RAPSODI TANAH TIMOR

Di kota Kupang, melihat orang berjaket adalah hal yang tidak biasa. Namun pemandangan orang berjaket di mana-mana ketika mentari mulai condong kea rah barat mulai lumrah. Kota kupang yang terkenal dengan panasnya yang minta ampun (Cuma beda sedikit dengan cuaca kota-kota di Timur Tengah) kini telah mengalami penurunan cuaca yang ekstrim. Suhu pada thermometer menunjuk pada skala 20 derajat celcius. Biasanya titik terendah di kala musim penghujan adalah 23 derajat Celcius.

Banyak orang Timor sendiri yang menghubung-hubungkan penurunan suhu yang ekstrim ini sebagai akibat dari perusakan alam secara liar. Tambang mangan disebut-sebut sebagai biang penyebab kerusakan keseimbangan alam lingkungan Timor sehingga menyebabkan suhu udara menurun drastic.

Kendati pihak-pihak yang berwenang seperti Badan Meteorolgi dan Geofisika (BMG) terus menjelaskan bahwa saat ini sedang terjadi perubahan cuaca secara global, toh perubahan itu sangat mengganggu, untuk warga Kupang dan sekitarnya.

Anehnya, suhu yang dingin ini bukannya memberi kesejukan. Alih-alih membikin banyak orang masuk angina. Hembusan angin serentak menggugurkan dedaunan kering dan menghempaskan debu jalanan. Perjalanan dengan sepeda motor, seperti yang biasa saya lakukan menjadi sangat tidak nyaman. Jaket dan helm mesti lebih diperhatikan lagi pemakaiannya.

Kendati demikian, kota Kupang terus menggeliat. Geliat kaum urban yang semakin hari semakin (merasa) modern. Rupanya terlepasnya Timor Timur menjadi Negara Timor Leste berimpas pada kemajuan pembangunan di daerah Timor umumnya dan di kota Kupang khususnya. Betapa tidak? Kota Kupang sekarang menjadi model /representasi Indonesia untuk dunia untuk urusan luar negeri khususnya dalam urusan hubungan internasional dengan Timor Leste dan Australia. Mungkin ini suatu berkah khusus untuk orang-orang Timor, yang (seperti yang dikeluhkan oleh orang Timur Indonesia pada umumnya) senantiasa dianaktirikan oleh pemerintah pusat.

Tentu saja perkembangan menuju kemajuan ini membawa pula dampak negative yang tak terhindarkan. Salah satunya misalnya peningkatan jumlah penderita HIV AIDS. Menurut data dari Komisi Penanggulangan AIDS NTT, kota Atambua menduduki urutan pertama untuk penderita HiV/AIDS terbanyak. Yang menarik adalah kenyataan bahwa Kota Atambua adalah pintu masuk(dan keluar) dari dan menuju “Luar negeri”.

Tentu saja ini Cuma sebagian dinamika kehidupan orang-orang Timor. Mulai dari tambang mangan yang terus menuai kontroversi hingga urusan perbatasan yang terus menerus menimbulkan pertengakran antara warga dengan TNI hingga pada urusan bagi-bagi kue pembangunan. Semuanya menunjukka bahwa Tanah Timor sedang menjalani proses kehidupannya. Tentu saja, generasi yang satu dating, kemudian pergi digantikan dengan generasi-generasi berikutnya. Mungkin, suatu saat nanti, pada tahun 3000, anak-anak Timor akan tersenyum kecut membaca buku sejarah leluhur mereka dan membayangkan betapa miskinnya leluhur mereka….

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Juni 22, 2011, in Refleksi and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: