Kesetiaan Imam dalam Inspirasi “Teologi Tubuh”

Pada umumnya orang mau menjadi imam karena memang tertarik menjadi imam. Baru kemudian muncul “pergulatan” memenuhi tuntutan bahwa imam harus selibat. Maka, yang menjadi fokus perhatiannya adalah imam yang selibat. Namun, di lain pihak, selibat justru menjadi titik mulai yang lain. Selibat dilihat sebagai suatu nilai. Baru kemudian muncul pertanyaan: Selibat macam apa? Selibat sebagai awam atau imam?

Jika mulai dari pemikiran yang pertama, maka tantangannya menjadi lebih besar. Tetapi kalau dari pemikiran yang kedua, kemurnian (karena selibat) kiranya menjadi sesuatu yang lebih bernilai.

Ancaman Pornografi

Bagaimana (kita) bisa setia sebagai imam, yang selibat, yang sangat seksual, dan hidup di dunia yang dibombardir oleh tipuan-tipuan pornografi?  Ancaman pornografi harusnya mendapat perhatian serius para imam. Menurut Pornography Time Statistics (2006), US$ 3.075,64 dibelanjakan sekitar 28 ribu pengguna internet di seluruh dunia untuk pornografi setiap detiknya, sementara setiap 39 menit satu film porno selesai diproduksi di Amerika Serikat.

Persoalannya, bagi banyak orang muda, pornografi (terutama pornografi internet) menjadi bagian dari acara harian, sehingga ketika masuk dalam hidup bakti hal itu menjadi sesuatu yang dianggap tidak bertentangan dengan hidup bakti. (Sehingga) gambaran hidup bagi para imam akan semakin menakutkan di masa depan

Inspirasi Teologi Tubuh

Menghadapi ancaman pornografi terhadap kesetiaan imam, ada baiknya kita merefleksikan Teologi Tubuh, yakni kumpulan ceramah-ceramah mendiang Paus Yohanes Paulus II. Menurut beliau, Teologi Tubuh menyadarkan manusia bahwa upaya membarui dunia berawal dari tubuh manusia. Oleh karena itulah Teologi Tubuh bermakna pedagogi/pendidikan tubuh manusia.

Kekristenan senyatanya sangat seksual. Kitab Suci menunjukkan bahwa Allah yang mewahyukan diriNya dalam Kitab Suci tidak punya persoalan menggunakan tubuh manusia sebagai simbol. Mengapa sekarang pembicaraan tentang seksualitas menjadi sesuatu yang tabu, seolah-seolah menjadi sesuatu yang asing dari Kitab Suci, asing dari kesucian?

Selanjutnya, menurut Yohanes Paulus II, tubuh memiliki arti yang melekat (nupsial), sehingga perubahan dunia akan bisa diperbaiki jika setiap manusia mulai memahami arti nupsial dalam tubuhnya. Setiap bagian tubuh manusia adalah perkataan tentang Allah, sehingga Allah mau mewahyukan diriNya dalam Kitab Suci melalui simbol-simbol tubuh. Hanya tubuh manusia yang membuat terlihat apa yang tidak bisa terlihat, yang spiritual dan yang ilahi. Selain itu, arti nupsial tubuh –laki-laki, perempuan, selibat, atau menikah— memiliki arti bahwa tubuh diberikan untuk cinta secara bebas (free), total, setia (faithful), berbuah (fruitful).

Jika keempat unsur pemberian tubuh untuk cinta itu tidak terpenuhi, maka tindakan seksual tubuh pastilah tipuan. Misalnya, hubungan seks (bebas) atas dasar suka sama suka pasti tipuan, karena mungkin memang bebas dan setia, tetapi tidak total dan tidak berbuah.

Ambiguitas Relasi

Inspirasi Teologi Tubuh menjadi semakin penting di kalangan para imam karena, para imam rentan terhadap pelanggaran batas-batas profesional, sering dituntut memainkan peran profesional dan bersosialisasi dengan orang yang sama, sehingga berisiko melakukan relasi ganda, misalnya sebagai pastor dari seorang umat dan sebagai teman dari orang yang sama. Misalnya seusai Misa, seorang umat mengajak pastor makan bersama. Jika ajakan ini dilayani, saat itu juga terjadi relasi ganda.Masalahnya, bila pastor sungguh bisa membatasi diri hanya berelasi secara profesional, dia harus menolak bentuk-bentuk relasi yang lain, dan itu seringkali menyakitkan … amat sangat menyakitkan …!

Sementara itu, para imam memiliki beragam sumber “kuasa”, misalnya karena pengangkatan resmi, kompetensi, maupun hal-hal yang ekstra rasional seperti keaslian pribadi, kepemimpinan rohani, dsb.

Selibat itu Mempesona

Mendiang Paus Yohanes Paulus II menawarkan opsi lain yang bukan bersifat represif/memaksa. Pilihan hidup manusia kini bukan lagi di antara menjadi human atau unhuman, melainkan being human, being holy. Dalam konteks para imam, selibat menjadikan hidup sebagai laki-laki dibebaskan oleh Kristus. Hidup sebagai laki-laki yang menjaga selibatnya itu hanya mungkin dilakukan karena pembebasan Kristus.

Refleksi ini berkaitan pula dengan promosi panggilan menjadi imam, bruder, suster. Kita bisa melakukan promosi panggilan kita bukan panggilan menjadi imam, tetapi panggilan untuk hidup selibat … selibat itu sangat mempesona.

Saya merasakan panggilan saya kini bukan lagi menjadi imam yang selibat, tapi saya adalah laki-laki selibat yang (menjadi) imam!

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Januari 14, 2011, in Moral, Refleksi, Teologi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Tubuh yang Sakral tidak bisa dijelaskan dari bisa selibat atau tidak bisa. Sakralitas tubuh mneurut saya harus ditemukan dalam pergulatan di antara beragam ketabuan yang sedang dipertontonkan. Selibat sebagai pastor itu hampir tidak memenuhi bagian penting dari rasa percaya saya. Bukan tidak mungkin kalau kita pesimis pada normalitas dan seakan berdoa agar mengebiri diri itu tidak lagi sebuah doa. Bila Mana Desy Rahmadani memandang para pengguna jasa seks itu bukan orang beriman, tentu saja buku itu tidak akan dibaca, sebab semua orang sudah pasti yakin, setiap laki-laki berfantasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: