COCOK BERTANAM: SOBATKU BERCOCOKTANAM

Usianya sudah nyaris uzur, namun semangatnya masih seperti bara api. Dia kami kenal sebagai petani ulung. Kebunnya berhektar-hektar, butuh setengah hari lamanya kalau kau mau mengelilinginya. Berbagai jenis tanaman bisa hidup di kebun besarnya : ubi, kacang, jagung, padi dan pohon buah-buahan. Saban hari dia tidak alpa mengunjungi kebun raksasanya. Saban hari pula selalu ada saja yang dibicarakannya seputar kebun raksasanya itu.

Aku kenal dia pertama kali di pojok kota Kupang, ketika surat tugas dari Malaikat Jemaatku mengatakan bahwa aku mesti tinggal setahun bersama dia. Aku pernah mendengar tentang dia, namun kali ini aku akan serumah dengan dia. Betapa penasaran hatiku, ingin tahu seperti apa kedalaman batin seorang petani ulung ini.

Pada hari pertama, ia menjelaskan tentang manfaat tanaman palawija. Penting dan urgen pemanfaatan lahan pekarangan, katanya. Aku mengangguk-angguk sambil terus menyiangi rumput di perkarangan depan kami. Mentari sangat terik. Peluh mengalir deras. Dia mengenakan topi mirip sombrero dan menutup matanya dengan kacamata hitam. Asli, petani gaul !

Selanjutnya, tiada hari tanpa berkebun. Aku sangat bosan. Tanam, tanam, sekali lagi tanam! Ah, jiwanya kerasukan setan menanam? Aku entah. Tapi dia cinta tanaman dan pengolahan lahan. Benar-benar cinta. Aku dan dia justru saling bertolak belakang. Aku lebih suka mengolah batin dan otak: membaca, berenung, bermain musik. Dia lebih suka mengolah otot, berjalan, bercangkul, menanam dan memetik. Berbeda, meski kami satu profesi: gembala.

Akhirnya ketika berkebun di hari-hari selanjutnya aku memilih berkonsentrasi dengan olah batin sambil berkebun. Berkebun sambil mendengar musik. Tapi dia bilang itu pemerkosaan, tak sesuai dengan tradisi. Tapi kubilang, bukankah syair-syair lagu nenek moyang kita mengalir ketika mereka sedang mengolah lahan kering mereka?

Dia bilang, kau jangan berdalih, ayo tanam! Dan aku menggerutu, dalam hati.

Akhirnya kebersamaan itu berakhir pula. Lega rasanya. Meski aku tak sampai mahir perihal tanam-tanaman setidaknya aku kenal bagaimana dia menghayati dunia cocok tanam.

Kini belasan tahun sudah kami berpisah. Ia semakin uzur dan aku pun semakin menua. Namun tentang tanam dan panen kami tetap berbeda. Dia bilang tanam dan panen. Aku bilang beli dan jual. Sungguh cocok bertanam: sobat uzurku ini bercocok tanam….

Baiklah, beda jalan sama tujuan, bukan? Tak kan lari gunung dikejar!

 

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Februari 1, 2011, in Refleksi and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: