Bentuk-bentuk Doa Orang Katolik

Sudahkah Anda berdoa hari ini?

Oke, kalau Anda sudah berdoa itu pertanda Anda bukan jenis orang sulit. Sebab sama seperti orang-orang saleh lainnya Anda tahu betul mengapa harus berdoa.

Tetapi mungkin [dan ini hampir pasti] kamu bukan dari jenis orang yang cukup saleh untuk berdoa setiap hari. Pertanyaannya kini apakah hingga kini anda tidak mampu berdoa?

Saya kira jika tidak dicoba maka tidak pernah akan berhasil. Jika dicoba satu dua kali, jangan dikira akan segera mampu; jika pernah merasa gagal, maka harus periksa diri dalam hal persiapan dan iman yang menyertai kegiatan itu. Jika pernah merasa gagal, itu sangat manusiawi. Saya sendiri merasa gagal untuk berdoa dan kegagalan itu masih kutemui hingga saat ini. So, saya juga sebenarnya bukan orang yang saelh-saleh amat.

Tetapi jika ada yang merasa sanggup sekali, juga harus direnungkan, apa benar demikian?

Pokoknya berdoa melibatkan dua pihak manusia dan Tuhan (Roh Kudus). Keduanya harus mendapat perhatian yang sepantasnya. Yang berdoa adalah kita manusia. Maka harus ada persiapan lahir batin. Mari kita coba.

Apa itu Doa?

Nah, ini pertanyaan yang mesti dipikirkan jawabannya.
Makna doa itu bermacam ragam: Ada yang mengatakan: doa adalah “wawancara budi dengan Allah” atau pengangkatan hati kepada Allah”. Dalam hal ini budi jangan hanya dipahami sebagai pikiran karena doa menyangkut juga kebebasan dan perasaan manusia. Kamus Teologi menulis seperti itu.

Ada pula yang mengatakan doa adalah satu istilah umum yang berhubungan dengan kontak sadar antara manusia dengan Allah. Ada pula yang mengartikannya sebagai “Gerak hati yang mencari Allah, karena ingin bersatu dengan Allah sebagai kepenuhan dan kebahagiaan manusia.

Dari semua rumusan sederhana ini, bisa kita simpulkan bahwa doa adalah suatu pertemuan dengan Tuhan Allah. Pertemuan seluruh kemanusiaan kita dengan Allah.

Bagaimana cara berdoa?

Pertanyaan ini juga penting. Ada banyak cara untuk berdoa. Kita batasi pada cara yang paling tradisional dalamGereja katolik yakni berdoa biblis. Itu artinya kita berdoa dengan menggunakan Kitab Suci, membaca Kitab Suci.

Berdoa berdasarkan kitab suci ada manfaatnya. Kitab suci adalah wahyu Tuhan. Isi wahyu itu adalah Allah menyatakan diri dan rencana keselamatanNya kepada manusia. Wahyu Tuhan itu ada yang berbentuk doa; doa demikian dapat kita namakan doa biblis. Karena itu mengenal doa-doa biblis akan membantu kita untuk mengenal Tuhan yang mewahyukan diriNya dalam kitab suci serta karya keselamatanNya kepada kita. Di samping itu kita percaya bahwa kitab suci adalah hasil karya Roh Kudus. Karena doa-doa biblis itu adalah bagian dari kitab suci, maka harus kita katakan bahwa doa-doa biblis itu adalah juga hasil karya Roh Kudus. Dengan demikian, berdoa berdasarkan kitab suci, berarti mengakui karya Roh dalam teks kitab suci dan berdoa bersama dengan Dia. Bukankah Roh Kudus itu adalah daya ilahi yang memampukan kita untuk menyapa “Abba” / Bapa kepada Allah? Kita mampu berdoa karena dimampukan oleh Roh Kudus.

Memang Kitab suci bukan buku doa murni seperti buku doa “Bapa Kami” dan buku doa lainnya. Kitab suci sebenarnya buku iman yang mengisahkan sejarah keselamatan Allah serta tanggapan atau jawaban umat manusia atas karya keselamatan Allah itu. Akan tetapi ada alasan-alasan mengapa kita bisa berdoa denga menggunakan Kitab Suci:
1. Doa-doa kristiani biasanya mendapat ilham / inspirasi dari kitab suci atau bersumber pada kitab suci. Bukti konkritnya: Ibadat harian Gereja (sebenarnya doa resmi umat seluruhnya, tetapi karena umat tidak punya waktu untuk melaksanakannya, maka Gereja mempercayakan pelaksanaannya kepada para imam dan biarawan-wati, supaya mendoakannya sehingga Gereja itu mewujudkan diri sebagai “Ecclesia Orans – Umat yang berhimpun yang selalu berdoa”) diambil dari kitab suci. Doa resmi itu terdiri dari Mazmur.
2. Doa-doa resmi lainnya seperti Prefasi (dalam misa) juga diambil dari kitab suci. Seperti Prefasi Hari Minggu V Prapaskah: Sebab Dialah manusia sejati yang menangisi Lazarus. Dialah Allah kekal yang membangkitkan Lazarus, dst, berdasarkan Yoh 11:35.
3. Gereja juga mengambil doa-doa tertentu dari kitab suci dan menjadikannya sebagai doanya seperti Luk 1:46-55 yang biasa dipakai dalam Ibadat Sore (Magnificat) atau Luk 1:68-79 yang biasanya dipakai dalam ibadat pagi (Kidung Zakaria).

Jadi benar kitab suci bukan buku doa murni dalam arti di dalamnya tidak hanya ada sabda Allah yang berbentuk doa (berisi doa seperti doa bapa kami dalam Mat atau Luk) tetapi ada juga berbagai hal lainnya. Sehingga kitab suci dapat membantu kita untuk berdoa dengan baik.

Bentuk doa biblis
Ada beberapa bentuk doa biblis.
<a
1. Doa Permohonan baik untuk pribadi maupun untuk orang lain. Contohnya Neh 1:4-15. Ada dasarnya teologisnya:
Allah hadir dan berkarya dalam kehidupan manusia. Ia hadir sebagai kekuatan yang hadir bukan di luar manusia melainkan sebagai Alfa dan Omega (huruf awal dan akhir dalam abjad Yunani) dalam diri manusia. Ia adalah awal, dasar dan asal segalanya yang ada pada manusia sekaligus juga tujuan akhir segalanya, yang menarik segalanya kepadaNya. Karena itu dalam liturgi “upacara cahaya / lilin paskah” pada malam paskah, Gereja mengakui Kristus sebagai alfa dan omega. Kuasa Allah ini adalah kuasa yang merangkul, mempersatukan, menguatkan serta menarik kepadaNya, untuk menjalin hubungan pribadi dengan umat manusia.

Ada hubungan pribadi antar dua insan, yang diungkapkan dan diterima/dimengerti oleh kedua belah pihak. Ungkapannya boleh bermacam ragam: kata, senyum, beri hadiah dll. Antara kita dan Tuhan Allah juga demikian. Ada hubungan pribadi antara kita dengan Tuhan. Puji Syukur kita kepada Tuhan Allah menyatakan pengakuan kita dan pengalaman kita terhadap kasih Allah kepada kita. Kasih Allah yang begitu konkrit kepada kita dapat mengundang kita untuk menjalin hubungan pribadi dengan Dia. Doa permohonan dapat menghantar orang kepada hubungan pribadi dengan Allah dan dengan sesama. Karena pada dasarnya kita berdoa (memohon) berdasarkan pengalaman hidup kita di masa lampau. Pengalaman bahwa Allah berkarya dalam hidup dan mengabulkan doa kita. Pengalaman ini dapat mendorong kita guna menjalin hubungan akrab dengan Tuhan.

Penyelenggaraan ilahi yang bersifat dialogal (mengundang jawaban dari kita umat manusia). Allah terlebih dahulu mengasihi kita (Ia mengambil inisiatip untuk mengasihi umat manusia-sebagai undangan bagi kita). Dan kita manusia menjawabi undangan itu berupa doa permohonan dll.

Doa permohonan yang efektif tidak dapat memanipulasi Tuhan Allah sehingga mau atau tidak Tuhan pasti mengabulkan doa kita atau doa itu berhasil secara otomatis. Doa permohonan yang efektif akan selalu menolak magi / kekuatan gaib. Karena orang yang mempunyai hubungan pribadi dengan Tuhan selalu menampakkan mutu hubungan pribadi itu dalam taat kepada kehendak Allah, percaya kepadaNya dan kesediaan guna melaksanakan kehendak Allah itu. Sehingga tidak ada hasil otomatis yang terjadi karena penggunaan kata-kata yang khusus, serta sikap-sikap dan tata gerak khusus. Kekuatan doa itu terletak dalam hubungan pribadi antara kita dengan Tuhan yang menyata dalam doa itu.

Lalu doa permohonan resmi Gerejawi, biasanya didasarkan pada pengalaman Gereja di masa lampau. Karena itu doa-doa resmi Gereja biasanya terdiri dari sapaan, isi dan penutup. Pada bagian isi, biasanya Gereja kemukakan pengalaman dulu sepintas lalu, baharu menyusul permohonannya. Salah satu contohnya demikian: “Allah, Bapa yang kekal, Engkau telah berkenan memberi kami teladan hidup keluarga kudus (kenangan masa lampau). Bantulah rumah tangga kami untuk meniru kebajikan hidup mereka dalam ikatan cinta. ….. (permohonan). Jelas bahwa pengalaman hidup entah keluarga ataupun pribadi sangat penting dalam kehidupan doa, juga dalam doa permohonan keluarga. Di sini sebenarnya peranan iman dalam doa. Tanpa mengimani karya Allah yang terjadi dalam keluarga atau KUB, orang tidak tergerak untuk berdoa atau berpikir bahwa doa itu hanya buang-buang waktu saja. Sehingga mutu doa keluarga sangat ditentukan oleh pengalaman keluarga akan karya Allah yang terjadi di tengah keluarga. Semakin keluarga menyadari karya Allah di dalamnya, keluarga semakin tergerak untuk berdoa dengan hikmat.

2. Doa Penyesalan (Tobat): Sebenarnya termasuk juga dalam doa permohonan. Dalam doa ini, kita mengakui keadaan kita yang kita lihat (alami) berdasarkan pengalaman kita akan hakekat Allah. Kita mengakui ketidak-layakan kita karena berdosa. Dosa telah mengundang hukuman dari Allah. Tetapi bagi orang yang percaya, hukuman itu merupakan tanda bahwa Allah tidak meninggalkan kita, sebaliknya mengundang atau menyadarkan kita akan keadaan kita, membangkitkan rasa tobat untuk berbalik kepada Allah. Cf. Luk 15:11-32.

Doa bentuk ini hanya dapat terjadi jika ada kesadaran akan keadaan hidup. Jika kita menyadari keadaan hidup sebagai yang kurang berkenan akan yang mahakuasa, maka kita akan tergerak memohon ampun. Tetapi jika rasa aman-aman saja, maka kita juga akan dingin-dingin saja ketika berada di hadirat Allah.

3. Doa Puji Syukur: Doa ini merupakan jawaban yang paling khusus dan penting terhadap Allah yang berkarya: dalam ciptaan (dunia sekitar dan kita), dalam sejarah, dalam pengalaman pribadi setiap orang, dan dalam pengalaman bersama: kejadian-kejadian khusus. Contoh Luk 1:46-55.

Dalam hal doa yang berbentuk puji syukur, perlu kita sebutkan bahwa yang paling agung adalah doa syukur agung dalam perayaan Ekaristi. Sepintas lalu disampaikan bahwa doa ini adalah doa syukur dan pujian penuh kegembiraan kepada Bapa dan juga doa permohonan kepadaNya, yang diucapkan atas roti dan anggur. Syukur dan pujian kepada Allah Bapa, atas karya kebaikanNya yang ajaib; di antara karya-karya ajaib itu yang pertama dan terpenting adalah penebusan kita dalam Kristus, Tuhan kita; bagian doa ini namanya prefasi.

Pertama-tama perlu dikemukakan bahwa prefasi itu berarti pemakluman dengan lantang karya-karya ajaib Allah, sebagai dasar dan sebab Gereja untuk bersyukur dan memuji Tuhan. Puji dan syukur itu sama sekali tidak menambah kemuliaan Tuhan (kemuliaan Tuhan itu tetap ada, tidak bertambah atau berkurang), tetapi kita umat kristiani harus melaksanakannya karena di dalamnya terletak keselamatan kita. Artinya keselamatan kita terletak dalam puji dan syukur kepada Tuhan baik dalam doa maupun dalam tindakan-tindakan nyata.

Kita dapat belajar dari doa resmi Gereja yang disebut prefasi itu. Kita memuji dan memuliakan Tuhan, karena karya-karyaNya yang ajaib bagi dan dalm hidup keluarga dan KUB. Tapi persoalannya adalah apakah ada karya ajaib yang Tuhan laksanakan dalam keluarga dan KUB? Apakah kita sadar akan karya-karya itu? Kesadaran ini akan menentukan mutu hubungan pribadi keluarga dan KUB kita dengan Tuhan serta mutu doa kita kepadaNya. Kita mudah bersyukur kepadaNya jika kita menyadari karyaNya yang konkrit bagi keluarga dan KUB. Dan orang katakan mutu doa keluarga akan sangat menentukan mutu liturgi paroki. Jika keluarga sungguh menghayati doa dalam keluarga, maka keluarga yang sama juga dapat menjadikan liturgi sebagai suatu kesempatan puji syukur kepada Tuhan. Jika tidak, maka akan gagal pula berliturgi.
href=”https://aklahat.files.wordpress.com/2011/01/vianey.jpg”&gt;
Salah satu kekhasan doa Gereja, yang kita perlu pertimbangkan adalah berdoa dengan perantaraan Kristus dan dalam kebersamaan atau persatuan dengan Roh Kudus. Kristus adalah pengantara manusia pada Allah, sebab sebagai manusia, Ia paham betul akan seluk beluk hidup manusia, sama dengan semua manusia dalam segala hal terkecuali dalam hal dosa; dan Ia telah membawa keseluruhan manusia (manusia seutuhnya) kepada Allah dan mempersembahkannya kepada Allah ketika Ia persembahkan diri kepadaNya. Juga karena sebagai Putera Allah, Ia juga punya hubungan yang erat atau akrab sekali dengan Allah Bapa. Kini Ia ada dalam kemuliaan surgawi bersama Bapa dan Roh Kudus dan selalu menjadi pengantara kita pada Allah. Dan Roh Kudus adalah kekuatan umat kristiani untuk berdoa kepada Allah. Allah telah mencurahkan RohNya itu ke dalam hati kita, dan di dalam diri kita, Roh itulah yang berdoa, memampukan kita untuk menyapa Allah dengan nama Abba, Bapa. Karena itu, Gereja selalu berdoa dalam kebersamaan denga Roh Kudus. Doa Gereja ditujukan kepada Allah Bapa, sumber segala-galanya. Itulah iman kepercayaan Gereja. Gereja percaya bahwa segala-galanya berasal dari Allah Bapa. Allah Bapa menyalurkan rahmatNya dengan perantaraan Kristus, pelaksana karya keselamatan Allah kepada manusia. Sehingga di pihak lain, Kristus juga adalah pengantara Allah Bapa dengan umat manusia. Dan Allah menyalurkan rahmatNya itu selalu dalam kebersamaan dengan Roh Kudus. Roh Kudus bersama Bapa berkarya. Sehingga orang katakan bahwa Roh itu adalah daya kekuatan ilahi, daya kekuatan Bapa dan Putera. Itulah doa Gereja, yang selalu melibatkan Allah Tritunggal: Allah Bapa yang disapa Gereja, Gereja berdoa dengan perantaraan Kristus, dan Gereja berdoa dalam kebersamaan / persatuan dengan Roh Kudus.

Bagaimana dengan Doa kita? Apa kita sadar akan peranan Allah Tritunggal itu? Berdoalah dengan kesadaran bahwa Allah Bapa sebagai sumber keselamatan, Allah Putera sebagai pelaksana keselamatan dan Allah Roh Kudus merupakan daya kekuatan ilahi yang menyelamatkan.

Berdoa bersama

Sebagai anggota Gereja, kita adalah himpunan orang-orang yang dipanggil oleh Allah untuk bersatu, berhimpun, memaklumkan sabda Allah, menjawabinya dengan tindakan-tindakan nyata dll. Sehingga dalam kegiatan doa kristiani, dalam himpunan umat, sepatutnya ada pemakluman kitab suci. Sabda dimaklumkan, didengar, direnungkan lalu disharingkan oleh kelompok, dan sabda Allah itu dapat bekerja dalam hati setiap orang atau kelompok sehingga mudah tergerak untuk berdoa. Sehingga doa umat (bersama) serta doa pribadi, sepatutnya pantulan sabda Allah. Dengan demikian maka doa itu dapat dibilang berdasarkan sabda Allah. Karena itu dalam praktek Gereja, biasanya ada pemakluman sabda dalam liturgi sabda terlebih dahulu, lalu sesudahnya diikuti dengan doa umat (doa bersama). Untuk menyatakan bahwa Allahlah yang memulai berkomunikasi dengan umat manusia (Allah yang berinisiatip) dan di tempat kedua baru ada tanggapan manusia berupa doa. Sabda Allah di tempat I, doa di tempat kedua.

Keluarga kristiani atau KUB (kristiani) tidak dapat dibayangkan tanpa doa. Berdoa bersama harus merupakan ciri khas atau makan minum keluarga atau KUB. Ia hidup dari dan dalam berdoa bersama demi kepentingan banyak hal. Dengan demikian, keluarga dan KUB dapat menjadi “ecclesia orans” = umat yang berhimpun guna berdoa bersama sambil menantikan kedatangan Tuhan di masa yang akan datang. Pada gilirannya, Tuhan yang akan datang menemukan umatNya dalam keadaan berdoa.

Berdoa bersama akan menjadi kegiatan yang sungguh kristiani, jika doa bersama itu dilanjutkan dalam tindakan nyata bersama demi kepentingan keluarga, KUB bahkan paroki dan Gereja seutuhnya. Artinya doa bersama tidak akan menjadi doa kristiani yang sejati jika tidak dikonkritkan dalam tindakan nyata. Doa bersama diikuti tindakan nyata, sehingga tindakan nyata boleh dikatakan sebagai perwujudan doa bersama. Karena itu Gereja selalu mengakhiri kegiatan liturgisnya dengan “pengutusan” supaya umat yang sudah berliturgi itu dapat kesempatan mewujudkan liturginya dalam hidup konkrit setiap hari di tengah masyarakat. Sehingga ada hubungan erat antara liturgi dan hidup harian. Hidup harian dan kegiatannya bermuara pada liturgi (doa) atau pula berawal dari doa (liturgi). Sebagai awal mula kegiatan harian, maka doa (liturgi) akan mengawali kegiatan sehari (liturgi sebagai sumber) dan sebagai muaranya, maka liturgi (doa) dirayakan sesudah kegiatan guna menyatakan bahwa liturgi adalah puncak kegiatan Gereja. Kegiatan Gereja mengarah dan memuncak pada dan dalam liturgi (doa). Itulah peranan doa (liturgi) dalam keluarga dan KUB. Harus jadi awal (sumber) dan akhir-tujuan (puncak) kegiatan keluarga dan KUB.

Apakah kenyataannya demikian? Anda sendiri yang bisa menjawab dan membenarkannya.

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Januari 16, 2011, in Refleksi, Teologi, Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. doa adalah keutuhan dan keseluruhan sikap laku aktivitas dalam hidup yang berada dalam kehendak Bapa. Banyak kali doa kata-katanya begitu santun dan terpuji oleh Tuhan, tapi sikap hidup korupt dan pembunuh berdarah dingin atau buat blok-blok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: