Arsip Blog

Hotel Terapung dan Pemandangan Eksotis Teluk Kupang

Hari ini Kupang  berawan. Tidak biasa  Agak sejuk. Mungkin bisa turun hujan. Setidaknya setelah Perayaan Paskah akhir Maret lalu, baru kali ini mendung datang lagi. Tak ada harapan untuk turunnya hujan. Tapi yang pasti sore ini ada sunset yang dramatis.

Jam empat sore. Hunting sunset. Kali ini ke mana? Oesapa, Paradiso, Lasiana atau Tenau? Terpikir untuk mencoba tempat yang baru. Nah, itu sebuah jalan baru menyusur pesisir pantai di Kelapa Lima. Proyek yang baru setengah jadi dari Pemkot Kupang. Di tempat itu sedang dibangun dua hotel berbintang.  Sementara dikerjakan. Aston Hotel yang masih disesaki dengan alat berat. Dan Hotel Prasanthi On The Rock, yang nyaris menjadi hotel terapung.

Hotel Aston

Hotel Aston

Hotel On The Rock

Hotel On The Rock

Tiba di pasar ikan Kelapa Lima, aku berbelok masuk. Ke pantai. Seorang lelaki berdiri menghadang di tengah jalan. Sempat terpikir jangan sampai tempat ini belum boleh diakses publik. Oh, ternyata juruparkir. Seribu rupiah. Aku memberinya selembar duaribuan dan bermaksud tidak menerima kembaliannya.  Seratus meter  ke depan, dan kau disambut debur ombak: pandangan bebas lepas ke arah biru laut teluk Kupang.  Tempat  yang benar-benar tersembunyi dari jalan umum, dihalangi kemegahan arsitektur  Hotel on The Rock.

Sepi. Sepasang kekasih sedang bermesraan pada tangga turun ke laut. Para tukang bangunan sedang asyik memoles casing bangunan Hotel on The Rock.  Tiga empat orang di lantai puncak sedang memalu dengan dentum bergaung panjang. Bahkan percakapan mereka dari atas bisa ditangkap dengan jelas. Beberapa tukang di depan pagar sedang memindahkan setumpuk tanah gembur ke deretan tumbuhan pinang. Hotel Prasanthi On the rock Kupang sudah dibuka untuk umum sejak Februari 2013 lalu. Meski pekerjaan finishing belum selesai. Beberapa tamu sedang kongkow di lobi.

Bagian tepi laut jalan yang belum beraspal itu dibatasi pagar beton setinggi paha orang dewasa. Nyaman untuk  diduduki atau bahkan kalau kau mau meniti di atasnya. Kau bebas menikmati arsitektur On The Rock di depanmu, atau pemandangan perbukitan Sulamu di Timur, Pulau kera di tengah teluk Kupang di bagian utara dan di barat sana pulau Semau menyembul, siap-siap menelan bola matahari sore. Tepat di depan pintu gerbang Hotel aku duduk dan menunggu waktu yang tepat untuk menjepret sunset.

Agaknya tempat ini menjadi tak terpisahkan dari Hotel On the Rock. Lobi and lounge yang langsung menghadap ke teluk Kupang itu seolah mengingatkan bahwa ini bagian dari arsitektur Hotel. Saya yakin iklan hotel ini pasti menyebut-nyebut view teluk Kupang dan Sunsetnya.

Beberapa menit berlalu dan orang-orang berdatangan. Pasti tujuan yang sama dengan saya. Mobil, sepeda motor dan pejalan kaki. Juga para penarik untung dari keramaian: dua lelaki, masing-masing dengan pikulan jajan kacang rebus dan … seorang bocah, memulung.

Awan yang berarak di atas teluk kupang, seperti gerombolan sapi dari kawasan Sulamu menuju ke semau. Bola api kepanasan sedang tertutup lapisan awan tipis bergelombang.  Mendung di bagian selatan semakin tebal. Beberapa tetes air mengenaiku. Gerimis, namun cuma  sekejap. Pukul Lima lebih tigapuluh menit, dan ufuk barat menjadi kemerah-merahan. Mentari menyembul dari balik awan dan segera memamerkan keelokan apinya.  Sinarnya memantul di jendela-jendela kamar Hotel On The ROck. Kau tahu bagaimana reaksi orang yang berkumpul sejak tadi di situ?

DSC_8422_3_4_tonemapped

Sunset View

DSC_8438_39_40_tonemapped

Mereka tak relaaaa…

DSC_8428_tonemapped

Pantulan Sunset di On the Rock

Pantulan Sunset di On the Rock

Masing-masing mengeluarkan gadgetnya, berbagai bentuk berbagai ukuran. Saya lihat paling banyak mengeluarkan tablet. Lalu mengarahkannya ke ufuk barat dan jepret.

Lihat ke Hotel! Beberapa jendela terkuak, layar terbuka dan tablet nongol keluar. Seakan  semua orang di dunia tak rela merima kenyataan bahwa sang surya sedang pamit meninggalkan teluk Kupang. Momen jepret! Saya pikir ini momen paling sibuk selama kegiatan hunting sunset saya.

Tapi ada yang tidak peduli dengan sunset kemerahan itu. Seorang lelaki tua lalu lalang dengan pikulan kacang rebusnya. Setakar limaribu rupiah. Takaran dalam kaleng bekas susu dancow kecil itu kira-kira sama dengan isi dua genggaman tangan orang dewasa. Untuk bisa memotret lelaki tua itu dari dekat, aku memanggil dia, membeli setakar kacangrebus [pura-pura?] dan … jepret.

hj

Sisi lain sunset view

Sisi lain sunset view

Seorang teman yang kuhubungi tadi baru saja bergabung. Ketika akhirnya  bola mentari amblas di pesisir pulau Semau, kegiatan berikutnya adalah duduk-duduk bercerita. Satu persatu pengunjung menghilang. Jendela-jendela Hotel mulai tertutup. Beberapa masih terus menjepret dengan kilat lampu blitz. Kembali hening.

Lampu-lampu kota segera berkelip. Dimlight in Kupang. Petugas Hotel menyalakan empat buah lampu sorot yang terpasang di lantai puncak. Saya pikir bisa membaca buku di sini. Sorot lampu tajam menembak hingga beberapa meter ke arah laut. Pemandangan sunset tadi segera berubah menjadi tontonan akuarium. Sayang akuarium ini rupanya lupa dibersihkan pemiliknya. Ikan-ikan kecil berjibaku di antara gundukan sampah. Kresek, kulitkacangrebus, gelas bekas kemasan air minum dan  entah apa lagi, menemui akhir hayatnya pada suatu penantian di dasar pantai ….

Beberapa orang datang dengan joran. Mancing itu keasyikan lain lagi. Tapi aku harus pulang [lalu memposting tulisan ini]

Selain Pantai Kupang aka Pantai Teddys, ini satu lagi tempat rekreasi sunset di Kupang. Sama seperti di Teddys, kau pasti enggan mandi di sini. Tapi kalau sekedar menikmati alunan ombak dan permainan aneka rona senja hari, datang saja ke tempat ini. Oia, saran saya [kepada siapa?] sebaiknya cuma pejalan kaki yang diizinkan ke sini, biar mengurangi kesesakan dan polusi. Artinya, perlu disiapkan areal parkiran di luar tempat ini [pusing cari tempat lagi?]

Nah, sekali waktu ketika kau berkunjung ke Kupang – NTT, jangan lupa mampir ke On The Rock Kupang. Baca info HOTELnya di sini. That’s worth for the exotic sunset of Teluk Kupang. Deal?

Menu Makan Malam

Tempat yang dulunya adalah persawahan hijau, sekarang telah berubah menjadi lapak makan. Ada berbagai restoran berlomba menyajikan menu terbaik bagi para tamu. Oya, tempat itu terletak di kawasan Oepoi, dekat Flobamora Mall, berhadapan dengan Bank NTT di jalan WJ Lalamentik Kupang.

Tempat makan ini sudah amat dikenal oleh warga kota Kupang. Setiap hari selalu saja ada yang meliburkan dapur di rumah dan menjajaki makanan yang lebih banyak didatangkan dari luar. Misalnya, menu jagung bose tidak tersedia di restoran ini – saya lupa namanya.

Malam itu, saya diajak teman-teman untuk kumpul-kumpul makan tempat di  salah satu tempat makan tersebut. Saya memarkir sepeda lalu beranjak masuk ke ruang yang penuh dengan kipas angin. Saya tak bisa membayangkan kota Kupang tanpa angin-angin buatan seperti ini. Ruangan itu sudah penuh dengan berbagai ragam manusia, tua muda kecil besar menikmati santapan yang terhidang di meja.

Daftar menu pun disodorkan oleh pramusaji. Tak ada yang khas. Sebut misalnya capcay, cah kangkung, panggang sapi dan aneka jus.  Tapi yang khas memang ikannya. Terserah mau diapain: digoreng, dibakar, dibikin kuah asam, sesuka tamu-lah. Kuliner yang paling mencolok di Kupang ya ikan, Bukan Se’i. Tak semua orang suka se;i kan? Selain soal selera juga terutama soal keyakinan.

Akhirnya kami – saya dan teman-teman sepakat ikan itu dibuatkan kuah asam. Saya membayangkan yang akan hadir di meja makan malam ini adalah serpihan ikan dan potongan belimbing. Panas, dan terasa masam. Tapi banyak orang bilang enak.  Maka saya juga harus bilang begitu.

Malam makan bersama ini, adalah sebuah perayaan ulang tahun yang tertunda. Dulu, saya pikir makan di restoran itu hanya untuk orang yang memang tidak punya dapur. Entah karena memang dapurnya tertinggal di Jawa, atau karena memang tidak bisa membuat dapur sendiri. Tapi sekarang baru saya tahu kalau makan di resto atau tempat makan lainnya, artinya kau cuma ingin sekedar dimanjakan sebentar: lidahmu, kenyamananmu – dengan sejumlah balas jasa kepada para pramusaji.

Menu sudah tersaji di depan. Semangkuk besar kuah asam, satu cah kangkung, dua cah bunga papaya, satu panggang sapi. Empat jus sirsak, satu teh hangat, jeruk hangat, jus tomat dan jus kelapa muda. *terlalu banyak jusnya?*
577016_615425518472063_481309731_n

181086_615425485138733_1309996519_n

483647_615425538472061_858532865_n

526778_615425601805388_1764056087_n

549874_615425405138741_840559956_n

562871_615425455138736_1372160637_n

Semuanya dihabiskan dalam sekejap, sebelum akhirnya bercuap-cuap tentang pemilihan Gubernur yang akan berlangsung keesokan harinya. Kamu pilih siapa? Siapa yang paling unggul blablabla. Abu rokok di asbak beterbangan ke mana-mana gegara tiupan angin dari kipas besar di samping. Malam sebuah perayaan ultah di tepi persawahan yang mulai tergusur.

Saya ingat entah kata siapa, satu-satunya kantor Gubernur di Indonesia yang berpekarangan dan berhalaman sawah hanya kantor Gubernur NTT yang di Jalan Eltari itu. Konon, pemilik sawah itu pernah dijanjikan sesuatu dari pemerintah untuk segera tukar guling. Namun setelah lama menunggu, janji itu tak kunjung ditepati. Akhirnya si empunya sawah bersumpah, semahal apapun tawaran dari pemerintah atau pengusaha, beliau tak kan melepaskan sawah itu. Sawah itu akan tetap menjadi sawah di tengah kota.  Wah, nekad juga si om ya? Kita lihat saja limatahun ke depan.

Oia, bahan obrolan sudah habis. Kuah asamnya juga sudah ludes. Yuk mari pulang. Sampai jumpa di obrolan berikutnya.

DEEDEE

Love & Expression

VatiKos Theologie

Bible Theology Spirituality

ignatia esti sumarah

Just another WordPress.com weblog

For Christ and the Church

The official blog of Father Christopher Roberts

damdubidudam

setiap kata punya makna

mbojosouvenir™

SPESIALIS TEMPAT BIKIN JAKET, KAOS, HOODIE, VARSITY, CARDIGAN, BLAZER, KEMEJA, PIN, MUG UNTUK KELAS DAN ANGKATAN

mtmaulana

Positive Thinkring Positive Spirit

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Shitmen System

Ata pupu ta'an to'u. Iki lewo soga tana

Benyamin Lakitan

Research, Technology, and Innovation +Photography

FORESTER'S BLOG

JALAN - JALAN DI HUTAN

Nona's Life Journal

Smile, what's the used of crying?

ariesadhar.com

sebuah perspektif sederhana...

Matt Thomas Photography

Personal photographic website/blog looking at Action Sports, Portraiture, Landscape and Travel photography

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Seneng Utami

Kekuatan dalam Kesederhanaan

Yuki Hikaru

just another wordpress site

PERCETAKAN CV. NADA GROUP - JAKARTA

Percetakan | Komputer | Desain Grafis | Foto Copy | ATK | Penjilidan Dll Open 24 Jam Nonstop

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.437 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: