netherland tahun l854. Isi dari perjanjian ini adalah bahwa wilayah enclave Oekusi, NoEmuti (T.T.U), Tamiru dan Ailala berada dalam kekuasaan Portugis, sedangkan sebelah barat berada dalam kekuasaan pemerintah Belanda.

Dengan pembagian wilayah ini maka Timor secara keselurahan lebih banyak dikuasai oleh Belanda  Penguasaan ini tentunya membawa perubahan dalam pemerintahan. Pada masa ini Belanda menghadapi berbagai tantangan dari para raja–raja pribumi, salah satu upaya yang dilakukan adalah menetapkan peraturan perundang-undangan tentang pemerintahan desa, dan daerah yang setingkat dengan desa.

Salah seorang Belanda yang pertamakali mengadakan penelitian tentang desa dan pemerintahannya adalah Mr. Herman Warner Muntinghe, yang menjadi orang kepercayaan Governor Genderal Stamfort Raffles (1811-1816). Ia menyampaikan bebberapa penelitiannya kepada Raffles tanggal 14 Juli 1811. Setelah dipelajaridg seksama Raffles menetapkan bahwa untuk pengangkatan kepala desa, dilakukan pemilihan secara langsung oleh seluruh masyarakat desa yang telah berumur 18 tahun keatas. Untuk pertama kalinya sistem demokrasi langsung dikenalkan oleh Inggris.

Setelah berakhirnya jajahan Inggris tahun l8l6 dan Belanda kembali menguasai Nusantara, laporan Mr. Herman dipelajari dan dipakai sebagai pegangan untuk Komisaris Jendral (Commisarisson General) pemerintah Belanda untuk mencari ketentuan dalam Stbl.l815 Nomor 13, yang menjelaskan bahwa adat lama yang memberikan hak kepada desa untuk memilih dan mengganti kepala desa berlaku terus.

Berdasarkan ketentuan ini, maka Struktur pemerintahan adat yang ada masih tetap berlaku. Baik untuk Jawa, Madura maupun Bali serta daerah setingkat desa di wilayah yang lain. Pengaturan lebih lanjut tentang desa dan daerah setingkatnya diastur dalam Undang-Undang pemerintahan Belanda yang disebut Reglement op het beleit der Ragering Van Netherlands Indie (Regering Reglement, 1854). Pasal 71.

Dalam ayat (l) Undang-Undang ini dikatakan bahwa desa, kecuali dengan persetujuan penguasa yang ditunjuk dengan peraturan umum, memiliki sendiri kepala desa dan pemerintah desa. Gubermur jendral bertugas menjaga hak tersebut dari pelanggaran. Dalam ayat (2) dikatakan bahwa Kepala Desa diserahi pengaturan dan pengurusan rumah tangga desa dengan memperhatikan peraturan wilayah atau pemerintah dari kesatuan masyarakat yang ditunjuk dengan peraturan umum.[18] Dngan demikian, pengaturan tentang pemerintahan desa dan daerah yang setingkat dengan desa yang melandasakan diri pada peraturan adat masih tetap berlaku.

Selanjutnya dalam Indische Staatstregeling (Peraturan ketatanegaraan pemerintah Belanda) pasal 128, diatur lagi tentang pemilihan Kepala desa, yang menegaskan ulang fungsi kepala desa dalam  pemerintahan desa (5). Peraturan ini merupakan suatu pengaturan secara yuridis formal untuk pertama kali dalam zaman penjajahan Belanda. Namun bagaimanakah pelaksanaan aturan ini, terutama di TTS dan TTU? Kenyataannya sebagaian besar kerajan-kerajaan masih tetap mempertahankan lembaga adat mereka, dan tidak memberi peluang kepada pemerintah Belanda untuk mencampuri urusan adat mereka.

Praktek penyelenggaraan pemerintahan dalam wilayah kerajaan dan struktur yang ada dibawahnya berjalan menurut hukum adat yang berlaku. Ketentuan tentang kepala desa sesuai dengan pasal l28 I.S tidak diberlakukan. Para raja mengangkat feitor dari kalangan marga yang berhak untuk menduduki jabatan tersebut (azas genealogis). Demikian pula pengangkatan temukung besar sebagai jabatan yang setingkat dengan desa, Feitor mengangkatnya dengan memperhatikan status sosial dan kemargaan dalam masyarakat. Campur tangan Belanda dapat dikatakan tidak berarti apa-apa dalam pengaturan pemerintahan desa, ini terbukti setidaknya dengan banyaknya pergolakan yang menentang pemerintah Belanda.

Selanjutnya pemerintah Belanda mengadakan pembagian wilayah ADMINISTRATIF berdasarkan Stbl. 1871 No 55 yang kemudian dirubah dengan Stbl.1879, No 21. Dengan adanya perubahan ini maka Keresidenan Timor dan daerah taklukkannnya (Residentie Timor on Onderhoorigheden) terdiri atas 3 afdeeling dan 15 Onderafdeeling serta 48 Landschap (Swapraja).  Pembagian ini nampaknya mengalami perubahan beberapa kali. Onderafdeeling Oematan dan Mollo meliputi kerajaan Mollo, Meomafo (Amkono) dan Amanuban. Sedangkan Amanatun tidak disebutkan. Apakah termasuk dalam Onderafdeeling lain tidak disebutkan dengan jelas.

Berdasarkan Undang-Undang diatas Timor dibagi atas dua Afdeeling yakni Afdeeling selatan dan pulau-pulaunya dengan ibu negerinya Kupang serta Afdeeling noord an Midden Timor dengan ibu negeri Kapan. Wilayah terakhir ini dibagi lagi atas empat Onderafdeeling yakni:

1.        Onderafdeeling Midden Timor dengan ibunegerinya Kapan

2.        Onderafdeeling Zuid Midden Timor dengan ibunegeri Niki-Niki

3.        Onderafdeeling Noord Midden Timor dengan ibunegeri KeFamenanu

4.        Onderafdeeling Belu dengan ibu negeri Atapu yang kemudian pindah ke Atambua

Pembagian diatas tidak menyebutkan dasar hukumnya. Namun hal ini biasa terjadi, karena Belanda pada masa ini Belanda banyak menghadapi tanntangan dan pembagian wilayah ini sebagai salah satu strategi penguatan posisi, sehingga tidak heran jika penataan yang ada masih sangat simpang siur. Pembagian terakhir wilayah administratif pemerintahan di TTS adalah Onderafdeeling Zuid Midden Timor terdiri dari kerajaan (Landschap) Mollo, Amanatun dan Amanuban, dengan ibu negerinya SoE. Pejabat pemerintahan untuk Onderafdeeling waktu ini disebut dengan Controleur.  Sedangkan untuk  Afdeeling disebut Pejabat residen. Sedangkan yang dimaksud dengan karesidenan adalah Timor dan daerah taklukannya yang meliputi Timor dan pulau-pulaunya, Flores dan pulau-pulaunya serta Sumba beserta pulau sekitarnya.

About these ads

About aklahat

native Timorese, clasiccal-music lover, existensialist on the street....

Posted on November 21, 2011, in Sejarah and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. perlu menulis sejarah yang benar. Saya bersama beberapa teman membentuk forum peduli sejarah telah menulis banyak hal dan jika dibuatkan web atau blogspootnya, saya yakin ada pelurusan sejarah. Generasi pembelot sejarah punya sejarahnya sendiri. Saya tulis buku Ada Apanya Aitoun apa adanya di tengah societas flobamorata: Mengurut keberadaan, Dari Melus hingga Dasi, Kerajaan berubah desa. Buku lain Sejarah Agama Katolik Timor. Koneksitas kedua buku terlihat karena pemerintahan kerajaan hingga hindia belanda dan para misionarsi dan zending memiliki keutuhan sejarah orang Timor.

  2. semakin banyak informasi maka semakin banyak pula para pencinta sejarah dapat memfilter setiap informasi dari dunia maya, menelusurinya, dan menguji tingkat akurasi kebenarannya berdasarkan sumber pustaka ilmiah yang ada. Tks

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Segores Tinta Coemi

Just everything about something unique, valuable, and wonderful

..just a journal of an ancient knowledge

xenology - astrology - meta science - ocultism - local wisdom

TISYA PUNYA

Apapun yang terjadi, Nikmatilah~~

DEEDEE

Love & Expression

VatiKos Theologie

Bible Theology Spirituality

ignatia esti sumarah

Just another WordPress.com weblog

For Christ and the Church

The official blog of Father Christopher Roberts

damdubidudam

setiap kata punya makna

mbojosouvenir™

SPESIALIS TEMPAT BIKIN JAKET, KAOS, HOODIE, VARSITY, CARDIGAN, BLAZER, KEMEJA, PIN, MUG UNTUK KELAS DAN ANGKATAN

mtmaulana

Positive Thinkring Positive Spirit

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Shitmen System

Ata pupu ta'an to'u. Iki lewo soga tana

Benyamin Lakitan

Research, Technology, and Innovation +Photography

FORESTER'S BLOG

JALAN - JALAN DI HUTAN

Nona's Life Journal

Smile, what's the used of crying?

ariesadhar.com

sebuah perspektif sederhana...

Matt Thomas Photography

Gloucestershire based Extreme Action Sports, Commerical, Portraiture and Travel photographer

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.465 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: