Kejahatan Romo Amaro: Menggeledah Hidup Seorang Imam Katolik

Saya benar-benar tertarik untuk menonton film El Crimen del Padre Amaro, usai mendengarkan cerita dari seorang frater mengenai jalan cerita film tersebut. [Makasih, efer, atas promosinya!] Menurut frater promoter tersebut, film Mexico ini cocok menjadi bahan refleksi terutama untuk imam-imam muda seperti saya. Saya lantas mencari film tersebut. Dengan bantuan Telkomflash, akhirnya dengan susah payah setelah menunggu selama tiga hari Film Kontroversial dari Negeri Katolik Mexico ini berhasil diunduh dan bercokol di harddisk computer saya. Tugas selanjutnya, menyediakan waktu untuk menikmati film tersebut.

Padre (Romo) Amaro

Kejahatan Romo Amaro (Spanyol: El crimen del padre Amaro) 2002 , yang disutradarai oleh Carlos Carrera,  didasarkan pada novel berjudul sama (1875) oleh penulis Portugis abad ke-19, José Maria de Eca de Queiroz. Ketika pertama kali dirilis, El Crimen del Padre Amaro sangat kontroversial; kelompok Katolik Roma di Meksiko mencoba menghentikan publikasi film tersebut. Mereka gagal, dan film ini menjadi box office terbesar di Mexico, mengalahkan pemegang rekor sebelumnya, Sexo, lágrimas y pudor (1999). Film ini begitu kontroversial di Meksiko, terutama karena dirilis segera setelah kunjungan Paus. Crimen adalah film paling kontroversial tahun itu, juga merupakan film yang paling sukses dalam sejarah Meksiko. Film ini dibintangi Sancho Gracia, Ana Claudia Talancon dan Gael Garcia Bernal dan ditayangkan pada tanggal 16 Agustus 2002 di Mexico City. (http://www.wikipedia.org)

Ada yang kurang beres dalam film tersebut, sejauh ada tuduhan bahwa film itu yang menyerang iman Katolik. Ada imam terlibat dengan para pengedar narkoba, mafiosos, dan gerilyawan, serta perselingkuan dengan gadis berusia 16-tahun. Namun, saya menduga semua ini tidak begitu mengejutkan. Ini adalah semacam rahasia umum. Yang mengejutkan sebenarnya adalah bahwa film mengungkapkan hal-hal ini benar-benar diterima untuk dirilis di Meksiko, sebuah Negara dengan tradisi katolik yang sangat kuat.

Ada apa dengan film itu sendiri? Bagus, tentu saja, menghibur dan lucu. Hal yang menarik dari protes untuk film ini adalah bahwa orang-orang mengeluh tentang cara bagaimana kekatolikan digambarkan. Tidak ada diskusi tentang apakah tuduhan film itu adalah benar. Tetapi film ini berani mengangkat kehidupan gelap yang mungkin saja dijalani seorang imam mengingat dia masih sebagai seorang manusia yang bisa saja bersalah.

Ringkasan El Crimen Del Padre Amaro

Romo Amaro (Gael Garcia Bernal) adalah seorang imam muda yang energik. Darinya Bapa Uskup (Ernesto Gomez Cruz), menaruh harapan besar untuk masa depan Gereja. Namun, seperti semua imam, Amaro pertama harus ditugaskan di tempat dimana ia paling dibutuhkan.

Dan ia ditugaskan di sebuah paroki terpencil di pedesaan kecil Los Reyes. Di sana Amaro menjadi pastor Pembantu bersama Romo Benito (Sancho Gracia) sebagai Pastor Paroki. Amaro terkejut mengetahui bahwa Romo Benito tidak setia dengan sumpah selibatnya. Dia berselingkuh dengan Sanjuanera (Angelica Aragon), seorang wanita pemilik rumah makan.

Romo Benito juga bekerja sama dengan seorang pengedar narkoba. keuntungannya digunakan untuk sumbangan gereja. Romo Benito merasa benar karena dana tersebut digunakan untuk membangun rumah sakit dan panti asuhan bagi masyarakat miskin. Amaro sangat tidak suka dengan tindakan Benito, tapi ia segera menemukan kelemahan sendiri ketika ia jatuh cinta dengan Amelia (Ana Claudia Talancon), puteri Sanjuanera. ketika Amelia menyadari dirinya jatuh dinta terhadap Amaro, dia memutuskan hubungannya dengan Ruben (Andres Montiel), seorang reporter.

Ruben membalas sakit hatinya dengan menulis sebuah berita yang mengungkapkan rincian transaksi Benito dengan Bandar narkoba. Benito sendiri berusaha mengalihkan kesalahan pada Romo Natalio (Damian Alcazar), yang bekerja dengan petani setempat. Ia menuduh mereka telah sebagai pendukung bersenjata faksi revolusioner.

Ketika Amaro berusaha menyadarkan Natalio tentang skandalnya itu, ia menerima berita mengejutkan: Amelia hamil.

Kejahatan Romo Amaro menggambarkan korupsi di dalam Gereja Katolik yang menyebabkan kecaman dari organisasi-organisasi Katolik, baik di Meksiko dan Amerika Serikat, di mana mereka mencoba boikot film tersebut. Namun, taktik ini gagal di Meksiko, di mana kontroversi justru membantu meningkatkan penjualan tiket, sehingga menjadi terlaris di Meksiko. ~ Mark Deming, All Movie Guide (http://www.fandango.com)

Menonton Film
Seperti biasa, adegan pembukaan tidak begitu menarik. (Hampir semua adegan pembukaan film membosankan! Tetapi, kau pikir apa yang paling menarik dalam film? Tentu saja ada banyak hal yang dapat kau pikirkan, tapi ada satu yang melengkapi daftar ini, yakni sensualitas. Salah satu daya tarik film ini adalah adegan sensual antara Romo Amaro dan Amelia.

Cerita nya berjalan terus, melewati peristiwa yang paling sensual yang bisa kau pikirkan (tapi jangan terlalu imajinatif!), hingga mencapai akhir. Saya tidak terlalu puas dengan akhir cerita karena masih tertinggal beberapa pertanyaan:

Apa yang terjadi dengan Romo Amaro? Apakah rahasianya terungkap? Jika demikian, siapa yang melakukannya? Apakah Romo Amaro meminta nasihat, curhat dengan Romo Natalio yang dia kagumi? Apa yang terjadi dengan Don Chato? Apakah ia dan anak buahnya membunuh banyak penduduk, umat dari Romo Natalio (yang dituduh membentuk gerilya)? Bagaimana konflik tersebut berakhir?

Sebagai sebuah karya seni tentu saja kita tak mengharapkan pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab Biarlah imajinasi kita sendiri engembara menemukan jawabannya melalui refleksi yang bening.

Betapapun kontroversialnya film ini, tak perlu kita menganggap semua imam seperti itu. Imam memang manusia, dan bisa saja kejahatan seperti itu terjadi. Tetapi yang penting adalah bahwa dengan menonton film ini saya belajar untuk selalu mawas diri.

Bagaimana dengan Anda? Sebaiknya Anda sendiri menonton film tersebut. Siapa tahu kejadian dalam film tersebut mirip dengan kehidupan pastor paroki Anda. Iya, hanya Tuhan yang tahu!

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Januari 23, 2011, in Refleksi. Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. hhmmmm sepertinya mmg cerita ini sebagai bahan refleksi u/ kita semua. bukan hx sbg Imam, ttp juga sbg Umat… bgm cara kita menempatkan diri kita.

    Rm, nti pinjam filmx ew
    penasaran pingin tw crta lengkapnya…

    Thank’z b-4 Mo…

  2. romo, saya jadi tertarik dengan film ini…
    bagaimana ya caranya saya bisa mendapatkannya???

    Gratias

  3. makasih romo untuk link-nya…
    wah, lama juga ya kalau download-nya harus samapai tiga hari hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: