SEPOTONG BOLU DARI OEBELO

Setiap kali, ketika hujan deras mencurah dari langit dan membenamkan bumi dalam luapan banjir aku teringat pada dia. Titik-titik air yang jatuh di halaman seolah terus menerus mengejek dan mencemooh, sejauh mana kau sanggup bertahan. Langit yang gelap dan riuh atap tertimpa hujan seperti ikut menyiksa. Dia, juga saudara-saudaranya yang lain akan hadir di pelupukku, kala hujan menderas seperti siang ini. Dia yang kujumpa saat pertama aku bertugas di wilayah yang banyak sekali umatnya.

Namanya tak begitu penting untuk diketahui. Ia sering berada di sakristi saat aku tiba di kapela dan perayaan ekaristi hampir dimulai. Dia selalu menyapa selamat datang, menyodorkan tangannya, menggengam tanganku lantas mengecupnya. Itu kebiasaan peninggalan bangsa berkulit putih.

Senja itu, sebelum pertemuan yang pertama kali, ia menelpon aku meminta aku datang segera. Ada jenazah yang mesti segera dikebumikan. Seorang mendiang kepala keluarga pergi meninggalkan anggota keluarganya, sebuah kepergian yang diiringi tangis dan doa, layaknya situasi kematian yang akrab di sekitar kita.

Jenazah itu dikebumikan secara katolik dengan polesan tradisi peninggalan portugis. Portugis memang besar pengaruhnya di Timor Leste. Keluarga berdukacita ini, dugaanmu tepat – adalah kelurga mantan pengungsi Timor-timur. Keluarga dukacita ini pula adalah tetangga kenalanku tadi.

Mereka mukim di sebuah perumahan relokasi mantan pengungsi, yang meski nama lokasinya Griya Permai, namun situasinya hampir mirip perkampungan kumuh di pulau Jawa (ini kata teman saya yang kuliahnya di Jawa). Saban hari mereka beraktivitas sebagaimana laiknya masyarakat sekitar: ibu-ibu memasak dan mencuci, bapak-bapak ke tempat kerja (ke sawah, ke bengkel, ada juga yang ke sekolah), anak-anak kecil ke sekolah atau ke kelompok bermain mereka, yang lelaki-muda memarkir sepedamotor menunggu panggilan ojek, yang puteri tinggal membantu ibu di dapur, menunggu “jatah” ke Malaysia sebelum akhirnya dilamar oleh seorang pemuda.

Tadi pagi aku kembali berjumpa dia. Usai perayaan ekaristi ia buru-buru menjumpaiku, berbicara basa-basi tentang matahari yang tumben terik.

“Banyak tetangga, tak bisa datang ke Gereja hari ini,” katanya memulai percakapan. “Beberapa rumah di lingkungan kami sudah roboh rata dengan tanah akibat hujan angin limahari lalu. Romo Piet berusaha untuk datang berkunjung tapi mobilnya tak bisa masuk. Bisa terjebak dalam lumpur. Beliau mesti berjinjit sambil melepas sandal,untuk bisa meninjau lokasi bencana. Romo Yulius juga berjanji akan datang hari ini.”

Satu persatu orang mulai meninggalkan Gereja. Ia masih bersemangat melanjutkan kisahnya. “Hujan menyisakan genangan di kompleks kami, becek dan berlumpur. Yang bisa kau buat cuma duduk diam di dalam rumah. Untung sudah dua hari tak turun hujan. Kami bisa sedikit bergerak. Di musim seperti ini lingkungan kami kurang sehat. Banyak anak yang sakit sekarang. Sudah banyak wartawan dan pejabat silih berganti memotret lingkungan kami. Saya sudah lihat ada gambar rumah-rumah kami di koran. Tapi kami sesungguhnya tidak ingin menjadi terkenal dengan masuk di koran. Mengapa mereka tidak datang untuk membantu kami? Coba saja mereka beri anak-anak kami obat dan pakaian, pasti lebih baik daripada wejangan dan janji.”

Seseorang datang menggamit lengannya, “Ada kantong plastik?”

Ia membuka tas tangannya dan mengeluarkan tas kresek hitam, menyerahkan kepada seseorang yang menggamitnya tadi, “Untuk apa?”

Orang itu menerima kantong plastik lantas melengos pergi, lupa mengucapkan terima kasih.

Lalu ia melanjutkan ceracaunya. “Kami tidak benci pada janji, karena itu pengharapan. Tapi iman yang kami miliki itu bukan untuk mereka. Cukup sudah janji mereka. Kami tahu ada harapan yang lebih pasti. Sebaiknya mereka bertindak yang konkrit saja, karena tugas mereka sejatinya adalah yang konkrit. Ah, tak apalah itu pilihan mereka juga. Bagimanapun, kami juga tahu diri, kami warga pendatang.”

Aku menangkap nada aneh dalam bicaranya, seperti gado-gado: campuran antara rasa tak berdaya, sinisme dan harapan tak kunjung lelah. Mungkin pengalaman hidup di barak-barak pengungsian selama hampir sepuluh tahun ini telah mengajar mereka untuk berfilsafat seperti itu. Aku entah.

Lalu aku pulang, dengan oleh-oleh sepotong kue bolu dalam tas kresek hitam, persembahan misa tadi. Mentari yang terik segera berganti mendung. Lantas turun hujan. Deras. Petir menyambar disusul gemuruh halilintar. Diam-diam aku menatap patung salib yang bergantung di kamarku. Aku ingat injil hari ini: Delapan Sabda Bahagia.

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Januari 30, 2011, in Refleksi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: