Ume: Rumah Tinggal dan Simbol Kewanitaan Atoin Meto

Ume, Oekiu – Fatukopa

Ume, House, Home

Kata Ume, adalah sebuah istilah Uab Meto (bahasa Dawan). Dalam bahasa Indonesia kata itu mengandung pengertian rumah. Rumah di sini dimengerti sebagai house dalam bahasa Inggris, yang diinginkan oleh setiap anggotanya. Setiap anggota keluarga inti menginginkan sebuah rumah bagi dirinya sendiri, di mana dia mendapatkan kesempatan untuk berkembang sebagai manusia utuh baik dalam soal sosial, psikoemosionalnya serta dalam nilai-nilai kehidupan umum, yang diharapkan oleh segenap manusia.

Anak-anak etnis Atoin Meto sebagaimana anak-anak etnis lainnya juga ingin berkembang sehat sebagai manusia, yang memiliki akal sehat dan pengetahuan yang baik dalam hidup sehari-hari baik di dalam rumah keluarganya maupun di dalam interaksinya dengan sesama anggota masyarakatnya di dalam lingkungan hidupnya.

Selain daripada itu seorang anak Atoin Meto merindukan sebuah home, di mana dia merasakan kenyamanan dan kebahagiaan, serta rasa terlindung, sebagai prasyarat bagi berlangsungnya segala sesuatu yang dibutuhkan untuk hidup sebagai manusia sehat dan biasa.

Sebagaimana kelompok manusia normal di mana saja, demikian juga kelompok manusia etnis Atoin Meto, membangun rumah tinggalnya dengan menggunakan berbagai sarana yang diperolehnya dari lingkungan hidupnya, yang sebagian besar masih mendominasi pemukiman di pedesaan gunung dan pedalaman, dan hanya sedikit jumlahnya yang menetap di kota-kota. Mereka memotong kayu untuk tiang dan segala kebutuhannya, mereka mencari alang-alang dan menyiapkan tali temali yang akan digunakan untuk mengikat kayu-kayu, yang digunakan dalam membangun rumah itu. Mereka menyiapkan sendiri, dengan tangan berdasarkan kemampuan alamiahnya, segala yang dibutuhkan untuk membangun sebuah pondok atau rumah.

Tahap-tahap Pembangunan Ume

Pembuatan rumah tinggal hingga sekarang masih tetap mengikuti satu format yang berkembang dari generasi ke generasi. Ketika orang mulai memutuskan untuk menetap, manusia penghuni Pah Meto Timor membangun pondok di tengah hutan atau padang atau ladang, yang digunakan untuk tinggal sementara, karena mereka biasanya tinggal di dalam lubang atau gua batu. Pada suatu saat mereka mulai meninggalkan gua batu, dan mulai membangun rumah sendiri, yang berfungsi untuk pertama menaungi mereka dari panas matahari yang terik ataupun guyuran hutan yang lebat ketika mereka berada di luar. Dengan demikian terjadilah bahwa pondok itu diberikan tutupan di atasnya dengan dedaunan kayu apapun, yang kemudian disebut atap. Dalam bahasa setempat disebut teifin atau toben. Mereka membangun kemah atau pondok itu dari bahan yang sederhana, yang terdiri dari empat atau hanya dua batang tiang, yang hanya sekedar menahan dedaunan, yang dijadikan penutup bagian atasnya. Ketika mereka mulai memilih dan memutuskan untuk menetap di dalam ruang tersebut dalam tenggang waktu yang lebih panjang dan bahkan terus menerus, maka mereka memikirkan cara-cara yang tepat untuk melindungi diri dari segala tiupan dan hembusan angin panas dan dingin, pada malam dan siang hari, atau sepanjang hari hidupnya. Ketika mereka mengalami tiupan angin yang kencang, yang mengakibatkan penutup atas dan sampingnya diterbangkan angin dan cuaca dingin yang mengganggu istirahat mereka di dalamnya, maka mereka membangun penghalang yang baik dan rapih untuk mengurangi masuknya hembusan angin ke dalam ruangan mereka. Mereka menyebutnya dinding atau dalam bahasa setempat disebut nikit. Di dalam ruangan itu mereka tidak hanya sekedar beristirahat untuk sejam atau dua jam, melainkan ruangan itu menjadi tempat interaksi antar anggotanya dalam menyalurkan dan membagi nilai-nilai dan norma-norma kehidupan bersama yang baik dan berguna. Di dalam ruangan itu mereka ingin hidup dan berkembang dalam segala aspek sebagai manusia yang normal dan sehat secara utuh. Orang mulai membangun rumah dengan tiang dan dinding serta atap yang baik sehingga bertahan selama beberapa waktu.

Ini boleh dikatakan sebagai tahap paling awal dari usaha masyarakat setempat untuk menciptakan sebuah rumah, yang didambakan oleh setiap manusia normal dan sehat.

Tahap kedua pembuatan rumah tinggal Atoin Meto adalah rumah bulat (kerucut). Pada sebagian wilayah, yang lingkungan cuacanya sangat dingin, orang membiarkan atap rumah itu sampai di tanah dan masih ditambahkan lagi dengan dinding yang tebal dan hanya menyisakan satu pintu masuk yang sempit dan rendah. Pintu itu dibangun sekian sebagai upaya untuk sedapat mungkin menghalang atau mengurangi cuaca dingin yang hendak masuk ke dalam rumah.

Namun yang ingin dibahas di sini ialah tentang cara pembuatan rumah tinggal itu, yang tiang-tiangnya ditanamkan ke dalam tanah dengan cara menggali atau menyiapkan lubang yang cukup dalam sesuai dengan kebutuhan. Tanpa banyak pemikiran dan kesulitan orang membangun rumah tinggal tersebut dengan mengandalkan kemampuan untuk meniru bentuk-bentuk rumah yang sudah ada saat itu. Kemampuan untuk meniru bagi orang-orang itu cukup tinggi. Kelemahan dan kekurangan lainnya membuat mereka harus mengurungkan niat untuk memiliki ruamh tinggal lebih baik. Hal ini berlaku bukan hanya dalam hal membuat pembuatan rumah tinggal, melainkan juga dalam hal-hal sosial spiritual dan lain-lain.

Perlengkapan yang dibutuhkan untuk membangun sebuah rumah mengalami perkembangan yang cukup mencolok mata. Pada mulanya mereka tidak memikirkan tentang bahan yang bertahan lama selama beberapa tahun. Bagi mereka yang penting adalah memiliki atap di atas kepala, dan juga dinding, yang melindungi diri mereka dari segala macam serangan yang membahayakan atau paling kurang mengganggu. Bahan yang digunakan untuk membangun atap adalah daun kayu atau daun kelapa, daun gewang, daun lontar, yang diolah secara sederhana, tanpa harus memperhatikan unsur keindahannya. Kondisi rumah tinggal seperti ini bertahan cukup lama berkaitan dengan kemampuan dan kekuatan daya beli masyarakat, serta kemampuan untuk mengambilalih teknologi yang lebih tinggi dan baik berkaitan dengan hal itu. Pada tahap ini bentuk rumah tinggal yang masih sederhana dibuat dalam dua bentuk yakni bentuk rumah bulat kerucut dan rumah biasa sederhana, yang mempunyai empat sisi. Dalam perkembangan selanjutnya orang setempat mengadopsi lagi sebuah bentuk lain, yang terdiri dari dua sisi, yakni hanya sisi yang panjang, yang diatapi sedangkan bagian yang sempit dibiarkan terbuka atau ditutup dengan bahan-bahan lainnya. Bahan-bahan atap masih tetap sama, tradisional dan lokal, termasuk juga dindingnya yang masih menggunakan batang bambu yang sudah dicincang halus. Pada tahap ini rumah orang-orang setempat belum memiliki jendela, karena dinding rumah mereka memiliki ventilasi yang cukup walaupun tidak terencana baik.

Tahap kedua pembuatan rumah tinggal mengalami kemajuan. Bahan-bahan yang digunakan masih diambil dari lingkungan sekitar, namun cara pengerjaannya mengalami peningkatan kualitas. Maksudnya adalah tiang-tiang rumah itu diberdirikan tidak lagi dengan cara menggali lubang di tanah untuk ditanam.  Tiang-tiang rumah itu didirikan di atas batu ceper datar, yang menjadi alasnya dan semua kayu yang digunakan untuk menghubungkan bagian yang satu dengan bagian lain, yang tidak diikat melainkan dipaku sesudah batang-batang tiang itu diolah dan disiapkan secara lebih baik dari yang biasa. Tiang-tiangnya dan kayu-kayu penghubungnya tidak lagi dikerjakan meng-gunakan parang, alat kerja tradisional masyarakat setempat, melainkan menggunakan alat kerja modern seperti pahat, gergaji, meter, siku-siku dan pemukul. Lalu pelaksanaannya dipercayakan kepada seorang yang mempunyai ketrampilan dalam hal mem-bangun rumah model itu. Orang mulai mengganti dindingnya dengan pelepah-pelepah gewang yang kecil, walaupun atapnya masih tetap mempertahankan alang-alang. Dalam perkembangan selanjutnya orang mulai mengenal bahan atap seng, yang bisa diperoleh di toko-toko di kota, sesuai dengan kemampuan daya beli masyarakat setempat. Tahap ini berlangsung agak lama disebabkan semata-mata oleh daya beli masyarakat setempat. Bahan atap seng sudah lama dikenal, namun karena kekuatan daya beli masyarakat belum mencu-kupi, maka bahan tersebut belum bisa dipakai, bahkan hal itu masih terlihat hingga zaman sekarang ini. Pada tahap ini orang sudah memperhatikan ventilasi udara, yang disiapkan secara khusus dalam bentuk jendela, walaupun ukurannya selalu berbeda dari rumah ke rumah. Di sini orang belum bersedia atau belum terdorong untuk saling belajar dari satu sama lain dalam banyak hal yang baik. Bangunan rumah ini disebut rumah yang dibangun di atas batu yang sebagai dasar tiang-tiangnya.

Tahap berikut yakni ketiga dari perkembangan pembuatan rumah tinggal adalah perubahan pemikiran mengikuti trend yang sedang berkembang di dalam masyarakat umumnya yakni bahwa selain tiang-tiang rumah, juga seluruh rumah termasuk dindingnya, dibangun di atas fundasi yang dikerjakan menggunakan bahan perekat yakni semen. Walaupun bagian lain dari bangunan rumah itu masih tetap mempertahankan berbagai bahan lokal, namun dasar atau fundasinya sudah mengalami perubahan yang sangat mencolok. Tahap ini tidak lama bertahan dan bahkan menjadi tahap awal dan bagian dasar perkembangan dan penyempurnaan bangunan yang lebih baik. Pada tahap ini banyak hal dalam proses pembuatan rumah tinggal mengalami perkembangan kemajuan dalam soal kerapihan, keindahan dan keharmonisan. Bangunan rumah ini disebut rumah yang dibangun di atas fundasi semen yang kuat.

Tahap berikut yang dikembangkan dan hadir berbarengan dengan model dari tahap-tahap lain, yang masih dipertahankan berbagai kelompok anggota masyarakat adalah bangunan rumah tinggal, yang masih menggunakan kayu untuk tiang-tiangnya, tetapi dindingnya mengalami perkembangan kemajuan. Sebagian dindingnya dibangun menggunakan batu merah atau batu biasa yang dikombinasikan dengan kapur, pasir dan semen. Namun tembok yang dibangun mengelilingi bagian bawah dari rumah itu sebagai dinding rumah, tingginya hanya mencapai kurang dari satu meter. Berdasarkan model bangunan seperti itu orang biasa menyebutnya rumah setengah tembok, yang kalau ditilik sungguh-sungguh, maka ukuran tembok rumah itu hanya sepertiga atau seperempat dari dinding rumah seluruhnya. Sebagian atas dari dindingnya digunakan bahan-bahan material lokal seperti pelupuh atau bebak, yang kurang lebih memperhatikan kerapihan dan keindahan, juga kebutuhan atas ventilasi udara. Kayu-kayu yang digunakan untuk menyelesaikan bangunan rumah tinggal sudah dikerjakan secara agak profesional oleh mereka yang juga memiliki profesi dan terlatih untuk membangun rumah. Pada umumnya kayu-kayu untuk kebutuhan itu sudah dikerjakan dengan menggunakan alat-alat kerja yang lebih baik seperti yang biasa digunakan oleh para pekerja di bengkel-bengkel kayu sederhana. Rumah tinggal yang dibangun atas cara demikian sudah termasuk dalam rumah yang baik, walaupun lantai di dalam rumah belum mengalami perkembangan yang luar biasa. Pada umumnya lantai masih dikerjakan secara sederhana dengan hanya menggunakan semen halus. Penggunaan batu marmer atau tehel untuk lantai rumah masih termasuk langkah, karena hal itu termasuk dalam kategori barang mewah dan mulia karena harganya yang agak mahal.

Tahap keempat dari sejarah perkembangan pembuatan rumah tinggal dalam budaya Atoin Meto adalah penggunaan semen dan bebatuan, baik batu alam maupun batu merah ataupun batako. Bangunan rumah seperti ini bisa mengambil bentuk dari luar, atau masih mempertahankan bentuk yang biasa, yakni segi empat. Anggota etnis Atoin Meto yang membangun rumahnya dengan menggunakan bahan-bahan bangunan seperti itu sudah semakin banyak, bertolak dari kesadaran anggota etnis itu untuk membangun sebuah rumah tinggal yang bagus dan nyaman, serta sehat juga berdasarkan perkembangan kemampuan pemahamannya akan keindahan sebuah rumah tinggal, yang juga ditunjang oleh kemampuan keuangan untuk menyediakan semua bahan bangunan yang mahal, serta bisa membayar gaji para pekerja atau tukangnya.

Tahap terakhir dari pembuatan rumah tinggal dalam kalangan Atoin Meto adalah pergantian kayu sebagai bahan bangunan tiang-tiang utamanya dengan besi beton. Bangunan rumah tinggal model ini dimiliki oleh anggota kelompok etnis Atoin Meto yang mempunyai hidup dan kerja yang bagus, baik dalam bagian pemerintahan maupun mereka yang berwira-swasta, yang mempunyai penghasilan yang bagus pula.  Bangunan model ini selalu dilengkapi dengan lantai rumah yang terbuat dari jubin mulia  atau tehel sesuai dengan selera pemiliknya. Pada umumnya bangunan rumah tinggal seperti ini sudah sangat kuat memperhatikan unsur-unsur keindahan dan kebersihan serta kualitas bahan-bahannya. Hal ini juga mengandaikan kemampuan finansial pemiliknya.

Ume Kontekstual

Sejarah perkembangan kualitas pembangunan rumah tinggal dalam kalangan etnis Atoin Meto bukanlah suatu kenyataan monopoli. Kenyataan itu merupakan sejarah perkembangan yang bersifat universal, yang terdapat dalam setiap kelompok etnis dan setiap pribadi atau keluarga yang memiliki kemampuan daya beli. Namun anggota etnis Atoin Meto juga terbuka untuk belajar dari orang lain dan juga belajar untuk mengambilalih teknologi modern yang digunakan oleh anggota etnis lain, yang tinggal berdampingan dalam ruang lingkup yang sama. Anggota etnis Atoin Meto juga belajar dari orang lain untuk menghemat keuangan yang diperolehnya untuk bisa membiayai berbagai kepentingan, termasuk untuk memperbaiki rumah tinggal mereka menjadi lebih baik dan indah.

Selain dari perkembangan kualitas pembuatan rumah tinggal, yang mengikuti laju perkembangan zaman dalam hidup sosial budaya, anggota etnis Atoin Meto pada beberapa wilayah tertentu memelihara sebuah kebiasaan membangun rumah kontekstual. Yang dimaksudkan dengan rumah kontekstual adalah rumah bulat berbentuk kerucut, yang dibangun oleh sebagian masyarakat Atoin Meto untuk kebutuhan keamanan jasmani dan material. Rumah model itu dalam kalangan masyarakat Atoin Meto disebut Ume-Suba’ dan oleh masyarakat Atoin Meto di Timor Tengah Selatan, ume suba’ itu disebut ume kbubu ( lht. Eben Nuban Timo. Pemberita Firman Pencinta Budaya. PT. BPK Gunung Mulia Jakarta, 2005, 59-63), yang memiliki pengertian yang sama, dan juga menampilkan bentuk yang sama pula.

Bentuk rumah tinggal ume kbubu atau suba’ itu, yang sekaligus berfungsi sebagai gudang ini hanya dipraktekkan oleh anggota masyarakat Atoin Meto dalam wilayah Meumafo seluruhnya, lalu wilayah Amanatun, Amanuban, Molo dan Amfoan serta Amarasi, namun tidak dipraktekkan oleh penduduk Atoin Meto di Insana dan Biboki.  Bentuk rumah jenis itu memiliki atap mulai dari bubungan hingga tanah, dan terkadang atapnya menyentuh tanah, sehingga dindingnya tidak terlihat orang.  Model rumah itu memiliki pintu masuk yang sempit dan pendek atau rendah, sehingga  orang harus membungkuk kalau hendak masuk ke dalamnya.

Bentuk rumah ini sangat khas sebagai tanda identitas sebagian besar masyarakat penghuni Pah Meto. Saya menduga bahwa model rumah seperti ini yang menjadi cikal bakal dari rumah tinggal (ume) dan gudang makanan (lopo). Dasarnya adalah bahwa di dalam Ume-Suba’ ada tersedia tempat untuk tidur dan juga dapur serta bagian atasnya difungsikan sebagai gudang penyimpangan berbagai jenis bahan makanan keluarga termaksud. Selain itu orang menyimpan juga barang-barang lainnya, yang tidak biasa disimpan di bawah. Dalam perkembangan selanjutnya mungkin dipisahkan fungsi kedua ruangan tersebut, yakni ruang untuk tidur dan melaksanakan segala kegiatan lainnya dipisahkan dari ruang yang berfungsi sebagai gudang. Ruang bawah dari ume suba’ itu rupanya dikembangkan menjadi rumah tinggal bagi anggota keluarga, tempat masak dan penyimpanan segala alat dapur serta tempat tidur bagi kaum perempuan.

Sementara ruang atas, yang berfungsi sebagai gudang penyimpanan barang-barang lain milik keluarga itu, tetap dipertahankan dengan meniadakan ruangan bawah yang berdinding dan ujung atap bawahnya sampai menyentuh tanah. Dengan demikian terciptalah sebuah gudang makanan yang dalam bahasa masyarakat Atoin Meto disebut lopo (lumbung). Ruang bawah dari lopo itu menjadi ruang tamu dan juga ruang tidur bagi kaum lelaki pada malam hari atau pada siang hari. Jarang terjadi bahwa seorang wanita tidur malam atau bahkan siang di dalam ruang bawah lopo. Setiap anggota etnis Atoin Meto tahu kalau para wanita selalu berada di dalam rumah untuk berbagai urusan keluarga dan setiap lelaki dewasa harus berada dan tidur di dalam lopo pada malam hari.

Ume dengan bentuknya yang tertutup dalam pemahaman Atoin Meto diperuntukkan bagi kaum wanita, yang selalu terlindung dari segala bahaya yang mengancam. Ume juga merupakan simbol kewanitaan.

Dalam kelompok tertentu, para wanita menerima tamunya di dalam rumah, bukannya di dalam ruang terbuka dari Lopo. Di ume (rumah) itu sang wanita menyiapkan segala sesuatu sebelum dihidangkan kepada kaum laki-laki di dalam Lopo. Di dalam ruangan rumah itu juga kaum ibu dan wanita melaksanakan segala sesuatu yang berkaitan dengan statusnya sebagai seorang wanita dan terlebih sebagai seorang ibu dan seorang istri. Rumah tinggal menawarkan perlindungan, keamanan, kenyamanan, rasa at home, yang juga dapat dialami oleh manusia lain seperti anak dan suami dari ibu dan istrinya.  Sang ibu, yang adalah seorang wanita diharapkan bisa juga menjadikan rumah tinggalnya sebagai ruang yang menarik dan menggugah bagi semua penghuninya, sehingga merasa betah tinggal di dalamnya, dan selalu merasa sebagai suatu kebutuhan untuk kembali ke rumah. Sebab di dalamnya orang mengalami kepastian, bahwa di sana dia diterima dan disayangi.

Penduduk wilayah Atoin Meto memiliki tiga model rumah tinggal di luar dari bangunan lopo, yang lebih banyak berfungsi sebagai gudang. Ketiga model itu adalah (1) rumah kerucut yang bubungannya berbentuk kubah dan atapnya sampai ke tanah; (2) adalah rumah biasa yang dindingnya sampai di tanah dan (3) rumah panggung, yang sekarang hampir tidak lagi ditemukan pembuatannya, walaupun dulu pernah dimiliki orang perorangan (Lht juga Eben Nuban Timo. Pemberita Firman Pencinta Budaya. BPK Gunung Mulia Jakarta, 2005, 54-64).

 

Oleh: Andreas Tefa Sawu

 

About these ads

About Patris Allegro

native Timorese, clasiccal-music lover, existensialist on the street....

Posted on Juli 12, 2012, in Budaya and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

mbojosouvenir™

SPESIALIS TEMPAT BIKIN JAKET, KAOS, HOODIE, VARSITY, CARDIGAN, BLAZER, KEMEJA, PIN, MUG UNTUK KELAS DAN ANGKATAN

mtmaulana

Positive Thinkring Positive Spirit

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Shitmen System

Ata pupu ta'an to'u. Iki lewo soga tana

Benyamin Lakitan

Research, Technology, and Innovation +Photography

FORESTER'S BLOG

JALAN - JALAN DI HUTAN

Nona's Life Journal

Smile, what's the used of crying?

ariesadhar.com

sebuah perspektif sederhana...

Matt Thomas Photography

Personal photographic website/blog looking at Action Sports, Portraiture, Landscape and Travel photography

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Seneng Utami

Kekuatan dalam Kesederhanaan

Yuki Hikaru

just another wordpress site

PERCETAKAN CV. NADA GROUP - JAKARTA

Percetakan | Komputer | Desain Grafis | Foto Copy | ATK | Penjilidan Dll Open 24 Jam Nonstop

Duniaku

You Can Do More Than You Can Imagine

senibenni

berkarya dalam bentuk rupa

@NotedCupu Mahasiswa "Imigran"

Di Bawah Lindungan AC Yang Terkutuk| #NotedCupu

KEMBARA KEHIDUPAN SEORANG THEOFILUS NATUMNEA

"Melayani dengan Setulus Hati"

Return to Rai Ketak

Ruminations on Timor my (once) island home

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.381 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: