Kali Ini, Judulnya Kali Ciliwung

Hello World,

Belum lama saya tinggal di Kelapalima Kupang, ketika saya dimutasi ke Kota Jakarta. Akhirnya saya harus datang ke ibukota, sejak dua minggu lalu. Kota Jakarta ternyata tak semenarik yang saya bayangkan. Di sana-sini (terdapat perbedaan kelas sosial yang sangat tajam (tapi mungkin seperti itulah keadaan kota besar — saya bukan orang kota besar jadi tidak tahu). Orang-orang yang berjuang menjajakan apa saja untuk mendapat satudua lembar duaribuan di pinggir-pinggir jalan dan di ruang-ruang publik dengan orang-orang yang menghambur-hamburkan rupiah untuk kenyamanan di tempat-tempat gemerlap. Saya rasa tidak sanggup beradaptasi di kedua situasi ini. Perbedaannya begitu tajam.

Saya tinggal di daerah Kramat, persis di depan sebuah gedung bertingkat dengan tulisan Graha Kramat VII, dan sering lewat jembatan penyeberangan ke sebuah “kampung” bernama Kramat Sentiong. Saya pernah cerita tentang jalan-jalan blusukan ke Kramat Sentiong ini. Yang menarik, setelah saya pulang dari jalan-jalan tersebut, seseorang mengundang saya untuk makan malam di sebuah gerai makan di Plaza Indonesia, di jalan MH Thamrin. Dunia saya sepertinya mesti berubah seratusdelapanpuluh derajat. Beberapa menit yang lalu saya masih berdesak-desakan dengan para sopir bajaj, tukang ojek dan penjaja keliling menikmati jajan bakso di sebuah tenda pinggir jalan kramat sentiong. Sekarang saya harus duduk seruang dengan orang-orang berdasi dan bergaun, dengan etiket makan (table manner) yang ketat dan serba disiplin. Saya tidak bisa pesan mie walau rasanya ingin mencoba, tergiur melihat tampilannya yang wah, — karena belum pernah menggunakan supit (atau sumpit?). Akhirnya, dengan tetap menikmati perubahan suasana yang drastis, saya melahap nasi putih dengan goreng udang dan cah sawi (kampungan sekali yah?)

Baru dua minggu di Jakarta tapi memang rasa ingin pulang seperti mengiris uluhati. Apalagi di sini, katanya, semua orang sibuk. Saya yang hanya sekedar mengurus aplikasi visa di kedutaan, tidak bisa banyak berbuat apa-apa lagi setelah bosan jalan-jalan di Plaza Atrium Senen, dan duduk-duduk di Taman Gunung Agung. Untuk menjelajah lebih jauh saya malas, dan tobat. Usaha saya adalah mencoba pergi ke sebuah Gereja di Blok C, Gereja Santu Yohanes Penginjil, dekat Blok M Square. Saya pernah ke Gereja ini dan kenal dengan kosternya. Lama perjalanan hampir sama dengan Kupang-Soe,  Iyah tiga jam, padahal jarak petanya seperti Kupang-Oelmasi.  Sepanjang perjalanan mobil yang saya tumpangi maju sedikit berhenti sedikit begitu terus sambil saya memperhatikan keadaan sekitar, mengenali tempat dari papan-papan tulisan yang ada. Agaknya daerah Menteng sedikit menyegarkan; banyak pohon, rumah-rumah berpekarangan luas, mirip keadaan di kampung saya. Hei, katanya, daerah Menteng ini kawasan elit ya? Kalau begitu kampung saya jauh lebih elit.

Kawasan Blok M sedang jelek-jeleknya. Karena sedang dibangun jalan layang. Mungkin itulah yang menyebabkan kemacetan parah. Tapi kalau sudah jadi, saya yakin tempat ini akan bagus juga untuk memanjakan mata, — bagi saya memanjakan mata itu seperti pergi ke Kawasan Kuningan, menikmati seni arsitektur pelbagai gedung di sana….

Sempat juga saya diajak teman memutar dari ITC Mangga Dua lewat Tanjung Priok menuju Kelapa Gading. Nah, kawasan Tanjung Priuk ini yang sepertinya masih kampung. Suasananya mirip suasana di Wini dan Ponu, he he. Mungkin karena daerah rawa, penduduk di sini mayoritas adalah kotak-kotak kontainer, yang bekas, sesudah capek naik turun kapal dan yang baru siap-siap berlayar mengarungi samudera mengelilingi seluruh nusantara dan juga luar nusantara.

Di Mall Artha Gading, kami, saya dan kawan nyentrik saya itu, pesan kopi ke gerai Starbuck, lalu pilih tempat paling sudut, dengan kursi yang empuk. Kopinya datang, tapi kami segera tidur pulas. Itu tujuan utama ke Starbuck yang kopi segelas bisa sama dengan ongkos lima baju seragam anak SMA, di Timor, jadi anggap saja itu biaya menginap untuk sekali tidur siang.

Setelah saya puas keliling-keliling, dan bosan serta cape, di perpustakaan rumah saya mencari-cari buku sejarah kota Jakarta. Sengaja tidak cari ke internet dulu. Soalnya di sana nanti ujung-ujungnya berdebat, kayak sejarah Timor di blog Aklahat. Satu buku dari Pater Kurris SJ (nah kenal kan?). Sebenarnya bukan sebuah buku khusus tentang sejarah Kota Jakarta, tapi sebuah ulasan sejarah gereja St Servatius Kampung Sawah. Di peta itu rupanya Kampung Sawah itu daerah sekitar Bekasi atau perbatasan Jakarta Bekasi, saya kira-kira. Dan ada banyak cerita kecil seputar Jayakarta, Batavia dan akhirnya Jakarta dengan kacamata misi dan zending. Menarik, cukup terhibur juga ditengah kesumpekan Ibukota — terutama karena saya suka alergi berada dalam ruang dengan mesin pengatur suhu (ase).

Sempat juga ke Lapangan Monas. Sekedar mengagumi budaya falosentrisme. Tau falosentrisme? Coba digugel! Pergi dengan malam. Sepi. Ada satu kereta wisata yang melayani para pengunjung. Kami, masih dengan si nyentrik tadi, hanya muter-muter sambil melongo, terus bicara kuat-kuat dalam Bahasa Dawan, biar orang tahu kalau kami bukan orang Jakarta. Tentu saja ada foto-foto, tapi saya malas pasang muka dekat tugu yang terlalu terkenal itu.

Yang menarik bagi saya di Kota Jakarta adalah sebuah kali, yang bernama Ciliwung. Kau tahu itu sungai berair coklat itu? Kenapa menarik sekali bagi saya? Itu gara-gara para penulis balai pustaka (siapa-siapa, saya lupa) banyak bercerita tentang romantisme sepanjang pinggir kali tersebut: anak-anak yang tidur di rumah kardus, mencuci dan buang air di kali, sesekali rumah kardusnya terguncang karena ada kereta lewat, dsb. Makanya saya penasaran, Ciliwung itu seperti apa yah — dari dulu. Untung saya tinggal dekat Jalan Inspeksi Kali Ciliwung, jadi sedikit-sedikit saya datang inspeksi. Kalau bukan duduk-duduk di depan SMP Santu Joseph, saya parkir di halaman sebuah Mesjid, saya tidak perlu tahu namanya. Dari situ saya memandang aliran kental sungai romantis ini sambil mengagumi arsitektur Gedung Seni Rupa, Gereja Kristen Entah Denominasi Apa, dan alat berat serta para pekerja yang sibuk merampungkan rumahsusun. Hemat saya, ikon Jakarta seyogyanya adalah Kali Ciliwung, bukan Tugu Monas. Orang-orang Jakarta membuat Tugu Monas, tapi Kali Ciliwung membuat orang-orang Jakarta.

Saya ke Jakarta juga dalam rangka mencari tahu seberapa besar kemampuan bahasa inggris saya. Itu hanya bisa diketahui dengan membayar sejumlah uang dan mengikuti tes tertulis di sebuah gedung di kawasan Cikini. Kau tahu nama ujian itu Tufel (TOEFL) dan gedung itu, ILP (International Language Program). Untuk benar-benar menguji kemampuan bahasa Inggris saya, saya sengaja tidak membuat persiapan khusus menjelang ujian, seperti melihat-lihat bentuk soal TOEFL, atau apalah yang berhubungan dengan itu. Sekedar penasaran saja, di tingkat mana sebenarnya saya bisa menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi. Iya, sebenarnya kurang kerjaan juga kalau sekedar mau tahu kemampuan terus mesti bayar mahal-mahal, di Jakarta lagi. Tapi karena skornya bisa menentukan nasib saya kemudian, apakah diterima untuk program studi di luar Nusantara sana atau tidak. Mereka bilang, kamu harus bisa mencapai nilai limaratus, kalau tidak selamat tinggal. Saya bilang, oke, kita lihat saja nanti. Akhirnya, dengan senjata  pensil 2B, peruncing dan penghapus, skor saya melampaui batas minimal untuk diterima. Yah, ternyata bahasa Inggris saya bagus juga ya. Malangnya, teman saya ikut tes sebelumnya, skornya masih kurang, terus mencoba ikut Preparation di tempat itu, lalu ikut kedua kali sama-sama dengan saya, hasilnya memang meningkat, tapi belum sampai syarat minimal. Oia, dia ini bukan si nyetrik tadi. Mungkin otaknya menjadi kacau karena sementara juga dia sedang ikut kursus bahasa, bahasa  yang masuk rumpun Slavik, yang saya cari kamusnya di Gramedia sonde dapat, yang kursusnya di Indonesia hanya ada di Atmajaya dan di UI, yang akan tetapi tutornya sedang berlibur pulang kampung, di Poznan, Polandia, mungkin dia tadinya ikut rame di WYD2016 di Krakow lalu masih malas pulang ke Indonesia. Jadi kamu sudah tahu bahasa apa itu? Bukan Bahasa Russia!

Nah, ternyata so tengah malam. Botong cerita lain kali lagi. Besok ada yang mau ajak ke Bogor nih. Hehe, aklahat mau tapaleuk lagi!

*Betewe, mana foto-fotonya?, kamu bertanya. Lalu saya menjawab, Kamera saya ketinggalan di Kupang. Jadi cuma jepret pake ponsel, trus dipajang diinstagram. Jadi kalau mau maloi, silakan ke instagram beta: patrisallegro.

Dobrenoc!

Sekolah Alam itu Cita-cita Anak Jakarta?

Hello World!

Baru sadja hudjan turun di bumi Djakarta. Tanah masih basah. Bukan tanah. Semen trotoar, jalan beraspal dan bata2 penutup lahan. aklahat berandjak dari penginapan di rumah bernomor sepuluh di bilangan Kramat Tudjuh, berdjalan ke arah Timur, menuju djalan raja: Djalan Kramat Raja tepat di sebuah djembatan penjeberangan. Lalu  menaiki itu djembatan, bersama dengan satu dua orang jang kelihatannja bergegas sekali. Udara terasa dingin sekali, kendatipun pakaian sudah dengan djaket tebal dari bahan wol.

Tida punja rentjana mau kemana. Hanja mengandalkan ini kaki ke mana ia membawa. Maka setelah menuruni itu djembatan penjeberangan, aklahat masuk ke sebuah mulut gang jang ada dekat situ. Di atas gang itu ada papan membentuk busur bertuliskan Selamat Datang diKelurahan Kramat Kecamatan Senen Kota Administrasi Jakarta Pusat.

Sepanjang djalan itu ada banyak angkot sedang berhenti, sopirnya bermalas2an di atas kendaraan mereka. Begitu juga badjaj2 jang berwarna biru. Mereka semua mungkin enggan karena hudjan dan hawa terasa dingin sekali.

Apa jang mau ditjari di sini? Banjak hal. Bermula dari kesibukan orang2 jang lalulalang, bangunan2 jang aneh2, tenda2 djualan jang berseliweran, seperti sedang menonton sirkus — aklahat masih ketjil dulu diadjak oleh ajah menonton sirkus di Kota Soe– suatu pemandangan jang menjenangkan hati.

Aklahat memberanikan diri membelusuk jauh ke dalam gang jang sangat sempit. Semakin aneh ini bentuk bangunan2, semakin berhimpit berdesakan seperti ikan2 yang ditumpuk di meja pasar ikan. Tapi semua orang menikmati kesesakan itu. Air dari saluran ketjill jang lalu dimuka rumah2 berwarna hitam pekat dan mengeluarkan bau tidak sedap. Orang-orang sepertinja tidak ambil peduli dan terus makan di tenda-tenda ketjil. Bermacam-macam makanan jang tidak mampu dipahami bagaimana bentuknja apalagi rasanja.

Saat sedang berdjalan2 itu tiba2 terdengar bunji adzan dari mesdjid di tengah2 gang. Lihat, kalau masjid atau mushola adalah bangunan jang paling bersih, paling bagus dan paling lapang. Beberapa pria bersarung dan berbadju koko ikut menjusuri gang beriringan dengan aklahat. Mereka hendak menudju asal bunji adzan tersebut. Tiba saatnja bagi mereka untuk menunaikan ibadah sholat.

Jang lain terutama jang muda-muda tetap duduk2 di muka rumah. Meski di muka rumah mereka itu sama sadja dengan duduk di djalan, iaitu gang di mana aklahat lalu. Bahkan ada keluarga djuga jang memasak di depan djalan itu. kadang harus berpapasan dengan mobil. Ini orang sangat sombong, sudah tahu masuk ke gang jang sempit masih djuga mau pake mobil. Akibatnja dia jang macet sendiri, karena setiap kali ada orang jang lewat dia harus berhenti.

Bau tidak enak masih terasa, terutama karena baru habis hudjan. Diam2 aklahat berpikir masih djauh lebih nikmat berada di kampung halaman. Udaranja bersih, rumahnja punja pekarangan sangat luas dan anak2 bisa bermain lepas ke sana ke mari, tidak ada bunji ribut kendaraan, tidak ada asap ratjun mesin2. Jang ada hanja suara alam. Mungkin itu sebabnja, orang Djakarta merindukan sekali sekolah alam, iaitu sekolah seperti kalau aklahat di kampung itu pergi tjari kaju bakar atau pergi tjari kusambi sambil fiti burung. Kalau sekolah begitu, –seperti kata Arie Kriting– Biar kita tukaran sadja, kalian jang di Djakarte pergi sadja ke kampung,  sekalian sekolah dengan babi kambing dan sapi di hutan sana.

Iah, tidak banjak orang luar kota jang kalau pelesir ke Djakarta mau datang ke tempat pengap seperti ini. Itu terbukti dari akun2 di media sosial, foto2 di Djakarta paling banjak di Tugu Monas, di Mall, di Plaza. Lupa kalau inilah Djakarta jang sesungguhnja. Jang gemerlap itu “pendatang” semua, mereka sanggup menggeser orang2 Djakarta karena mereka itu punja tuan bernama kapital. Sedangkan orang tuan tanah punja tuan bernama komun “kebersamaan” alias mangan ora mangan asal ngumpul.

Terlalu banyak kontradiksi dan paradoks di kota Djakarta. Aklahat ingin kembali menikmati damainja dusun2 di pulau Timor.
Salam!

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.735 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: