Indonesia Tanah Air Beta

Tuan-tuan dan Puan-puan yang terhormat,

Satu lagi kegelisahan hendak kuutarakan. Ini tentang patriotisme yang terluka di sepanjang daratan Timor, yang hingga kini tercabik menjadi dua negara.

Suatu hari saat aku sedang berjalan-jalan di Toko Buku Gramedia, melewati pajangan CD yang terjepit di antara tumbukan buku-buku, seseorang yang berdiri linglung di situ lantas bertanya padaku, “Apakah CD Indonesia Tanah Air Beta (ITAB) sudah dirilis ke pasaran?” Seingat saya memang belum. Aku memang sudah lama mencarinya di toko CD/DVD di Kupang yang cuma dua biji ini, namun hingga sekarang belum ketemu.

Ada yang menarik dari ITAB ini. Epos patriotisme orang Timor yang sempat diangkat ke layar lebar oleh Rumah Produksi Alenia ini sedang menjadi bahan perbincangan ramai di dunia nyata maupun dunia maya. Orang -orang Timor berbangga bahwa tanah kelahirannya yang sama sekali tak mashyur kini menjadi kesohor gara-gara perpecahan tragis Timor Timur, dan hingga lebih dari sedasawarsa, gaung euforia itu tetap nyaring, hingga ITAB menjadi produk selaris kacang goreng, lantas menghiasi status berbagai akun FB dari mereka yang mengaku anak Timor sejati.

Tapi ada sisi lain dari ITAB. Sisi yang satu ini saya temukan di Raknamo. Raknamo adalah sebuah tempat resettlement untuk para warga ex pengungsi Timor Timur, terletak jauh dari pinggiran kota Kupang yang gerah, tepatnya di kecamatan Kupang Timur.

Raknamo menjadi suram oleh patriotisme yang terluka. Suasana terus mencekam hingga kini sejak kerusuhan Maret lalu. Para warga Ex pengunsgi yang bekerja serabutan itu mencoba mengadu keuntungan dengan menggali batu mangan. Dengan iming-iming rupiah mereka terjun merambah hutan di sekitar. Sayangnya ada tanda larangan pada sebuah kawasan, “Dilarang menggali mangan di sini”, kata yang empunya tanah. (Padahal saya pikir selama ini yang empunya tanah itu Tuhan, bukan manusia!)

Tersebutlah Nuno Barros yang sementara berlibur dari sekolahnya, sebuah SMA negeri di mana guru-gurunya datang dan pergi mengajar seenaknya asal tiap awal bulan terima gaji, mengikuti ayah tercinta membantu menggali batu-batu hitam. Mungkin bagi dia inilah bukti hormat dan baktinya kepada orang tua.

Saking asyiknya mengeruk emas-emas hitam itu, tanpa disadari mereka telah melanggar lampu merah yang dipasang empunya tanah. Tak tanggung-tanggung pengejaran dari anak buah yang empunya tanah tak dihindarkan. Mungkin saja mereka bisa dibunuh saat itu juga. Namun, syukurlah, mereka “hanya” dijebloskan ke dalam tahanan di Polres Kupang, dengan tuduhan mencuri mangan orang lain.

Ternyata, Nuno tak terdapat di dalam tahanan. Karena yakin Nuno disembunyikan para pengejar, sang Ayah, Dominggos Barros, bersama teman-temannya melancarkan aksi amuk masa (sebagimana khas budaya orang Indonesia – kata Bahasa Inggris amok pun diserap dari perbendaharaan orang Melayu ini).

Hingga aksi protes yang mengundang perhatian publik ini selesai, Nuno tak ada khabar beritanya. Pak Polisi: No Comment, Pak Pejabat Lain-Lain:  EGP. Akhirnya Dominggos dan teman-teman kembali dengan pasrah, namun tetap berharap.

Harapan mereka terus bernyala, terbukti dari intensi misa yang saban minggu disampaikan untuk didoakan. “Mohon berkat dan bimbingan Tuhan, untuk usaha pencarian anak kami yang tercinta, yang hingga kini belum ketemu entah di mana rimbanya”. Hingga tujuh bulan telah berlalu setiap hari minggu aku membaca unjuk misa tersebut dengan nada penuh penyesalan, seolah-olah Tuhan sedang mencobai orang yang sudah jatuh tertimpa tangga, mau lari menginjak tahi digigit anjing…

Kutemui Dominggos, ayah yang letih bersama teman-temannya usai misa di pagi yang terik. “Saya hanya ingin tahu nasib anak saya yang sebenarnya. Entah mati entah hidup saya ingin suatu kepastian”, kata Dominggos. “Saya tidak hendak menyalahkan siap-siapa. Mungkin ini memang kesalahan saya, namun satu yang kupinta dari Tuhan adalah kepastian nasib anakku, biji mataku ini”. Aku pikir tepatlah ia mengeluhkan ayat-ayat dari Amir Hamzah, “aku manusia rindu rupa, rindu rasa”.

Nono Barros menghilang. Entah mati entah hidup tak ada yang tahu. Dan orang-orang di Raknamo terus dicekam rasa takut, ada dendam dari sang empunya tanah yang telah bersekongkol dengan para pejabat, menjadikan mereka orang yang terbuang di tanah kelahiran daratan Timor sendiri. Mereka terus berharap dan berharap namun tak satupun upaya dari pihak-pihak yang berwajib.Patriotisme sejak timor leste hingga timor Oeste ini menjadi ksatria yang terluka lantas ditinggalkan, oleh kenyataan adanya diskriminasi pemerintah terhadap warga ex pengungsi Timtim. Akan tetap bagi Dominggos dan kawan-kawannya, lirik lagu Ismail Marzuki tetap menggenang: di sana tempat lahir beta dibuai dibesarkan bunda, tempat berlindung di hari tua sampai akhir menutup mata”.

Satu lagi korban sengkarutnya peraturan tambang mangan. Mending mereka yang tewas tertimpa timbunan tanah. jenazahnya bisa diratapi, disembahyangkan dan dirampai dan diukupi dengan khidmat. Sedangkan korban Nuno? Ia benar-benar di telan bumi, tempat ia mengeruk emas hitam?

Wahai ibu pertiwi, kembalikan Nuno pada kami!

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on September 29, 2010, in Kisah Nyata, Moral, Refleksi. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Cerita yang bagus ka2 romo…sbg bs menjadi refleksi bagi kita semua.

  2. Cerita yang bagus ka2 romo…smg bs menjadi refleksi bagi kita semua.

  1. Ping-balik: Akhirnya Jalan Ke Raknamo mulai diperbaiki « Aklahat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: