Taman Doa Adem Ayem Megamendung

Hello world,
Kali ini saya jalan-jalan ke Puncak. Rupanya semua orang Jakarta ingin selalu berada di Puncak. Jadi, ke Puncak itu semacam bagian dari ritus inisiasi untuk menjadi warga Kota Jakarta. Tapi sebelum tiba di Puncak ada banyak cerita, sebagaimana yang akan saya kisahkan di bawah ini.

Berangkat dari Jakarta jam setengah enam. Karena bukan hari libur maka diharapkan kemacetan tidak akan sangat mengganggu. Dan benar, jalanan ke puncak tak semacet seperti yang saya nonton dalam berita-berita di televisi. Kami, saya dan seorang teman, berdua, melaju dengan kedinginan ac dan lagu-lagu timor dari pemutar musik dalam mobil. Teman yang nyetir ini ternyata suka mendengarkan lagu dawan dan tetum, padahal dia orangnya lahir di Jambi dan tinggal di Jakarta. Tapi sering ke Timorlah yang membuat dia jatuh cinta dengan lagu-lagu Timor.

Sepanjang perjalanan teman saya ini menjadi guide bagi saya. Itu bukit sentul, ini kebun raya bogor, ini itu dan seterusnya, saya menikmati pemandangan pagi. Betapa sejuk jalur ke puncak. Pantas saja macet. Kalau kawasan sejuk saja macet, apalagi kawasan gerah Jakarta? Mendaki dari cipayung, kami merasa lapar. Kami mencari sebuah rumah makan dan mendapati sebuah warung yang buka duapuluhempat jam. Kami memesan makanan istimewa di warung itu. Apa, gurame campur cabe ijo, pete dan entah apalagi, rasanya pedas, dan bumbunya banyak sekali padahal guramenya tidak sampai sebesar telapak tangan saya. Warung ini rupanya juga sekaligus sebuah guest house. Tertata sederhana namun rapi dan nyaman.Berbentuk rumah panggung dengan kolam ditengah-tengah, ruang makan dan kamar-kamar untuk tamu tambah mushola dan toilet. Di Jakarta, bahkan Jawa setiap sudut ada mushola, kenapa kapel dan wihara tidak?

Setelah puas makan pagi minum kopi, kami meneruskan perjalanan. Saya diajak masuk ke sebuah tempat dimana berada Gereja Santu Yakobus. Katanya ini Gereja tua yang sudah direnovasi dengan sangat bagus. Gereja ini terletak di Megamendung. Di sana sepi. Hanya ada banyak kamera pengintai. Kami langsung menuju ke taman doa; namanya taman doa adem ayem. Tepat sesuai dengan namanya taman ini benar-benar sejuk dan menyegarkan. Kami berdoa, foto-foto terus masuk ke dalam ruang khusus adorasi, lalu masuk ke dalam Gereja.

Arsitektur gereja dan tata ruangnya benar masih bergaya lama gaya sebelum Konsili Vatikan II, bangku dan pintu berukiran klasik, sebuah patung pieta di sudut, dan tambahan beberapa sentuhan modern. Gerejanya kecil. Tidak seperti gereja-gerja paroki pada umumnya namun sekali lagi, barang siapa datang ke sini akan memperoleh ketenganan yang syahdu. Sonde percaya?

Keluar dari Gereja, kami berpapasan dengan Romo Kepala Paroki, Romo Santoso. Beruntung, kata teman saya yang sudah sering ke sini, tidak biasa kita bisa ketemu dengan belaiau. Akhirnya kami diajak romo mengobrol, yang lantas memperkenalkan kami pada buah ara, oh ternyata pohon yang berbuah lebat di dekat taman tadi adalah pohon ara. Kami mencari dua buah yang sudah benar-benar matang lalu romo santoso mendemosnstrasikan bagaimana cara makan buah ara  yang baik dan benar, Dikupas dengan pisau, dibelah, lalu dimakan. Aha ternyata biasa saja, tanpa diajar juga sebenarnya saya bisa.

Romo kemudian banyak curhat tentang kegiatannya merawat taman doa adem ayem ini. Semuanya karena kekuatan doa. Bayangkan jumlah umat paroki ini hanya 72KK bagaimana mungkin kami mampu untuk menutupi biaya perawatan taman ini? Tapi syukurlah ada banyak penderma. Setiap hari minggu banyak orang Jakarta yang merayakan ekaristi di sini, dan hampir setiap hari ada orang datang berdoa di gua maria, dan selalu saja saban bulan ada kelompok-kelompok yang datang berekoleksi atau beret-ret ditempat ini. Mereka semua yang datang itu banyak memberi dengan ikhlas.

Kata romo Santoso, tepat dibawah kaki arca maria itu ada sumur bor, airnya sudah diangkut dengan mesin ke bak penampung dan siap dialirkan. Begitu jernih bahkan bisa langsung diminum. Sayangnya saya tidak sempat mencoba rasa air dari kaki arca maria tersebut.

Jika Anda punya waktu sempatkanlah untuk datang ke tempat ini. Selain wisata gedung gereja tua, anda akan menemukan tempat meditasi yang benar-benar teduh. Datang dan buktikan sendiri. Ada banyak tempat meditasi terkenal di pulau jawa, tapi tak ada salahnya kau datang ke megamendung dulu. Jadi kalau kau kebetulan ada di jakarta lalu diajak jalan-jalan ke puncak, sisihkan sedikit waktu ke Megamendung ini.

Perjalanan kami lanjutkan. Menuju puncak. Bersambung!

Kali Ini, Judulnya Kali Ciliwung

Hello World,

Belum lama saya tinggal di Kelapalima Kupang, ketika saya dimutasi ke Kota Jakarta. Akhirnya saya harus datang ke ibukota, sejak dua minggu lalu. Kota Jakarta ternyata tak semenarik yang saya bayangkan. Di sana-sini (terdapat perbedaan kelas sosial yang sangat tajam (tapi mungkin seperti itulah keadaan kota besar — saya bukan orang kota besar jadi tidak tahu). Orang-orang yang berjuang menjajakan apa saja untuk mendapat satudua lembar duaribuan di pinggir-pinggir jalan dan di ruang-ruang publik dengan orang-orang yang menghambur-hamburkan rupiah untuk kenyamanan di tempat-tempat gemerlap. Saya rasa tidak sanggup beradaptasi di kedua situasi ini. Perbedaannya begitu tajam.

Saya tinggal di daerah Kramat, persis di depan sebuah gedung bertingkat dengan tulisan Graha Kramat VII, dan sering lewat jembatan penyeberangan ke sebuah “kampung” bernama Kramat Sentiong. Saya pernah cerita tentang jalan-jalan blusukan ke Kramat Sentiong ini. Yang menarik, setelah saya pulang dari jalan-jalan tersebut, seseorang mengundang saya untuk makan malam di sebuah gerai makan di Plaza Indonesia, di jalan MH Thamrin. Dunia saya sepertinya mesti berubah seratusdelapanpuluh derajat. Beberapa menit yang lalu saya masih berdesak-desakan dengan para sopir bajaj, tukang ojek dan penjaja keliling menikmati jajan bakso di sebuah tenda pinggir jalan kramat sentiong. Sekarang saya harus duduk seruang dengan orang-orang berdasi dan bergaun, dengan etiket makan (table manner) yang ketat dan serba disiplin. Saya tidak bisa pesan mie walau rasanya ingin mencoba, tergiur melihat tampilannya yang wah, — karena belum pernah menggunakan supit (atau sumpit?). Akhirnya, dengan tetap menikmati perubahan suasana yang drastis, saya melahap nasi putih dengan goreng udang dan cah sawi (kampungan sekali yah?)

Baru dua minggu di Jakarta tapi memang rasa ingin pulang seperti mengiris uluhati. Apalagi di sini, katanya, semua orang sibuk. Saya yang hanya sekedar mengurus aplikasi visa di kedutaan, tidak bisa banyak berbuat apa-apa lagi setelah bosan jalan-jalan di Plaza Atrium Senen, dan duduk-duduk di Taman Gunung Agung. Untuk menjelajah lebih jauh saya malas, dan tobat. Usaha saya adalah mencoba pergi ke sebuah Gereja di Blok C, Gereja Santu Yohanes Penginjil, dekat Blok M Square. Saya pernah ke Gereja ini dan kenal dengan kosternya. Lama perjalanan hampir sama dengan Kupang-Soe,  Iyah tiga jam, padahal jarak petanya seperti Kupang-Oelmasi.  Sepanjang perjalanan mobil yang saya tumpangi maju sedikit berhenti sedikit begitu terus sambil saya memperhatikan keadaan sekitar, mengenali tempat dari papan-papan tulisan yang ada. Agaknya daerah Menteng sedikit menyegarkan; banyak pohon, rumah-rumah berpekarangan luas, mirip keadaan di kampung saya. Hei, katanya, daerah Menteng ini kawasan elit ya? Kalau begitu kampung saya jauh lebih elit.

Kawasan Blok M sedang jelek-jeleknya. Karena sedang dibangun jalan layang. Mungkin itulah yang menyebabkan kemacetan parah. Tapi kalau sudah jadi, saya yakin tempat ini akan bagus juga untuk memanjakan mata, — bagi saya memanjakan mata itu seperti pergi ke Kawasan Kuningan, menikmati seni arsitektur pelbagai gedung di sana….

Sempat juga saya diajak teman memutar dari ITC Mangga Dua lewat Tanjung Priok menuju Kelapa Gading. Nah, kawasan Tanjung Priuk ini yang sepertinya masih kampung. Suasananya mirip suasana di Wini dan Ponu, he he. Mungkin karena daerah rawa, penduduk di sini mayoritas adalah kotak-kotak kontainer, yang bekas, sesudah capek naik turun kapal dan yang baru siap-siap berlayar mengarungi samudera mengelilingi seluruh nusantara dan juga luar nusantara.

Di Mall Artha Gading, kami, saya dan kawan nyentrik saya itu, pesan kopi ke gerai Starbuck, lalu pilih tempat paling sudut, dengan kursi yang empuk. Kopinya datang, tapi kami segera tidur pulas. Itu tujuan utama ke Starbuck yang kopi segelas bisa sama dengan ongkos lima baju seragam anak SMA, di Timor, jadi anggap saja itu biaya menginap untuk sekali tidur siang.

Setelah saya puas keliling-keliling, dan bosan serta cape, di perpustakaan rumah saya mencari-cari buku sejarah kota Jakarta. Sengaja tidak cari ke internet dulu. Soalnya di sana nanti ujung-ujungnya berdebat, kayak sejarah Timor di blog Aklahat. Satu buku dari Pater Kurris SJ (nah kenal kan?). Sebenarnya bukan sebuah buku khusus tentang sejarah Kota Jakarta, tapi sebuah ulasan sejarah gereja St Servatius Kampung Sawah. Di peta itu rupanya Kampung Sawah itu daerah sekitar Bekasi atau perbatasan Jakarta Bekasi, saya kira-kira. Dan ada banyak cerita kecil seputar Jayakarta, Batavia dan akhirnya Jakarta dengan kacamata misi dan zending. Menarik, cukup terhibur juga ditengah kesumpekan Ibukota — terutama karena saya suka alergi berada dalam ruang dengan mesin pengatur suhu (ase).

Sempat juga ke Lapangan Monas. Sekedar mengagumi budaya falosentrisme. Tau falosentrisme? Coba digugel! Pergi dengan malam. Sepi. Ada satu kereta wisata yang melayani para pengunjung. Kami, masih dengan si nyentrik tadi, hanya muter-muter sambil melongo, terus bicara kuat-kuat dalam Bahasa Dawan, biar orang tahu kalau kami bukan orang Jakarta. Tentu saja ada foto-foto, tapi saya malas pasang muka dekat tugu yang terlalu terkenal itu.

Yang menarik bagi saya di Kota Jakarta adalah sebuah kali, yang bernama Ciliwung. Kau tahu itu sungai berair coklat itu? Kenapa menarik sekali bagi saya? Itu gara-gara para penulis balai pustaka (siapa-siapa, saya lupa) banyak bercerita tentang romantisme sepanjang pinggir kali tersebut: anak-anak yang tidur di rumah kardus, mencuci dan buang air di kali, sesekali rumah kardusnya terguncang karena ada kereta lewat, dsb. Makanya saya penasaran, Ciliwung itu seperti apa yah — dari dulu. Untung saya tinggal dekat Jalan Inspeksi Kali Ciliwung, jadi sedikit-sedikit saya datang inspeksi. Kalau bukan duduk-duduk di depan SMP Santu Joseph, saya parkir di halaman sebuah Mesjid, saya tidak perlu tahu namanya. Dari situ saya memandang aliran kental sungai romantis ini sambil mengagumi arsitektur Gedung Seni Rupa, Gereja Kristen Entah Denominasi Apa, dan alat berat serta para pekerja yang sibuk merampungkan rumahsusun. Hemat saya, ikon Jakarta seyogyanya adalah Kali Ciliwung, bukan Tugu Monas. Orang-orang Jakarta membuat Tugu Monas, tapi Kali Ciliwung membuat orang-orang Jakarta.

Saya ke Jakarta juga dalam rangka mencari tahu seberapa besar kemampuan bahasa inggris saya. Itu hanya bisa diketahui dengan membayar sejumlah uang dan mengikuti tes tertulis di sebuah gedung di kawasan Cikini. Kau tahu nama ujian itu Tufel (TOEFL) dan gedung itu, ILP (International Language Program). Untuk benar-benar menguji kemampuan bahasa Inggris saya, saya sengaja tidak membuat persiapan khusus menjelang ujian, seperti melihat-lihat bentuk soal TOEFL, atau apalah yang berhubungan dengan itu. Sekedar penasaran saja, di tingkat mana sebenarnya saya bisa menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi. Iya, sebenarnya kurang kerjaan juga kalau sekedar mau tahu kemampuan terus mesti bayar mahal-mahal, di Jakarta lagi. Tapi karena skornya bisa menentukan nasib saya kemudian, apakah diterima untuk program studi di luar Nusantara sana atau tidak. Mereka bilang, kamu harus bisa mencapai nilai limaratus, kalau tidak selamat tinggal. Saya bilang, oke, kita lihat saja nanti. Akhirnya, dengan senjata  pensil 2B, peruncing dan penghapus, skor saya melampaui batas minimal untuk diterima. Yah, ternyata bahasa Inggris saya bagus juga ya. Malangnya, teman saya ikut tes sebelumnya, skornya masih kurang, terus mencoba ikut Preparation di tempat itu, lalu ikut kedua kali sama-sama dengan saya, hasilnya memang meningkat, tapi belum sampai syarat minimal. Oia, dia ini bukan si nyetrik tadi. Mungkin otaknya menjadi kacau karena sementara juga dia sedang ikut kursus bahasa, bahasa  yang masuk rumpun Slavik, yang saya cari kamusnya di Gramedia sonde dapat, yang kursusnya di Indonesia hanya ada di Atmajaya dan di UI, yang akan tetapi tutornya sedang berlibur pulang kampung, di Poznan, Polandia, mungkin dia tadinya ikut rame di WYD2016 di Krakow lalu masih malas pulang ke Indonesia. Jadi kamu sudah tahu bahasa apa itu? Bukan Bahasa Russia!

Nah, ternyata so tengah malam. Botong cerita lain kali lagi. Besok ada yang mau ajak ke Bogor nih. Hehe, aklahat mau tapaleuk lagi!

*Betewe, mana foto-fotonya?, kamu bertanya. Lalu saya menjawab, Kamera saya ketinggalan di Kupang. Jadi cuma jepret pake ponsel, trus dipajang diinstagram. Jadi kalau mau maloi, silakan ke instagram beta: patrisallegro.

Dobrenoc!

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.735 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: