Tanggapan atau Penilaian terhadap Hedonisme

Apakah benar bahwa manusia menurut struktur psikisnya mencari hanya kesenangan dalam seluruh tindakannya? (Hedonisme Psikologis). Apakah tujuan akhir atau kepenuhan hidup manusia terletak semata-mata dalam kesenangan? (Hedonisme Etis).

The passion of hedonism

Kita bertitik-tolak dari Hedonisme Psikologis. Benar bahwa kita tertarik kepada perasaan nikmat dan secara spontan kita menghindari perasaan yang tidak menyenangkan. Persoalannya, apakah kita manusia sungguh dideterminasi oleh perasaan nikmat itu sehingga seluruh tindakan kita hanya ditentukan oleh perasaan itu?

Dalam psikologi biasanya dibedakan antara tindakan manusia yang didorong oleh motivasi tak sadar, yang biasanya berlangsung secara spontan untuk mempertahankan hidup, dan hal ini tidak bisa direduksi kepada perasaan nikmat atau senang. Instinct untuk mempertahankan hidup merupakan sesuatu yang jauh lebih luas dan mendasar daripada hanya sekedar perasaan nikmat atau senang. Seorang pemuda yang sedang berjalan mesra dengan pacarnya di pinggir danau, secara tiba-tiba dikagetkan oleh teriakan minta tolong dari seorang anak kecil yang tenggelam di danau itu. Serta-merta dia tinggalkan pacarnya, dan terjun ke danau dan berenang untuk menolong anak yang tenggelam itu. Apakah tindakan ini semata-mata untuk mencari perasaan nikmat?

Marilah kita memeriksa motivasi yang disadari. Kita ambil contoh keberanian para pahlawan bangsa dan martyr yang rela mati untuk kepentingan tanah air dan iman yang diyakini sebagai jalan terbaik menuju kemerdekaan dan keselamatan. Atau ketika Gandhi, Auung San Suu Kyi mogok makan untuk membela kepentingan rakyat negeri mereka masing-masing. Apakah ini mereka lakukan demi mengejar kenikmatan dan kesenangan? Sadari kembali, apakah pengorbanan orang tua untuk kepentingan kita semata-mata untuk mencapai kenikmatan dan kesenangan?

Selanjutnya kita tanggapi Hedonisme Etis. Hedonisme Etis berpendapat bahwa kebahagiaan atau kepenuhan hidup manusia terletak dalam kenikmatan. Terhadap pandangan ini kita coba kemukakan beberapa pandangan kritis. Pertama, kesenangan selalu bersifat partial dan berhubungan dengan keinginan tertentu yang menuntut pemuasan saat ini dan di sini. Karena itu kesenangan selalu bersifat sementara. Kebahagiaan sebaliknya bersifat menyeluruh dan langgeng. Dalam bahasa Erich Fromm: Kesenangan termasuk kategori having sedangkan kebahagiaan tergolong dalam kategori being. Perhatikan bahwa pengalaman paling membahagiakan, misalnya dalam (cinta, kesetiaan, pelayanan) tidak pernah diperoleh bila orang mengejar hanya rasa nikmat dalam hidup. Hal-hal besar selalu dicapai hanya leat jalan pengorbanan dan perjuangan, yang sering tidak berbarengan dengan kenikmatan atau rasa senang dan relax.

Kedua, dalam argumentasi Hedonisme Etis terjadi loncatan logis. Dari asumsi bahwa manusia selalu mencari kesenangan, ditegaskan pula penyetaraan kesenangan atau rasa nikmat dengan moralitas yang baik. Hal ini tidak perlu terjadi bila Hedonisme Etis membatasi diri pada suatu etika deskriptif. Pada kenyataannya banyak orang bertindak karena didorong oleh kesenangan (taraf das Sein) dan tidak berlangkah lebih lanjut kepada rumusan Etika Normatif (taraf das Sollen).

Ketiga, Hedonisme membangun teorinya yang salah tentang kesenangan: Sesuatu itu baik karena disenangi. Dalam pengertian ini kesenangan semata-mata bersifat subjektif dan bukanlah pantulan subjektif dari sesuatu yang baik secara objektif. Sesuatu tidak menjadi baik karena disenangi, tetapi kita merasa senang karena memperoleh sesuatu yang baik. Kebaikan yang menjadi objek kesenangan ada lebih dahulu dari kesenangan itu sendiri.

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on September 14, 2011, in Filsafat and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: