Suatu Hari di Rumah Sang Maestro: Not Angka dan Motet Palestrina

English: Electronic piano Yamaha P-140S Русски...

Hari masih pagi ketika aku dan teman Delvi mengendara sepeda motor menuju ke arah Tarus. Sebuah rumah di balik rerimbun pohon menghijau itulah tujuan kami. Rumah Pak Piet Riki Tukan, sang Maestro musik Ntt.

Baru pukul sembilan pagi. Namun suasana di rumah itu sudah cukup rame. Di bagian belakang di bawah teduhnya pohon bambu kuning, anggota Paduan Suara Sendratasik Unwira sedang sibuk berlatih. Oia, itu juga alasan mereka menamakan kelompok kornya dengan Paduan Suara Bambu Kuning. Di ruang tamu, sekaligus ruang kerja pak Piet, seorang gadis belia sedang mengetuk piano elektrik Yamaha. Dua orang lainnya sedang sibuk menggambar “sayur toge’ pada buku tulis mereka. Sang Maestro matanya merem melek sambil sesekali menghembuskan asap rokok Menara Biru. Gelas berisi kopi sudah melompong, habis dihirup isinya. Rupanya beliau sedang memeriksa permainan si gadis dengan telinganya.

Kedatangan kami ke rumah itu tidak seperti yang lainnya: mengisi daftar hadir lalu menuliskan program hari ini. Kunjungan kami adalah kunjungan silahturahmi sekedar berbincang-bincang mengenai kesukaan bersama: musik NTT.

Kami mulai dengan lomba Cipta Lagu Mars Kerukunan Beragama dari Kemenag RI.  Malam tadi empat nominator dari empatpuluh pengarang lagu se-NTT telah terpilih menjadi juara. Lomba yang diselenggarakan oleh Kementrian Agama RI berhasil menggolkan empat lagu terbaik. Teman saya Delvi, boleh berbangga terhitung sebagai juara II. Prestasi yang luar biasa mengingat belum genap setahun beliau menekuni ilmu harmoni dan komposisi paduan suara di bawah bimbingan Sang Maestro. Bapak Apoly Bala, yang tidak asing ditelinga para pemusik NTT berhasil menyabet gelar juara pertama, juara III ditempati oleh Benso Metom, pastor yang pernah mengikuti kursus Musik Liturgi pada Pusat Musik Liturgi Yogyakarta.

Sang Maestro kemudian memerincikan analisis komposisi lagu sekaligus untuk menjawab “keheranan” teman saya tadi. Karya komponis-komponis NTT umumnya kurang seimbang antara rasa dan nalar. Rasa musikalnya begitu tinggi, akan tetapi nalar dan strukturisasi harmoninya amburadul. Komposisi-komposisi yang ada bisa “didengar” indah, namun terasa ada yang janggal kalau “didengarkan.”  (Waduh, kamu mulai bingung ya? Sama! :))

Pak Piet Riki yang menjadi ketua tim Juri telah memeriksa satu persatu karya yang masuk (tanpa nama) dan beliau kaget menemukan bahwa anak asuhannya ikut menjadi juara (he  he!).

Beralih ke pemain piano tadi. Saya heran. Setahu saya di sekolah-sekolah musik jarang anak diajarkan untuk bermain musik dengan not angka. Tapi Sang Maestro justru mengajurkan pemakaian not Angka….

“Not angka itu paling populer di Indonesia. Ibarat bahasa, not angka itu bahasaibunya musik Indonesia. Karena itu untuk belajar musik, anak Indonesia perlu dulu mengenal not angka, baru perlahan-lahan diperkenalkan dengan sayur toge. Adalah suatu kesombongan kalau kita menganggap remeh penggunaan not angka. Yang penting adalah notasi tersebut bisa mewakili nada yang dikehendaki. Memang not balok itu notasi khusus untuk musik. Tapi khusus untuk orang Indonesia, pengenalan nada dimulai dulu dengan not angka berlanjut ke not balok. Pengalaman saya, siswa di Kupang dan sekitarnya kalau mulai diajar dengan not balok, lama-lama akan bosan, karena hampir semua buku nyanyian kita menggunakan not angka bukan not balok. Siswa kesulitan mencari referensi untuk lagu-lagu “baru”. (wah, wah, kutipan ini sudah tentu tidak sama persis, bahkan bisa melenceng tapi itulah yang sempat saya ingat!)

Yah, buku-buku penuntun bermain pianonya terdiri dari 2 seri. Mari Bermain Piano I dan II. Masing-masing berupa lagu-lagu etnik NTT, lagu-lagu daerah nasional, juga lagu-lagu pop Indonesia dan Barat, diaransemen khusus untuk penjarian dan pengenalan akor. Hebat! Semuanya pakai not angka. Satu-satunya buku pedoman bermain piano yang memakai not angka, saya kira, hanya karya Sang Maestro. Ini pasti sangat berguna untuk anak-anak NTT.

Oya, garis besar perbedaan antara sayur toge dan pelajaran berhitung itu seperti berikut ini:

Kelebihan not balok :
– Mampu menunjukkan posisi not dengan jelas sehingga tidak akan tertukar posisi nada rendah dan nada tinggi.
– Mampu menunjukkan nilai not secara tepat dengan adanya gambar bendera, blok hitam atau putih pada kepala not.
– Dapat dipahami oleh orang lain di seluruh dunia. Bisa dikatakan not balok merupakan bahasa musik universal yang dapat diterima oleh semua orang di seluruh dunia. Ini bisa dianalogikan dengan bahasa Inggris yang menjadi bahasa universal di seluruh dunia.
Kelemahan not balok :
– Penulisannya lebih lama dan sulit.
– Bagi yang belum terbiasa, memainkan lagu dengan not balok terasa lebih sulit.

Kelebihan not angka :
– Penulisannya mudah dan cepat.
– Kode angka lebih mudah dipahami bagi sebagian besar orang, terutama bagi pemula di bidang musik.
Kelemahan not angka :
– Tidak bisa menunjukkan posisi not pada tuts piano dengan tepat. Posisi nada tinggi biasanya hanya diberi tanda titik di atas angka, dan posisi nada rendah biasanya diberi tanda titik di bawah angka. Seringkali tanda titik tidak jelas sehingga menyulitkan pembacaan not.
– Kurang jelas menunjukkan nilai not atau ketukan karena hanya berupa angka-angka, berbeda dengan not balok yang berupa gambar dan bisa ditambah-tambahi (bendera, blok hitam atau putih pada kepala not).

Nah, umpamakan not balok itu seperti Bahasa Inggris dan not angka itu bahasa Indonesia. Supaya bisa dimengerti orang di seberang kau mesti tahu bahasa Inggris, dan untuk pintar bahasa inggris kau boleh belajar pakai bahasa Indonesia. (kira-kira seperti itulah yang saya pahami dari uraian Pak Piet)

Waktu terus bergulir. Paduan suara di pekarangan belakang sudah kecapaian, dan pamitan mau pulang. Denting piano di sebelah kami pun terdengar patah-patah. Sudah saatnya beristirahat. Ketiga gadis tadi menandatangani buku harian dan pamit pulang.

Rencana berikutnya, pelajaran ilmu harmoni khusus untuk lagu-lagu motet ala Palestrina. Delvi, teman saya bertambah semangat oleh dukungan Pak Piet. Musikus muda ini rupanya punya prospek yang bagus ke depan! Proficiat!

About these ads

About Patris Allegro

native Timorese, clasiccal-music lover, existensialist on the street....

Posted on Februari 11, 2012, in Kisah Nyata, Seni Pertunjukan and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Thanks for sharing such a good idea, paragraph is good, thats why i have read it
    completely

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

mbojosouvenir™

SPESIALIS TEMPAT BIKIN JAKET, KAOS, HOODIE, VARSITY, CARDIGAN, BLAZER, KEMEJA, PIN, MUG UNTUK KELAS DAN ANGKATAN

mtmaulana

Positive Thinkring Positive Spirit

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Shitmen System

Ata pupu ta'an to'u. Iki lewo soga tana

Benyamin Lakitan

Research, Technology, and Innovation +Photography

FORESTER'S BLOG

JALAN - JALAN DI HUTAN

Nona's Life Journal

Smile, what's the used of crying?

ariesadhar.com

sebuah perspektif sederhana...

Matt Thomas Photography

Personal photographic website/blog looking at Action Sports, Portraiture, Landscape and Travel photography

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Seneng Utami

Kekuatan dalam Kesederhanaan

Yuki Hikaru

just another wordpress site

PERCETAKAN CV. NADA GROUP - JAKARTA

Percetakan | Komputer | Desain Grafis | Foto Copy | ATK | Penjilidan Dll Open 24 Jam Nonstop

Duniaku

You Can Do More Than You Can Imagine

senibenni

berkarya dalam bentuk rupa

@NotedCupu Mahasiswa "Imigran"

Terkadang Pemikir, Terkadang Gak, Terkadang Edan | #NotedCupu

KEMBARA KEHIDUPAN SEORANG THEOFILUS NATUMNEA

"Melayani dengan Setulus Hati"

Return to Rai Ketak

Ruminations on Timor my (once) island home

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.381 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: