Arsip Blog

Menu Makan Malam

Tempat yang dulunya adalah persawahan hijau, sekarang telah berubah menjadi lapak makan. Ada berbagai restoran berlomba menyajikan menu terbaik bagi para tamu. Oya, tempat itu terletak di kawasan Oepoi, dekat Flobamora Mall, berhadapan dengan Bank NTT di jalan WJ Lalamentik Kupang.

Tempat makan ini sudah amat dikenal oleh warga kota Kupang. Setiap hari selalu saja ada yang meliburkan dapur di rumah dan menjajaki makanan yang lebih banyak didatangkan dari luar. Misalnya, menu jagung bose tidak tersedia di restoran ini – saya lupa namanya.

Malam itu, saya diajak teman-teman untuk kumpul-kumpul makan tempat di  salah satu tempat makan tersebut. Saya memarkir sepeda lalu beranjak masuk ke ruang yang penuh dengan kipas angin. Saya tak bisa membayangkan kota Kupang tanpa angin-angin buatan seperti ini. Ruangan itu sudah penuh dengan berbagai ragam manusia, tua muda kecil besar menikmati santapan yang terhidang di meja.

Daftar menu pun disodorkan oleh pramusaji. Tak ada yang khas. Sebut misalnya capcay, cah kangkung, panggang sapi dan aneka jus.  Tapi yang khas memang ikannya. Terserah mau diapain: digoreng, dibakar, dibikin kuah asam, sesuka tamu-lah. Kuliner yang paling mencolok di Kupang ya ikan, Bukan Se’i. Tak semua orang suka se;i kan? Selain soal selera juga terutama soal keyakinan.

Akhirnya kami – saya dan teman-teman sepakat ikan itu dibuatkan kuah asam. Saya membayangkan yang akan hadir di meja makan malam ini adalah serpihan ikan dan potongan belimbing. Panas, dan terasa masam. Tapi banyak orang bilang enak.  Maka saya juga harus bilang begitu.

Malam makan bersama ini, adalah sebuah perayaan ulang tahun yang tertunda. Dulu, saya pikir makan di restoran itu hanya untuk orang yang memang tidak punya dapur. Entah karena memang dapurnya tertinggal di Jawa, atau karena memang tidak bisa membuat dapur sendiri. Tapi sekarang baru saya tahu kalau makan di resto atau tempat makan lainnya, artinya kau cuma ingin sekedar dimanjakan sebentar: lidahmu, kenyamananmu – dengan sejumlah balas jasa kepada para pramusaji.

Menu sudah tersaji di depan. Semangkuk besar kuah asam, satu cah kangkung, dua cah bunga papaya, satu panggang sapi. Empat jus sirsak, satu teh hangat, jeruk hangat, jus tomat dan jus kelapa muda. *terlalu banyak jusnya?*
577016_615425518472063_481309731_n

181086_615425485138733_1309996519_n

483647_615425538472061_858532865_n

526778_615425601805388_1764056087_n

549874_615425405138741_840559956_n

562871_615425455138736_1372160637_n

Semuanya dihabiskan dalam sekejap, sebelum akhirnya bercuap-cuap tentang pemilihan Gubernur yang akan berlangsung keesokan harinya. Kamu pilih siapa? Siapa yang paling unggul blablabla. Abu rokok di asbak beterbangan ke mana-mana gegara tiupan angin dari kipas besar di samping. Malam sebuah perayaan ultah di tepi persawahan yang mulai tergusur.

Saya ingat entah kata siapa, satu-satunya kantor Gubernur di Indonesia yang berpekarangan dan berhalaman sawah hanya kantor Gubernur NTT yang di Jalan Eltari itu. Konon, pemilik sawah itu pernah dijanjikan sesuatu dari pemerintah untuk segera tukar guling. Namun setelah lama menunggu, janji itu tak kunjung ditepati. Akhirnya si empunya sawah bersumpah, semahal apapun tawaran dari pemerintah atau pengusaha, beliau tak kan melepaskan sawah itu. Sawah itu akan tetap menjadi sawah di tengah kota.  Wah, nekad juga si om ya? Kita lihat saja limatahun ke depan.

Oia, bahan obrolan sudah habis. Kuah asamnya juga sudah ludes. Yuk mari pulang. Sampai jumpa di obrolan berikutnya.

Kopdar Blogger Kupang @OCD Beach Café Lasiana

Hujan deras mengguyur kota Kupang, Minggu siang, 16 Februari 2013. Pagi yang cerah tadi berganti dengan siang yang basah dan banjir yang melupa ke mana-mana  (?) Rencana bersama teman-teman onliners buat kopdar sore ini agaknya terancam. Bu Dokter Sandra yang sudah jauh-jauh datang dari Kota Soe rupanya cemas, terbaca dari TL twitternya. Dia dan Yosua sedang berteduh di emperan pertokoan Kuanino Kupang. Apalah daya kalau memang hujan tak mau berhenti… terpaksa harus diterjang.

Syukurlah. Pada jam empat sore hujan mulai mereda, meski belum sepenuhnya lenyap. Langit masih gelap dan rintik masih bertebaran di sana-sini. Dody yang sudah sejak siang tadi berada di OCD café Lasiana segera meminta kami merapat ke sana.

Lasiana  di senja yang basah. Sepi. Beberapa anak muda yang nekad bermain air hujan dan air laut sekaligus, sudah bersiap-siap kembali. Beberapa orang masih berdiri dekat pantai menonton ombak yang menggelora, pantai yang keruh oleh banjir dari muara. AKu tiba di OCD Café Lasiana. Tak banyak pengunjung hari ini di satu-satunya café di tempat wisata Lasiana itu. Bunyi music jazz mengalun lembut. Dody sedang duduk lesehan. Sandra, Yosua dan Dicky sudah asyik menyeruput kopi panas dan .. kentang goreng *ini favoritnya Dr Sandra, rupanya* Aku ikut berbaur dalam percakapan ringan yang telah mereka mulai.

_DSC3269 _DSC3254

Bicara dan ngobrol banyak hal di sini. Dari topic seperti nostalgia kuliah di luar Timor dulu, hingga ke bagaimana memberdayakan masyarakat melalui kehadiran komunitas kecil semisal komunitas blogger ini. Ada semacam perhatian khusus ke tanah Soe dengan daerah Botinya yang kesohor. Singkat kata, anak-anak muda ini bertekad untuk terus bahu-membahu membangun tanah Timor sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan masing-masing.

Inda yang datang kemudian. *Akhirnya dr Sandra tidak lagi menjadi satu-satunya yang tercantik diantara gerombolan kecil sore itu*. Ini kali pertama saya berjumpa dengan Inda Wohangara, sebelumnya sudah sempat jalan-jalan ke blognya dan menemukan beberapa postingan menarik. Di penghujung, seperti biasa ada tukar-menukar cinderamata. Yang ini tidak main-main lho. Cinderamata itu berupa buku hasil karya sendiri. Hebat khan. Dicky dan Sandra sudah punya buku masing-masing. Dan mereka juga sementara mengusahakan agar orang muda lainnya juga mau ikut menulis buku.

Akhirnya karena keburu waktu kami bubar. Sandra dan Yosua mesti pulang kembali ke Soe, 110 km dari Kupang. Sementara Dody tetap bertahan akan melanjutkan acaranya di OCD Café.

BTW OCD Cafe itu keren lho. Café dengan view ke pantai Lasianana itu sungguh memanjakan mata. Sayangnya, senja itu absen dari rona jingga karena hujan sejak siang tadi. Tapi aneh, Dicky Senda justru lebih senang dengan sore itu: senja yang tanpa merahnya. Konon, ini mengingatkan dia akan adegan-adegan film horror. Wuih!

Kami bubaran setelah sepakat akan menjadikan pertemuan-pertemuan berikutnya rutinitas bulanan. Ya, sampai jumpa pada kopdar berikutnya. Eh, mudah-mudahan di Soe?

 

mbojosouvenir™

SPESIALIS TEMPAT BIKIN JAKET, KAOS, HOODIE, VARSITY, CARDIGAN, BLAZER, KEMEJA, PIN, MUG UNTUK KELAS DAN ANGKATAN

mtmaulana

Positive Thinkring Positive Spirit

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Shitmen System

Ata pupu ta'an to'u. Iki lewo soga tana

Benyamin Lakitan

Research, Technology, and Innovation +Photography

FORESTER'S BLOG

JALAN - JALAN DI HUTAN

Nona's Life Journal

Smile, what's the used of crying?

ariesadhar.com

sebuah perspektif sederhana...

Matt Thomas Photography

Personal photographic website/blog looking at Action Sports, Portraiture, Landscape and Travel photography

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Seneng Utami

Kekuatan dalam Kesederhanaan

Yuki Hikaru

just another wordpress site

PERCETAKAN CV. NADA GROUP - JAKARTA

Percetakan | Komputer | Desain Grafis | Foto Copy | ATK | Penjilidan Dll Open 24 Jam Nonstop

Duniaku

You Can Do More Than You Can Imagine

senibenni

berkarya dalam bentuk rupa

@NotedCupu Mahasiswa "Imigran"

Di Bawah Lindungan AC Yang Terkutuk| #NotedCupu

KEMBARA KEHIDUPAN SEORANG THEOFILUS NATUMNEA

"Melayani dengan Setulus Hati"

Return to Rai Ketak

Ruminations on Timor my (once) island home

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.381 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: