Keluarga Nyentrik di Bandara Sutta

Ruang B6 bandara Sutta Cengkareng

Jumat siang, di Cengkareng. Aku mau balik ke tanah Timor. Keberangkatan dengan Sriwijaya air menurut rencana terjadi pada pukul 13.00. Pukul 11.45 aku chek in lantas menuju boarding room.

Hujan turun deras. Angin bertiup kencang. Petir dan kilat menyambar. Kau tahu konsekuensinya: penerbangan ditunda. Ruang tunggu B6 menjadi padat, dan sesak. Penumpang yang hendak ke Padang dan Medan kini berbaur dengan dengan penumpang ke Surabaya/Kupang dan Denpasar. Riuh ramai. Tempat duduk tidak cukup tersedia. Ada yang berdiri mondar mandir, ada yang duduk lesehan. Ada yang menyandari tembok. Sementara di luar hujan terus mengguyur lapangan terbang.

keberangkatan ditunda, penumpang uring-uringan

Di antara kegalauan para penumpang menunggu keberangkatan yang tertunda, datang sepasang suami istri dengan anak mereka seusia 4 tahun. Memangnya ada yang menarik dari keluarga ini? Eit tunggu dulu. Siapa tak tertarik memandang wanita bergaun hitam, dengan kerudung menutupi seluruh kepalanya hingga cuma kedua biji matanya saja yang bisa dilihat. Mungkin ini wanita dari Timur Tengah. Suaminya bergaya bule konvensional: celana pendek, kaos oblong dan rokok Marlboro. Sang anak pun kelihatan seperti anak Amerika, sibuk dengan mainan pistol-pistolannya.

si Ibu berkerudung duduk diam memperhatikan anaknya yang bermain-main. Sesekali menegur anaknya agar jangan pergi jauh-jauh. Bunyi bahasanya kearab-araban. Pasti salah satu bahasa di Timur tengah, atau bahasa Arab sendiri. Sementara sang suami mesti bolak-balik ke luar ruangan untuk merokok. Kau tahu boarding room merupakan kawasan dilarang merokok.

ayah dan anak, tak ambil pusing dengan "delay"

Bukan cuma saya saja yang memperhatikan kesibukan keluarga tersebut, terutama anaknya yang berbicara dengan bahasa yang asing. Keluarga ini terus menjadi perhatian hingga penerbangan ke Denpasar dijadwalkan berangkat. Mereka rupanya hendak ke Denpasar.

Saya membuka bungkusan biskuit, pengganti makan siang ini. Sang anak tadi terus memperhatikan saya. Akhirnya sekedar basa-basi saya menawarinya sepotong biskuit. Sayang rupanya si ayah lantas mengambil tindakan preventif, Terimakasih!” katanya. Wow, rupanya dia tahu bahasa Indonesia. Aksennya juga sempurna. Kulihat ibu si anak tadi tak ada ekspresi. Memang seluruh wajahnya tertutup kerudung, jadi sulit untuk mengamati bahasa tubuhnya. Saya sedikit menyesal, tak bisa bersenang-senang dengan si anak. Lantas kulanjutkan bertanya pada sang ayah, “Mau kemana?”

“Ke Denpasar”, katanya, lantas pergi keluar. Merokok lagi (?). Aku kembali mengunyah biskuit, sambil menelan kecewa akibat jam keberangkatan yang belum jelas. Namun pelajaran yang rupanya diberikan oleh keluarga tadi adalah ini: HATI-HATI terhadap orang asing! Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tida berguna.

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on November 2, 2011, in Refleksi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. kenapa ga diajak kenalan saja, pasti lebih seru dech critanya…..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: