MASJID TERTUA DI PULAU TIMOR

Masjid Agung Airmata atau resminya bernama Masjid Agung Al-Baitul Qadim terletak di Kelurahan Air Mata, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Kelurahan Airmata merupakan pemukiman muslim pertama di Kupang, NTT. Di sana masih berdiam keturunan ke-10 penyebar agama Islam di daerah itu. Jajan Air Mata (JAM) merupakan salah satu ikon Kelurahan Airmata. Bahkan dialek atau logat Melayu Kupang khas Airmata merupakan ciri khas lainnya. Koordinat 10°10’1″S 123°34’45″E

Pertama kali didirikan


Inilah pertama dan tertua di Kota Kupang dan di wilayah pulau Timor. Masjid ini menjadi simbol pemersatu umat beragama di kupang dan sekitarnya, karena sejak pertama kali dibangun bergotong royong bersama masyarakat Nasrani setempat, Selain dari itu Masjid Airmata juga merupakan potret dasar masuknya Islam di Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur (NTT). Masjid ini merupakan pemersatu warga Muslim dan nonmuslim. Tak mengherankan jika masjid tersebut dijadikan sebagai objek wisata rohani di Kota Kupang.

SEJARAH

Masjid yang sudah berusia sekitar 200 tahun itu dibangun diatas tanah hibah Sya’ban bin Sanga Kala pada 1806 bersama dengan Kyai Arsyad (tokoh pergerakan Banten yang dibuang Belanda ke Kupang) dibantu umat Kristiani yang ada di sekitar kampung Airmata Kupang. Masjid Al-Baitul Qadim merupakan masjid tertua di Pulau Timor, dan dijadikan sebagai pusat penyebaran agama Islam pada saat itu hingga sampai ke Timor Portugis (Timor Leste sekarang).

Syahban bin Sanga Kala merupakan warga Muslim pertama yang menginjakkan kakinya di Pulau Timor dalam pelayarannya dari Pulau Solor di Kabupaten Flores Timur. Syahban bin Sanga Kala berasal dari Mananga, sebuah kampung di Pulau Solor bagian barat.

Menurut Munandjar Widiyatmika, peneliti masuknya agama Islam di NTT, Islam masuk pertama kali di NTT mulai dari Pulau Solor di Kabupaten Flores Timur pada abad ke-15. Dimulai dari Mananga, Pulau Solor dilakukan oleh para pedagang yang juga Ulama dari Palembang, Sumatera selatan, ulama tersebut bernama Syahbudin bin Salman Al Faris yang kemudian dikenal dengan sebutan Sultan Menanga. karena pertama kali membawa misi penyebaran agama Islam di NTT dari Mananga, Pulau Solor di Kabupaten Flores Timur. Dari Mananga, Islam kemudian perlahan-lahan masuk ke Pulau Flores, Alor dan Kupang seperti di Airmata itu.

Dapat difahami bila kemudian penyebar Islam pertama di daerah Airmata, Kupang adalah Ulama yang berasal dari Menanga, karena memang Islam di Pulau Timor bermula masuk dari sana.

Hampir enam tahun lamanya baru masjid itu selesai dibangun dalam periode 1806-1812. Pada 1984, imam masjid turunan ketujuh, Birando bin Tahir, mulai melakukan pemugaran atas masjid bersejarah itu guna melestarikan keberadaannya sebagai pusat penyebaran Islam di Pulau Timor.

Kondisi Sekarang


Menurut penuturan dari H. Imam Birando bin Taher, Imam Masjid Agung Airmata ke tujuh yang juga tokoh masyarakat Airmata. Sejatinya Masjid Agung Airmata bukanlah Masjid yang pertama kali berdiri di Kupang. Sebelumnya sudah pernah ada dua kali didirikan Masjid oleh Kyai Arsyad tapi dua kali juga di berangus oleh penjajah Belanda. Kiyai Arsyad, yang banyak berperan dalam pengembangan Islam di Kupang. Sebelum ditangkap dan diasingkan, Kiyai Arsyad memimpin perlawanan masyarakat Cilegon, Banten, terhadap Belanda (1926).

Kiyai Arsyad mula-mula tinggal di Oeba, kawasan pantai di belahan utara Kupang. Dan mendirikan masjid. baru beberapa tahun, masjid itu digusur Belanda dengan dalih akan dijadikan kompleks perumahan pejabat. Kiyai Arsyad dan pengikutnya kemudian bergeser ke arah selatan kota, di Funtein sekarang dan kembali mendirikan masjid. Tapi Belanda kembali menggusur masjid dan komunitas Kiyai Arsyad dengan alasan akan mendirikan perkantoran. Kantor Bupati Kupang sekarang diyakini sebagai lokasi berdirinya masjid Kiyai Arsyad.

Tergusur dari Funtein, Kiyai Arsyad beserta pengikutnya memindahkan komunitasnya ke arah selatan, Airmata sekarang dan tidak lagi digusur karena Belanda terlanjur angkat kaki dari Nusantara. Masjid Agung yang didirikan di Airmata ini dibangun di atas tanah wakaf Sya’ban bin Sanga Kala dan diberi nama Baitul Al-Qadim (rumah pertama).

Sya’ban bin Sanga pun mewakafkan anak-anaknya untuk kepentingan dakwah. Tiga puteranya, yakni Birando, Abdullah dan Bofid. Birando diwakafkan sebagai imam, Abdullah sebagai khatib dan Bofid sebagai muazzin. Tradisi mewakafkan diri pada masjid ini terus berlangsung hingga cucu-cucu Sya’ban. H. Imam Birando bin Taher yang masih memegang jabatan imam sekarang adalah cicit Sya’ban.

Masjid Agung Al-Baitul Qadim telah menurunkan tujuh orang imam kepala, di antaranya Birando bin Syaban, Ali bin Birando, Djamaludin, Abdul Gani, Tahin bin Ali Birando dan Birando bin Tahir.

ARSITEKTUR

Masjid itu dibangun dengan perpaduan arsitek antara unsur budaya Flores Timur dan Arab sebagai simbol perlawanan warga Airmata terhadap koloni Belanda dan Jepang pada masa itu.

Masjid Air Mata ketika dibangun pertama kali tahun 1806 Masehi berarsitektur perpaduan seni arsitektur Jawa dan Cina. Dengan ukuran 10 x 10 meter, berbentuk joglo, dengan atap genteng. Tahun 1984 masehi dilkukan pemugaran total dengan pemrakarasa Imam H. Birando bin Taher. Menjadi bentuknya yang sekarang.

Pemugaran ini dilakukan Birando bin Tahir atas persetujuan jemaah setempat, dengan sejumlah alasan, di antaranya bertambah pesatnya warga Muslim dam Muslimah. Pemugaran itu juga didasarkan pada kondisi rumah ibadah tertua ini tidak layak lagi dipandang, karena sebagian dinding dan atap mengalami perapuhan, sehingga perlu direnovasi, tanpa menghilangkan keasliannya yang tetap nampak pada sebagian dinding ruangan yang hingga kini masih ada.

Sumber: dakwatuna.com, http://bujangmasjid.blogspot.com/2010/09/masjid-agung-air-mata-kupang.html

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Januari 20, 2011, in Sejarah and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. dengan ada nya kisah ini kità cucu cece seharusnya memahami untuk memakmurkan masjid bukan untuk ajang debat bobot bebet keturunan

    • iya, mudah-mudahan kisah ini membuat kita semakin bersemangat JASMERAH…(meminjam istilah Bung Karno), dan juga orang luar Timor tahu bahwa bukan hanya Nasrani yang berkembang di Timor sini….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: