Ekonomi Rasa Syukur

Ketika tiba di Kota sari kefamenanu, dan orang-orang yang ramah menjamuku di tempat berararoma katolik ini, tak lupa mereka selipkan satu pertanyaan. Pertanyaan ini nyata-nyatanya menggugat kehadiranku di antara kota yang sedang sibuk berkemas untuk menentukan calon pemimpin mereka.

Gugatannya adalah mengapa kau datang untuk suatu tujuan yang sebenarnya dilarang oleh pemimpin kami? Mengapa ada imam baru yang tetap saja mengadakan misa syukur dan pesta keluarga sementara kami dengan resmi telah menyepakati dengan restu dari yang berwenang tentang hak dan kewajiban keluarga seorang imam baru?

Aku terdiam sejenak didampar pertanyaan yang bagi saya tak pernah dipersiapkan jawabannya. Ada apa dengan situasi di wilayah ini?

Menjelang tahbisan diakon di Seminari Tinggi santu Mikhael Mei lalu, ada isu yang beredar di kalangan frater bahwa keuskupan Atambua telah melarang kegiatan-kegiatan yang bersifat pesta pora, termasuk didalamnya syukuran-syukuran: mulai dari syukuran ulang tahun hingga syukuran imam baru. Menurut yang empunya hukum, seorang imam baru belum berhak mengadakan pesta keluarga karena sebenarnya dia belum berbuat apa-apa bagi orang lain. Artinya pesta syukurannya ini ditunda lima tahun kemudian. Mereka lebih mengapresiasi syukur perak seorang imam daripada syukur perdananya. Apa boleh buat? Demikian kata para petinggi gereja. Bukankah kita sebagai warga Gereja wajib menjalankan ketaatan?

Tetapi ada nada lain dari Uskupku sendiri, perihal pesta atau apalah kau boleh menamakan syukuran tersebut. Ini terjadi saat peristiwa tahbisan itu sendiri, di Katedral Kupang. Di hadapan umat dan para imam baru Bapa Uskup menyatakan dengan resmi agar para imam sebaiknya mengadakan pesta sebab dari situ seseorang menghayati bahwa kesejatian hidupnya ada dalam hubungan dengan sesama.

Tentu saja situasi dan latarbelakang yang berbedalah yang menghasilkan pernyataan dan himbauan yang berbeda tersebut. Persoalannya apakah pesta-pesta dalam masyarakat perlu dihentikan? Apakah penghentian pesta ini akan turut mensejahterakan masyarakat?

Saya pikir setiap hari orang berpesta, jamuan makan minum dalam perayaan ekaristi. Kalau acara jamuan tradisional masyarakat (orang dawan menyebutnya kai loto) seperti ini dihilangkan dari masyarakat maka bagaimana mereka menghayati Perayaan Ekaristi yang sesungguhnya adalah suatu pesta yang menggambarkan pesta surgawi?

Atau bisa jadi karena ekaristi adalah fons et culmen maka syukuran lainnya tak penting lagi? Aku tak hendak menjawab.

Aku sudah tiba di sini. Dan sebentar lagi perayaan syukur akan berlangsung meriah. Biarkan mereka bertanya-tanya, aku akan tetap mengucap syukur dengan mengundang sesama saudaraku, sebab dirham yang hilang telah kutemukan kembali. Rasa syukur dan gembira bukan persoalan ekonomi. Hentikan omongkosongmu!

____

Are you against this? Do something or you’ll die!

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Oktober 8, 2010, in Moral, Refleksi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: