KAMPUNG HALAMAN

Sebuah tape recorder yang dibeli kakak dari hasil penjualan biji kemiri kini menghiasi ruang tamu kita. Sebuah kotak ajaib yang mengeluarkan bunyi yang menenteramkan sekaligus menghipnotis kau hingga kadang-kadang otot-otot di tubuhmu bergerak tanpa kau kehendaki. Kotak hitam itu bertulikan Philips dan kau begitu heran ketika kakak melafalkannya: filis. Saban bulan, enam buah baterai ABC dicopot lalu dijemur di panas mentari, sementara baterai baru masih harus menunggu pasar mingguan di kota kecamatan.

Kotak hitam itu kembali menjadi pusat perhatianmu di masa Adventus. Suara baritone yang gagah dari Charles Hutagalung, melantunkan kata-kata ini:

Jauh di dusun yang kecil di situ rumahku,
lama sudah kutinggalkan, aku rindu,
tahun-tahun t’lah berlalu
menambah rinduku
nantikan kedatanganku
dusunku

Di sela sopran-anak nan jernih [siapa, yah?] :
Ku ingin mengulang lagi
kenangan masa kecilku,
kenangan hari natal yang bahagia
kunyalakan lilin lilin kunyalakan lenteraku
kenangan natal di dusun yang kecil.

Lagu itu akhirnya menemani kau bermain-main di halaman ketika akhirnya pertengkaran timbul: mana yang benar lantera atau lentera? Sudahlah yang penting bahwa kau bisa menyanyikan lagu itu bukan?
Ketika akhirnya puluhan tahun terlewati sudah, lagu kecil ini begitu membekas seperti tertulis pada karang Teluk Kupang.

Di tengah berbagai macam pop natal yang kian marak seperti gorengan di sudut eltari, Kenangan Natal di Dusun tetap menyita perhatianmu dan menyalakan rindu kesumat terhadap kampung halaman. Ada kampung dengan halaman.

Kau selalu bilang beda kota dengan desa adalah pada kampungnya. Di desa, kampungnya selalu punya halaman. Di kota, lebih banyak kampungnya tapi justru tak punya halaman. Yang ada hanya RStakberhingga: Rumah Sangat Sesak Sempit Sekali Sampai Satu Sofa Saja Serasa Sumpek Setengah Sableng….

Ketika Adventus kembali menyambangimu, diam-diam kau berjanji dalam hati: Nantikan kedatanganku, dusunku!

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Desember 21, 2010, in Refleksi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: