Kisah Tragis Oma Beth dari Oebelo, Kupang

Nenek dan Cucu

Seorang perempuan memasuki pelataran rumah pastoran. Angin siang berhembus kencang meluruhkan dedaunan kering dan menghempaskan debu ke segala tempat. Ia menjumpai aku yang sedang mengamati tetumbuhan hias di beranda. Romo paroki belum pulang dari pelayanan di Gereja stasi yang jauh.

Sambil menunggu romo, aku mencoba mengajak perempuan itu mengobrol. Tidak sulit. Mungkin dia perempuan dari jenis ekstrovert (kata orang!). Bicaranya blak-blakan dan kami seperti dua sahabat yang akrab.

Ceritanya enteng seperti hempasan debu di halaman depan.

Pagi itu berlalu seperti  pagi-pagi yang lainnya, – perempuan itu memulai kisahnya. Oma Beth menanak nasi lalu mempersiapkan perbekalan untuk perjalanan ziarah kelompok Legio Mariae ke sebuah grotto di wilayah paroki tetangga. Suaminya, Opa Tinus, yang semula batal pergi akibat demam menggigil malam tadi akhirnya memutuskan untuk ikut. Maria (6 tahun) dan adiknya Anton ditinggal pergi dengan pesan jangan ke mana-mana. Tunggu sampai Opa dan Oma pulang.

Ketika perayaan ekaristi telah berlangsung khusyuk dan Oma Beth hamper tiba pada gilirannya menyambut Tubuh Kristus, telpon genggamnya berdering. Ia mematikan hapenya itu lalu maju ke  depan dan menyambut komuni. Dengan gemetar dan ketakutan ia  memohon, “Tuhan jagalah kedua cucu saya.”

Usai misa ia membongkar telepon tadi dan menemukan satu pesan diterima, “Oma dan Opa segera pulang. Anton tenggelam.”

Oma Beth lantas menyimpulkan yang terburuk. Lalu segera menggamit Opa dan beranjak keluar setelah memberitahu ketua rombongan.  Benar saja. Cucu kesayangan yang baru berusia 2,5 tahun itu tewas tenggelam dalam embung di samping rumah, sementara adiknya sedang pergi ke kios terdekat mencarikan makanan ringan. Kakek dan neneknya sedang khusyuk berziarah di Gua Maria menepati janji kepada Perawan Murni. Ayah ibunya telah setahun lalu hengkang ke Malaysia, walau tak mendapat restu dari orang tua mereka, yakni Opa dan Oma si bocah tragis tersebut.

Alkisah, sesudah ditinggal Opa dan Oma, Maria meninggalkan adiknya di rumah, pergi mencari jajan di warung tetangga. Adiknya yang merasa kesepian beranjak keluar rumah dan begitu tertarik dengan anak-anak lainnya yang riuh ramai berenang di tepian embung. Kecipak air dan cekikikan mereka menjadi seperti magnet. Ia mendekat dan menonton, ikut bersorak sorai, walau tak berani masuk ke dalam air. Anton akhirnya merasa bosan. Tiupan angin sepoi mengundang kantuk. Matanya mulai merem-melek. Celoteh anak-anak masih riuh. Namun ia benar-benar tidak tahan kantuk.

Selang beberapa waktu kemudian tetangga-tetaggga sekitar menemukan sebuah jasad kecil terapung-apung di kolam yang tak seberapa dalam untuk seorang dewasa. Anton tewas tenggelam. Ia dibawa ke rumahnya. Pintu rumah terkunci rapat. Di rumah tetangga jenazah kecil itu dirapikan dan dibaringkan. Menanti kedatangan Opa dan Oma yang sementara khusyuk di depan Gua Maria nun jauh di sana.

“Ibu dan bapaknya memang kurang ajar!” kata perempuan itu. “Saya tidak mengizinkan mereka ke Malaysia, tapi toh mereka kabur juga. Hingga sekarang alamat mereka tidak diketahui. Sudah saya nasehatkan, anak jauh lebih penting dari pada sejumlah uang di tanah orang. Cukuplah mendapatkan berkat Tuhan untuk makan sehari di dalam keluarga. Mengapa mau minta yang lebih? Beginilah akibatnya”.

“Sejak kejadian itu, saya tidak sanggup berdoa. Saya merasa Tuhan tidak adil. Memang kematian bisa dimaklumi, tetapi mengapa kepergian cucuku tersayang ini harus tanpa kehadiran saya? Bahkan Tuhan mengambilnya ketika saya justru sedang datang memenuhi panggilannya?”

Tapi kejadian itu sudah lalu. Setahun yang lalu ayah ibunya pergi, begitu Anton selesai disapih. Sejak itu, Anton dan kakaknya Maria tinggal bersama kami, Opa dan Oma mereka. Hari ini hari keempatpuluh peringatan arwahnya. Untuk itulah saya ke sini meminta Romo untuk merayakan Ekaristi.

Oma Beth perempuan itu mengaku, ia merasa dikuatkan kembali dengan kata-kata Romo Paroki yang memimpin misa penguburan kala itu, “Semakin dekat seseorang dengan Tuhan semakin hebat pula cobaan yang akan dia hadapi.”

Aku memang kenal siapa perempuan yang berkisah ini, Oma Beth. Bersuamikan seorang tukang kayu (buruh), tamatan sekolah dasar, guru agama dan pengajar doa-doa harian untuk anak-anak calon komuni pertama. Dia perempauan yang mengalami “tantangan” ketika sedang menunaikan tugasnya sebagai seorang Legio Mariae.

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Juni 25, 2011, in Kisah Nyata, Refleksi and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: