TUHAN ITU BAIK (Empat-Habis)

Akhirnya aku pikir aku wajib berterima kasih kepadamu, pembaca notesku yang setia. Mungkin banyak hal yang tak kau dapatkan dari catatan remeh ini, namun betapa engkau telah meluangkan waktumu yang amat berharga hingga akhirnya engkau dan aku tetap menjalin sebentuk telepati dari otak ke otak dan terutama dari hati ke hati.

Mulanya kisah perjalanan kecil ini ingin sekedar kusimpan saja dalam kenangan. Akan tetapi ada suara yang mendesakku untuk membagi-bagikannya kepadamu. Aku tahu kau adalah sobat sejatiku, maka hal-hal apapun yang dariku pasti selalu kau perhatikan, kau sungguh memberi hatimu padaku.

Aku sebenarnya risih menuliskan goresan kecil ini, namun aku yakin kau juga punya hal remeh temeh kecil yang kau pikir amat indah dalam hidupmu dan cuma orang-orang yang mencintaimulah yang mau meluangkan sedikit waktu untuk membacanya.

Kisah perjalananku dari Kupang hingga Kefamenanu, sebagaimana telah kau ketahui, adalah suatu perjalanan main-main untuk menghadiri suatu peristiwa tahbisan imam untuk Keuskupan Atambua. Hari itu, Senin, 16/10/2010, kota Kefa sedang bergeliat, selain karena peristiwa iman ini, juga karena ada saling menyikut antara para pendukung Kandidat Bupati TTU.

Kendati demikian, situasi ini sebenarnya tak begitu terasa saat berlangsung perayaan tahbisan. Kau tahu, mayoritas warga kota Kefamenanu adalah pemeluk Agama Katolik Roma, namun sama seperti manusia lain di muka bumi ini, mereka juga punya peri kebinatangan, yang sesewaktu mendesak untuk diungkapkan. dan itulah yang terjadi menjelang pengumuman hasil pemilu Kada 2010.

Akan tetapi tak usahlah kita pertimbangkan hal itu,. Yang jelas bahwa ketika mereka sedang sibuk memilah dan memilih pemimpin duniawi, Tuhan sendiri yang telah berkenan memilah dan memilih 9 orang dari antara mereka, pada waktu yang hampir bersamaan, menetapkan mereka dengan meterai tahbisan.

Tuhan sungguh peduli kepada manusia ciptaannya. Kadang aku berpikir, “Peduli amat dengan manusia (seandainya aku Tuhan), kau harus tahu bahwa aku yang bikin kamu!” Saya pernah mendengar ucapan semacam ini dari beberapa orang tua yang saya kenal, yang berusaha melegitimasi kekerasan terhadap anak dan istri, (KDRT, githu lho!)… Sang pria berkuasa memberi makan anak istri, maka dengan sendirinya berkuasa main kaki dan main tangan… nah….

Tapi Tuhan, seperti yang aku alami dalam perjalanan yang meletihkan ini,  selalu hadir dan menolong aku di saat-saat sulit, dan terutama karena ia hadir melalui sesama saya.

Ah, betapa bernilainya manusia di hadapan Tuhan…. Betapa baiknya TUHAN

 

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Oktober 22, 2010, in Kisah Nyata, Refleksi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: