MY HEART WILL GO ON [?]

Refleksi atas Film Titanic.

Titanic nama sebuah kapal yang tenggelam di lautan Pasifik tanggal 14 April 1912. Ada 1500 orang yang meninggal, tenggelam atau mati kedinginan di atas pelampung. Hanya sedikit yang bisa diselamatkan, di antaranya seorang wanita bernama Ros, tokoh kunci yang mengungkapkan seluruh rahasia tenggelamnya kapal tersebut.

Di atas kapal Titanic yang besar dan mewah itu, digelar sebuah drama kehidupan, drama kemanusiaan yang sangat riil. Ada unsur romantis, gemerlapan, juga keras dan tragis. Berbagai watak ditampilkan. Tetapi pesan utama yang ingin disampaikan sutradara: sebuah cinta manusiawi yang indah dan mendalam, cinta yang tidak materialistis, tidak egois serta muncul dari keputusan bebas.  Cinta yang ingin memperjuangkan kebahagiaan dan keselamatan yang dicintai, sampai pada pengorbanan kehidupan sendiri, dalam diri tokoh Jack dan Ros. Cinta yang merupakan ekspresi seluruh hakekat pribadi manusia, jiwa dan raga – Di sana sangat transparan bahwa manusia itu sesungguhnya cinta yang terbuka……

Sebagai gambaran kehidupan yang riil, di atas kapal Titanic terekspresi pula egoisme manusia, perbedaan kelas sosial, cemburu dan dendam, kecurangan dan kekerasan. Tetapi semuanya tidak mengurangi pesan utamanya. Bahkan banyak hal yang diramu sekian rupa oleh sutradara untuk mendukung tujuannya. Para awak kapal sekalipun terkesan keras tetapi memiliki suara hati yang halus: mendahulukan keselamatan yang kecil dan lemah, para wanita dan anak-anak. Para wanita yang sudah diselamatkan di atas sekoci, mempengaruhi para awak kapal untuk kembali mencari lagi mereka yang masih bisa diselamatkan.

Disamping dimensi antropologis-natural (cinta manusiawi), tak kurang pula pesan teologis-supernatural. Ada dua orang yang tidak menerima baju pelampung dan bersedia mati dalam Tuhan. Kapten dan beberapa pembantunya bersedia mati di atas kapal, para pemain musik tetap bermain musik (semakin lama semakin sendu), sekalipun sadar bahwa tinggal beberapa menit lagi kapal akan tenggelam. Di sini kentara pula bahwa pekerjaan/profesi adalah satu dimensi yang tak terpisahkan dari pribadi manusia, tetap dicintai sampai mati. Dan seola-olah puncak dari pesan supernaturalnya, ditampilkan seorang Pastor memberikan penghiburan iman kepada para penumpang yang menangis sambil berdoa. Sang Pastor mengutip Injil Yohanes dengan penuh iman akan kehidupan sesudah mati berkata: Jangan takut, Tuhan telah menyediakan tempat bagi yang beriman kepadaNya. Dibalik kehidupan yang fana ini ada kehidupan yang abadi.

Cinta yang dilakoni Ros dan Jack di atas kapal Titanic, menyentuh secara mendalam kodrat kemanusiaan. Cinta yang manusiawi terekspresi juga sampai pada hubungan seks. Di sini tanpa ada kesan vulgar, seks diintegrasikan dalam cinta sepasang remaja, yang saling tertarik satu sama lain, saling merindukan dan akhirnya saling menyerahkan diri satu sama lain dalam persatuan yang seerat-eratnya – jiwa dan raga.

Siapapun manusia memiliki dimensi seperti ini dalam dirinya tidak terkecuali para Imam dan Religius. Bagi seorang Imam atau religius, dengan kemauan bebas memilih untuk tidak mengalaminya. Konsekwensinya, tidak ada seorang yang mencintai dan dicintai, yang menyerahkan diri dan yang diserahi diri setulus-tulusnya sampai pada ekspresi fisik yang indah dan romantis. Cinta bagi para Imam dan religius dihayati secara berbeda. Hakekat dirinya sebagai sebuah cinta yang terbuka bagi yang lain tidak mandeg, melainkan diungkapkan dalam dimensi yang berbeda. Inti sari dari cinta sebagai pemberian diri untuk yang lain, perjuangan bagi kebahagiaan dan keselamatan bagi yang lain serta pengurbanan sampai akhir hidup juga menjadi keutamaan para Imam dan religius dan kunci kebahagiaan mereka. Bagi orang yang menikah, hakekatnya sebagai cinta yang terbuka menemukan “obyek” konkretnya pada pasangannya. Bagi para Imam dan religius bagaimana konkretisasinya? Ada dua kepastian: pertama tidak sama konkretnya dengan orang yang menikah, kedua tidak sama sekali abstrak. Bagi orang Kristen, cinta sesungguhnya pelaksanaan dari amanat Kristus: “Cintailah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap kekuatanmu dan cintailah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Inilah perintah yang pertama dan terutama yang Kristus berikan kepada kita. Mencintai Tuhan berarti berbakti kepadaNya (ibadah dan doa), melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya (kehidupan moral). Cinta kepada Tuhan itu dikonkretkan dalam cinta kepada sesama seperti diri sendiri. Bagi orang yang menikah, sesama yang paling konkret adalah keluarganya. Bagi seorang Imam, umat yang dipercayakan Tuhan dibawah penggembalaannya serta rekan seimamat. Bagi seorang religius rekan sekomunitasnya.

Akhirnya, kehidupan manusia di dunia ini ibarat di atas sebuah kapal. Di sana ada cinta manusiawi, ada kegemerlapan dan romantisme, ada iman yang teguh, tetapi ada pula cemburu dan dendam, ada perbedaan kelas, ada egoisme dan kecurangan. Tetapi bila kapal itu tenggelam suatu saat tanpa diduga (baca eskatologi), di sana tidak ada lagi perbedaan kelas. Yang kelas “vip” dan kelas “ekonomi” sama-sama atau mati tenggelam atau diselamatkan tergantung dari iman cinta dan pengharapannya.

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Juni 7, 2011, in Refleksi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: