HARI TERSIBUK DI DUNIA

 

Tiga hari belakangan, ada kesibukan di kantor kami. Ini merupakan  tiga hari tersibuk bagi saya dan rekan-rekan di kantor. Ada semacam rehab ruangan. Tiga kamar berukuran 3×3 mesti dipasang pintu untuk menghubungkan satu dengan yang lain. Satu-satunya cara yang mungkin adalah dengan membobol dinding pembatas.

Tugas pertama adalah menentukan tempat yang ideal menjadi pintu penghubung. Area tembok partisi yang bakal jadi pintu, ditandai dengan goresan, lalu dipukul dengan palu seberat 10kg. setelah bersusah payah memeras keringat, dan membisingkan tetangga sekitar, selama hampir setengah hari, jadilah pintu yang diidamkan. Tapi sebenarnya belum pintu yang sesungguhnya.Kelihatan seperti reruntuhan pasca gempabumi berkekuatan sebanding gempa di Jogja.

Tugas selanjutnya adalah merapikan bobolan tersebut: mengangkut keluar reruntuhan berupa abu dan batu. Timbunan reruntuhan berpindah tempat ke kebun belakang. Bekas bobolan tembok lantas dirapikan dengan pahat, dan disempurnakan dengan lapisan semen, lalu diberi cat.

Kerja belum usai. Hari berikutnya, mengatur kembali barang-barang di kantor yang ditutupi plastic untuk menghindari debu reruntuhan. Perabotan kembali ditata. Tentu saja desain kali ini adalah desain sebuah ruangan besar, dengan tiga partisi.  Kesibukannya adalah bunyi gerit meja, kursi dan lemari yang digeser ke sana kemari. Maklum, interior ruangan didesain dengan cara try and error. Setelah mencoba sana-sini, sambil sesekali berdiskusi, jadilah desain ruang kantor yang nyaman, kantor sendiri.

Kantor ini sebenarnya adalah sebuah ruangan dimana terdapat layanan nasabah Koperasi simpan pinjam, jasa print dan fotokopi, tempat kerja seorang sekretaris, dan seorang bendahara.

Paling akhir adalah tugas mengepel lantai, membersihkan kaca dan jendela dan mengganti gorden.  Semuanya dikerjakan sendiri oleh keempat orang personil kantor ini. Rupanya selain berkantor mereka adalah tukang batu, cleaning service, bahkan desainer. Wow!

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Agustus 19, 2011, in Kisah Nyata, Refleksi and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: