Arsip Blog

Selintas Kenangan di Kota Ende

Hari telah menjelang malam ketika mobil travel Ruteng-Ende memasuki pesisir Nangapanda. Debur ombak tak lagi menarik perhatian, sebab tubuh ini sudah terlampau lelah. Perjalanan sedari pukul sembilan pagi tadi sudah cukup buat menghabiskan energi menikmati pemandangan sekitar.

Di depan dekat om sopir, teman saya mulai tertidur. Om sopir juga mulai jarang bercerita, dan lebih berkonsentrasi pada jalanan yang menukik merayapi tebing-tebing pinggir pantai untuk menuju kota Ende. Di atas bus cuma terdengar lagu-lagu yang dari mp3 player. Rupanya semua penumpang sudah tertidur.

Kami tiba di Kota Ende pada pukul duabelas malam. Pas pergantian hari. Para Suster CIJ yang sudah diberitahu sebelumnya masih menanti dengan setia. Kami masuk dengan basa-basi sebelum akhirnya menuju kamar masing-masing, mengejar malam yang terlampau larut, untuk memulihkan raga yang nyaris terkulai tak berdaya. Perjalanan sehari penuh berakhir sudah. Untuk sementara. Sebab esok siang perjalanan akan berlanjut. Ke mana lagi kalau bukan pulang ke tanah Timor lelebo?

Keesokan harinya, menanti jadwal keberangkatan pesawat, apa yang mesti diperbuat? Karena ini pertamakalinya kau berada di kota Ende, maka janganlah kau sia-siakan kesempatan memeriksa keindahan dan keasrian kota pesisir dengan bukit mejanya yang legendaris.





Kau dan kedua teman lainnya yang sama-sama seperti rusa masuk Ende mulai mengatur rute perjalanan dan tempat-tempat “wisata” yang akan dikunjungi. Tempat pertama yang pasti takkan kau lewatkan adalah Gereja Katedral Christo Regi. Dengan sepeda motor ojek, kalian beranjak dan merapat masuk ke dalam Gedung Gereja di mana terdapat takhta Keuskupan Agung Ende itu. Saat itu sedang berlangsung misa perkawinan. Ada pasangan yang menikah. Di pastoran tak ada siapa-siapa. Lantas kalian mencoba masuk ke dalam Gedung Gereja, ketika Pastor yang memimpin misa sedang berkhotbah. Dengan satu dua jepretan kamera, kalian kembali ke halaman dan mengelilingi patung Christo Regi yang berdiri megah di atas bola dunia.

Berikutnya ke SMA Syuradikara. Sekolah yang termashyur hingga ke seantero Indonesia itu kau sambangi pagi-pagi. Oktober. Tak ada kegiatan di sekolah itu. Lenggang. Liburan apa ya?

Lalu ke pelabuhan. Pokoknya jalan-jalan, sebab kau tak tahu lagi rute perjalanan di dalam kota Ende. Kau serahkan saja kepada tukang ojek membawamu ke mana saja, sempat melalui tugu Pancasila, lalu kau sejenak mengagumi sang Proklamator yang pernah dibuang ke kota di lembah Bukit Meja itu.

Dan akhirnya kau harus pulang ke tempatmu menginap semalam. Beberapa jam lagi pesawat ke Kupang mesti berangkat.
Bandara Haji Aburusman Ende sedang sibuk. Di ruang tunggu yang kecil itu, hampir seluruh penumpangnya saling kenal. Seorang lelaki di sampingmu mengajak ngobrol. Namun udara panas membuatmu tak berkonsentrasi dan menganggap dia terlampau cerewet.

Pesawat TransNusa dari Kupang siap-siap take-off. Lelaki yang tadi menyapamu di ruangtunggu kini duduk di sampingmu. Akhirnya berhasil lepas landas. “Itu sebuah kampung yang terisolasi dari dulu. Dikelilingi gunung dan hanya bisa dicapai melalui jalur laut. Syukurlah sekarang pembangunan jalan raya sudah berjalan. Mereka tak akan terisolasi lagi…..Kalau Kelimutu masih terus ke arah Sikka lagi, tuh di sebelah sana.” Lelaki yang duduk di sampingmu terus mengoceh, tapi kau sedang menahan napas sebab akibat hujan sebentar, pagi tadi, gumpalan awan bertumpuk di angkasa siang ini mengguncang-guncang pesawat dan kau kelihatan sangat pucat.

Syukurlah, tigapuluhmenit kemudian, kawasan Amfoang mulai muncul di langit biru. Tanah Timor yang kering dan gersang mencuat, mengucapkan selamat datang. Mengitari pulau Timor dari atas, kau merasa enggan turun. Dibandingkan dengan Flores yang tadi ditinggalkan, pulau timor seperti bongkahan roti yang hangus terbakar… Welcome to Bandara Eltari. Kau muncul dari balik tulisan Kedatangan/Arrival, dan tak seorangpun peduli. Mereka sibuk mengipas-ngipas menghalau bahang kota Kupang. Kota Kupang, ini aku kembali ke pelukan bahangmu….

senibenni

berkarya dalam bentuk rupa

@NotedCupu Mahasiswa "Imigran"

Terkadang Pemikir, Terkadang Gak, Terkadang Edan | #NotedCupu

KEMBARA KEHIDUPAN SEORANG THEOFILUS NATUMNEA

"Melayani dengan Setulus Hati"

Return to Rai Ketak

Ruminations on Timor my (once) island home

ManaShines

Sharing Ideas about Anything,..

Dg Situru'

catatan refleksi & pemikiran

Seluz Fahik's Blog

Here I go... Can't stop writing now!!

Gusndut Belog

catatan tak bernilai

Nunna Lita

i'm a little physic holic with big dreams, love n imaginations :)

White Chrysant

As white as a white love

Forum SoE Peduli

"Manekat Neu Pah Timor"

Musafir MSF

Misionaris Keluarga Kudus - Provinsi Kalimantan

IKATAN KELUARGA KATOLIK SUMATERA UTARA

DOA, PERSAUDARAN DAN CINTA KASIH

arintacerita

suka cerita suka jalan-jalan

Alfons Sebatu

Just another Alfons Sebatu's activities

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Rona Lembayung Senja

Menemukan Hikmah, Ilmu dan Segala Amal Sholeh

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.220 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: