MINGGU PAGI GEREJA NAIBONAT

Kau sudah berdiri di mimbar usai membacakan ayat-ayat injil. Matamu menyapu ruangan mencari-cari simpatik di mata mereka. Kau mulai bersiap-siap dengan jurus andalan memuntahkan ransum untuk menawarkan hati-hati yang galau.

 

“Hari ini tak ada rumus baru.” Kau mengawali sepatah katamu. “Kita mengulang rumus-rumus yang kemarin, kemarin dan kemarinnya lagi. Rumus itu tetap dan tak tergoyahkan.”  Mata-mata di deretan depan mendelik. Di barisan tengah ada suara batuk-batuk. Di belakang perlahan  orang bergeser mendekat.

 

“Dia membawa tiga temannya mendaki. Naik, naik ke gunung yang tinggi. Tinggi, tinggi sekali.  Kiri kanan awan mengepung lalu berpapasan dengan dua musafir.  Inilah jalan penuh pendakian, jalan menuju keabadian.”

 

Hening. Semua mata tertuju padamu. Satu dua merem melek. Di luar orang berdesakan sekitar pintu dan jendela.

 

Seorang lelaki tertelungkup dan menyosor maju ke depan, menemui kau yang berada di mimbar. Dia ini berusaha dihalangi oleh teman-teman lainnya tapi karena bersikeras, akhirnya orang banyak membiarkannya saja.

 

Kau menghentikan wara-wirimu dan membiarkan orang-orang berkesempatan menenangkan situasi, selain kau ikut mengambil jeda untuk menenangkan jantungmu yang berdegup kencang. Kau pikir orang ini kerasukan atau yang sejenisnya , dan k au takut kalau-kalau dia datang hendak menyerangmu.

 

Di luar matahari terik. Satu dua kendaraan lewat. Beberapa anak kecil menangis keras.

 

Lantas lelaki itu bersujud dekat panti imam dan tak seorang pun yang berhasil membujuknya untuk kembali. Mata-mata di depan itu mempersilakan kau melanjutkan banting lidah komat-kamitmu. Dan lelaki itu berbaring telungkup di situ . Entah sadar entah tidak kau belum terlalu peduli.

 

Hingga ketika kau akhiri celotehmu dan mengajak mereka untuk menyatakan tekad keyakinan, lelaki itu mengejanya kuat-kuat seolah hendak mengalahkan suara seisi ruangan. Usai menlafalkan rumusan standarbaku itu, lelaki itu bersujud takzim lantas kembali pulang ke tempatnya dahulu, sebuah bangku di sudut paling belakang.

 

Ketika misa sudah usai lelaki itu kembali menemui mu di ruang sakristi lalu menyampaikan unek-uneknya.

“Mohon, maaf beribu maaf! Aku telah membuyarkan sakralitas ibadah orang- orang saleh di minggu pagi ini. Aku tidak mengerti mengapa tiba-tiba bias terdorong maju ke depan. Entah sesuatu entah seseorang telah menyeret aku ke hadapanmu saat itu.

 

Aku menatap bola matanya. Merah membara. Giginya berbekas sirih pinang. Dia tak rajin menggosok gigi.

 

“Aku adalah penderita epilespsi warisan dari leluhurku,” sambil mendekap Kitab Suci kumal ke dadanya lelaki itu melanjutkan. “Penyakit leluhurku ini tak pernah kumat lagi ketika aku mulai rajin mengikuti pendalaman iman dan kebaktian penyembuhan di gereja bukan Romawi. Sejak saat itu aku kembali sehat dan tak pernah mengalami gejala peyakit yang tidak membanggakan dari leluhur itu.

 

Ia menarik napas panjang. Di jendela sakristi orang-orang berkerumun mengintip. Pak koster berusaha menghalau mereka dari sana.

 

“Namun kenyataannya aku telah terlanjur dicap tak waras oleh tetangga. Kemanapun aku pergi aku selalu jadi tontonan dan bahan olok-olokan. Dalam hati kecilku aku tetap mendoakan mereka yang mengumpat dan mencaci maki aku. Hanya Tuhan saja yang tahu.”

 

Lelaki itu lantas mengulang laku yang entah menyebalkan entah berlebihan, sujud bertumpu pada kedua lututnya, dan menatap dalam-dalam ke tanah. “Amo Padre,  kumohon sudilah mendoakan saya. Tumpangkanlah tanganmu di kepala ini dan niscaya aku akan menjadi tenang dan terus tabah menjalani kepahitan ini.”

 

Kau tahu lelaki itu tak mengerti apa yang sedang terjadi dalam dirinya sendiri. Kau juga terlampau sibuk untuk mengorek info lebih lanjut seputar itu. Kau lantas menangkupkan kedua belahtanganmu pada ubun-ubunnya dan mengucapkan rumusan mantera yang kau dapat dari Benedictiones. Lantas kau menyalami dia dengan tatapan getir berusaha mencoba menghibur, namun lelaki itu sudah terlampau jauh memasuki mengalami trance. Mudah-mudahan, kau berpikir,  ia segera menyadari apa yang sedang terjadi dalam dirinya.

 

Minggu siang itu kau pulang dengan bermenung-menung. Apakah ini suatu kebetulan di hari di mana Yesus Tuhanmu berubah rupa di gunung Tabor, menampakkan kemuliaanNya sebagai iming-iming imbalan bagi orang yang memilih mengikut Dia?

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Maret 20, 2011, in Kisah Nyata, Refleksi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: