Lestarikan Bahasa Kupang

“Tuhan Allah bekin langit, bumi deng dia pung isi dong

Mula-mula Tuhan Allah bekin langit deng bumi.

Itu waktu, bumi balóm jadi, deng samua masi harba-biruk. Yang ada, aer. Deng galáp gulita tutu ame sang dia. Tuhan pung Roh ada bajalan di atas itu aer” (http://www.e-alkitab.org/).

Salah satu sudut kota Kupang

Bahasanya Pedagang Rempah

Dalam sebagian besar penulisan tentang bahasa Kupang, sering muncul istilah Melayu Kupang. Studi ilmiah tentang bahasa Melayu Kupang telah dilakukan oleh June Jacob dan Barbara Dix Grimes. Kajian ini terangkum dalam makalah mereka, “Developing a role for Kupang Malay: The contemporary politics of an eastern Indonesian creole” (http://www.sil.org/asia/philippines/ical/papers.html). Penelitian ini cukup membantu dalam melihat bahasa Kupang dari berbagai sisi, misalnya dari linguistik dan sosiologi. Jacob dan Grimes mengangkat keberadaan bahasa Kupang dalam hubungannya dengan cara berpolitik di Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan lahir dari makalah ini, seperti apakah bahasa Kupang adalah sebuah bahasa yang sejati atau hanya bahasa Indonesia yang buruk? Dapatkah bahasa Kupang menjadi sebuah bahasa yang sejati tanpa kebudayaan yang dimilikinya?

Kesan bahasa Indonesia yang “rusak” dapat dirasakan jika pembaca menyimak kutipan dari Alkitab berbahasa Kupang yang mengawali tulisan ini, apalagi jika pembaca berada di kota Kupang. Dan sepertinya sudah menjadi hal umum bahwa perbedaan yang dimiliki oleh bentuk-bentuk kebudayaan di daerah di luar pusat kekuasaan dapat dengan sendirinya terperosok atau digelincirkan dalam pemaknaan singkat dan instan, yang hasilnya adalah perendahan atau sekadar menjadi bahan kelakar. Bahasa Kupang memang berbeda. Mengapa ada unsur bahasa Melayu? Tidak lain karena adanya perdagangan. Bahasa Melayu  yang digunakan di kawasan Nusantara, menurut Prentice (1978) dan C. Grimes (1996), dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu vernaculars Malays (yang dipakai di tanah Melayu, seperti Malaysia, Sumatra, dan Singapura), official language Malays (digunakan di dalam pemerintahan, pengadilan, penulisan sastra, untuk daerah bagian barat kepulauan Nusantara), dan yang terakhir lingua franca Malays (trade Malays), bahasa Melayu Pasar (digunakan di daerah jalur perdagangan rempah-rempah, pala dan cengkeh di Maluku, serta cendana di Timor). Dari bahasa pedagang rempah Nusantara ini bahasa Kupang lahir. Dapat dikatakan bahwa dari dasar bahasa Melayu Pasar masyarakat-masyarakat di kawasan Indonesia timur memiliki sebentuk bahasa pemersatu, selain bahasa Indonesia. Maka itu, orang Kupang dapat mengerti cerita-cerita lucu dari Merauke dan orang Ambon tidak akan kesusahan soal bahasa jika datang ke Kupang, meskipun bahasa Melayu pasar tersebut hingga kini sudah berkembang di daerah penuturnya masing-masing dan dipengaruhi oleh bahasa dari latar etnis masing-masing penutur serta oleh bahasa nasional.

Sa Pi Maen Bola Deka Lu Pung Ruma

Sepak bola memang sangat digemari di Kupang, bahkan menjadi olahraga yang paling sering dimainkan, di kota sampai pelosok desa. Namun, jika membaca subjudul di atas jangan diartikan bahwa sapi-sapi di Kupang bisa bermain bola. Salah satu ciri dari bahasa Kupang (penelitian Jacob dan Grimes memberikan tujuh hal tentang ciri fonologis bahasa Kupang) adalah pengurangan kata, atau dalam versi Jacob dan Grimes disebut elision atau truncation of words. Contohnya, kata jang berarti ‘jangan’, su atau suda ‘sudah’, lai ‘lagi’, pi atau pigi ‘pergi’, ruma ‘rumah’, dan sa atau bet atau beta ‘saya’ atau ‘saja’. Jadi, sekarang sudah tahu siapa yang pi maen bola?

Bentuk kepemilikan dalam bahasa Kupang tidak memakai konsep akhiran -ku, -mu, dan -nya seperti dalam bahasa Indonesia. Bentuk kepemilikan menggunakan partikel pung yang berarti ‘punya’. Di dalam kalimat, partikel tersebut terletak di antara pemilik dan objek yang dimiliki. Jadi, bahasa Kupang untuk mengatakan rumah saya atau topi saya bulat adalah beta/bet/sa pung rumah dan beta/bet/sa pung topi bulat.

Berikut adalah kata-kata ganti orang dalam bahasa Kupang: beta ‘aku’ atau ‘saya’, katong ‘kita’ (dari kita orang), batong ‘kami’ (dari beta orang), lu ‘kamu’, basong ‘kalian’, dia ‘dia’, dong ‘mereka’ (dari dia orang). Kata beta lebih sering digunakan dalam bahasa Kupang dibandingkan dengan kata sa. Kata sa untuk ‘saya’ lebih sering digunakan di daerah lain di daerah Indonesia timur yang menggunakan bahasa Melayu pasar. Jadi, sudah tahu di mana si pemain bola tadi pi maen bola?

Hadir di Pinggir

Di Kupang sendiri berbicara dengan bahasa Kupang biasanya dilakukan dalam situasi nonformal. Urusan pendidikan, pemerintahan, dan urusan resmi lainnya memakai bahasa Indonesia. Memakai sebuah bahasa yang lain tentu membuat diri serasa masuk ke tempat yang lain, bahkan dunia yang berbeda. Pemaknaan yang lahir berinteraksi dengan referensi-referensi pribadi maupun kolektif yang membawa suatu cara pandang yang berbeda. Begitulah fungsi bahasa, membawa kita mengarungi samudra makna.

Bahasa Kupang memang memiliki gambaran lain, yaitu kesan sebagai bahasa pasar atau bahasa jalanan. Mungkin ini karena masalah penggolongan atas penggunaan dan juga posisinya terhadap bahasa nasional. Beberapa pegiat bahasa mencoba mengapresiasi keberadaan bahasa ini. Yohanes Manhitu di dalam artikelnya mengatakan bahwa bahasa apa pun memiliki sejarah dan ceritanya sendiri, dan perlu untuk dihargai secara sama rata. Kemampuan untuk memakai bahasa sama halnya dengan kemampuan untuk memakai pakaian, selama kita tahu kapan harus memakai jas dan kapan harus memakai bikini, semua akan baik-baik saja (http://ymanhitu.blogspot.com/). Manhitu pun sudah membuat beberapa tulisan dalam bahasa Kupang, seperti puisi dan ulasan-ulasan atas bahasa tersebut.

Salah satu bentuk keberadaan bahasa Kupang yang dapat dilihat setiap hari bisa ditemukan pada kolom Tapaleuk (artinya ‘keluyuran tanpa juntrungan’) dalam koran Pos Kupang, salah satu surat kabar harian di Kupang. Kolom ini ditulis secara bergiliran oleh wartawan surat kabar tersebut. Tulisannya menggunakan bahasa Kupang dan sebagian besar bentuknya adalah tanggapan atas isu-isu yang sedang hangat dalam masyarakat. Tulisan dalam kolom ini lebih sering dinarasikan lewat tokoh-tokoh fiktif  (pedagang di pasar, PNS, orang-orang tua/pensiunan, ibu rumah tangga, dan anak sekolah) yang merupakan gambaran dari orang-orang di Kupang, masyarakat multietnis yang tidak homogen.

Terletak di pinggir salah satu halaman koran, Tapaleuk hadir dan membawa orang untuk masuk dan merasakan bagaimana segala sesuatu “berbunyi” atau “bernyanyi” dalam bahasa Kupang dengan kata-kata yang, menurut bahasa Indonesia, dipotong-potong. Selama masih ada yang peduli, bahasa ini akan tetap terjaga dan tidak akan habis dimakan agenda-agenda dari meja politik dan kekuasaan. Bagi mereka yang mau peduli, semoga bahasa ini bisa memberikan tidak hanya bunyi merdu, tetapi juga wangi bak rempah, dan berbagai gemilang rasa yang bisa dibawa sebuah bahasa kepada manusia. Semoga.

Sumber: http://lidahibu.com/2011/05/07/bahasa-kupang-wangi-makna-dalam-runtutan-bunyi-yang-dipotong-potong/

 

About these ads

About Patris Allegro

native Timorese, clasiccal-music lover, existensialist on the street....

Posted on November 23, 2011, in Budaya and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

mbojosouvenir™

SPESIALIS TEMPAT BIKIN JAKET, KAOS, HOODIE, VARSITY, CARDIGAN, BLAZER, KEMEJA, PIN, MUG UNTUK KELAS DAN ANGKATAN

mtmaulana

Positive Thinkring Positive Spirit

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Shitmen System

Ata pupu ta'an to'u. Iki lewo soga tana

Benyamin Lakitan

Research, Technology, and Innovation +Photography

FORESTER'S BLOG

JALAN - JALAN DI HUTAN

Nona's Life Journal

Smile, what's the used of crying?

ariesadhar.com

sebuah perspektif sederhana...

Matt Thomas Photography

Personal photographic website/blog looking at Action Sports, Portraiture, Landscape and Travel photography

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Seneng Utami

Kekuatan dalam Kesederhanaan

Yuki Hikaru

just another wordpress site

PERCETAKAN CV. NADA GROUP - JAKARTA

Percetakan | Komputer | Desain Grafis | Foto Copy | ATK | Penjilidan Dll Open 24 Jam Nonstop

Duniaku

You Can Do More Than You Can Imagine

senibenni

berkarya dalam bentuk rupa

@NotedCupu Mahasiswa "Imigran"

Di Bawah Lindungan AC Yang Terkutuk| #NotedCupu

KEMBARA KEHIDUPAN SEORANG THEOFILUS NATUMNEA

"Melayani dengan Setulus Hati"

Return to Rai Ketak

Ruminations on Timor my (once) island home

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.381 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: