BUNGA(-BUNGA)…

Bagian yang paling menarik dari tumbuhan, ya apalagi kalau bukan bunga? Semburatnya diantara dedaunan, mengisyaratkan variasi antara batang yang kecoklatan dengan dedauan yang ditumpuki klorofil sehingga mau tak mau memancarkan warna hijau. Terlepas dari konvensi coklat batang dan hijau daun, rupanya si bunga bebas memilih warna untuk tampil. Kita kenal bermacam-macam bunga, beragam dari sekedar pucuk ilalang yang putih kekurusan hingga kelopak mawar yang dipuja-puji sebagai perlambang cinta kasih dan kemurnian.

Nah, sebenarnya apa yang kau pikirkan tentang bunga? Bayangkan dunia ini tanpa bunga, membosankan. Bunga ternyata memberi variasi, memberi HIAS. Yang namanya hiasan, memang tidak selalu berfungsi sebagai yang pokok. Namun justru hal yang pokok akan semakin ditegaskan kalau ada hiasan-hiasannya…. Aduh, sampai titik ini, kamu mulai bingung ya? (Ini orang nulis apaan?)

Ya, udah kita kembali ke bunga. Bunga itu kata Guru Biologi SMP saya dahulu, terdiri dari kelopak, putik, mahkota dan benang sari. Saya sendiri tidak mengerti apa itu benang sari, yang mana yang namanya putik (Lu cari tau sendiri aja!). Kalau menyebut semua istilah yang bikin pusing itu, saya cuma ingat :kembang sepatu, sejenis bunga yang doyan dijadikan contoh, oleh pengarang buku Pelajaran Biologi, dan guru saya dahulu dengan latah mengikutinya. (Ampun, kami disuruh mesti cari bunga sepatu sampai ke kampung tetangga, maklum ‘bunga’ yang terdapat di pekarangan ku dan tetangga-tetanggaku beluntas doang). Alhasil, perjalanan ke kampung tetangga dengan gagahberani demi meminang satu dua bunga, itu pun tak membuahkan hasil, karena bukan saatnya kembang sepatu itu (apa yaH ? Nama ilmiahnya?) berbunga. Pak guru yang kreatif itu akhirnya menggambar saja bunga itu. Tapi alih-alih sebuah bunga yang indah, yang muncul dipapan tulis justru sebuah lonceng retak… ya sudahlah…. pembelajaran tentang reproduksi tumbuhan terutama melalui bunga pun usai… Tapi nilai Bologi saya Delapan, puji Tuhan!

Guru matematika saya ngotot. Bunga itu bukan sekedar kembang sepatu, atau mawar, atau melati atau kamboja, atau anggrek, atau …. oh guru matematika saya rupanya senang bunga, dan hafal berbagai macam nama bunga. Katanya bunga itu artinya membengkaknya jumlah uang kamu karena satu dan dua hal. Ada bunga bank, ada bunga pinjaman, ada bunga…. tapi saya tidak berminat… Lain halnya kalau dia bicara tentang teorema pitagoras.

Nah, itu kasak-kusuk orang kampungku dulu, di sekolah kampung, dengan guru kampung, tentang bunga.

Sekarang ketika, saya makin modern (ah?) ada ungkapan “Say it with flowers!” artinya Lu tahu kan? Masa kamu nggak bisa… Katakan dengan bunga. Tapi pengalaman menunjukkan tidak boleh sembarang bunga. Jangan kunjung pacar sambil membawa bunga kamboja. Bunga bangkai nggak usah dipajang di kamar makan. Tapi supaya cepat dapat jodoh (kalau kamu sudah berumur tapi masih doyan jomblo) katakan bunga uang anda di Bank (atau koperasi), dijamin pasti ada yang langsung kontak dan minta kawin…

Eh, ngawur, tentang bunga apalagi yah…. Ah sudah, sekarang saya mau lihat-lihat bunga di depan pekarangan ni. Kemarau sedang memuncak. Mungkin mereka butuh banyak air. Hidup, bunga-bunga kecilku!

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Juni 22, 2011, in Refleksi, Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: