SI PEMALAS TERCANTIK DI DUNIA

Pohon-pohon lontar menjulang angkuh, menyapa kau yang datang ketika terik mulai menyengat.

Pada pintu masuk, duduk segerombolan pria yang lantas mencegatmu, untuk sejumlah uang yang mereka bilang untuk biaya perawatan taman. Meski kau tahu mereka tak pernah peduli dengan kebersihan tempat itu, kau tetap menyodorkan sejumlah uang yang diminta karena sesungguhnya kau orang yang cinta damai.

Lalu kau memacu sepedamu masuk ke tempat yang mirip pasar tradisional di kampungmu yang jauh terpencil, di mana orang-orang dari segala sudut datang berkumpul dan memasang aksi masing-masing, seolah-olah mereka itu sungguh berbeda dari orang-orang lainnya; entah gaya bicaranya, entah dandanannya entah harta miliknya.

Kau lantas sengaja berputar-putar mencari di mana teman-teman yang mendahuluimu pagi tadi, sedang menanti. Tetapi sesungguhnya, jauh di dalam hatimu, kau hanya ingin seperti orang-orang di pasar tradisional kampung itu.

Lalu kau memarkir sepedamu dan mulai menimbang-nimbang, apakah langsung mencebur diri ke laut, sekedar jalan-jalan atau bermain bola di hamparan pasir putih.Kadang-kadang kau harus ikut suara mayoritas walau yang banyak itu belum tentu sesuai dengan seleramu.

Akhirnya ketika orang rame-rame memutuskan untuk berjalan berkeliling, kau pun ikutan sambil sesekali memandang ombak dan berpikir ternyata kau juga punya jiwa penyair, dan mulai bermimpi suatu saat nanti puisi-puisimu akan menghiasi koran lokal dengan latar tempat lokal juga. Terutama latar pantai seperti deburan yang sedang kau benci ini, dan terik yang terus-menerus berusaha membuat kau hangus kehitaman.

Lalu sesekali kau berpapasan dengan orang yang kau kenal, dan kau berpikir sebaiknya melontarkan satu dua basa-basi biar dia tak bilang kau sombong.

Hingga akhirnya kau kelelahan dan berpikir sebaiknya segera makan siang. Kau datang ke situ memang untuk makan. Untuk apa hidup itu kalau memang bukan untuk makan?

Tapi kali ini ada yang menarik di situ. Ada kontes “kecantikan” anjing piaraan. Diselenggarakan oleh kerjasama Fapet Undana dengan instansi apa yah kau lupa sebab sesungguhnya bukan itu yang menarik.

Yang menyita perhatianmu adalah sejumlah anjing paling aneh yang pernah kau lihat kali ini. Ada yang rupanya hanya bisa kau lihat di film-film yang saban kau tonton melalui Bioskop TransTV atau dulu, di Layar Emas RCTI. Ada yang benar-benar anjing seperti yang kau kenal. Tetapi ada pula yang sepertinya hanya kau ketemukan di buku-buku cerita anak-anak yang kau baca dulu. Dan ada juga yang seperti boneka yang tersimpan di dashboard angkot yang saban hari kau tumpangi menuju kampus, dengan musiknya yang selalu mengetes kekuatan jantungmu, normal atau tidak.

Lalu dua gadis yang berpikir mereka paling cantik di situ, melalui mikrofon, mulai memanggil para peserta kontes itu. Ibu-ibu, bapak-bapak, om-om, tanta-tanta, nyong-nyong, nona-nona yang lantas menyeret anjing peliharaannya ke atas panggung dan berpikir mereka punya anjing paling cantik di dunia.

Sementara itu para juri yang terdiri dari para dokter hewan berusaha memperhatikan seolah-olah mereka sama sekali belum melihat binatang bernama anjing. Konon, yang akan menjuarai kontes adalah anjing yang paling menarik aktingnya, hasil kerja keras pemiliknya dalam melatih, dan yang memiliki kesehatan prima.

Satu persatu binatang dari jenis canis familiaris ini di seret ke panggung. Ada dalmatian, pudel, herder, anjing pelacak, anjing kampung, dll. Kau cuma tahu sedikit jenis anjing karena kau tak peduli. Yang kau suka dari anjing cuma erwe!

Yang namanya anjing tetaplah anjing. Meski sudah di atas panggung, ada yang seenaknya mengangkat satu kaki belakang, dan… pisssss! Ada yang menyalak seenaknya tak peduli dengan arahan pemiliknya. Ada yang malah mati-matian berusaha untuk tidak di seret ke atas panggung. Mungkin anjing itu berpikir buat apa jadi bahan tontonan manusia. Bukankah kebanyakan dari mereka lebih anjing dari anjing?

Tapi ada yang lucu sekali, cerdas, dilatih dengan trampil sehingga melihat aktingnya, kau seperti menonton permainan anak-anak PAUD di lingkungan tempat tinggalmu. Dan kau terhibur meski terik mentari tetap menyegatmu.

Akhirnya kau pulang.

Lalu kau bertanya-tanya, “Ada apa dengan canis familiaris?” Lantas kau teringat tentang teori mimetika dan kecerdasan genetik. Ada gen tertentu yang pada makhluk tertentu berkembang untuk tetap bertahan hidup. Binatang-binantang yang malas, seperti anjing dan kucing, berkembang secara genetik menjadi makhluk yang cantik. Dengan demikian mereka sangat disukai oleh manusia. Kesukaan manusia inilah yang dimanfaatkan oleh makhluk tersebut untuk bertahan hidup dan melanjutkan spesiesnya.

Nah, kau punya anjing di rumah? Apa hewan peliharaanmu itu mencari makan sendiri? Apa kalau sakit dia menyembuhkan diri sendiri? He he, bisanya cuma ribut melulu. Mereka justru menjadi raja kecil yang cerewet! Apa sedikit menggonggong saja, kau pelayan yang baik hati pasti  mengerti keinginan yang dipertuan agung, canis familiaris.

Itulah, si pemalas paling cantik di dunia!

 

 

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Oktober 31, 2010, in Refleksi. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. tulisan menarik, trimakasih mau berbagi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: