Tradisi Islam di Kampung Solor – Kupang

Masjid Al-Fatah di Kampung Solor, Kupang, mulai ramai menjelang waktu berbuka puasa.

Beberapa orang membawa tiga nampan berisi makanan kecil dan teh manis. Kemudian, mereka meletakkannya di atas lantai masjid. Warga Muslim Solor pun duduk mengelilingi makanan.

Seperti di masjid mana pun di Indonesia, makanan berbuka itu dihidangkan kepada siapa saja yang datang ke masjid untuk berbuka puasa, termasuk orang asing. ”Silakan, Anda adalah saudara Muslim. Anda bisa berbuka di sini,” kata seorang penjaga masjid dengan ramah sambil memberi tempat duduk.

Tidak lama, azan berkumandang. Semua orang yang ada di masjid itu pun segera berbuka. Tanpa ditanya, beberapa anak muda yang ada di masjid itu bercerita sedikit tentang Kampung Solor.

Nama itu tidak hanya dikenal karena dihuni oleh mayoritas etnis Pulau Solor, terutama dari Lamakera dan Lamahala, tetapi juga kampung warga minoritas Muslim di tengah warga mayoritas Kristen di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Solor terpisah 200 kilometer di utara Kupang, Pulau Timor, oleh Laut Sawu yang jadi tempat melintas sedikitnya 14 jenis ikan paus.

Pada awalnya kampung ini memang dihuni kelompok etnis asal Solor sehingga dikenal dengan nama itu. Namun, belakangan ini banyak juga pendatang beragama Islam yang menikah dengan orang Lamakera, atau Lamahala, lalu menetap di kampung ini.

Nama kampung tersebut tidak selalu berarti dihuni oleh hanya keturunan kelompok etnis Solor, tetapi yang pasti sebagai basis Islam di Kupang. Di sini terdapat sekolah yang mendidik khusus anak-anak Muslim, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah.

Mereka masih memiliki sejarah, tradisi, atau kebiasaan sendiri dalam menunaikan ibadah puasa selama bulan suci Ramadhan. ”Warga selalu berbuka puasa bersama-sama,” kata Burhan, imam Masjid Al-Fatah di Kampung Solor.

Di bulan Ramadhan ini geliat mereka semakin terlihat, misalnya dari persiapan puasa dengan segala tradisi Lamakera dan Lamahala. Selain itu, perkampungan Islam di Pulau Solor-nya masih terasa. Solor seperti hidup kembali di tanah atas pulau karang yang tandus itu.

Taher Zein, salah seorang imam di Masjid Al-Fatah, mengatakan, sebenarnya ada juga tradisi unik seperti ”mandi puasa” menjelang Ramadhan. Namun, seiring dengan kemajuan kota umumnya, kebiasaan itu tidak lagi dilakukan kolektif, hanya oleh individu saja.

”Kebiasaan itu (mandi puasa) memang masih ada, tetapi jarang dilakukan secara bersama-sama, lebih sering dilakukan sendiri-sendiri,” kata Taher ketika ditemui di rumahnya, tak jauh dari Masjid Al-Fatah.

Sekalipun sebagai kelompok minoritas di tengah lingkungan Kristen, tak ada hambatan bagi mereka menjalankan ibadah puasa.

Bahkan, di Kupang dan sekitarnya, sekolah-sekolah Kristen meliburkan muridnya dua atau tiga hari hingga hari pertama puasa.

Kelompok etnis Solor, Flores Timur, ini, menurut Taher, datang ke Timor sekitar tahun 1670-an, bersamaan dengan berakhirnya perang antara Belanda dan Portugis di Solor. Saat itu banyak kelompok etnis Solor yang membantu Belanda memenangi perang terhadap Portugis dibawa ke Kupang.

”Di Kupang mereka dibebaskan dari pajak dan diberi lahan untuk tinggal. Pada mulanya warga Solor itu menetap di Oeba dan mendirikan masjid di sana. Setelah itu mereka pindah ke wilayah Kampung Solor sekarang ini,” kata Taher.

Meski fisik kampung Solor tak jauh berbeda dari yang ada di kota-kota lain, di kampung ini terdapat masjid tertua di Kupang, yakni Masjid Al-Fatah. Masjid itu baru diberi nama Al-Fatah sekitar tahun 1967 setelah berabad-abad lamanya tidak punya nama dan hanya dikenal dengan nama Masjid Kampung Solor.

Beduk paling tua di Kupang, bahkan NTT, yang dibuat 6 Januari 1898, hingga kini berfungsi baik di Masjid Al-Fatah. Masjid tua itu menjadi pusat kegiatan selama Ramadhan kali ini.

Fenomena Kampung Solor ini memberi warna tersendiri dalam kehidupan umat beragama. Di kampung itu ada sekitar 1.000 kepala keluarga keturunan etnis Solor dan etnis lain yang Muslim, yang terlibat dalam pertalian perkawinan dengan kelompok etnis Solor.

Solor dikenal memiliki kultur pekerja yang ulet. Di daerah asalnya warga Pulau Solor juga dikenal sebagai perantau yang tangguh. Merantau bagi warga Solor dimaknai secara unik. ”Kalau orang merantau, mereka menyebutnya pigi melarat,” tutur Taher.

Tradisi pluralis masyarakat Solor dimulai dari keberagaman yang ada di tengah suku Solor sendiri. Keberagaman itu tak mengganggu hubungan kekerabatan karena, di lingkungan masyarakat Flores Timur, satu keluarga berbeda agama sudah bukan hal yang asing lagi.

”Walaupun dalam satu keluarga ada yang berbeda agama, kami tak pernah mempermasalahkannya,” kata Taher.

Tiap Lebaran dia mendapat kiriman aneka kue dari keluarganya yang beragama Katolik. Sebaliknya, jika Natal tiba, maka pihak Muslim juga memberikan bingkisan. (CAL/YNS/AMR/BSW)

About these ads

About Patris Allegro

native Timorese, clasiccal-music lover, existensialist on the street....

Posted on Januari 30, 2012, in Budaya and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. bisa bantu saya untuk memuat pendapat dari para ilmuwan tentang KOMUNITAS dan ISLAM
    saya mau jadikan itu sebagai kajian pustaka. thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

DEEDEE

Love & Expression

VatiKos Theologie

Bible Theology Spirituality

ignatia esti sumarah

Just another WordPress.com weblog

For Christ and the Church

The official blog of Father Christopher Roberts

damdubidudam

setiap kata punya makna

mbojosouvenir™

SPESIALIS TEMPAT BIKIN JAKET, KAOS, HOODIE, VARSITY, CARDIGAN, BLAZER, KEMEJA, PIN, MUG UNTUK KELAS DAN ANGKATAN

mtmaulana

Positive Thinkring Positive Spirit

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Shitmen System

Ata pupu ta'an to'u. Iki lewo soga tana

Benyamin Lakitan

Research, Technology, and Innovation +Photography

FORESTER'S BLOG

JALAN - JALAN DI HUTAN

Nona's Life Journal

Smile, what's the used of crying?

ariesadhar.com

sebuah perspektif sederhana...

Matt Thomas Photography

Personal photographic website/blog looking at Action Sports, Portraiture, Landscape and Travel photography

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Seneng Utami

Kekuatan dalam Kesederhanaan

Yuki Hikaru

just another wordpress site

PERCETAKAN CV. NADA GROUP - JAKARTA

Percetakan | Komputer | Desain Grafis | Foto Copy | ATK | Penjilidan Dll Open 24 Jam Nonstop

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.437 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: