SENYAMPANG KISAH DI RAKNAMO

Sepeda motor yang jarang dicuci, melaju melalui dataran lurus sepanjang jalan Timor Raya menuju ke arah Naibonat. Hingga di persimpangan Balai … ah, balai apalah, pokoknya disingkat BPTP di Naibonat kau mengambil arah menuju ke Amabi, sebuah jalan kecil yang kau pikir suatu hari mesti dilalui Bupati atau Gubernur dulu baru bisa diperbaiki. Di jalan ini kau harus siap berguncang-guncang. Lubang-lubang kecil bertebaran,sulit kau bikin atraksi berkelit di sepanjang jalan menyedihkan ini.

Mendung di atas Teluk Kupang membuat kau cemas jangan sampai kehujanan sebelum tiba di tempat tujuan. Usai melintas di padang dengan pepohonan kayu putih, kau tiba di sebuah tempat di mana banyak orang telah berkumpul. Kau mendengar seseorang berbicara dengan mikrofon dan kau pikir itu suara imam yang telah memulai misa. Alas, bukan! Itu ketua stasi yang sedang memersiapkan umat untuk mengikuti perayaan ekaristi Hari Raya Keluarga Kudus, Minggu 26 Desember 2010.

Ketika kau memarkir sepeda motormu di samping kapel berdinding bebak itu, hujan pun turun seperti tercurah dari langit. Semua orang ingin masuk ke dalam kapela, tak ada pilihan untuk bernaung. Sekejap saja kapel menjadi sesak hingga kau sulit bernafas, penuh segala aroma. Ketika itulah kau mulai bersiap-siap untuk memulai misa. Dan ajaib pada saat itu pula hujan berhenti dan mentari kembali dari balik awan dengan senyum yang paling cerah.

Perayaan ekaristi pun berlangsung dengan sedikit-sedikit mikrofon mesti diketuk untuk memastikan bahwa alat tekhnologi paling umum dalam pertemuan masal itu berfungsi dengan baik. Kendatipun kor yang telah mempersiapkan diri untuk tampil pada misa hari itu namun tak urung mereka bernyanyi dengan sumbang lantaran gitar yang tidak disetem secara benar. Mungkin telinga mereka yang kurang beres atau kau yang lagi masuk angin?

Ratusan umat di Raknamo boleh mendengarkan petuah seputar keluarga kudus lalu menyambut komuni seperti teman-teman mereka yang lain di seantero muka bumi pada hari itu. Keluarga kudus semoga menjadi teladan kita, pulanglah kita diutus! Lalu pertemuan rutin hari minggu itu pun bubar.

Seseorang mendekati kau, mengajak memberkati sepeda motornya yang baru diambil dari dealer di kota Kupang, lengkap dengan stiker-stiker AC MILAN, mungkin pemiliknya seorang fanatik AC Milan. Mereka juga menawarkan jagung muda persembahan misa tadi, namun kau menolak sebab sulit mengendara sepeda dengan membonceng benda mati seperti tumpukan jagung tersebut. Kau relakan saja jagung muda tersebut menjadi milik anak-anak muda untuk dibakar dan jadi santapan siang usai pertemuan entah apa namanya yang juga berlangsung di tempat yang sama.

Seseorang lalu mengajak kau ke kediaman mereka, mudah ditunjuk pakai jari tapi sulit dijangkau lantaran hujan hari-hari lalu telah menyisakan lumpur yang sekali kau tancap, berat kakimu bertamabh nol koma sekian kilogram. Dengan memarkir sepeda di rumah tetangga lalu berjinjit-jinjit ke rumah si pengundang itu, kau tiba membawa keringat. Rupanya hujan tadi pagi tak juga sanggup menghalau ganasnya terik. Di bawah, kaki berlumpur di atas dahi berkeringat. Perpaduan yang aneh di antara rumah-rumah susun di sela-sela lelontar yang dengan mudah disebut dengan nama asing: resettlement.

Makan siang dihidangkan setelah basa-basi sejenak, bertanya ini itu tentang keluarga dan persoalan-persoalan kecil seputar hidup mereka. Kau makan dengan lahap sebab sajian ini khas mirip masakan eropa walaupun pemasak dan pelahapnya adalah orang-orang timor. Hidangan berakhir dengan ma ge. Kau tahu ma ge? Itu kata yang barusan kau pelajari dari mereka yang bilang itu bahasa Makasae. Orang Tetun bilang hemu tua untuk mengungkap makna yang sama. Kau minum beberapa-takar gelas lantas menolak untuk terus, sebab kau merasa kepala mulai terasa berat dan kau sulit berdiri tegak. Ma ge belum selesai saat kau pamit pulang. Suatu hari minggu di Raknamo yang masih menyisakan tragedi si Nuno Barros, anak hilang yang sudah genap sembilan bulan tak ketahuan rimbanya.

Apakah tahun baru ini akan memberi harapan yang cerah bagi Dominggos Barros sekeluarga? Entahlah!

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Desember 30, 2010, in Kisah Nyata, Refleksi and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: