DISTRIK LAUTEM: Ujung Timur Pulau Timor

Rumah adat Lautem

GEOGRAFI DAN GEOLOGI

Lautem terletak di bagian paling timur Pulau Timor. Distrik ini terletak sekitar 215 kilo lewat jalan ke arah Timur dari Dili. Distrik ini berbatas di bagian utara dan timur dengan Laut Wetar; di bagian selatan dengan Laut Timor; di bagian barat-daya dengan distrik Viqueque; dan di bagian barat-laut dengan distrik Baucau.

Sebagai salah satu dari tiga belas (13) distrik Timor Lorosae , distrik ini terdiri dari 1,702.33 kilo persegi atau hampir 1/8 dari daerah tanah di tanah air. Distrik ini juga mempunyai salah satu dari hanya dua pulau di tanah air. Pulau indah Jaco, yang terdiri dari daerah 8 kilo persegi terletak di ujung Timur, sub-distrik Tutuala. Kota Lospalos adalah pusat administrasi dan ekonomi dan terletak di pusat distrik, yang mudah dicapai.

Massa tanah Timor adalah fragmen benua. Sebagian besar dari dasar pulau Timor terdiri dari batu gamping dan endapan sedimenter lainnya. Hal ini membedakan pulau Timor dari tetangganya ke utara dan barat di rangkaian pulau Sunda, yang dibentuk oleh letusan gunung api.

Topografi Timor Lorosae mempunyai rangkaian gunung Ramelau sebagai ciri utama, sebuah tulang punggung pusat besar yang mencapai tingginya 3000 meter, yang dibagikan oleh lembah yang dalam yang mudah dikenai banjir yang datang sekonyol-konyol. Ke arah utara, gunung hampir mencapai pantai tanpa daratan yang luas. Malahan, ke arah selatan, gunung turun jauh dari laut, dan ada daratan pesisir, yang lebih baik untuk pertanian.

Distrik Lautem mempunyai ciri-ciri geologi dan geografi yang sama dengan ciri-ciri yang ada di sebagian besar Timor Lorosae. Bagian pusat distrik terdiri dari gunung dan bukit dari barat-daya ke timur-laut, dari pantai selatan ke pantai utara. Puncak yang paling tinggi distrik adalah Gunung Legumaw di sub-distrik Luro, dengan tingginya 1297 meter.

Gunung dan bukit dikelilingi di pantai selatan oleh rawa, petak dan daratan yang berbukit-bukit; di bagian utara oleh petak-petak dan tanah daratan yang melandai dan berbukit-bukit; di bagian timur distrik ada dataran tinggi Fuiloro yang tanahnya menurun ke arah selatan, dari 700 meter sampai 500meter. Lerengan dataran tinggi menurun sampai Danau Ira Lalaro, dengan luasnya sekitar 2200hektar.

pasar Lospalos, geliat ekonomi pascajajakpendapat

Pada umumnya, 20-30% tanah di distrik Lautem adalah tanah pertanian, 35% tanah tinggi dan 35% pergunungan. Sebagian besar distrik mempunyai tanah lembah dan tanah subur yang ideal untuk penanaman. Pertanian tradisional dilakukan di distrik ini.

IKLIM

Selama bulan Mei sampai bulan Juli pada rata-rata ada hujan dua kali seminggu, dan selama bulan November sampai bulan Januari pada rata-rata ada hujan deras selama dua jam setiap hari. Selama bulan Agustus sampai bulan Oktober cuaca adalah panas dan kering dan tidak ada curah hujan. Suhu pada rata-rata adalah 23.6° selsius – 31.8° selsius, dengan suhu yang paling tinggi 38° selsius.

Sungai Ribeiraraumoco, Ralailaba dan Danau Ira Lalaro adalah sumber air utama selama musim kemarau.

Sistem pertanian-lingkungan hidup di distrik Lautem dibagi dalam tiga daerah iklim:

Utara- terdiri dari sub-distrik Lautem/Moro dan Tutuala, dengan curah hujan tahunan dari 500mm sampai 1000mm. Musim kemarau berlangsung sekitar 8 bulan.

Selatan- terdiri dari sub-distrik Lospalos, Tutuala (Suco dari Mehara) dan Iliomar.

Curah hujan tahunan adalah dari 1000mm sampai 1500mm per tahun, dan musim kemarau berlangsung selama 5 atau 6 bulan.

Pusat- terdiri dari sub-distrik Luro dengan curah hujan tahunan dari 1500mm sampai 2000mm per tahun dan musim kemarau yang berlangsung selama 5 atau 6 bulan.

Distrik ini dianggap sebagai daerah dengan paling banyak curah hujan di seluruh Timor Lorosae.

Hujan deras sering mengakibatkan banjir yang datang sekonyong-konyong yang mempengaruhi rumah tangga dan prasarana yang penting sekali seperti jalan. Banjir yang paling terakhir terjadi pada bulan Juni 2001, dan masih diingat karena kerusakan besar yang disebabkannya pada rumah di Lospalos dan Daudere dan jalan penting yang menghubungkan Lospalos dengan Baucau, Iliomar dan Luro.

LATAR BELAKANG SEJARAH DAN POLITIK

Pengaruh Tradisional

Distrik Lautem hampir seluruhnya dikelilingi dengan laut, termasuk Laut Ibu yang adalah laut utara Tasi -Feto dan laut selatan Tasi – Mane. Dua laut ini saling meliputi di Pulau Jaco, dan ini adalah salah satu alasan mengapa pulau ini dianggap sebagai pulau suci.

Distrik Lautem mempunyai tiga suku utama dan masing-masing suku mempunyai bahasa sendiri, suku Fataluku (Sub-distrik Lospalos, Tutuala, dan Lautem) suku Makassai, (Luro, Lautem, dan Iliomar), dan suku Makalero (Iliomar). Juga ada kelompok daerah Sa’ane di daerah Luro atas dengan bahasa yang dekat dengan bahasa Makalero. Asli tepat suku Fataluku dan suku Makassai dipikirkan campuran orang Melanesia dan orang Papua. Suku Fataluku dan suku Makassai adalah pejuang bangga dan petani, dan bukan penangkap ikan. Tarian budaya mereka masih memainkan kembali perbuatan berani pejuang.

Suku ini adalah penganut animisme, dan kepercayaan animisme mereka masih adalah sebagian besar dari kehidupan sehari-hari penduduk distrik Lautem. Menawarkan darah binatang sebagai korban masih adalah kejadian biasa di desa-desa. Juga adalah hal biasa menemukan lulik (sebuah ukiran yang mewakili orang yang menangkal roh jahat) di beberapa desa. Di jalan ke Com dari Lospalos ada pemakaman lama tradisional yang dipikirkan berumur tiga ratus tahun. Pemakaman ini dibangun untuk orang Timor Lorosae yang dibunuh oleh orang Portugal.

Di Tutuala ada goa dengan gambaran di batu yang menggambarkan pemandangan pemburuan kuno, lambang kuno seperti kura-kura dan perahu. Jenis perahu yang digambarkan menunjukkan latar belakang Austro-Easternesia (Asia Tenggara), yang adalah kelompok etnis lain daripada kelompok Melanesia atau Papua, yang bahasanya dipikirkan adalah dasar untuk bahasa daerah. Kita hanya dapat menduga apakah orang ini datang dengan perahu, atau apakah mereka hanya menggambar perahu yang lewat.

Juga ada gambaran kuda. Masyarakat setempat percaya bahwa semua binatang berasal dari Timor, tetapi ahli perbakala menyatakan bahwa sebagian besar binatang seperti kuda dan babi dibawa ke sini oleh orang yang mula-mula datang. Goa utama adalah Lene Hara, tanggal tepat goa pada tahun 1967 tidak pernah diperhitungkan, tetapi diperkirakan bahwa goa ini mungkin lama sekali. Menurut orang setempat, goa ini berumur empat ribu tahun atau lebih. Data yang paling terakhir menunjukkan bahwa goa ini mungkin berumur enam ribu tahun. Tetapi gambaran goa diperkirakan berumur dua ribu tahun.

Pengaruh Eropa

Jangka Awal

Bukti pertama orang Portugal di Lautem adalah sebuah kubu pertahanan kecil yang terletak sedikit di luar Lore 1 di sub-distrik Los Palos. Kubu pertahanan ini masih mempunyai lambang Portugis, dan diperkirakan dibangun pada abad 1600 atau abad 1700. Tujuan kubu pertahanan ini tidak jelas tetapi dapat diduga bahwa kubu ini menandai awal perdagangan di daerah ini.

Orang Portugis mau mendapatkan kayu cendana putih dan pada abad 1700 ada banyak perdagangan antara Macao, Flores, Timor, yang memungkinkan orang Portugal untuk mempertahankan posisi mereka melawan orang Belanda di bagian ini daerah Hindia.

Di sub-distrik Lautem ada rumah Portugis dari abad 1700 atau abad 1800 (satu ahli sejarah memperkirakan abad 1800 dan satu memperkirakan abad 1700) yang sangat rumit yang dikelilingi oleh kebun dan air mancur yang dibuat manusia. Di tempat ini juga ada gedung yang kelihatan seperti gereja, tempat tinggal pembantu dan asrama. Tempat ini terletak secara indah di bukit yang melihat ke Laut Ibu dan mempunyai dinding di mana kita masih dapat membayangkan letaknya meriam pada waktu dulu. Semua jendela di rumah mempunyai bentuk lengkungan supaya pengunjung dapat berdiri di bagian akhir rumah dan melalui setiap jendela secara berurutan melihat laut. Pada abad 1800, perdagangan telah menurun dan tidak ada tanda yang dapat dilihat orang Portugal di Lautem sampai abad 1900 waktu Pulau Timor dibagikan secara resmi antara orang

Belanda dan orang Portugis.

Beberapa sub-distrik mempunyai gedung pemerintah Portugal yang kelihatan dibangun antara tahun 1900-1945. Pada awal abad 1900 ada pembagian Lautem antara beberapa Liurai yang berkuasa.

Fatuluku mempunyai sistem kelas yang masih berada sekarang ini. Kelas tinggi adalah Raju or Raja, kelas menengah adalah Paca, dan kelas bawah adalah Akanu. Raja atau kelas tinggi adalah satusatunya kelas yang dapat memiliki tanah. Ada satu Liurai yang paling berkuasa dan dianggap sebagai pemimpin. Dia terletak di Moro dan beberapa orang percaya bahwa turunannya memiliki sebagian besar tanah di sini.

Orang Portugis mendorong sistem feodal/kelas ini untuk memadangkan pelawanan dari suku setempat dan mengendali penduduk. Bukan kebetulan bahwa orang Portugal yang pertama datang tinggal di daerah Lautem / Moro. Beberapa pemimpin Timor Lorosae dikirim ke tempat seperti Mozambique pada waktu ini.

Kekuasaan Portugis diganggu waktu orang Jepang menyerbu distrik Lautem pada tahun 1942. Di jalan dari Lautem ke Com dapat dilihat beberapa tembol pertahanan yang digunakan oleh orang Australia untuk menjaga penyerbuan. Perumahan Portugal lama di Lautem juga membawa beberapa sisa orang Jepang. Orang Jepang juga membangun penjara yang terletak di Trisula, yang nanti digunakan oleh orang Portugal. Banyak orang Timor Lorosae melawan penyerbuan Jepang dan meninggal.

Map of district of Lautém showing Jaco

District Lautem

Tahun-tahun terakhir kekuasaan Eropa 1945-1975

Setelah Perang Dunia Kedua, orang Portugal mengembangkan sistem pemerintah yang lebih lengkap yang dapat dilihat dari keberadaan beberapa gedung umum di seluruh distrik. Lospalos dibangun sebagai ibu kota utama distrik pada tahun 1948. Kota ini diberikan nama ‘LosPala’, tetapi nama ini menjadi Lospalos atas alasan yang tidak diketahui.

Pada tahun 1974 partai politik utama adalah UDT, FRETILIN, dan Apodete. Pemimpin UDT adalah Virissmo Dias Quintas, Liurai Lospalos dan Luis Monteiro.

Pemimpin Apodete adalah Tome Christovao dan Claudio Vieria. Claudio Vieria adalah pegawai negri Portugal dari Lospalos yang ditugaskan di Suai tetapi meneruskan hubungan dengan Lospalos.

Claudio Vieria menjadi Bupati pertama Lautem. Sebagian besar orang di sini pergi ke gunung setelah penyerbuan orang Indonesia, dan tidak diketahui apa yang terjadi pada Tome. Dia menghilang dan dipikirkan meninggal.

Pemimpin FRETILIN, Alfonso Savio dan Benedito Savio kedua-duanya dibunuh oleh TNI. Pada tahun 1977 pihak Indonesia menawarkan rekonsiliasi pada anggota-anggota FRETILIN, tetapi ini adalah penipuan agar anggota akan kembali, dan setelah kembali mereka dibunuh. Susah mengetahui partai apa yang lebih disukai, tetapi beberapa orang percaya bahwa sebagian besar orang mendukung UDT sampai setelah penyerbuan orang Indonesia waktu sebagian besar orang mengganti pendukungannya mendukung FRETILIN.

Pendudukan Indonesia

Lospalos Kirche Immanuel klein

LosPalos Kirche Immanuel Klein

Orang Indonesia tiba di Timor Lorosae pada tanggal 7 Desember 1975, tetapi tidak mendirikan kehadiran tetap di distrik Lautem sampai tahun 1976. Kumpulan pertama militer Indonesia terjun dengan parasut ke Rasa, lalu menuju ke kota Lospalos.

Berdasarkan ingatan orang, banyak orang disiksa maupun dibunuh selama waktu ini. Penduduk Lautem tidak yakin berapa banyak orang yang meninggal. Akan tetapi, dipercaya bahwa setiap keluarga hilang antara 2-4 anggota. Selama waktu ini, orang Indonesia melakukan kejahatan yang menghebohkan pada orang di distrik. Perkosaan, pembunuhan dan penyiksaan adalah hal biasa.

Batalyon pertama orang Timor Lorosae, batalyon 745, dibentuk pada tahun 1976. Anggota asli batalyon 745 direkrut dari bagian lain Timor Lorosae karena kurang cenderung memihak penduduk setempat. Banyak orang dari distrik Lautem pergi ke Monte Bian di Baucau untuk melarikan diri dari penganiayaan oleh baik orang Indonesia maupun batalyon 745.

Kondisi di gunung sangat susah, ada kekurangan makanan dan air dan banyak orang mati kelaparan.

Orang Indonesia kadang membom daerah ini dari tahun 1977 sampai 1978, dengan pemboman yang paling sering terjadi pada bulan November 1978. Orang Indonesia membom sumber air, yang mempersusahkan keadaan hidup penduduk. Penduduk Lautem yang ada di gunung menyatakan bahwa sekitar 6-7 orang meninggal pada setiap penyerangan bom. Pada akhir tahun 1978, Xanana Gusmao menyuruh semua orang berangkat dari daerah itu, karena dia takut bahwa pada akhirnya semua orang akan meninggal.

Perlawanan FALINTIL

Village of Tutuala, Timor-Leste

Village of Tutuala

Pada awalnya, jumlah tertinggi orang FALINTIL ada di bagian tengah Timor Lorosae. Nanti mereka memindah gerakannya ke distrik Lautem. Xanana Gusmao menghabiskan banyak tahun di daerah ini menghindari ditangkap oleh orang Indonesia. Pada tahun-tahun awal FALINTIL ternyata melakukan kegiatan serangan, dan menyerang TNI secara terbuka. Tetapi sebenarnya, mereka biasanya melakukan kegiatan pembelaan. Sampai waktu Jajak Pendapat pada tahun 1999 pun, orang Indonesia masih membangun jalan dan jaringan komunikasi di distrik Lautem agar mereka dapat masuk lebih dekat pada daerah FALINTIL.

Sebagian besar distrik Lautem dibakar sebagai tindakan balas dendam atas suara jajak pendapat yang menolak otonomi. Banyak rumah tradisional yang adalah ciri utama daerah ini hilang, serta banyak gedung yang mewakili prasarana Indonesia.

CNRT

Selama Jajak Pendapat, Victor da Costa menjadi pemimpin CNRT. Sebelum ini Virissmo Dias Quintas, Raja Lospalos adalah pemimpin tidak resmi. Banyak siswa kumpul di rumahnya untuk membicarakan masalah politik. Pada tanggal 27 Agustus, 1999, dia dibunuh secara kejam; hal ini terjadi pada hari terakhir masa kampanye.

Setelah peristiwa pada bulan September 1999, pada waktu UNAMET kembali, FALINTIL ditemukan sedang memerintah distrik, dengan Renin Selak sebagai Sekretaris FALINTIL untuk Lautem. Sebagian besar orang tidak kembali dari hutan pada minggu-minggu awal bulan Oktober 1999. FALINTIL pada minggu kedua Oktober menyuruh orang kembali ke desa mereka dan memulai mendirikan sebuah struktur pemerintah sementara bekerja sama dengan wakil NRT Victor da Costa dan UNAMET/UNTAET. Akan tetapi, Renin Selak menggantikan Victor pada bulan Oktober 1999 sebagai Sekretaris CNRT, dan FALINTIL mendapatkan kekuasaan atas distrik Lautem.

Pada bulan Januari 2000, CNRT memperbaharui pengurusannya agar bersifat sipil. Pemilihan diadakan untuk Sekretaris dan Wakil-Sekretaris Distrik, dengan Albina Da Silva dan Joao Rui Amaral dipilih untuk masing-masing jabatan. Struktur CNRT didirikan pada tingkat sub-distrik, desa dan sub-desa. Juga, kepemimpinan OMT dan OJT ditentukan pada berbagai tingkat.

Pada waktu Albino Da Silva diangkat di Dewan Nasional pada bulan Januari 2001, Joao Rui Amaral menjadi Sekretaris CNRT. Dia tetap di jabatan ini sampai bulan Juni 2001 waktu CNRT dinyatakan bubar agar pemilihan Majelis Konstituante dapat berjalan.

Administrasi Transisi UN

Pada bulan October-November 1999, staf internasional UNAMET mulai kembali ke distrik setelah prajurit INTERFET mengamankan sebagian besar daerah. Bagian kecil administrasi sipil didirikan sesuai Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 1292 yang mendirikan Administrasi Transisi Perserikatan Bangsa-bangsa di Timor Lorosae (UNTAET).

Setelah ini, berbagai jabatan diisi, mis. Administrator Distrik, Wakil Administrator Distrik, kepala sektor di bidang Pendidikan, Keuangan, Pertanian, Tanah dan Harta Benda, Kesehatan, Urusan Sipil/Politik, dll. Administrasi sipil lengkap, dengan sebagian besar stafnya staf internasional, didukung oleh staf nasional diselesaikan, dengan DFO sub-distrik tiba dan ditugaskan mulai pada pertengahan tahun 2000. Penyediaan beberapa pelayanan pemerintah mulai berfungsi secara biasa pada waktu ini.

Pasukan Pemeliharaan Perdamaian, yang menggantikan INTERFET, tiba pada bulan November 1999. Batalyon Republik Korea (ROKBATT) ditugaskan di distrik Lautem. Jumlah total 4 rombongan ROKBATT bekerja di Lautem, sebelum tugasnya dipindahkan ke distrik Oecusse. Polisi Sipil Internasional juga tiba dari banyak negara yang berbeda untuk mendirikan struktur polisi sipil.

Pada awalnya, CIVPOL ditugaskan di markas besar distrik, tetapi sedikit demi sedikit dipindahkan ke kantor polisi sub-distrik.

Pada awal tahun 2001, proses Timorisasi sektor dan departemen mulai. Kepala sektor dan staf orang Timor Lorosae direkrut untuk bekerja sama secara dekat dengan staf internasional yang berangsurangsur mengambil peran sebagai penasehat teman seimbangan. Sekarang staf di sebagian besar sektor adalah pegawai negri Timor Lorosae (mis. pendidikan, kesehatan, prasarana, pertanian, keuangan, tanah dan harta benda, dll.) dan kehadiran internasional akan sangat dikurangi pada akhir mandat UNTAET pada bulan Mei 2002.

Pada bulan Juni 2001, segi yang paling penting dari proses Timorisasi kepegawaian negri terjadi dengan pengangkatan DA, DDA dan koordinator sub-distrik Timor. Bapak Olavio Da Costa sekarang berjabatan sebagai DA dan Ibu Arlinda Mendes sebagai DDA.

Pemilihan Majelis Konstituante

Pemilihan Majelis Konstituante berjalan secara lancar di distrik, dengan sekitar 93% jumlah total pemilih yang terdaftar memberikan suara. Partai FRETILIN adalah partai yang terkemuka pada pemberian suara dan mendapatkan mayoritas suara. PD dan PSD juga berhasil, dengan masingmasing mendapatkan jumlah suara paling tinggi kedua dan ketiga di distrik. Untuk kursi distrik, Armindo Da Conceicao Silva dari partai FRETILIN menang dalam pemilihan dengan beda suara yang besar dibanding enam partai dan empat calon independen lain.

Sumber: PROFIL DISTRIK LAUTEM MARET 2002, Dokumen ini disusun dan diedit oleh Richard Simpson dan Wei Sun

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on November 7, 2011, in Sejarah and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Salam jumpa…

    Ada sejumlah kekeliruan tentang profil Distrik Lautem. Namun, saya akan mengoreksi beberapa point yang saya kira penting untuk diketahui…..
    “Distrik Lautem mempunyai tiga suku utama dan masing-masing suku mempunyai bahasa sendiri, suku Fataluku (Sub-distrik Lospalos, Tutuala, dan Lautem) suku Makassai, (Luro, Lautem, dan Iliomar),…”

    Koreksi: Suku Makasai tidak termasuk Lautem. Suku-suku yang ada di Lautem atau sub-distrik Lautem/Moro adalah suku yang berbahasa Fataluku. Sedangkan Iliomar dan Luro secara geografi memang berbatasan langsung dengan suku-suku Makasai tapi tidak berbahasa Makasai. Luro dan Iliomar mempunyai bahasa tersendiri. Luro dan Iliomar adalah sub-distrik di Distrik Lautem yang tidak berbahasa Fataluku. Sedangkan Suku-suku yang berbahasa Makasai adalah Distrik Baucau, sebagian wilayah di distrik Viqueque seperti sub-disrtik Ossu.

    “Fatuluku mempunyai sistem kelas yang masih berada sekarang ini. Kelas tinggi adalah Raju or Raja, kelas menengah adalah Paca, dan kelas bawah adalah Akanu. Raja atau kelas tinggi adalah satusatunya kelas yang dapat memiliki tanah. Ada satu Liurai yang paling berkuasa dan dianggap sebagai pemimpin. Dia terletak di Moro dan beberapa orang percaya bahwa turunannya memiliki sebagian besar tanah di sini”.

    Koreksi: Fataluku mempunyai sistem kelas atau kasta dan masih eksis secara tradisional sampai sekarang. Kasta I (Ratu bukan Raju or Raja), Kasta 2 (Pacha), sedangkan kasta terendah adalah Akanu (budak). [Meskipun aku adalah turunan dari kasta pertama, tapi aku tidak setuju dengan adanya kasta-kasta di distrik Lospalos atau Lautem. Karena sangat merendahkan martabat manusia, juga tidak sesuai dengan ideologi sosialisme yang dianut FRETILIN.

    Tidak ada satu liurai (raja) yang paling berkuasa di Distrik Lautem. Masing-masing klan ada pemimpinnya atau tetua adat. Ada sejumlah klan yang ada di distrik Lospalos, namun, klan yang cukup populer di Distrik Lospalos/Lautem adalah Chailoro Ratu, Latu Loho Ratu, Vachu Mura Ratu, Pair Ratu. Klan Chailoro Ratu mendiami banyak wilayah di Distrik Lautem dan dianggap klan yang mayoritas dalam soal populasi.

  2. Terimakasih atas koreksinya. Sejujurnya saya hanya mengandalkan sumber tertulis sebagaimana saya sebutkan pada akhir postingan di atas. Komunikasi (dan konfirmasi)saya dengan beberapa warga mantan penduduk Los Palos di Kupang agak macet, selain karena persoalan bahasa juga karena beberapa tidak tahu persis.
    Sekalilagi terimaksih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: