Balada Para Pekerja Sukses

Wisuda sarjana. Ratusan pemuda dan pemudi berhak menyandang gelar sarjana dan dengannya mereka berpikir mereka akan gampang menjadi Pekerja Sukses. Sebab syarat utama menjadi sukses di negeriku yang tercinta ini adalah kau punya selembar surat resmi yang menyatakan bahwa kau tamat dari salah satu sekolah tinggi tertentu. Tak peduli prosesnya bagaimana sehingga entah bagaimana kau bisa lolos dari sekolah itu. Bukankah ijazah ini yang menjadi kriteria utama kesuksesan selain kartu kuning dan keterangan kelakuan baik dari pak polisi?

“Ah, betapa nikmatnya menjadi Pekerja Sukses”, kata seorang teman. “Ketika kau secara resmi mulai dinyatakan sebagai Pekerja Sukses melalui sepucuk Surat Keterangan, saat itu pula kau boleh membayangkan betapa terjaminnya masa depanmu. Setiap bulan asalkan kau rajin mengisi daftar hadir, kau pasti mendapatkan sejumlah uang plus tunjangan sana sini, hingga kau bisa kebingungan mau dikemanakan uang sebanyak itu?”

Dan kalau kali ini kau tidak diterima karena antriannya makin banyak, kau boleh menanti sambil mengendara motor sana sini menawarkan jasa ojek. Tapi kalau kau sudah terlampau takut karena umurmu hampir sekarat, kau boleh menghubungi orang-orang dekat yang berada di lahan-lahan yang akan kau tuju. Gampang! Asalkan kau tahu adat orang itu. Bukankah ada pepatah masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang kuda meringkik? Datangi dia dan bicarakan keinginanmu. Tentu kerabatmu itu tak sampai hati menolak kau dari jajaran para Pekerja Sukses, buruh elit di negeri tercinta ini.

Saking bergitu banyaknya antrian dan kerabat yang hendak dijajarkan dalam barisan Pekerja Sukses ini, setiap tahun uang negeri tercinta ini dihabiskan untuk membayari kamu. Kau terlalu banyak menuntut tunjangan sana-sini , tanpa peduli bahwa uang itu baiknya dipakai untuk membangun jalan atau jembatan atau rumah sekolah di kampungku yang hingga sekarang tak bisa kau jangkau padahal Indonesia sudah uzur dalam kemerdekaan.

Sementara, kau terlalu banyak duduk di ruang-ruang ber-AC tanpa tahu apa yang kau perlu buat selain membuka computer dan menjalankan program solitaire atau pokemon exe. Atau kau ngeloyor begitu saja, berjalan-jalan di mall, hingga tuanmu butuh seorang penjaga lain yang kau namakan Om Pol Pepe. Begitulah, hingga setiap tahun jumlah kau dan temanmu semakin membengkak, jumlah tunjangan terus bertambah, uang pokok, uang batang, uang daun , uang nasi, lauk pauk, uang sayur mayur, hingga kemudian kau hanya berpangku tangan ketika bangsaku ini terus mengalami pembusukan.

“Ah, tentu saja, siapa tak ingin jadi Pekerja Sukses?

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Oktober 10, 2010, in Refleksi, Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: