MATEBIAN HOSI LACLUTA – TIMOR LESTE

Kamis sore bergerimis namun aku nekat berangkat juga dengan sepedamotorku. Basah sedikit tak apalah asalkan umat bisa merayakan ekaristi. Aku mengarahkan sepedaku menyusuri jalan Timor Raya menuju ke sebuah tempat di Tuapukan yang akrab di sebut kamp pengungsi Timor Leste.

Aku ke sana atas undangan sebuah keluarga eks-pengungsi Timor Leste yang hendak merayakan hari kelimabelas kematian seorang anggota keluarga. Mereka hendak mendoakan arwahnya, memberkati salib untuk dipancangkan, dan rampai untuk ditabur di kuburan.

Pemancangan tiang silang

Aku tiba di sana ketika segenap kerabat dan handai taulan sedang bersiap-siap. Ibu-ibu yang sibuk di dapur dan bapak-bapak yang mengatur kursi serta muda-muda yang membunyikan satu dua lagu requiem, persiapan untuk misa arwah sebentar lagi.

Aku disambut dengan sebuah selendang kas sulaman logo Negara Timor Leste dengan motif segitiga kuning dan hitam, gambar bintang berwarna putih, di atas dasar berwarna merah dengan tulisan Timor Leste.

bersama keluarga duka

Lalu kami duduk mengobrol sambil minum kopi. Seseorang bercerita: almarhumah beralamat di Atambua, di sebuah kamp yang dia sendiri tidak tahu apa namanya, dirujuk ke RSUD Prof. WZ Yohanes Kupang lantas meninggal di sini. Keluarganya yang ada di Tuapukan yang lantas bersepakat untuk menguburkannya di Tuapukan. Banyak keluarga yang baru datang dari Timor Leste. Jadi kesempatan ini adalah kumpul keluarga sekaligus penancapan tiang salib di kuburan.

Misa dimulai pukul 16.30, ketika gerimis tak lagi mengancam dan banyak orang boleh mengikuti perayaan dengan duduk di luar tenda. Usai misa kami berarak meunju kuburan yang jaraknya sekitar tiga menit berjalan kaki. Di sana mulailah ritus tradisional peninggalan bangsa Portugal: tabur bunga dan penyalaan lilin. Bahkan di kuburannya tertera tulisan berbahasa Portugis.

Arak-arak menuju makam

Pulang ke rumah, kami makan bersama. Tradisi makan bersama orang Timor Timur sedikit berbeda dengan orang Tim0r Barat. Orang Timor Timur justru lebih kuat kesan barat-nya daripada orang Timor Barat. Sambil mengobrol tentang situasi terkini di Timor Leste dan sekitarnya, kami meneguk minuman tradisional orang Timor, laru putih.

Makam sang marhum

Hingga malam datang menjemput dan gerimis telah lama lenyap aku pamitan dan pulang ke seminari. Satu pesan dari seorang Bapa yang berasal dari Timor Leste adalah mudah-mudahan ada lagi kesempatan untuk berjumpa kembali. Timor tanah air kita itu satu meski secara kenegaraan kita berbeda.Viva Timor Raya!

Ibuku telah pergi, kasihnya tinggal kenangan...

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Januari 9, 2011, in Kisah Nyata, Refleksi and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: