DEKLINASI I JAMAK : ROSA

Beringin itu menjadi benalu, menjulurkan akar-akarnya dengan rakus dan merampok habis pohon inangnya jadi bangkai lapuk. Dedahannya menghijau di sela bangkai pohon inang yang menjadi tempat cendawan dan paku-pakuan beranak-pinak. Seekor kadal merayap naik, mungkin mau menuju langit yang mendung sore itu.

Dedaun hijaunya menjulur dan menjamah sebuah grotto, dalamnya seorang wanita menanti dalam keabadian. Dia seorang ibu yang kau yakini akan selalu mendoakanmu, lebih dari ibu kandungmu sendiri.

Mendung yang tak jadi hujan itu semarak oleh bias-bias cahaya putih , kibaran pakaian-pakaian saleh dari segerombolan pemuda yang menamakan diri para calon imam. Kau tahu, mereka itu sedang dalam pendakian tangga-tangga imamat. Mereka kadang letih, kadang antusias. Silih berganti dalam keriangan masa muda mereka.

Di bawah sejuk beringin itu segala kepenatan pendakian sedang didedahkan. Gumam Ave Maria melengking menyibak belukar angsono dan petai, memuncak menuju seseorang yang kau pikir bisa dijadikan penopang. Senja mulai tergiur oleh mentari yang kembali dari balik awan. Suatu ziarah bermula, menutup Rosario yang saban malam telah terangkai  di kapel Seminari Tinggi Santu Mikhael.

Siang tadi dengan lima bis besar, kau telah berada di gua Maria Lourdes SSpS Belo Kupang . Perjalanan dari gurun menuju bukit salju. Sejuk dan segar. Sungguh, kau bisa merasa seperti itu. Ada kibaran jubah-jubah putih, di sini menapaki jejak-jejak Via Dolorosa, lalu berputar laksana gerakan sentrigal pada  grotto Lourdes.

Belaian angin sore pada pucuk-pucuk petai dan angsono membentuk tarian yang membuai, mengiring, doa dan ekaristi konselebrasi yang dipimpin oleh Romo Okto. Kau cuma duduk  lesehan beralas terpal biru kusam berdebu, namun khidmat bukan bermula dari luar. Khusyuk itu terkandung dalam nurani, dan terlahir dalam lingkungan dan suasana.

Aku tahu kau cukup letih sejak pagi tadi. Namun sungguh, tak kutemukan titik dan garis itu di wajahmu. Mungkin kau memang tidak saleh, tapi kau tahu bahwa di hadapanmu, sungguh ada seorang ibu. Apa yang kau inginkan dari kehadiran seorang ibu? Apa saja yang bisa kau peroleh dari dia? Tanpa balasan pula?

Meskipun kau mungkin –  itu hampir pasti – tak akan pernah berziarah ke Lourdez dan Fatima, namun kebaktianmu padanya seperti guguran daun pada bumi.  “Aku manusia, rindu rupa rindu rasa!” Pendakian letih ke sini, bukan sekedar karena arca dan grotto ini. Ada yang tersamar di sini: rangkaian mawar tak berduri, mekar mewangi sepanjang masa, indah molek tak berperi, rosae, rosarum, rosis, rosas, rosis rosae… .

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Oktober 30, 2010, in Refleksi. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Ziarah Komunitas Seminari Tinggi Santu Mikhael Penfui, ke gua Maria Lourdez Susteran SSpS Belo, Sabtu sore (30/10/2010)….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: