Arsip Blog

Selamat Datang di Rai Hawu!

Bagaimana geliat pembangunan daerah otonomi yang baru mekar dari kabupaten Kupang itu? Inilah yang menjadi pertanyaan saya ketika saya ditugaskan untuk pergi ke Sabu Raijua, sebuah kabupaten di wilayah Barat Daya pulau Timor. Tugas kali ini adalah tugas pastoral. Saya dan teman saya RD Rudy akan mengadakan sosialisasi Kegiatan APP dan TIOM di paroki St Paulus Seba.

Tanggal 28 Februari, tepat jam delapan lebih tigapuluh menit, saya dan RD Rudy sudah check in ke bandara. Penerbangan hari ini dengan Susi Air, pesawat cessna yang hanya memuat selusin orang, ditambah pilot dan co-pilot.

Menurut jadwal kami akan berangkat jam 9.30. Akan tetapi setelah lama menunggu di ruangtuanggu belum juga ada tanda-tanda hendak berangkat. Ruang tunggu bandara sedang direnovasi. Ada sedikit rasa ketaknyamanan di sana. Sebuah baliho besar menyatakan permintaan maaf dari pihak pengurus bandara.
Baru satu jam kemudian, kami boarding ke pesawat kecil itu. Kami calon penumpang, berkumpul dekat tangga masuk pesawat. Seorang lelaki muda memperagakan cara memakai baju penyelamatan. Kemudian kami dipersilakan naik ke pesawat. Memilih tempat duduk masing-masing. Saya dan dua orang penumpang lainnya ada di barisan paling belakang. RD Rudy memilih duduk di belakang pilot. Tak ada kabin khusus untuk pilot, semuanya menjadi satu ruang dalam pesawat kecil ini.

Menuju pesawat Cessna

Menuju pesawat Cessna

Narsis sebelum boarding

Narsis sebelum boarding

tak kalah narsisnya saya

tak kalah narsisnya saya

usai briefing di bawah teduhnya sayap cessna

pilot dan copilotnya bule, laki dan perempuan

Pesawat mulai lepas landas, meninggi di atas pulau Semau. Tanjung Sulamu di sebelah kanan dan Ujung Pulau Rote di sebelah kiri. Kami lantas menghilang ke dalam gemawan. Pesawat meluncur tenang. Lelaki di sebelah kanan dan kiriku mulai tertidur, atau sengaja tidur. Aku terus menatap rupa-rupa gemawan yang bergonta-ganti, hingga akhirnya muncul padang kehijauan: Pulau Sabu!

Dengan sedikit usaha, pohon-pohon bisa kau hitung

Dengan sedikit usaha, pohon-pohon bisa kau hitung

Dari atas segera “ketahuan”, kalau pulau ini memang tandus. Tidak jauh berbeda dengan sebagian besar kondisi topografi Timor. Sabana dan lontar menghampar di perbukitan. Dengan sekali pandang seluruh pulau sabu habis dilahap mata. Saya merasa seperti berada dalam Game Age of Empire ketika para templar menemukan kepulauan baru.

Pesawat merendah, kemudian menukik ke arah bandara kecil Tardamu. Bangunan menara dan ruang tunggu sedang dikembangkan. Ada sebuah kemah terpal berwarna biru dengan sederet kursi di pinggir lapangan. Agaknya itu ruang tunggu emergency… menunggu bangunan utama diselesaikan.

Bertemu Bupati Sabu Raijua

Saya dan teman saya tadi baru pertama datang ke Sabu. Pesan singkat yang ditujukan kepada penjemput belum juga dibalas. Kami mengaso sebentar di bawah pohon reo. Seseorang mendekati kami.
“Pak dong dari mana?”
“Dari Kupang”
“Bapak Bupati ada suruh jemput” (Kelihatan dia begitu yakin bahwa orang yang dimaksud adalah kami).
Hah, dijemput bapa Bupati Sabu Raijua? Ternyata kedatangan kami sudah diinformasikan kepada pejabat daerah setempat. Lebih tepatnya, kepada Pak Marten Dira Tome. Beliau adalah teman baik tokoh umat di Paroki Assumpta Kupang. Bapak Alo Liliweri telah meminta bapak Marten Dira Tome untuk “memfasilitasi” kedatangan kami berdua ke Sabu. Sebenarnya ini juga bersesuaian dengan komitmen beliau sebagai Bupati Sabu Raijua: selalu memperlakukan tamu daerah Sabu dengan sangat hormat, demi menarik banyak orang dan memperkenalkan Sabu Raijua kepada orang “luar”. Selain itu, hemat saya, Kota Seba belum memiliki fasilitas transportasi umum dan penginapan yang terbatas, membuat aparat pemerintah turut terlibat memperhatikan tamu yang datang.

Singkat kata, kami segera menumpang sebuah sedan plat merah, dikendarai oleh  , “panggil saya Bapak Nduufi”. Beliau adalah Kasubag Perlengkapan yang “diperintah” Bupati untuk “mengawal” kedatangan kami.
Mobil meluncur ke arah perkantoran Bupati, di daerah Menia, sebelah Timur Seba. Tugas pertama kami di pulau lontar ini adalah bertemu Bapak Bupati. Beliau kami dapati sedang bersiap-siap hendak ke Sabu Timur. Dengan ramah, beliau menyambut kami. Kebetulan juga, beliau sudah mengenal teman saya RD Rudy, juga RD Ande Kabelen, yang sempat menitipkan salam hormat kepada pak Bupati melalui saya. Setelah berbasa-basi sejenak, Pak Bupati segera pergi.

Bertemu Pater Franz Lackner

Dari Kantor Bupati kami menuju ke Pastoran Seba. Melalui sebuah gang di kawasan pasar Seba kami bertemu dengan bangunan Gereja dan sebuah rumah sederhana dengan konstruksi yang sedikit berbeda dengan bangunan sekitar. Sebuah rumah beratap seng, berdinding setengah tembokk, setengah bambu. Inilah rumah asrama puteri, sekaligus tempat tinggal Pater Franz Lackner, SVD. Nah, siapa Pater Franz? Saya berani menjamin setiap orang Rote atau Sabu pasti pernah bertemu dan mengenal lelaki tua asal Austria ini. Beliau adalah misionaris SVD yang sudah lama membaktikan hidupnya untuk kepentingan orang Sabu dan Rote. Ada banyak cerita tentang pastor ini. Tapi itu saya ceritakan lain kali saja.

Lelaki bule yang sangat lancar berbahasa Sabu dan Rote itu menyongsong kami di depan asrama. Katanya, tadi beliau melihat kami di bandara. Dia bermaksud menjemput tadi, tapi karena kami tak melihat dia, – karena saya dan RD Rudy belum bertemu muka dengan dia – kami lantas menumpang mobil jemputan, dan Pater pulang dengan “hampa”. Ternyata, pastor ini punya selera humor yang sangat tinggi. Banyak sekali anekdot dan gurauan menyelingi kisah-kisahnya di siang hari itu, di bawah rindang pohon ketapang di depan rumah. Suasana gerah kota Seba sungguh tak terasa. Saya, RD Rudy dan Pak NduUfi hanya bisa ketawa-ketiwi. Sesekali ia berbahasa Rote dengan Pak NduUfi yang kelahiran Rote.

ngobrol bersama pater franz

ngobrol bersama pater franz

di bawah rindang pohon ketapang

di bawah rindang pohon ketapang

Rumah Makan Pondok Lontar
Pak Nduufi mengantar kami ke penginapan, sebuah bangunan mirip kos-kosan di Kupang, tepat di belakang Bank NTT Seba. Belum selesai rupanya tugas Bapak Nduufi. Baru saja kami meletakkan barang bawaan dalam kamar penginapan, beliau mengundang kami untuk makan siang. Wah, rasanya terimakasih saja tidak cukup. Kami di bawa kembali menuju ke arah Menia, ke sebuah Rumah Makan, Pondok Lontar.

Rumah Makan Pondok Lontar sedang sepi. pengunjung yang datang baru kami bertiga. Rumah yang dibangun dari bahan pohon lontar itu menyediakan menu yang sangat NTT, masakan dari daging babi. Kami memesan sup babi dan es teh. Tanpa menunggu terlalu lama hidangan pun tersedia.

sup brenebon, dengan wadah unik dari batok kelapa

sup brenebon, dengan wadah unik dari batok kelapa

Bon appetite!

Bon appetite!

kenyang....

kenyang….

interior yang asri

interior yang asri

 

Di rumah makan ini sangat terasa suasana religi. Lagu-lagu pop rohani kristen disetel lembut mengiringi makan siang. Pada sebuah tiang ada ukiran doa Bapa kami dalam Bahasa Inggris. (Saya pikir pasti lebih bagus kalau bisa dalam Bahasa Sabu).

Naskah Our Father di Pondok Lontar

Naskah Our Father di Pondok Lontar

Setelah menghabiskan menu kami kembali ke penginapan. Beristirahat.

di beranda penginapan

di beranda penginapan

Tugas yang sesungguhnya, inti kedatangan kami ke Rai Hawu ini, akan terjadi sebentar sore, di Gereja Santu Paulus Seba. Saatnya beristirahat. Kamar yang berAC membuat mata terasa berat. Saya berbaring menunggu senja turun ke Rai Hawu…

Hotel Terapung dan Pemandangan Eksotis Teluk Kupang

Hari ini Kupang  berawan. Tidak biasa  Agak sejuk. Mungkin bisa turun hujan. Setidaknya setelah Perayaan Paskah akhir Maret lalu, baru kali ini mendung datang lagi. Tak ada harapan untuk turunnya hujan. Tapi yang pasti sore ini ada sunset yang dramatis.

Jam empat sore. Hunting sunset. Kali ini ke mana? Oesapa, Paradiso, Lasiana atau Tenau? Terpikir untuk mencoba tempat yang baru. Nah, itu sebuah jalan baru menyusur pesisir pantai di Kelapa Lima. Proyek yang baru setengah jadi dari Pemkot Kupang. Di tempat itu sedang dibangun dua hotel berbintang.  Sementara dikerjakan. Aston Hotel yang masih disesaki dengan alat berat. Dan Hotel Prasanthi On The Rock, yang nyaris menjadi hotel terapung.

Hotel Aston

Hotel Aston

Hotel On The Rock

Hotel On The Rock

Tiba di pasar ikan Kelapa Lima, aku berbelok masuk. Ke pantai. Seorang lelaki berdiri menghadang di tengah jalan. Sempat terpikir jangan sampai tempat ini belum boleh diakses publik. Oh, ternyata juruparkir. Seribu rupiah. Aku memberinya selembar duaribuan dan bermaksud tidak menerima kembaliannya.  Seratus meter  ke depan, dan kau disambut debur ombak: pandangan bebas lepas ke arah biru laut teluk Kupang.  Tempat  yang benar-benar tersembunyi dari jalan umum, dihalangi kemegahan arsitektur  Hotel on The Rock.

Sepi. Sepasang kekasih sedang bermesraan pada tangga turun ke laut. Para tukang bangunan sedang asyik memoles casing bangunan Hotel on The Rock.  Tiga empat orang di lantai puncak sedang memalu dengan dentum bergaung panjang. Bahkan percakapan mereka dari atas bisa ditangkap dengan jelas. Beberapa tukang di depan pagar sedang memindahkan setumpuk tanah gembur ke deretan tumbuhan pinang. Hotel Prasanthi On the rock Kupang sudah dibuka untuk umum sejak Februari 2013 lalu. Meski pekerjaan finishing belum selesai. Beberapa tamu sedang kongkow di lobi.

Bagian tepi laut jalan yang belum beraspal itu dibatasi pagar beton setinggi paha orang dewasa. Nyaman untuk  diduduki atau bahkan kalau kau mau meniti di atasnya. Kau bebas menikmati arsitektur On The Rock di depanmu, atau pemandangan perbukitan Sulamu di Timur, Pulau kera di tengah teluk Kupang di bagian utara dan di barat sana pulau Semau menyembul, siap-siap menelan bola matahari sore. Tepat di depan pintu gerbang Hotel aku duduk dan menunggu waktu yang tepat untuk menjepret sunset.

Agaknya tempat ini menjadi tak terpisahkan dari Hotel On the Rock. Lobi and lounge yang langsung menghadap ke teluk Kupang itu seolah mengingatkan bahwa ini bagian dari arsitektur Hotel. Saya yakin iklan hotel ini pasti menyebut-nyebut view teluk Kupang dan Sunsetnya.

Beberapa menit berlalu dan orang-orang berdatangan. Pasti tujuan yang sama dengan saya. Mobil, sepeda motor dan pejalan kaki. Juga para penarik untung dari keramaian: dua lelaki, masing-masing dengan pikulan jajan kacang rebus dan … seorang bocah, memulung.

Awan yang berarak di atas teluk kupang, seperti gerombolan sapi dari kawasan Sulamu menuju ke semau. Bola api kepanasan sedang tertutup lapisan awan tipis bergelombang.  Mendung di bagian selatan semakin tebal. Beberapa tetes air mengenaiku. Gerimis, namun cuma  sekejap. Pukul Lima lebih tigapuluh menit, dan ufuk barat menjadi kemerah-merahan. Mentari menyembul dari balik awan dan segera memamerkan keelokan apinya.  Sinarnya memantul di jendela-jendela kamar Hotel On The ROck. Kau tahu bagaimana reaksi orang yang berkumpul sejak tadi di situ?

DSC_8422_3_4_tonemapped

Sunset View

DSC_8438_39_40_tonemapped

Mereka tak relaaaa…

DSC_8428_tonemapped

Pantulan Sunset di On the Rock

Pantulan Sunset di On the Rock

Masing-masing mengeluarkan gadgetnya, berbagai bentuk berbagai ukuran. Saya lihat paling banyak mengeluarkan tablet. Lalu mengarahkannya ke ufuk barat dan jepret.

Lihat ke Hotel! Beberapa jendela terkuak, layar terbuka dan tablet nongol keluar. Seakan  semua orang di dunia tak rela merima kenyataan bahwa sang surya sedang pamit meninggalkan teluk Kupang. Momen jepret! Saya pikir ini momen paling sibuk selama kegiatan hunting sunset saya.

Tapi ada yang tidak peduli dengan sunset kemerahan itu. Seorang lelaki tua lalu lalang dengan pikulan kacang rebusnya. Setakar limaribu rupiah. Takaran dalam kaleng bekas susu dancow kecil itu kira-kira sama dengan isi dua genggaman tangan orang dewasa. Untuk bisa memotret lelaki tua itu dari dekat, aku memanggil dia, membeli setakar kacangrebus [pura-pura?] dan … jepret.

hj

Sisi lain sunset view

Sisi lain sunset view

Seorang teman yang kuhubungi tadi baru saja bergabung. Ketika akhirnya  bola mentari amblas di pesisir pulau Semau, kegiatan berikutnya adalah duduk-duduk bercerita. Satu persatu pengunjung menghilang. Jendela-jendela Hotel mulai tertutup. Beberapa masih terus menjepret dengan kilat lampu blitz. Kembali hening.

Lampu-lampu kota segera berkelip. Dimlight in Kupang. Petugas Hotel menyalakan empat buah lampu sorot yang terpasang di lantai puncak. Saya pikir bisa membaca buku di sini. Sorot lampu tajam menembak hingga beberapa meter ke arah laut. Pemandangan sunset tadi segera berubah menjadi tontonan akuarium. Sayang akuarium ini rupanya lupa dibersihkan pemiliknya. Ikan-ikan kecil berjibaku di antara gundukan sampah. Kresek, kulitkacangrebus, gelas bekas kemasan air minum dan  entah apa lagi, menemui akhir hayatnya pada suatu penantian di dasar pantai ….

Beberapa orang datang dengan joran. Mancing itu keasyikan lain lagi. Tapi aku harus pulang [lalu memposting tulisan ini]

Selain Pantai Kupang aka Pantai Teddys, ini satu lagi tempat rekreasi sunset di Kupang. Sama seperti di Teddys, kau pasti enggan mandi di sini. Tapi kalau sekedar menikmati alunan ombak dan permainan aneka rona senja hari, datang saja ke tempat ini. Oia, saran saya [kepada siapa?] sebaiknya cuma pejalan kaki yang diizinkan ke sini, biar mengurangi kesesakan dan polusi. Artinya, perlu disiapkan areal parkiran di luar tempat ini [pusing cari tempat lagi?]

Nah, sekali waktu ketika kau berkunjung ke Kupang – NTT, jangan lupa mampir ke On The Rock Kupang. Baca info HOTELnya di sini. That’s worth for the exotic sunset of Teluk Kupang. Deal?

Segores Tinta Coemi

Just everything about something unique, valuable, and wonderful

..just a journal of an ancient knowledge

xenology - astrology - meta science - ocultism - local wisdom

TISYA PUNYA

Apapun yang terjadi, Nikmatilah~~

DEEDEE

Love & Expression

VatiKos Theologie

Bible Theology Spirituality

ignatia esti sumarah

Just another WordPress.com weblog

For Christ and the Church

The official blog of Father Christopher Roberts

damdubidudam

setiap kata punya makna

mbojosouvenir™

SPESIALIS TEMPAT BIKIN JAKET, KAOS, HOODIE, VARSITY, CARDIGAN, BLAZER, KEMEJA, PIN, MUG UNTUK KELAS DAN ANGKATAN

mtmaulana

Positive Thinkring Positive Spirit

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Shitmen System

Ata pupu ta'an to'u. Iki lewo soga tana

Benyamin Lakitan

Research, Technology, and Innovation +Photography

FORESTER'S BLOG

JALAN - JALAN DI HUTAN

Nona's Life Journal

Smile, what's the used of crying?

ariesadhar.com

sebuah perspektif sederhana...

Matt Thomas Photography

Gloucestershire based Extreme Action Sports, Commerical, Portraiture and Travel photographer

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.465 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: