Kedudukan Sungai Benain dan Laut Timor dalam perdagangan cendana Abad XVII

Di pulau Timor bagian Barat terdapat dua buah sungai besar yakni sungai Noelmina dan Sungai Benain. Sungai Benain merupakan sungai terbesar di Timor yang bermuara di Laut Timor. Luas DAS Benain sekitar 5.300 km2. Benain merupakan DAS terluas di pulau Timor. Ataupah (1992) mengungkapkan daerah hulu sungai Benain yakni anak-anak sungainya yang berada di perbukitan merupakan formasi batu karang yang tersebar luas di wilayah Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan dan Belu.

Wilayah tersebut merupakan pusat pertumbuhan alamiah cendana ( Santalum Album L). Sungai Benain seperti sungai di Timor pada umumnya memiliki ciri pada musim kemarau airnya kering atau hampir kering. Kiri kanan tepian sungai rata dipenuhi pasir dan kerikil. Kondisi ini dimanfaatkan para pengangkut kayu cendana. Pada musim kemarau, kayu cendana dari       daerah hulu diangkut dengan kuda ke daerah hilir sungai yakni ke pusat penimbunan cendana di dekat muara sungai.. Pengangkutan cendana lewat pinggir sungai dianggap lebih mudah dari pada harus menerebas padang sabana yang penuh semak berduri.

Pengangkutan kayu cendana semakin lancar setelah para pedagang Hindu memasukkan kuda sebagai kuda angkut kayu cendana ( Ormeling, 1955). Kuda juga menjadi kuda tunggang para prajurit yang memungkinkan peningkatan daya jelajah dalam pengamanan daerah cendana dan pengangkutan cendana dari daerah hulu ke daerah hilir sungai Benain.

Muara sungai Benain sejak abad ke 15 telah menjadi salah satu bandar terpenting bagi kapal dagang yang membeli kayu cendana. Pada daerah hilir sungai Benain merupakan dataran rendah Besikama yang subur dan menjadi gudang bahan makanan. Berdasarkan berita Cina pada tahun 1465 disebutkan Kihri Tinwu gunungnya subur dipenuhi pohon cendana. Semata-mata mengekspor cendana melalui 12 pelabuhan dan mengimpor perak, emas, barang tembikar (Groeneveldt, 1960). Dari 12 bandar tersebut antara lain: Batu Gede, Atapupu di Timur Laut, Mena, Wini, Oekusi dan Lifao di bagian Utara. Soliu, dan Naikliu di Barat Laut,       Kupang, Hanbo, Tarba dan Teres di Selatan, Nunkolo, Boking dan Mota Dikin di Tenggara. Motadikin merupakan bandar yang terbesar dan terpenting untuk kayu cendana.

Motadikin terletak di muara sungai Benain. Letaknya mudah dicapai perahu/kapal layar dan relatif mudah dijadikan pelabuhan pada musim penghujan ketika sungai meluap. Daerah hulunya kaya akan kayu cendana. Ataupah (1992) mengemukakan: tidak ada pelabuhan alam yang memungkinkan perahu atau kapal berlabuh dengan aman dan terlindung ketika laut menggelora di pantai Utara dan barat pada musim hujan dan di pantai selatan pada musim kemarau kecuali kuala Benain ( Mota Dikin) yang agak terlindung. Para pelaut dan pedagang      berlayar menuju pulau Timor menggunakan angin Barat laut dan kembali dengan menggunakan angin Tenggara. Laporan Klupel tahun 1873 dalam Graham (1985) menyebutkan: para pelaut Makasar berangkat setiap bulan Desember, Januari dan Februari ke Timor dan kembali pada bulan Juni,   Juni dan Agustus.

Pantai Selatan Laut Timor yang lebih menggelora dibandingkan Laut Sabu banyak dilayari kapal dagang pembeli Cendana, karena muara-muara sungai di Pantai Selatan menjadi tempat penumpukkan cendana yang berasal dari daerah hulu sungai. Oleh karena itu di Pantai Selatan pulau Timor banyak dijumpai bandar tempat kapal pembeli cendana singgah.

Dalam klasifikasi budaya masyarakat di Timor Barat. Laut Timor dipandang sebagai laut lelaki (Tasi mane) sedangkan Laut Sabu yang lebih tenang sebagai laut wanita (Tasi feto). Dalam klasifikasi wanita dan lelaki, pada rumah adat etnis Tetun yang disebut uma manaran , memiliki dua tiang agung. Tiang agung bagian depan , bagian terang (kakuluk lor) sebagai tiang nenek moyang lelaki. Tiang agung bagian belakang, tiang bagian gelap (kakuluk rae) sebagai tiang agung wanita. Dengan demikian dalam kerangka klasifikasi tersebut laut lelaki ada pada bagian terang dan depan dan laut wanita ada pada bagian gelap dan di belakang.   Hal ini mengindikasikan bahwa laut Timor mempunyai makna penting terkait sebagai pintu masuk. Tentunya hal ini terkait dengan banyaknya perahu dagang masuk dan berlabuh di Pantai Laut Timor.

Laporan Dampier 1709 dalam Ormeling (1955) disebutkan pada tahun 1699 setiap bulan Maret setiap tahun terdapat 20 jung Cina yang datang membawa muatan besi, emas, sutra. Barang dagangan tersebut ditukarkan dengan cendana dan lilin. Van Leur (1960) mengemukakan kondisi perdagangan di Timor pada tahun 1614. Apabila kapal dagang tiba untuk berdagang, pertama-tama yang harus dilakukan sesuai adat kuno, harus memberikan hadiah sirih pinang kepada raja dan bangsawan setempat.

Mereka harus membuat persetujuan apakah harus diberikan kepada raja sebagai ganti biaya berlabuh/membuang sauh yang disebut ruba-ruba atau lon bebata. Setelah pemberian lainnya sebelum para pedagang diijinkan membeli kayu cendana dan menjual barang dagangannya. Kayu cendana dibeli dengan harga sangat murah. Seluruh keuntungan dari perdagangan       jatuh ke tangan raja dan bangsawan serta keluarganya. Perahu atau kapal yang menyusur pantai Selatan di Laut Timor dapat melakukan kegiatan perdagangan sebelum maupun sesudah mencapai kuala Benain ketika Laut Timor tidak menggelora sebelum musim hujan. Kapal atau perahu dagang dengan mudah dan aman berlabuh di kuala Benain yang dalam airnya dan terlindung dari bahaya sungai maupun laut.

Laporan Duarte Barbosa yang datang ke kepulauan tahun 1516, dalam Gede Parimartha (2002) menyebutkan antara lain: di antara kapal-kapal dagang dari Malaka dan Jawa yang datang ke Timor tidak hanya mengambil barang-barang kayu cendana, madu dan lilin tetapi juga budak.

Pada akhir abad ke 16 perdagangan cendana nampak ramai, dilakukan terutama oleh pedagang Malaka, Portugis dan Asia. Pedagang Cina dari Malaka memegang peranan utama dalam perdagangan. Ketika kemudian muncul hubungan langsung antara Timor dengan Macau peranan Cina Malaka nampak menurun digantikan oleh Portugis. Pada tahun 1630 keuntungan berdagang cendana di Timor dapat mencapai 150-200%, sedangkan keuntungan pedagang Macau di Cina 100%.

Pergeseran peran daerah muara ke anak sungai Benain di Noemuti

Surutnya kekuasaan kerajaan Wewiku Wehali akibat serangan pasukan Portugis, diperparah dengan lepasnya para penguasa lokal (usif) di daerah perbukitan anak sungai Benain yang semula sebagai pemasok cendana. Para usif di daerah penghasil cendana ramai-ramai melepaskan diri dan tidak lagi memberikan upeti dan kayu cendana. Surutnya maromak Oan       sebagai    penguasa       kerajaan      Wewiiku     Wehali           dalam     syair adat digambarkan sebagai sebuah pohon besar yang kehilangan daun dan pohon besar yang bersedih ( ai dadoko, ma ai kaekoli ) karena kehilangan kekuasaan dan kewibawaan sebagai akibat para usif tidak tunduk lagi untuk membayar upeti ( Ataupah, 1992).

Pada akhir abad 17 peran sungai Benain dan Laut Timor yang telah berjalan berabad-abad sebagai urat nadi perdagangan cendana semakin surut ketika kekuasaan Portugis hitam (kase metan) di bawah pimpinan Dominggus da Costa membangun   pusat kekuasan baru di Noemuti.

Portugis hitam yang dikenal dengan istilah kase metan sebenarnya merupakan   keturunan      campuran        Portugis      yang       di   Timor juga mengidentifikasikan diri sebagai keturunan Malaka. Lahirnya keturunan Malaka generasi kedua sebagai dampak jatuhnya bandar Malaka ketangan VOC tahun 1641. Para pedagang dan orang-orang Portugis dan keturunan campuran terpaksa mengungsi di antaranya ke Makasar. Pada tahun 1650-1667 ketika terjadi perang dan akhirnya Makasar jatuh ketangan VOC dan ditanda tangani Perjanjian Bongaya tahun 1667, orang Portugis harus mengungsi keluar Makasar menuju Larantuka kemudian juga ke Lifao dan  Noemuti ( Hagerdal, 2005, Sejarah Gereja Katolik di Indonesia 1, 1974).

Noemuti terletak di pinggir sungai Noemuti sebagai salah satu anak sungai Benain. Noemuti berfungsi menggantikan kedudukan Wewiku Wehali dalam bidang politik dan perdagangan cendana. Noemuti letaknya strategis di pertengahan daerah penghasil cendana, berada di pinggir sungai Noemuti dan tidak jauh dari Lifao. Sejak saat itu terjadi pergeseran pusat kegiatan politik dan ekonomi tidak lagi di muara sungai Benain tetapi di anak sungai Benain.

Noemuti dibangun sebagai salah satu pusat penimbunan cendana yang diperoleh dari anak-anak sungai Benain. Namun Cendana tidak lagi diangkut melewati sungai Benain ke arah muara tetapi diangkut melalui jalan darat ke Pantai Lifao yang jaraknya hanya 35 km. Pengangkutan lewat darat ke Pantai Utara jauh lebih praktis dari pada harus ke muara sungai Benain.

Untuk pengamanan pasokan cendana para panglima perang (meo) yang dilatih di Noemuti dikirimkan ke berbagai wilayah pertumbuhan cendana. Untuk menjamin pasokan cendana para penguasa lokal (usif) tidak saja diikat dengan politik perkawinan, tetapi juga ikatan agama katolik.

Noemuti sebagai pusat baru dibangun dalam bentuk benteng (kota) dengan pusat pada gedung gereja dan istana da Costa. Terdapat 4 pejabat utama yang disebut meol lakrus meol salim (Melo, da Cruz dan Salim).. Di samping itu di Noemuti terdapat 18 suku utama, yang pemukimannya ditata untuk memperkuat pertahanan benteng Noemuti. 9 postoh di daerah hulu sungai dan 9 postoh di daerah hilir sungai ( noe nakan dan noe hain).

Sejak Noemuti menggantikan peran Wewiku Wehali, muara sungai Benain dan Laut Timor merosot perannya digantikan anak sungai Benain dan Lifao di Laut Sabu. Noemuti mampu memegang hegemoni politik di Timor Barat sampai pertengahan abad 18 dan menjadi penggerak menghambat lajunya kekuasaan VOC di Timor Barat. ***

sumber: Laut Timor dan Sungai Benain Dalam Perspektif Perkembangan Sosial Politik di Timor Barat Abad ke 17 Oleh: Munandjar Widiyatmika

About these ads

About Patris Allegro

native Timorese, clasiccal-music lover, existensialist on the street....

Posted on Mei 5, 2012, in Ekonomi & Bisnis, Sejarah and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

mbojosouvenir™

SPESIALIS TEMPAT BIKIN JAKET, KAOS, HOODIE, VARSITY, CARDIGAN, BLAZER, KEMEJA, PIN, MUG UNTUK KELAS DAN ANGKATAN

mtmaulana

Positive Thinkring Positive Spirit

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Shitmen System

Ata pupu ta'an to'u. Iki lewo soga tana

Benyamin Lakitan

Research, Technology, and Innovation +Photography

FORESTER'S BLOG

JALAN - JALAN DI HUTAN

Nona's Life Journal

Smile, what's the used of crying?

ariesadhar.com

sebuah perspektif sederhana...

Matt Thomas Photography

Personal photographic website/blog looking at Action Sports, Portraiture, Landscape and Travel photography

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Seneng Utami

Kekuatan dalam Kesederhanaan

Yuki Hikaru

just another wordpress site

PERCETAKAN CV. NADA GROUP - JAKARTA

Percetakan | Komputer | Desain Grafis | Foto Copy | ATK | Penjilidan Dll Open 24 Jam Nonstop

Duniaku

You Can Do More Than You Can Imagine

senibenni

berkarya dalam bentuk rupa

@NotedCupu Mahasiswa "Imigran"

Di Bawah Lindungan AC Yang Terkutuk| #NotedCupu

KEMBARA KEHIDUPAN SEORANG THEOFILUS NATUMNEA

"Melayani dengan Setulus Hati"

Return to Rai Ketak

Ruminations on Timor my (once) island home

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.381 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: