Arsip Blog

Asal mula nama “KOLBANO”: KOL HAN BANO

“Suatu legenda tentang  asal mula nama KOLBANO, salah satu tempat bersejarah di Timor Barat, sekarang menjadi tempat wisata yang berpanorama indah karena batu dan pasir warnanya yang terkenal”

Nederlands: Repronegatief. Atoni van Soë die o...

Nederlands: Repronegatief. Atoni van Soë die op een karbouwhoorn blaast (Photo credit: Wikipedia)

Oleh : Nikodemus Solle, sebagaimana yang diceritakan oleh para leluhur turun-temurun, juga sebagaimana yang disampaikan oleh sdr. Frederik Pit’ay,  Mahasiswa Fakultas Keguruan Jurusan Sejarah-Budaya, UNDANA  Kupang, tahun 1969, dalam penelitianya yang tetuang dalam catatan-catatan wawancara dengan penduduk Kolbano, maupun  daerah sekitarnya, untuk Skripsinya yang berjudul : “ Perlawanan Rakjat Kolbano terhadap Pendjadjah Belanda”.

Pengantar :
KOLBANO,  adalah nama sebuah tempat bersejarah di Timor Barat, dimana dulunya menjadi  tempat perdagangan  Madu dan Cendana  antara populasi pribumi dengan bangsa asing ( antara lain : China, Portugal ,India ), sekarang ini menjadi salah satu  Kecamatan  di Kabupaten Timor Tengah Selatan, dengan nama  Kolbano setelah mekar dari Kecamatan Amanuban Selatan.  Kolbano memang indah, itulah sebabnya tempat ini menjadi tempat pariwisata yang tersohor dengan  pantai yang berwarna-warni karena batu warnanya, dan karenanya semua elemen masyarakat parut untuk menjaga kelestarianya. Walaupun demikian, masyarakatnya udah mulai melupakan legenda tentang nama Kolbano, dikarenakan generasi muda tidak menaruh minat untuk  mendengarkan atau menulis ceritera-ceritera rakyat dan tuturan sejarah  dari para  tetua. Hal ini dapat dimaklumi, karena kebiasaan suku-suku di Timor Barat, tidak memperbolehkan seseorang bertutur dengan sembarangan, sebab bagi  “atoni pah meto” (sebutan bagi populasi Timor Barat) adalah “Leu” atau keramat, karena “Natoni” atau tutur sejarah  adalah “Fanu”  atau mantera yang mengandung  tuah atau senjata  yang dapat membawa kemalangan (jika salah bertutur) atau membawa keberuntungan (jika benar). Lebih dari pada itu, pada jaman penjajahan, banyak sekali perubahan kekuasaan dari bangsawan yang asli kepada bangsawan bentukan penjajah karena kepentingan perdagangan dan kepentingan penjajahan, sehingga menyebabkan suku yang berkuasa berusaha menghilangkan pengaruh suku penguasa terdahulu dengan cara – cara  kekerasan sehingga  dalam  “Natoni” atau bertutur terdapat istilah  “aum uab / uab amut” atau ceritra yang dibungkus, atau dikemas, sehingga tidak dibuka untuk umum karena biasanya ceritra itu memalukan seseorang ( raja / penguasa / bangsawan, atau suku / marga tertentu) ataupun “uab amut” itu  terjadi karena “fanu” (mantra) seseorang terkait marga / suku  agar tidak diketahui orang lain atau marga / suku lain, karena dapat menyebabkan kemalangan bagi yang melakukan  “natoni”.
Karena itulah, maka sejarah tentang suku-suku ataupun legenda-legenda tempat di Timor Barat (Pah Meto) sangat sulit didapatkan, bahkan hampir punah. Tanpa bermaksud lain-lain, kecuali hanya untuk melestarikan ceritra rakyat Timor Barat  (Atoni Pah Meto), maka penulis berusaha sedapat mungkin, menceritrakan kembali tuturan “Natoni” leluhur dari penulis tentang asal mula nama tempat KOLBANO, sebagai upaya melestarikan kekayaan budaya yang dimiliki oleh “Atoni Pah Meto”.
Beginilah legenda  asal mula nama “Kolbano” :
Konon  pada zaman dahulu, disuatu tempat bernama Balka ma Laepun1) (Balka dan Laepun), tinggallah seorang Kepala Suku dari marga Sole yang juga diakui sebagai raja  di kerajaan “Pene mFaifnome2)” yang wilayah kekuasaanya meliputi “Humoen, Pah Nai Lamu3),  termasuk  “Balka dan Laepun”.  Pada suatu saat, raja Sole, memerintahkan pada rakyatnya untuk membuat etu4) baginya di sebuah tempat yang bernama “Noe Sop5” . Etu tersebut  diolah dan ditanami dengan sain6), yang semakin hari semakin bertambah subur dan lebat, hingga berbulir dan matang.   Bulir yang dipenuhi biji sain terlihat kuning keemasan di timpa sinar matahari. Selama menunggu masa penuaianya, etu tersebut ditunggui  oleh  para abe’at7) dan abhaet8) raja. Tetapi sayang seribu sayang, rupanya para abe’at dan abha’et lengah dan tidak menjaga etu dengan baik sehingga bulir sain sebagianya dimakan habis oleh kol sain).
Pada suatu petang, raja Sole rindu untuk melepas kejenuhannya. Sang raja keluar dari sonaf9)-nya dan menuju ke etu di Noe Sop dengan harapan dapat menikmati keindahan etu yang penuh dengan sain menguning keemasan tertimpa cahaya matahari. Tetapi alangkah terkejut dan sedihnya raja, ketika didapati bahhwa sain sain itu telah rusak dan habis sebagianya. Dengan sedikit marah dipangilnya para abe’at dan abha’et-nya seraya bertanya : “ Apa gerangankah yang membuat sais-sain ini rusak ?” dengan takut para abhe’at dan abha’et menjawab : “ Usi… le kol an-ana lulu mtasa le kalu nkaet hanan on bano es na leu sin”  (artinya :  Ya raja…itu burung kecil, yang paruhnya merah, yang kalau berkicau seperti bunyi giring-giring yang merusakanya)…
Raja yang bijaksana ini, sedikit merenung lalu berkata pada para abe’at dan abha’et-nya : “ Oh….tidak apa-apa… sebab hari ini barulah saya menemukan nama yang baru bagi negeri ku  yaitu “ KOL HAN BANO10)” (burung yang bersuara seperti bunyi giring-giring).
Demikianlah kemudian dalam waktu-waktu seterusnya sebutan KOL HAN BANO berubah menjadi KOL BANO11) sampai dengan saat ini.
Keterangan :
1). Balka ma Laepun (Balka dan Laepun)  adalah : Nama Kolbano pada masa lampau, menurut Frederik Pit’ay, 1969, dalam Skripsinya yang berjudul “ Perlawanan Rakjat Kolbano terhadap Pendjadjahan Belanda” menyebutkan bahwa Balka dan Laepun adalah nama pada masa lampau dari Kolbano, dimana Balka dan Laepun adalah tempat kediaman pertama dari bangsawan Sole.
2). Pene mfaifnome  / Pene ma Faifnome adalah :  Nama tempat dimana Suku Sole, menjadikan “ Faifnome” (Bintang Timur / Bintang Fajar) sebagai lambang Suku-nya. Pene = Memandang,   Faifnome = Bintang fajar / Bintang Timur. Wilayah ini menjadi bagian kerajaan Bangsawan Sole, bahkan masih meninggalkan bekas istana kerajaan. Pene = kemudian pernah disebut sebagai Pene Selatan menjadi  berdekatan dengan Sei dan Pana. Kesemuanya ini adalah satu kesatuan ceritra terkait “ Pene mfaifnome” (akan di ceritrakan tersendiri)
3). Humoen, Pah Nai Lamu, adalah suatu wilayah luar yang masih kosong yang ditumbuhi oleh padang rumput dan merupakan negeri tanah hutan. Menurut tuturan para tetua, Suku Sole pendatang pertama  dan merupakan yang sulung,  ketika datang  hendak menetap di Lunu, tetapi karena Lunu hanyalah tempat yang terdiri dari padang rumput belaka, maka Suku ini meneruskan perjalanan ke Nakfunu melalui pinggir pantai laut selatan dan menetap di suatu tempat yang kemudian mereka namakan “ Pene”  karena mereka memandang bintang timur (terkait dengan ceritra tentang Pene mfaifnome), Lalu Negeri Selatan ini di kenal sebagai Pah Nai Lamu.
4). Etu = Kebun milik raja, yang dipersembahkan dan dikerjakan oleh Rakyatnya (terutama dari keluarga Permaisuri )
5). Noe Sop  terdiri dari  kata  Noe artinya: Kali / sungai dan Sop (dari kata : namsop) yang berarti : Selesai /Penghabisan. Jadi Noe Sop artinya Penghabisan Sungai, atau Sungai / Kali selesia  atau Ujung Kali / Sungai  (muara). Untuk mengingat sejarah tentang penyebutan nama baru KOLBANO bagi BALKA ini maka tuturan (natoni) selalu diasimilasikan  nama tempat ini sebagaimana layaknya sastra timor barat dimana selalu dibuatkan empat seuntai  yakni : Balka mLaepun, Kolbano mNoesop ( Balka dan Laepun, Kolbano dan Noesop).
6). Sain = tumbuhan jewawut (bijinya halus bulat dan kecil dalam jumlah sangat banyak pada satu bulir, bentuk daunya seperti padi, tumbuh berumpun seperti padi dari jenis rumput-rumputan dan merupakan bahan makanan raja “pah meto” pada zaman dahulu.
7). Abe’at = selalu melek matanya / tidak mengantuk  julukan bagi PENJAGA / PENUNGGU
8). Abha’et = Hamba sahaya / Abdi
9). Sonaf  = Istana Raja , Singgasana
10). KOL HAN BANO = KOL (dari KOLO = Burung), HAN (dari HANAN = Suara / bunyi), BANO = Giring – Giring. Jadi KOL HAN BANO artinya : Burung yang suaranya seperti bunyi giring-giring
11). KOL BANO = Kol (dari Kolo = Burung), Bano = Giring-giring. Jadi Kol Bano = Burung Giring-Giring (suaranya)

Diposkan oleh

Selintas Kenangan di Kota Ende

Hari telah menjelang malam ketika mobil travel Ruteng-Ende memasuki pesisir Nangapanda. Debur ombak tak lagi menarik perhatian, sebab tubuh ini sudah terlampau lelah. Perjalanan sedari pukul sembilan pagi tadi sudah cukup buat menghabiskan energi menikmati pemandangan sekitar.

Di depan dekat om sopir, teman saya mulai tertidur. Om sopir juga mulai jarang bercerita, dan lebih berkonsentrasi pada jalanan yang menukik merayapi tebing-tebing pinggir pantai untuk menuju kota Ende. Di atas bus cuma terdengar lagu-lagu yang dari mp3 player. Rupanya semua penumpang sudah tertidur.

Kami tiba di Kota Ende pada pukul duabelas malam. Pas pergantian hari. Para Suster CIJ yang sudah diberitahu sebelumnya masih menanti dengan setia. Kami masuk dengan basa-basi sebelum akhirnya menuju kamar masing-masing, mengejar malam yang terlampau larut, untuk memulihkan raga yang nyaris terkulai tak berdaya. Perjalanan sehari penuh berakhir sudah. Untuk sementara. Sebab esok siang perjalanan akan berlanjut. Ke mana lagi kalau bukan pulang ke tanah Timor lelebo?

Keesokan harinya, menanti jadwal keberangkatan pesawat, apa yang mesti diperbuat? Karena ini pertamakalinya kau berada di kota Ende, maka janganlah kau sia-siakan kesempatan memeriksa keindahan dan keasrian kota pesisir dengan bukit mejanya yang legendaris.





Kau dan kedua teman lainnya yang sama-sama seperti rusa masuk Ende mulai mengatur rute perjalanan dan tempat-tempat “wisata” yang akan dikunjungi. Tempat pertama yang pasti takkan kau lewatkan adalah Gereja Katedral Christo Regi. Dengan sepeda motor ojek, kalian beranjak dan merapat masuk ke dalam Gedung Gereja di mana terdapat takhta Keuskupan Agung Ende itu. Saat itu sedang berlangsung misa perkawinan. Ada pasangan yang menikah. Di pastoran tak ada siapa-siapa. Lantas kalian mencoba masuk ke dalam Gedung Gereja, ketika Pastor yang memimpin misa sedang berkhotbah. Dengan satu dua jepretan kamera, kalian kembali ke halaman dan mengelilingi patung Christo Regi yang berdiri megah di atas bola dunia.

Berikutnya ke SMA Syuradikara. Sekolah yang termashyur hingga ke seantero Indonesia itu kau sambangi pagi-pagi. Oktober. Tak ada kegiatan di sekolah itu. Lenggang. Liburan apa ya?

Lalu ke pelabuhan. Pokoknya jalan-jalan, sebab kau tak tahu lagi rute perjalanan di dalam kota Ende. Kau serahkan saja kepada tukang ojek membawamu ke mana saja, sempat melalui tugu Pancasila, lalu kau sejenak mengagumi sang Proklamator yang pernah dibuang ke kota di lembah Bukit Meja itu.

Dan akhirnya kau harus pulang ke tempatmu menginap semalam. Beberapa jam lagi pesawat ke Kupang mesti berangkat.
Bandara Haji Aburusman Ende sedang sibuk. Di ruang tunggu yang kecil itu, hampir seluruh penumpangnya saling kenal. Seorang lelaki di sampingmu mengajak ngobrol. Namun udara panas membuatmu tak berkonsentrasi dan menganggap dia terlampau cerewet.

Pesawat TransNusa dari Kupang siap-siap take-off. Lelaki yang tadi menyapamu di ruangtunggu kini duduk di sampingmu. Akhirnya berhasil lepas landas. “Itu sebuah kampung yang terisolasi dari dulu. Dikelilingi gunung dan hanya bisa dicapai melalui jalur laut. Syukurlah sekarang pembangunan jalan raya sudah berjalan. Mereka tak akan terisolasi lagi…..Kalau Kelimutu masih terus ke arah Sikka lagi, tuh di sebelah sana.” Lelaki yang duduk di sampingmu terus mengoceh, tapi kau sedang menahan napas sebab akibat hujan sebentar, pagi tadi, gumpalan awan bertumpuk di angkasa siang ini mengguncang-guncang pesawat dan kau kelihatan sangat pucat.

Syukurlah, tigapuluhmenit kemudian, kawasan Amfoang mulai muncul di langit biru. Tanah Timor yang kering dan gersang mencuat, mengucapkan selamat datang. Mengitari pulau Timor dari atas, kau merasa enggan turun. Dibandingkan dengan Flores yang tadi ditinggalkan, pulau timor seperti bongkahan roti yang hangus terbakar… Welcome to Bandara Eltari. Kau muncul dari balik tulisan Kedatangan/Arrival, dan tak seorangpun peduli. Mereka sibuk mengipas-ngipas menghalau bahang kota Kupang. Kota Kupang, ini aku kembali ke pelukan bahangmu….

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Shitmen System

Ata pupu ta'an to'u. Iki lewo soga tana

Benyamin Lakitan

Research, Technology, and Innovation +Photography

FORESTER'S BLOG

JALAN - JALAN DI HUTAN

Nona's Life Journal

Smile, what's the used of crying?

ariesadhar.com

sebuah perspektif sederhana...

Matt Thomas Photography

Personal photographic website/blog looking at Action Sports, Portraiture, Landscape and Travel photography

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Seneng Utami

Kekuatan dalam Kesederhanaan

Yuki Hikaru

just another wordpress site

PERCETAKAN CV. NADA GROUP - JAKARTA

Percetakan | Komputer | Desain Grafis | Foto Copy | ATK | Penjilidan Dll Open 24 Jam Nonstop

Duniaku

You Can Do More Than You Can Imagine

senibenni

berkarya dalam bentuk rupa

@NotedCupu Mahasiswa "Imigran"

Terkadang Pemikir, Terkadang Gak, Terkadang Edan | #NotedCupu

KEMBARA KEHIDUPAN SEORANG THEOFILUS NATUMNEA

"Melayani dengan Setulus Hati"

Return to Rai Ketak

Ruminations on Timor my (once) island home

ManaShines

Sharing Ideas about Anything,..

Dg Situru'

catatan refleksi & pemikiran

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.370 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: