Tersesat di Kota Tua Batavia, Jakarta

Hello World,
saya masih ingin menulis tentang hal yang remeh-temeh, seperti cerita jalan-jalan saya. Kali ini saya jalan-jalan ke Kota tua Jakarta. Informasi tentang kota tua ini saya dapatkan setelah googling tentang wisata di Jakarta. Soalnya, dari mulut orang Timor yang datang ke Jakarta, satu-satunya tempat wisata yang sering dibincangkan dan dipajang dengan foto selfi di media sosial adalah Tugu Monas, selain itu semerbak dan gemerlap tata lampu di Mall-mall yang menjadi sasaran para wisatawan domestik tsb.

Setelah membaca sedikit informasi tentang kota tua jakarta dan bagaimana cara mencapai tempat tersebut, saya mulai berlangkah keluar dari kamar. Saya tak bisa menumpang Busway (nama yang salah sebenarnya, karena mau sok Inggris) karena tak punya uang digital, alias kartu apa saja yang terhubung dengan akun bank. Pas saya dekat ke loket penjualan karcis disitu terpampang besar-besar tulisan “hari gini masih pake uang kas?” Saya juga heran kenapa ada pertanyaan seperti itu. Bukankah, hari gini Bank Indonesia masih terus memproduksi uang kas? Bodoh tuh yang terpengaruh dengan iklan tersebut, tersembunyi usaha untuk menangguk setiap rupiah sisa yang kau belanjakan agar mereka pakai untuk dibungakan. Dasar rentenir!

Meski sudah melihat tulisan tersebut saya masih nekat menjumpai ibu yang di loket. Senyumnya tidak begitu menarik mungkin karena dipaksakan sementara ia terlihat begitu lelah.”Musti pake kartu”, katanya. Ya udah, saya berbalik ke atas jembatan penyeberangan dan memutuskan untuk menumpang angkot saja.

Saya lalu mencegat angkot M10 Kampung Melayu-Senen. Turun di terminal Senen, yang saya tahu saya harus mengejar lagi angkot M12 jurusan Senen-Kota. Akhirnya saya berhasil tiba di Kota Tua Jakarta. Oh, ternyata inilah Batavia itu (bukan Kuningan atau Sudirman yang angkuh itu).

Bangunan bergaya kuno ada yang dibiarkan begitu saja tak terawat, ada yang difungsikan seperti Museum Bank Indonesia, dan beberapa gedung lainnya. Saya juga sempat melihat Toko Merah yang legendaris itu. Ada banyak tanaman kelapa di tepi sungai Krukut, (ini sungai apa genangan lumpur?) dan juga sempat memotret jembatan Kota Intan yang sudah tidak berfungsi sebagai jembatan, melainkan menjadi sebuah tempat tontonan. Yah, namanya juga saksi sejarah. Sebagai ganti jembatan Kota Intan, ada satu jembatan di sampingnya, jembatan modern. Stasiun Kota Jakarta juga katanya masih berfungsi sama seperti dulu.

Dengan mengandalkan GPS saya akhirnya tiba di depan Cafe Batavia, dan sebentar lagi, halaman depan Kantor Gubernur Batavia tampak di depan mata. Saya merasa seperti kembali ke jaman VOC dan Hindia Belanda. Menyaksikan gedung yang berdiri kokoh dengan arsitektur khas Belanda, mirip seperti bangunan pastoran Niki-niki, rumah tinggal Pater Kooy, misionaris Belanda itu, atau beberapa rumah biara SSpS lainnya, atau singkatnya arsitektur misi tahun enampuluhan punya gaya arsitektur Belanda, arsitektur yang sekarang mulai ditinggalkan, karena bertolakbelakang dengan kondisi alam tropis.

Jpeg

Kantor Gubernur Batavia

Meski bukan hari libur, tetap saja banyak pengunjung memadati Lapangan Kantor Gubernur Batavia ini. Ada yang bermain sepeda ontel, yang banyak disewakan di situ, ada banyak pengamen yang menurut saya sangat mengganggu dan setiap kali mereka mendekat ke arah saya, saya beringsut memilih tempat lain.

Sambil duduk menikmati pemandangan di depan mata, Puji Tuhan, cuaca sedikit mendung, sehingga saya dan kami semua pengunjung terhindar dari panas terik mentari, sekarang jam dua siang. Begitu nekat saya ke sini pada siang hari… Saya mengamati gedung Museum wayang. Katanya itu mantan Gereja, yang kini beralih fungsi. Bentuknya sebagai Gereja memang masih nampak dan mudah dikenali, tapi saya tidak tertarik menyelam masuk lebih ke dalam gara-gara tidak begitu minat dengan wayang.

Saya mengambil karcis untuk mauk ke Gedung yang sekarang menjadi Gedung Museum Sejarah Jakarta. Perorang limaribu rupiah. Saya mengantre bersama kelompok SMA Negeri Dua Palu – Sulawesi, kebetulan saya suka menguping dan memperhatikan bicara orang-orang, bersama-mereka masuk ke dalam Museum.

Koleksi di dalam museum lebih banyak adalah koleksi perabotan rumah belanda dulu, lebih banyak tulisan larangan menjamah/menyentuh obyek daripada tulisan keterangan tentang benda yang terpajang. Akibatnya saya cuma bisa menduga-duga siapa pembuatnya, didapatkan darimana dst. Untuk sementara saya anggap ini semua barang-barang dinas Gubernur Batavia.

Ada beberapa lukisan juga terpajang di sana, dan peta rekonstruksi kota Jayakarta, pelabuhan Sunda Kelapa dan Kota Batavia.

Di bagian kanan dari pintu masuk, koleksinya berasal dari jaman prasejarah. Ada beberapa prasasti di sana, namun menurut keterangan web, prasasti itu prasasti repro bukan prasasti sebenarnya. Saya sebenarnya banyak mengambil foto-foto namun tidak tertarik untuk membagikannya. Ini sebenarnya pengalaman kedua saya berada di museum. Saya memang suka sejarah namun sedikit sekali tertarik dengan museum. Museum pertama yang saya masuki adalah Museum pemerintah Provinsi NTT di Kota Kupang, itu juga karena tugas dari sekolah, dan karena di SMA dulu, Museum juga sempat menjadi ajang gaul antar anak berseragam SMA.

Pada Kantor Gubernur Batavia ini terdapat juga penjara bawah tanah untuk wanita. Saya sempat mengintip ke dalam sana, ternyata lantainya tergenang air. Saya teringat film Hunger dan atau Shawsank Redemption. Apakah model penjara ini mirip dengan yang di film-film itu? Hampir serupa.

Di halaman belakang ini terdapat mushola, kantin dan toko souvenir. Semuanya sama-sama tidak berfungsi untuk saya. Saya kembali ke lapangan dan menonton orang lain berfoto-foto selfi di sana. Sempat melihat seorang pelukis, kayaknya bukan pelukis benaran sih, hanya mau pamer-pamer di situ. Oh, dia menggambar dengan pensil dan membuat sketsa seorang wanita berhijab. Entah dia yang menggambarnya atau bukan, tiba-tiba dia muncul di situ dengan papan gambar sudah berisi sketsa perempuan itu. Dan yang dia lakukan dengan keasyikan dibuat-buat itu adalah: mempertegas garis-garis dalam sketsa itu. He he, saya pikir dia sedang belajar menjadi pelukis. Tapi tampangnya lumayan nyentrik, rambut gondrong, cambang lebat, dan celana jeans butut.

Hari semakin senja. Pengunjung semakin berdatangan. Saya mengundurkan diri. Pulang kembali ke penginapan di Kramat, setelah puas menjelajahi kawasan sekitar Museum jakarta, berusaha sendiri merekonstruksi pengalaman hidup orang-orang Batavia dulu, dengan berbagai macam sarana dan prasarana di Kota ini. Waktu terus berganti, dan kita tidak tahu apakah besok-besok kawasan ini masih terkenang sebagai biang kota Jakarta modern sekarang ini….

Lagu Dansa Timor: Kita Butuh Syair yang Bermutu…

Hello World,

Belum pernah dengar lagu Mogi? Berarti Anda bukan orang Timor. Coba cari di Yutup dengan kata kunci Mario Klau. Nanti ketemu.

Saya pertama kali mendengarkan lagu ini langsung dari penciptanya yang kala itu mengadakan konser bersama para seminaris Santu Mikhael Kupang. Ivan Nestorman dengan warna vokal sedikit serak menyanyikannya dengan gaya ngejazz.

Lalu kemudian, sebelum Mario datang ikut the IndonesianVoice di Jakarta, juga menyanyikan lagu ini untuk kepentingan dansa-dansi orang Timor. Untuk itu maka aransemen ngejazznya mesti diubah menjadi qizomba-Timor. Maka jadilah aransemen yang sekarang laku di yutup dan diputar di mana-mana setiap kali ada pesta di Pulau Timor. Bahkan orang-orang yang tidak tahu menari dansa timor pun terpukau dengan musik ini.

Sebenarnya kalau dicermati baik-baik, kata beberapa orang, Mario menyanyikannya dengan beberapa kesalahan lirik, sehingga  penutur asli bahasa Nagekeo – bahasa syair lagu Mogi — agak terganggu menikmati syairnya. Tapi bagi kami yang tukang dansa, lirik lagu itu sebenarnya bonus saja. Yang penting aransemen musiknya pas untuk menari. Jadi tidak heran, banyak lagu dansa Timor yang liriknya terserah mau disusun bagaimana, asalkan musiknya membantu hitungan berdansa.

Fenomena musik itulah yang hidup di kalangan pemusik Timor. Dengan modal keyboard Yamaha, pengeras suara dan flashdisk, pesta dansa bisa segera dimulai. Penyanyinya terserah mau nyanyi lagu apa, karena instrumen pengiringnya sudah ada di memori keyboard, nanti pemain keyboard memberikan nada dasar lalu menambahkan variasi sana-sini. Menjadi musik yang menakjubkan dan ikut membantu matahari terbit di ufuk timur.

Banyak lagu-lagu lawas dinyanyikan kembali. Entah itu lagu daerah, lagu nasional, lagu pop nostalgia baik dalam maupun luar negeri, semuanya dipaskan dengan aransemen dan instrumentasi yang tersedia. Hal seperti ini sangat cocok dengan kondisi zaman di mana banyak orang ingin sesuatu yang serbacepat, serba instan.

Saya memperhatikan, dalam kurun waktu lima tahun terakhir tak adalagi pendatang baru (penyanyi profesional) di dunia musik pop daerah timor. Semuanya kini sudah digantikan dengan penyanyi-penyanyi amatir (amatir di sini bukan dimaksudkan “masih kurang keterampilan dan pengalaman” — coba cek digugel arti sebenarnya dari kata amatir dan profesional). Dan musik yang satu lekas dipakai dan lekas menjadi basi. Setiap kali ketemu kawan, para ABG selalu memeriksa koleksi musik di gejet temannya, siapa tahu ada ada lagu terbaru untuk dipakai pesta nanti malam.

Meskipun yang dimaksud dengan lagu baru lebih condong ke dalam arti belum diperdengarkan dalam variasi seperti ini. Sementara lagunya bisa jadi sudah ada sejak tahun enampuluhan, bahkan tahun lima puluhan. Contohnya lagu Klekat Uluk Kabelak. Itu lagu variasi coversong dari Take the ribbon from your heart, dan sekarang tidak laku lagi.

Pernah juga menjadi hits lagunya Roberto Carlos dari jaman tahun enampuluhan Voce Deixou Alguem na Espera dan sekarang malah basi. Lalu ketika Mario tampil sebagai juara theIndonesian Voice, rekamannya yang beredar sebelumnya lewat blutuf dari gejet ke gejet akhirnya dicari kembali. Dan untuk sementara lagunya masih bertahan.

Namun, yang dilakukan Mario juga sama, menyanyikan kembali lagu-lagu yang pernah hits dalam dunia perdansatimoran. Kali ini beda karena sensasi selebriti dadakan lewat acara kumpul sms itu. Suara Mario memang bagus, pantas menjadi juara, tapi Mario takkan pernah ada apa-apanya di Timor kalau dia tidak menyanyi menurut tatamusik yang menggoda hasrat untuk berdansa. Sekarang, lagu yang sama dengan musik yang sama yang dipakai dalam dansa-dansi beberapa bulan lawas, kini diganti isinya dengan suara gagah Mario. Pas!

Yang perlu dilakukan, dengan bentuk musik yang begitu-begitu terus adalah meningkatkan liriknya. Kita butuh lirik lagu yang bermutu untuk diperdengarkan saat orang berkumpul di bawah tenda-tenda.  Hemat saya, supaya terus bermunculan koleksi musik populer dansa yang indah, adalah perlunya kerjasama antara para pemusik dan para perangkaikata, aka sastrawan. Ingat lagunya Amanche Frank lewat lagunya Adik menangis Satu Malam? Itu salah satu contoh kerjasama antara penabuh keyboard dengan perangkai kata. Lagunya Amanche langsung melejit ke papan atas tangga musik dansa Timor, sebelum akhirnya surut kembali. Amanche masih sibuk dengan urusan persekolahan sehingga sulit menantikan lagu terbaru dari beliau. Yang paling penting dalam lirik dadakan itu adalah pujaan terhadap tanah Timor. Kalau ditangani serius, lagu itu bisa menjadi salah satu lagu terindah dari Timor. Sayangnya, rekaman itu bukan rekaman yang dipersiapkan, sebuah rekaman asal jadi untuk koleksi pribadi yang terlanjur ke mana-mana tanpa disadari pemiliknya sendiri. Sudah kepalang basah, ya mandi saja sekalian.

Satu lagi, ada begitu banyak kampanye tentang human trafficking, kearifan lokal dan lain-lain, namun semua itu belum menyentuh masyarakat bawah. Itu gara-gara kampanyenya lebih tertuju bagi orang luar. Sementara masyarakat Timor sendiri dianggap hanya korban yang mesti terus berdoa, pasang seribu lilin. Belum dilihat sebagai subyek perubahan.  Kampanye seperti itu tidak pernah sampai kepada mereka. Salah satu cara untuk bisa sampai kepada mereka adalah menyisipkannya melalui bahasa yang indah menjadi lirik lagu untuk pesta-pesta dansa. Percaya atau tidak, lirik itu akan masuk ke bawah sadar orang timor dan pada gilirannya membangkitkan dia untuk berubah. Itulah kekuatan musik dalam komunikasi. Dan itu alasan utama mengapa lirik lagu yang bermutu itu perlu dalam lagu-lagu dansa Timor.

Coba simak lagu-lagu pop daerah dansa-dansi itu. kebanyakan syairnya mengandung kisah penderitaan, dan kepasrahan penyanyinya karena nasib malang, terus ‘hanya’ bisa bekerja sebagai tukang ojek. Lirik lagu yang berulang-ulang itu tertanam ke bawah sadar semua yang berkumpul di tenda dansa dan tanpa sadar mereka ikut mengamini. Ini pula kenapa orang Timor oleh orang luar Timor dikatakan Timor Kouk, atau Timor “kurang cerdas” (beberapa orang Timor pasti protes dengan stereotip ini) tapi demikianlah stereotip Timor di mata sesama NTT. Kalau kau juga tahu seperti apa stereotip, kau juga tidak perlu protes.

Masih ada hal-hal lain tentang karakter orang Timor yang ternyata bisa digali melalui lagu-lagu “rakyat”nya. Ada hal lain yang kau temukan?
Mari berbagi!

%d blogger menyukai ini: