FILSAFAT PONDOK BELAKANG RUMAH

Di sebuah gubuk reyot di belakang rumah kau sibuk menyulut ranting-ranting kering kusambi. Bara dan asap berbaur di sela nyala api yang menjilat-jilat bagian bawah drum. Enam buah drum dalam pondokanitu adalah gantungan harapanmu akan suatu masa depan yang lebih baik. Di luar angin bertiup sepoi basah. Satu dua kendaraan lewat dan membunyikan klakson sebab banyak dari sopir dan konjak yang kau akrabi. Saban hari, saban minggu mereka datang bertemu kau dan terjadilah pertukaran yang mahadashyat dengan dengan perhitungan yang akurat: kita sama-sama puas.

Kadangkala juga kau mesti berkucing kaleng dengan pak polisi berseragam preman. Kau cukup terlatih untuk menemukan dalam setiap orang yang datang bertemu kau dan meminta transaksi yang lumrah. Kau mampu menemukan sesuatu yang aneh dari penampakan yang tersamar. Ini hanya mungkin karena sebu ah pengalaman pahit di mana kau harus digiring ke kantor polisi dan di sana kau terpaksa mesti mendapat pukulan bertubi-tubi setiap ada pertanyaan, entah kau jawab atau tidak. Kau cukup cerdas untuk belajar dari satu malam dalam dekapan sel berukuran satu kali satu yang pengap itu. Dan kau merasa kau sekarang seperti belut, kelihatan jinak dan bisa dielus tapi jangan salah sangka, tak kan mudah digenggam. Atau seperti merpati berkicau dengan riang di atas pundakmu namun tak sekalipun boleh kau sentuh sayapnya yang putih aduhai itu.

Kini keenam drum sementara menguap. Ada cairan menggelegak. Dan kau mau tak mau mesti tersenyum dan membayangkan jumlah uang heregistrasi anak sulungmu yang sementara menginap indekos di kota propinsi. Tenanglah anakku. Sebentar lagi kau akan kembali terdaftar sebagai mahasiswa fakultas sains.

Dulu kau mati-matian memilih fakultas hukum. Tapi kusarankan kau menjauhi hukum. Di Negara kita tercinta, hukum itu buaya. Kalau kau mau belajar sebaiknya kau belajar ekonomi saja. Karena Negara kita tak mungkin dipungkiri adalah Negara yang sedang melarat, karena pembagian yang tak setimbang dan setara. Namun kau berpikir-pikir sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk fakultas sains. Kau pikir pamanmu sudah masuk fakultas ekonomi namun hingga sekarang belum juga mempunyai kendaraan pribadi minimal sebuah kijang inova. Kau lebih tertarik untuk mengembangkan isi drum-drum itu agar kelak bisa mendapatĀ  pengakuan dari para pejabat dan dengan demikian anak cucumu tak perlu berkucing kaleng dengan aparat.

Gelegak itu masih berlanjut. Kini luapan cairan dalam drum itu mengalir ke dalam drum penampung. Hmm, tetes demi tetes, seiring dengan jumlah transaksi yang akan terjadi, darinya segala macam urusan adat akan berjalan lancar. Walau tak bisa kau pungkiri, banyak sudah korban berjatuhan, akibat cairan-cairan yang kini menetes perlahan namun pasti ke dalam drum penampung itu. Bagaimanapun juga kau menggantungkan hidupmu dari tetes-tetes ini. Kau menggantungkan hidupmu pada ketagihan masyarakat yang sertamerta membungkusnya dalam mistisisme adat. Botol-botol sopi yang tercipta dari tetesan-tetesan itu bereksistensi secara aneh tapi nyata, kau berfilsafat. Terang-terangan dikecam, namun diam-diam dipuja, dihancurkan secara demonstratif setiap bulan puasa namun dihadirkan secara mitis dalam setiap upacara adat. Kau berpikir betapa anehnya perilaku manusia!

Akhirnya kerja itu usai sudah. Kau menyimpan rapi botol-botol itu di almari belakang rumah. Dan sebentar lagi heregistrasi putera sulungmu jadi beres.

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on April 14, 2011, in Refleksi and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: