NGE-JAZZ BERSAMA SASANDU

Lampu sorot warna warni berseliweran hingga kau bisa merasa pusing tujuh keliling, apalagi kau biasa mete malam sehingga sering bulan kesiangan. Namun rasa pusing bisa terobati lewat lantunan nada dari dawai sasandu yang melenakan hingga kau merasa berada di awang-awang.

Malam itu, Selasa, 7 Desember 2010, ketika kita selesai menghadiri perayaan Ekaristi peringatan Santu Ambrosius, Uskup dan Pujangga Gereja dari Milano, kau ajak aku beranjangsana mengapresiasi Festival Musik Sasandu di Aula Assumpta Kota Baru Kupang. Kau menjelaskan padaku, kegiatan ini menarik, bermutu, namun yang paling penting GRATIS. Oleh karena itu tak baiklah kalau kau tak sempat hadir, katamu.

Dan aku setuju saja, lantaran meski kepalaku sedikit migraen, ku pikir mendengarkan musik bisa memberi sedikit refreshing . Siapa tahu migraen sialan ini bisa hengkang. Demikianlah, atau paling tidak aku bisa membuktikan apa benar, efek Mozart bukan isapan jempol belaka.

Ternyata program kegiatan Dinas Pariwisata NTT ini benar-benar tak sekedar menghabiskan anggaran tahunan. Kelompok Jazz asal NTT yang sudah banyak makan garam di Jakarta, menerima undangan untuk berkolaborasi dengan musik sasandu; acara yang gemerlap dengan nuansa etnik Rote, sebuah pulau di ujung paling daksina di Indonesia.

Tarian Ja’I kreasi sanggar dan Gong Sasandu mengawali kegiatan bergengsi ini. Tak lupa pula Bapak Gubernur NTT memberi sambutan membuka kegiatan Festival, disusul dengan laporan Kepala Dinas Pariwisata NTT.

Usai basa-basi dan santap malam bersama, mulailah aksi panggung yang memaku kau pada tempat dudukmu. Ivan Nestor Man, dkk, membawakan berbagai lagu etnik NTT dengan iringan kolaborasi antara peralatan band modern dengan sasandu akustik maupun elektrik. Kemeriahan malam ini bertambah gemerlap oleh kehadiran beberapa bintang tamu.

Yang pertama, duo dari pulau Andalas, alias Sumatera. Dengan Saxofon dan gitar, dan tentu saja, tiga sasandu, mengalunlah lagu kesohor dari Tano Batak, Sinanggar Tulo yang jazzy.

Bintang kecil pun terbit malam ini. Ada Tiara Pingak, pemetik sasandu berumur sebelas tahun, dan Inggrit, penyanyi cilik berbakat [kecil-kecil sudah piawai ngejazz!]. Inggrit mengekspresikan feeling jazznya dalam lagu Tebe Onana (tradisional Amarasi) yang jazzy cordal-nya menggelitik.

Dari panggung ini pula terbukti, si genit imut sasandu yang oleh sebagian orang, dianggap alat musik kampungan, justru dengan gagah bisa bersanding mesra dengan alat-alat musik barat. Dan ini tidak main-main, bukan sekedar mengiring, tapi ikut menambah suasana bossa, dalam dua lagu jazz/ bossanova standar: Garotta de Ipanema dan Mas Que Nada. [Kamu jangan mengaku pencinta jazz kalau belum kenal dengan dua komposisi brazilian tersebut].

Nomor pamungkasnya adalah aksi manggung dari bintang tamu David Mesakh, pemetik sasandu tradisional, berusia enampuluhan. To’o David tampil memetik sasandu sambil menyanyikan sebuah lullaby tradisional dari etnik Rote. Teman di sampingku yang berdarah Rote pun menyelutuk,’ Aku sedang terbang ke masa kanak-kanak, saat tidur ibu meninabobokan kami dengan melodi yang khas ti’I langga itu’.

Nada lokal dari David Mesakh pun diiringi dengan gaya Jazz yang mau tak mau menggugah penonton untuk ikut menari ti’ilangga.

Kau pun semakin larut dalam klimaks menyanyi dan menari, hingga akhirnya aksi manggung ditutup dengan satu komposisi reggae No Woman No Cry-nya Bob Marley. Interaktif banget!

Aku pun pulang dengan girang sebab mumet di kepala sudah entah ke mana dan tak lupa mengiyakan bahwa efek Mozart itu bukan isapan jempol!

Sayangnya, aksi promosi dari Dinas pariwisata kurang gencar hingga aula Assumpta malam ini masih menyisakan kursi-kursi kosong. Atau, orang Kupang yang tak punya minat terhadap musik? Entahlah!

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Desember 12, 2010, in Kisah Nyata and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: