Terdesak Deadline Proyek, Pemborong Jalan Bekerja Serampangan

Masih terus bermasalah, pekerjaan proyek peningkatan Jalan Herman Yohanes Kupang. Konflik kembali terjadi antara para pekerja dengan komunitas Seminari Santu Mikhael. Pasalnya, para pekerja membongkar pagar seminari dan menggali saluran drainase tanpa memberitahu pihak seminari tinggi. Ketika di tegur, Marlon si pemborong menyatakan bahwa ini adalah tanah negara jadi mereka berhak melakukan apa saja.

Karena kecewa dengan sikap para pekerja yang main serobot saja, komunitas seminari tinggi memprotes sikap mereka tersebut. Mereka, para pekerja, dituduh mencuri pagar seminari. Untuk itu mereka harus mengganti pekerjaan pagar yang telah dibongkar tanpa izin, sebelum melanjutkan pekerjaan saluran drainase.

Asalmula konflik ini terjadi ketika anggota komunitas menyadari bahwa pagar telah dibongkar tanpa pemberitahuan dan entah besi-besi pagar itu sudah dikemanakan. Si pemborong mengakui kesalahan para pekerja dan menyatakan siap mengerjakan ulang pagar seminari.

Konflik ini sudah dilaporkan kepada pihak yang berwajib. Sudah ada kesepakatan pula antara pihak pemborong dengan pihak seminari tinggi. Pekerjaan saluran hanya boleh dilanjutkan apabila penggantian pagar selesai dilaksanakan.

Sebagaimana yang bisa saya pantau, pengerjaaan pagar pengganti rupanya asal-asalan saja. Besi pagar mudah sekali dipelintir dan diguncang-guncang. Ini besi apa plastik? Pengecorannya pun menggunakan campuran berkualitas rendah. Sayang ya memang begitulah nasib proyek. Ketika si pemborong diminta untuk membandingkan pagar hasil kerja mereka dengan pagar lama seminari, pada bagian yang belum dibongkar, si pemborong hanya tunduk saja. Mereka sedang mengejar deadline katanya.

Okelah, kami mengerti bung, tapi hargai juga hak-hak kami. Anda kami maafkan tapi ingat, kalau kalian melanggar kesepakatan ini maka pihak kepolisianlah yang akan menanganinnya. Bekerjalah untuk kebaikan banyak orang bukan untuk membuncitkan perutmu sendiri. Perutmu yang buncit itu toh akan hancur juga menjadi tanah. Kenapa kau cuma ingat perutmu sendiri?

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on November 8, 2011, in Budaya, Moral and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Setuju sekali Kaka……. mereka sudah mencaploj tanah, membongkar pagar lalu meminta pengertian yg baik……. mmgnya pengertian kita atas tanah dan pagar itu blum cukup..???
    cocoknya batu kilangan diikat pada leher dan dimasukan ke kolam LELE saja…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: