Arsip Blog

Warga Timor Timur di Timor Barat: Kembali atau Bertahan?

Panggil saya Antonio. Antonio Dos Freitas. Saya meminta pendapat Romo, bagaimana tanggapan Gereja terhadap kami para warga extimtim sekarang ini? Presiden SBY hampir mengakhiri masa kepemimpinannya. Tentang urusan warga Timor Timur beliau pernah mengajukan alternatif bagi kami, kembali ke Timor Leste atau menetap di Indonesia. Yang menjadi persoalan bagi kami adalah bahwa ketika kembali ke tanah air bumi Lorosae kami masih dianggap pengkhianat dan tidak punya hak atas tanah Timor Lorosae. Sedangkan tetap berada di Indonesia bukan pilihan yang ideal. Kami sendiri sudah selama limabelastahun ini mengalami bagaimana perlakuan pemerintah terhadap kami. Kami masih dianggap warga kelas dua.
Saya manggut-manggut. Saya sendiri menyaksikan bagaimana dinamika warga extimtim di Gereja Taklale ini. Sejak menjadi pastor asisten di Gereja ini setiap kali saya bertemu dan ikut merasakan bagaimana penderitaan mereka. Gubuk-gubuk yang mulai reyot, perumahan yang dibuat asal-asalan (kau tahu yang namanya proyek bukan?), sarana dan fasilitas pendidikan dan kesehatan yang kurang memadai. Untungnya masih ada beberapa LSM yang bergiat di wilayah ini. Para kelompok LSM itu bagai malaikat penolong yang turun dari surga.
Menjelang berakhirnya kepemimpinan pak SBY, pemikiran tentang pulang atau bertahan kembali mengemuka. Keduanya adalah pilihan yang sulit. Tetap di NKRI semakin sengsara. Untuk kembali tak akan diterima. Mungkin jalan terbaiknya adalah bahwa Republik ini memfasilitasi kaum eks Timtim untuk mencari suaka di negeri lain [menurut Bapak Antonio].
Keluhan Antonio ini bagi pemerintah RI pastilah suatu pukulan. Tapi mungkin juga dianggap angin lalu. “Memangnya siapa kamu, warga extimor-timur?”
Sebagai seorang rohaniwan saya hanya sanggup mengamati dari segi moral. Apakah pemerintah memang RI tidak sanggup memberi suaka sewajarnya kepada orang-orang ini? Apakah mereka ini, yang dulu dengan tegar mempertahankan integrasi Timtim ke NKRI, diabaikan begitu saja?
Di pihak lain ada persoalan, kriteria apakah yang bisa dijadikan sebagai tolok ukur perhatian pemerintah terhadap orang-orang ini?
Seorang ibu, pernah terang-terangan mengatakan kepada Bapak Gubernur NTT, dalam sebuah acara kebaktian yang dihadiri orang nomor satu NTT itu. Bapak yang tempo hari datang ke rumah saya dan memberikan sejumlah janji bukan? Nah, sudah hampir lima tahun, dan coba saja Bapak mampir lagi ke sana. Dan lihat, gubuk yang sudah reyot itu. Cukup sudah omongkosong itu.
Dari curhat Bapak Antonio saya menangkap kegalauan yang begitu besar. Limabelastahun sudah mereka berstatus “tidak jelas”. Diwanti-wanti untuk tidak memakai kata ex-timtim, namun toh diperlakukan sebagai orang asing; ex tim-tim.
Republik ini memang kacau. Atau kocak?
Nyatanya, tulisan ini yang kacau dan lebay :)

Konsep Maubere dan Nasionalisme di Timor Leste

Kata Maubere bisa dirujuk muasalnya sebagai sebuah kosakata dari Bahasa Mambae. Bahasa Mambae yang dituturkan dalam berbagai dialek di lima distritu: Aile’u, Ainaru, Ermera, sebagian Manufahe dan sebagian Lukisa, merupakan rumpun bahasa daerah terbesar di Timor-Leste. Sedangkan bahasa Tetun yang kini menjadi salah satu bahasa ofisial di negara baru ini, sebenarnya hanya sebuah rumpun kecil yang digunakan oleh penduduk kota Dili (Tetun Utara), penduduk distritu Vikeke (Tetun Timur) dan sebagian penduduk distritu Kovalima (Tetun Selatan). Sedangkan bahasa Tetun yang kini menjadi salah satu bahasa ofisial di negara baru ini, sebenarnya hanya sebuah rumpun kecil yang digunakan oleh penduduk kota Dili (Tetun Utara), penduduk distritu Vikeke (Tetun Timur) dan sebagian penduduk distritu Kovalima (Tetun Selatan). Tetapi karena bahasa Tetun pernah menjadi Lingua Franca (bahasa pergaulan) yang dipakai, baik oleh pemerintah Timor-Portugis sebagai bahasa politik mau pun Gereja Katolik sebagai bahasa Liturgi, maka sebagian besar penduduk Timor-Leste pra-kemerdekaan, paling kurang pernah mengenal dan memakai bahasa Tetun itu. Walau pun telah tercatat dalam berbagai buku Linguistik bahwa di Timor-Leste, terdapat 32 bahasa dan dialek yang masih aktif digunakan oleh masyarakat. Ketika Timor-Leste menjadi negara berdaulat, anggota Parlamen Timor-Leste pada saat itu, secara bulat memutuskan untuk memasukkan bahasa Tetun sebagai salah satu bahasa negara ke dalam Konstitusi Republik Demokratik Timor-Leste (RDTL).

 

Bahasa Mambae memiliki ungkapan khusus untuk personal pronoun di luar kata ganti diri utama. Jenis kata ganti diri ini digunakan sebagai sapaan halus untuk kategori berdasarkan jenis kelamin: Mau (untuk laki-laki) dan Bui (untuk perempuan). Bere adalah nama arkais luluhur purba yang diyakini sebagai cikal-bakal orang asli Mambae.Maka ada kata Maubere dan Buibere.

Wacana mengenai gerakan nasionalisme di Timor-Leste selalu merujuk pada Maubere atau Maubereisme. Atas dasar itu, Maubere adalah sebuah identitas nasional, yang dibangun oleh geraka nasional yang menyadarkan orang Timor-Leste tentang keterbelakangan dan kemiskinanannya. Pada tingkatan tertentu, Maubere adalah personifikasi dari gerakan nasionalisme Timor-Leste.

Maubere, dari awalnya, mengalami pergeseran makna dari jaman ke jaman. Sebagai sebuah wacana politik, dan identitas nasional, interpretasi terhadap makna Maubere tergantung kepada konteks dimana Maubere digunakan, oleh siapa dan untuk menyapa siapa. Dalam berbagai momentum, interpretasi terhadap Maubere ditentukan oleh siapa “mereka” dan kesadaran nasional sebagai “kita” yang tumbuh untuk melawan berbagai sistem yang mengancam komunitas imajinatif tersebut.

Guteriano Neves dalam tulisannya Mengulas dan Menginterpretasi kembali Maubere menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

Pertama. Maubere adalah sebuah komunitas imajinatif atau “Imagined Political Community.” Merujuk pada teori Benedict Anderson, Maubere sebagai sebuah komunitas imajinatif, karena semua orang yang menyebut diri sebagai Maubere belum tentu bertemu dengan anggota Maubere yang lain. Meskipun demikian, dalam bayangan setiap orang, mereka memiliki identitas, sejarah, ras, dan latar belakang yang sama sebagai orang yang ditindas, dirampas, dan tanahnya diduduki. Lebih lanjut, sebagai sebuah komunitas imajinatif, Maubere adalah hasil dari rekayasa gerakan nasionalisme di Timor-Leste. Karena gerakan nasionalisme adalah sebuah gerakan untuk membebaskan diri dari segala bentuk penjajahan, pendudukan, dan penindasan; maka Maubere adalah sebuah komunitas imajinatif yang mendambakan dan berjuang untuk mencapai nilai-nilai di atas. Untuk menanamkan komunitas imajinatif ini dalam bayangan orang Timor-Leste, berbagai mitos historis digunakan dan dihidupkan kembali dan disebarkan melalui berbagai media. Misalnya sejarah tentang perjuangan para raja-raja untuk membebaskan diri dari penjajahan sebelum 1975; sejarah tentang asal mula pulau Timor, dan sebagainya.

Kedua, Maubere adalah sebuah Bangsa yang berdaulat. Kedaulatan, secara sederhana diartikan sebagai sebuah bangsa yang memiliki otoritas tertinggi untuk memutuskan nasib rakyatnya dalam wilayah geografis tertentu. Secara legal, prinsip ini dilindungi dan diatur oleh berbagai kerangka hukum internasional, seperti Piagam PBB, Konvensi Hak-Hak Sipil dan Politik, serta resolusi-resolusi Dewan Keamanan dan Majelis Umum PBB. Misalnya, artikel 1 dari konvensi hak-hak sipil dan politik mengatakan, semua orang memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri, status politik, dan pembangunan, ekonomi, sosial dan budaya secara bebas. Selain itu, deklarasi tentang jaminan kemerdekaan untuk para koloni tahun 1960 mengatakan bahwa dominasi, exploitasi merupakan pelanggaran terhadap hak-hak fundamental, dan pelanggaran terhadap piagam PBB. Lebih lanjut, deklarasi ini juga menegaskan bahwa semua orang memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri secara bebas dan memutukan status politiknya.

Sebagai sebuah bangsa, Maubere merupakan sebuah komunitas imajinatif yang berjuang untuk memperoleh kedaulatan dalam menentukan masa depan dan status politiknya sendiri tanpa intervensi pihak luar. Hal ini jelas dalam manual politik Fretilin, pesan-pesan Xanana, lagu-lagu serta puisi-puisi yang digunakan selama masa perjuangan untuk membangkitkan kesadaran nasional. Misalnya dalam syair lagu Foho Ramelau, salah satu ba’itnya mengatakan “hader kaer rasik kuda talin eh, hader ukun rasik ita rain eh.” Intinya, lagu ini berisikan seruan untuk menjadi tuan di atas tanahnya sendiri. Mimpi untuk menjadi bangsa yang berdaulat juga tampak jelas ketika pada masa pendudukan, Timor-Leste secara terang-terangan mengatakan“mate ka moris ukun’an.”

Ketiga, Maubere adalah sebuah konstruksi sosial. Sebagai sebuah konstruksi sosial, Maubere tidak bersifat baku dan maknanya tidak permanen. Dalam sejarah-nya, Maubere mengalami perubahan dari zaman ke zaman; tergantung pada siapa yang menggunakannya, dan kepada siapa Maubere digunakan untuk menyapa. Artinya, penafsiran terhadap Maubere sebagai sebuah identitas nasional “kita” dipengaruhi oleh keberadaan orang lain “mereka.” Dengan kata lain, sebagai sebuah konstruksi sosial, Maubere digunakan dalam relasinya dengan orang lain yang, oleh Maubere dianggap sebagai musuh yang mengancam eksistensi dan kedaulatannya. Dalam konteks ini, selama masa Penjajahan Portugues, Maubere digunakan sebagai sebuah identitas nasional dengan proyeksi pada Portugal, dan pada masa pendudukan militer Indonesia, proyeksinya adalah Indonesia atau Javanese.

Terakhir, Maubere sebagai sebuah Frontier. Frontier di sini memiliki fungsi ganda. Secara geografis, komunitas imajinatif tersebut memiliki batas-batas geografis tertentu. Sebagai sebuah kesadaran nasional, Maubere digunakan untuk menciptakan batas-batas imajinatif antara orang yang merasa diri sebagai bangsa yang tertindas, terjajah, miskin, dan melarat dengan penjajah. Maubere, yang dulunya digunakan oleh penjajah untuk membangun batas imajinatif antara penduduk lokal dan penjajah, direbut kembali oleh pelopor nasionalisme untuk membangun batas tersebut. Misalnya, Xanana menggunakan Maubere untuk menyapa khusus orang-orang Timor-Leste yang berkomitmen terhadap pembebasan tanah air dari pendudukan militer Indonesia.

Bagaimanapun juga kata kunci Maubere, telah [terlanjur] menjadi kata sakti. Hingga sekarang dalam forum-forum resmi perjuangan kemanusiaan, orang Timor-Leste sering menyebut diri mereka: Povo Maubere (Masyarakat Maubere), yang nyaris identik dengan: “Rakyat Timor-Leste”. Beberapa organisasi resmi, entah itu organisasi politik atau non-politik, menggunakan kata Maubere sebagai nama khas organisasinya. Misalnya Security Maubere, dengan logo antik, “buaya-timor”, dan sebagainya. Dalam kampanye-kampanye menjelang pemilihan anggota Parlemen atau Presiden Timor-Leste, Maubere dan Buibere menjadi kata “kunci” memenangkan simpati rakyat.

Akhirnya, kendatipun konsep Maubere itu ditolak sejumlah kalangan di Timor Leste dan tidak pernah benar-benar menjadi identitas nasional, namun sejak dilontarkan Fretilin ke ranah politik, maubere telah menjadi indentitas-subaltern yang sampai kini terus menjadi momok bagi setiap penguasa di TL.Viva Maubere!

 

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Shitmen System

Ata pupu ta'an to'u. Iki lewo soga tana

Benyamin Lakitan

Research, Technology, and Innovation +Photography

FORESTER'S BLOG

JALAN - JALAN DI HUTAN

Nona's Life Journal

Smile, what's the used of crying?

ariesadhar.com

sebuah perspektif sederhana...

Matt Thomas Photography

Personal photographic website/blog looking at Action Sports, Portraiture, Landscape and Travel photography

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Seneng Utami

Kekuatan dalam Kesederhanaan

Yuki Hikaru

just another wordpress site

PERCETAKAN CV. NADA GROUP - JAKARTA

Percetakan | Komputer | Desain Grafis | Foto Copy | ATK | Penjilidan Dll Open 24 Jam Nonstop

Duniaku

You Can Do More Than You Can Imagine

senibenni

berkarya dalam bentuk rupa

@NotedCupu Mahasiswa "Imigran"

Terkadang Pemikir, Terkadang Gak, Terkadang Edan | #NotedCupu

KEMBARA KEHIDUPAN SEORANG THEOFILUS NATUMNEA

"Melayani dengan Setulus Hati"

Return to Rai Ketak

Ruminations on Timor my (once) island home

ManaShines

Sharing Ideas about Anything,..

Dg Situru'

catatan refleksi & pemikiran

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.370 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: