PEMBAJAK TANGGUH: Kisah Pastor dari Sulamu-Pariti

Mumpung hari tak jadi hujan. Aku segera menyusun rencana, menemui seorang sahabat lama yang tinggal jauh terpencil di Kecamatan Sulamu, seorang pastor paroki yang disegani umatnya, tua muda kecil besar, lantaran jiwa mudanya bijak bestari.

Rm Yoakim Konis. Pastor Paroki St Petrus Sulamu KAK

Romo Kim, sapaan temanku ini. Dulu di seminari dia terkenal sebagai pengamat dan komentator bola yang handal, meski permainannya tak secantik Ronaldo dan kawan-kawan, senegara- lain negara, beda klub -sama klub. Dengan dia, bicara bola jangan sok tahu, kalau tidak, kau bisa mati kutu. Stategi dan prakiraan pertandingan, selalu dianalisa dengan cermat seturut kerangka dialektika Hegel: tesis, antitesis lalu sintesis. Lantas semua orang terpekur, betapa tajam pisau analisis teman yang bertampang Madah Bakti nomor 223: Tenang-Tenang Mendayung!

Kini ia menyepi, jauh dari buku-buku tebal di perpustakaan, sulit dijangkau pula oleh berbagai sinyal televisi, yang menawarkan serbaneka acara bola, temanku seorang penggila bola, beralih sukarela menjadi pembajak.

Dia bukan bajak laut, seperti para kesohor Karibia. Dia juga bukan pembajak hak cipta seperti orang Indonesia dengan Movie CD, dan lagu-lagu MP3 sangat tidak orisinal, dengan kaum kuasi- akademisi yang bahkan di perpustakaan-perpustakan luar negeri tidak dipercaya, saking doyan menjiplak. Dia cuma pembajak sawah, dengan sebuah traktor hadiah dari bapa yang baik hati, Malaikat Jemaat Keuskupan Agung Kupang. Kutemui dia siang itu, usai mengarungi puluhan kilometer diterpa angin kencang dihempas bebatuan jalanan.

“Teman, beta su tiba di pastoran nih!
“Halo, oh, ia, tunggu sebentar ya? Beta baru pulang dari sawah.” Nadanya di ponselku seperti melodi Vivaldi, ringan dan riang gembira.

Di pastoran cuma beberapa anak kerja [karyawan] sibuk mencuci dan memotong selumrah berumahtangga sehari-hari.

Aku menanti sambil tak lupa melapor ke status fesbuk [maklum, ketagihan!] “tetirah ke Pariti, berjumpa sahabat lama, sukacita berbagi cerita” lantas diklik-jempoli beberapa teman, dan dikomentari satu teman, “pulang bawa oleh-oleh ya, kak!”

Gerung sepeda motor Honda GL Pro mendekat lalu memasuki halaman gereja Santu Petrus nan menjulang di antara pepohonan angsono. Tak salah lagi sahabatku sudah tiba. Di kakinya ada bekas lumpur. Di setang kiri ada gantungan rantang, kepalanya tertutup helm biru. Dia mirip astronot yang baru pulang dari bulan.

Rupanya dia tak langsung dari sawah. Dia menyinggahi biara para suster CM. Ada tugas yang diberikan tadi kepada para suster, “Kita punya tamu hari ini. Siapkan menu yang istimewa, suster!”

Makan siang sungguh tak mengecewakan, dengan cerita kilas balik, mirip acara-acara televisi menjelang Tahun Baru.

“Sesungguhnya rutinitas harianku adalah mengontrol persawahan penduduk”, dia memulai kisahnya dengan hembusan asap Satu Lima Tiga mild. “Saya bertanggungjawab atas keselamatan traktor yang dihadiahkan Bapa Uskup. Ya, kalau saja di sini ada rekan pastor lain, mungkin tugasku bisa lebih ringan. Kendati ada operatornya sendiri, kita tetap harus menjalankan fungsi kontrol.” Kisahnya mirip kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia di semester tiga Fakultas Filsafat dulu. “Tapi ada enaknya juga menjadi pemimpin. Kau punya otoritas dan wibawa. Asal kau punya prinsip, segala sesuatunya bisa ad libitum. Di sini, saya banyak dibantu oleh para suster. Mereka sungguh-sungguh membaktikan diri untuk umat”.

Ah, teman, kau memang dikehendaki Tuhan untuk datang dan memimpin segelintir umat diaspora ini yang terjepit di antara mayoritas Kristen lain, mereka yang bersikukuh dengan prinsip: sola fide salvatio est, sola gratia redemptio est, sola scriptura christianum est.

Aku terperanjat ketika kau bilang, jumlah umat di wilayah ini duaratus empatpuluh kepala keluarga. Karena kubanding dengan wilayah Taklale: empatratus sembilan puluh kepala keluarga, yakni jumlah warga di perumahan relokasi pengungsi; ribuan orang yang gagal atau enggan berbalik ke hulu: Timor Lorosae. Itu adalah duakalilipat jumlah umatmu. Tapi itu baru seperlima dari seluruhnya. Empat wilayah lain yang sama-sama membentuk paroki Maria Fatima Taklale, berjumlah lebih sedikit dari itu, tapi memang jauh lebih besar dari jemaatmu!

Lalu kau bilang, ketika berpatroli, waktumu lebih banyak terpakai dalam perjalanan. Berpuluh-puluh kilometer mendaki bukit dan lembah kau jalani untuk lima atau enam kepala keluarga. Tak ada penyambutan meriah sebab mereka semua lelah bekerja di sawah atau sebagian pergi melaut. Lebih sering kau berjumpa dengan nenek-nenek dan anak-anak, manusia dari jenis yang paling manja dan sangat minta perhatian.

Untuk menghindari kebosanan selama perjalanan kau memilih bukit favorit , tempat mengusir lelah, dari situ kau pandang teluk Barate yang permai atau teluk Kupang yang ramai. Mengaso dari buruknya perjalanan melewati aspal yang tidak pernah tidak buruk saking sering dilanda banjir, maklum daerah muara.

Kini musim membajak sawah. Enampuluh hektar lahan di tiga tempat yang berbeda membuat kau bolak-balik membawa penat. Sawah asset gereja itu dikerjakan secara bergilir oleh delapanpuluh kepala keluarga yang tinggal tidak jauh dari Gereja Santu Petrus. Meski kau bilang kau cuma ingin hadir bersama mereka, kubaca jejak letih di matamu. Teman, aku setuju, seperti kau bilang, Ekaristi itu sumber kekuatan, Ekaristi itu harga mati!

“Setiap hari tak pernah aku lewatkan Ekaristi. Teologi Ekaristi, yang darinya kita mengenal istilah orang Romawi fons et culmen, benar-benar harus dihayati sekarang. Saya senang menjadi imam. Puji Tuhan, Dia selalu menyertai aku, meski kadang-kadang, pastoran yang terletak jauh dari perumahan warga menambah sunyi di dalam dada. Tidak aku memang sendiri, tapi aku bukan sebatang kara,” nadamu masih seriang melodi Vivaldi.

Temanku, si pembajak tangguh ini, usai membaca goresanku ini, dengan senyumnya yang khas [dulu dia ke dokter gigi lalu pulang dengan senyum malu-malu,- ternyata sejak itu di mulutnya ada jendela, bekas gigi yang dirampas bakteri dengan bantuan sang dokter…] berkata, “Ah Patris, saya bukan malaikat!”

“OK, sobat,” kataku. “Kita memang bukan malaikat. Kita juga bukan iblis. Kita manusia. Manusia itu setengah malaikat, alih-alih setengah iblis. Jadi, perjuangan kita di dunia adalah sedapat mungkin menyerupai malaikat, bukan sebaliknya.”

Bon petit rendezvous!

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Januari 26, 2011, in Kisah Nyata, Refleksi and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: