patung Sonbay, Kupang

Patung Sonbai: Landmark Kota Kupang

patung Sonbay, Kupang

Kalau kau berjalan-jalan di kota Kupang, pasti kau akan menemukan sebuah patung penunggang kuda, terletak ditengah persimpangan jalan. Patung bernama Patung Sonbay itu berdiri di tengah taman di persimpangan antara Gedung Perpustakaan Negara, Gedung Bank Indonesia, dan Gereja Katedral Kupang. Sonbay, tokoh yang dipatungkan tersebut adalah Sobe Sonbay III, Raja Timor yang menolak kerjasama dengan VOC dan (kemudian) Belanda.

Berikut ini, tuturan kisah Sobe Sonbay III yang sudah muat di internet.

Sobe Sonbai III adalah seorang raja Timor yang sangat berpengaruh. Ia berkedudukan sebagai Kaiser Kerajaan Oenam dengan ibukota Kauniki di kecamatan Fatuleu sekarang.

Ia adalah satu-satunya raja yang sampai akhir hayatnya tidak pernah menandatangani perjanjian takluk kepada Belanda. Oleh karena itu dengan segala cara Belanda berusaha untuk menaklukan Sobe Sonbai III.

Hal ini diketahui pula oleh Sobe Sonbai III. Karena itu Sobe Sonbai III bersama seluruh rakyat dan para “Meo” (panglima perang) mulai membangun benteng-benteng pertahanan. Mereka membangun tiga benteng yaitu Benteng Ektob di desa Benu, Benteng Kabun di desa Fatukona dan Benteng Fatusiki di desa Oelnaineno.

Setiap benteng ini dijaga ketat oleh meo-meo dari setiap suku. Meo yang paling terkenal disebut “Meo Naek” atau panglima besar. Meo Naek Sobe Sonbai III bernama Toto Smaut.

Portrait of a Timor warrior at the area of Kup...
Portrait of a Timor Warrior

Perang melawan Belanda dimulai pada bulan September tahun 1905. Perang ini dimulai di desa Bipolo, kecamatan Kupang TImur sekarang. Karena perang ini dikenal dengan perang bipolo hingga sekarang. Perang ini terus berlanjut dari benteng ke benteng sehingga banyak korban berjatuhan di keduabelah pihak.

Benteng terakhir yang direbut oleh pihak Belanda adalah benteng Fatusiki. Pertempuran di benteng ini berlangsung sengit karena dipimpin langsung oleh Sobe Sonbai III dan Meo Toto Smaut yang gagah perkasa.

Tapi karena Belanda memakai senjata modern maka benteng Fatusiki dapat direbut. Sobe Sonbai III akhirnya ditangkap, lalu dibawa ke kupang dan dibuang ke Waingapu.

Setelah mendengar bahwa Sobe Sonbai III ditangkap oleh belanda, maka Toto Smaut menyerah demi kesetiaan pada rajanya. Toto Smaut dibuang ke

Aceh, kemudian dibawa ke Makasar sebagai prajurit Belanda perang Bone.

Karena jasanya dalam perang Bone, Toto Smaut dikembalikan ke kupang, dan

diangkat menjadi Temukung besar di Fatuoni sampai akhir hidupnya. Untuk memperingati perjuangan Sobe Sonbai III, maka di Kupang didirikan sebuah patung. Patung Sobe Sonbai III ini terletak di salah satu jalan protokol di Kupang yaitu Jalan Urip Sumoharjo di Kelurahan Merdeka.

Adanya patung ini terasa tidak cukup untuk menghargai dan menghormati pengorbanan dan patriotisme perjuangan Sobe Sonbai III bersama para “Meo” dan rakyatnya yang sangat heroik.

Sebab kerajaan Sonbai adalah kerajaan Tradisional yang terbesar dipulau Timor pada masa itu. Wilayah kekuasaan kerajaan Sonbai memanjang dari Miomafo di Kabupaten Timor Tengah Utara sekarang sampai Fatuleu di Kabupaten Kupang.

Oleh karena itu, kerajaan Sonbai sangat ditakuti oleh pemerintah Kolonial Belanda. Sebab kerajaan ini merupakan tantangan besar untuk dapat menguasai pulau Timor.

Inilah sebabnya pengorbanan dan semangat serta nilai-nilai perjuangan Sobe Sonbai III harus terus dilestarikan dalam dada setiap putra-putri Timor di Nusa Tenggara Timur. Pada umumnya, pengorbanan dan semangat juang seperti ini, kini sangat diperlukan untuk mengisi kemerdekaan yang dipertaruhkan Sobe Sonbai III hingga akhir hayatnya.

sumber :http://archive.kaskus.us/thread/3632649

via Patung Sonbai sebuah Landmark Kota Kupang.

5 thoughts on “Patung Sonbai: Landmark Kota Kupang

  1. Sebuah Kisah Pendudukan Jepang di Amarasi
    yang mana yg menentang penjajah dan yg mana yg ikut penjajah

    Pendaratan Bala tentara Jepang di Timor masih dikenang oleh banyak orang, namun tak banyak yang mencatat detail dan mengungkapkan konflik yang timbul di Timor menjelang pendudukan Jepang ini. Banyak literatur yang mengungkapkan pendudukan Jepang dalam konteks nasional, tapi untuk daerah-daerah seperti Timor tak banyak masuk dalam analisis.

    Beberapa waktu lalu saya mendapatkan sebuah surat yang dikirimkan oleh seorang Pendeta emeritus Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), B.J. Jacob kepada rekannya Pendeta Pieter Middelkoop di Belanda. Surat sepanjang lima halaman bertanggal 27 April 1964 itu berbentuk ketikan dan ditandatangi dan Sekretaris Majelis Sinode GMIT Pdt. D.M.E Arnoldus.

    Surat-surat Pendeta Jacob kepada pendeta Middelkoop.
    Surat-surat Pendeta Jacob kepada pendeta Middelkoop. (Courtesy: Cornelia Middelkoop)
    Pendeta Emeritus Jacob menceritakan pengalamananya sebagai pendeta di Amarasi saat pendaratan Jepang. Diceritakan dalam surat itu bahwa tentara Jepang mendarat di Timor melalui pantai Kerajaan Amarasi yaitu di Teres, Puru dan Sekalak pada 18 Februari 1942. Jacob menceritakan bahwa sebelum pendaratan Jepang sudah terjadi propaganda-propaganda lewat pamphlet yang menyatakan bahwa kedatangan Jepang “akan membebaskan rakyat dari segala penindasan asal setiap orang patut dan menyambut segala perintah dan membantu perjuangan Dai Nippon.”

    Kondisi transisi dan terlebih propaganda Jepang ini menciptakan gejolak dalam masyarakat Amarasi. Pendeta Jacob tidak memberikan latar belakang namun sangatlah mungkin gejolak ini berakar dari konflik yang sudah ada sebelumnya di kalangan elit Amarasi. Seorang meo (kepala perang) bernama Fai Foni yang berdiam di Ruasnaen, Amarasi bersama beberapa orang yang mengklaim dirinya “penduduk asli” atau “tuan tanah” berusaha menggalang dukungan di kalangan rakyat Amarasi untuk melawan pihak kerajaan Amarasi. Jacob melaporkan bahwa Fai Foni dan orang-orangnya meniupkan nafiri di “sekeliling” Amarasi dan mengumpulkan orang-orang untuk “mempropagandakan kekebasan bagi rakyat yang tertindas sekian lama daripada tangan para feodalisten”. Jacob menyebut bahwa Fai Foni menjadikan janji-janji muluk Jepang sebagai “batu loncatan” dalam usaha untuk menggulingkan pemerintah Kerajaan Amarasi yang sering dinamai sebagai orang “kaseh” atau “orang pendatang dari Sabu.”

    Namun ternyata perhitungan Foni dan orang-orangnya meleset karena mantan raja Amarasi A.R. Koroh telah lebih dahulu memperoleh dukungan dari Angkatan Laut Jepang karena ia menyambut pendaratan Jepang bahkan disebutkan ia dikaruniai sebilah pedang dan sebuah “besluit” (surat keputusan) oleh Kaisar Tenoheka. Menurut Jacob, pada saat itu saudara laki-laki sang mantan Raja, H.A. Koroh yang merupakan raja pada saat itu “hampir tidak begitu dihiraukan lagi”. Jacob menklaim bahwa bahwa H.A. Koroh telah mengetahui pembangkangan Foni dan orang-orangnya dan sedang mencari kesempatan untuk “menindas” mereka yang telah dianggap “berkhianat terhadap pemerintah kerajaan Amarasi”. Bahkan ia telah memasang mata-mata untuk memantau pemusatan kekuatan barisan Fai Foni tersebut.

    Barisan pemberontak ini ditaksir berjumlah kurang lebih 600 orang “gagah perkasa” dan berpusat di Penfui, Oesao dan Babau di mana mereka terus mengadakan kontak dengan Angkatan Darat Jepang di daerah ini yang telah mereka bantu sebelumnya pada saat pendaratan. Namun beberapa saat setelah pendaratan Jepang, anggota-anggota kelompok inti tidak terlihat lagi di Penfui, Babau dan Oesao. Kemungkinan mereka telah menyadari bahwa A.R Koroh telah mendapatan dukungan dari pihak Angkatan Laut Jepang. Pada bulan Juni 1942 Foni dan salah satu kelompoknya didatangi sebuah kendaraan militer Jepang di Oesao. Tanpa curiga rombongan Fai Foni mengerumuni kendaraan tersebut. Kemungkinan mereka mengira kendaraan tersebut adalah kendaraan tentara Jepang yang pernah mereka bantu sebelumnya.Ternyata di dalam kendaraan itu menumpang raja A.R. Koroh. Foni dan tiga orang pengikutnya di tangkap dan dipancung saat itu juga. Tentara Jepang berhasil menangkap 60 orang dibawa ke Burain sebagai tawanan yang katanya akan dipancung kemudian.

    Pdt. B. J. Jacob [Courtesy of June Jacob]
    Pdt. Barnabas Jermias Jacob [Courtesy of June Jacob]
    Pendeta Jacob adalah pendeta jemaat Oekabiti saat itu. Ia datang ke Burain untuk melihat kondisi para tawanan. Menurutnya mereka yang ditawan itu “kebanyakan terdiri dari orang-orang Kristen dan sebagian kecil terdiri dari orang halaik.” Jacob menulis:

    “Tiba di sana mereka lantas dimasukkan dalam keranjang-keranjang kawat yang telah disediakan dengan meniarap di tanah dan diberi makan secara dihamburkan jagung ke dalam keranjang kawat; yaitu sesudah mereka dirotani 25 kali seorang. Dengan melihat peristiwa ini saya sangat merasa iba hati melihat perlakukan yang sebegitu ngeri terhadap mereka. Apa yang hendak kubuat terhadap mereka yang disengsarakan itu yang hanya menunggu waktu untuk dipancung kepalanya sesuai dengan perbuatanya? Pada waktu saya telah berdoa memohon keberanian daripada Tuhan untuk menghadap Raja A.R. Koroh guna keampunan bagi mereka yang telah disiksa begitu hebat.”
    Tanpa sepengetahuan orang-orang yang ditahan ini, Jacob menemui sang Raja untuk memohon pengampunan bagi mereka. Dan berhasil. Semua tahanan dilepaskan. “Keadaan kelepasan yang ajaib tersebut tidak diketahui oleh mereka itu yang tertawan serta saya sendiripun tidak hendak menyatakan kepada mereka bahwa sayalah yang menjadi pohon sebab untuk kelepasan mereka karena hal kelepasan itu hanya terjadi atas jalan ajaib Tuhan sendiri dan bukan oleh manusia,” kenang pendeta Jacob. Bahkan sang Raja meminta pendeta Jacob untuk mengatakan setiap minggu di istananya, sesi pagi di Oekabiti dan sore di Buraen. Rajapun menyiapkan “kendaraan” baginya untuk tujuan itu.
    Namun berselang beberapa minggu kemudian sang terjadi penangkapan lagi terhadap lima orang anggota kelompok Fai Foni. Dua orang dipancung segera setelah ditangkap. Yang pertama adalah seorang dari Buraen bernama Ari Tameon dipancung dan dikuburkan di sebuah liang lahat yang digalinya sendiri di Buraen di “sisi jalan besar”. Yang kedua adalah seorang meo bernama Raun Tasi dari Ruan Rete dipancung di lokasi Radio Lama di Oeba, Kupang. Tiga orang yang lain yaitu Titus Keo dari Fatuknutu di Oekabiti, Tertulianus Mese dari Ruan Rete, Obe Rubu dari Batuna dipasung kakinya dan ditahan oleh tentara Jepang di Banuin, Buraen menunggu tiga hari kemudian untuk dipancung. Berita tentang rencana pemancungan ini telah sampai ke telinga kelurga para tahanan dan mendatangi pendeta Jacob untuk memohon pertolongan.

    Jacob pesimis bahwa usahanya akan berhasil. Ia menulis: “Mustahil suatu putusan yang sudah ditetapkan oleh yang berwajib dapat dirubah oleh satu permohonan dari saya, istimewa mereka dalam pengawasan tentara Jepang yang tidak mengenal ampun.” Namun pendeta Jacob tetap membawakan pergumulan ini dalam doa. Suatu kesempatan muncul pada tanggal 15 Juli 1942 dimana Raja A.R. Koroh mampir di Oekabiti pada suatu pesta pernikahan “angkat belis” di Sonaf Fettor Thobias Abineno terhadap istrinya yaitu bunda (dari?) Alex Abineno. Pendeta Jacob telah lebih dahulu bersepakat dengan keluarga Abineno agar kesempatan itu ia gunakan untuk memohon pengampunan kepada Raja perihal ketiga orang yang akan dipancung. Bahkan diatur sedemikian rupa agar anggota keluarga Abineno tidak terlalu menonjol di depan melainkan membaur dengan undangan agar nampak bagi sang raja akan orang-orang lain juga selain anggota keluarga Abineno. Pihak keluarga kemudian mengatur agar sang pendeta makan bersama dengan sang raja. Kesempatan itu digunakan secara baik oleh sang pendeta dan setelah selesai makan ia mendekati sang Raja dan mengatakan bahwa ia hendak menyampaikan sebuah permohonan. Harus dimengeriti konteks pada saat itu dimana seorang raja tak bisa secara mudah diajak berbicara.

    Pendeta Jacob tak menyangka sang raja “mengangkat sebuah kursi dengan tangannya sendiri lalu didekatkan pada kursinya sendiri seraya mempersilahkan saya duduk di atasnya lalu dipeluknya pada bahu saya.” Fettor Thobias Abineno, ayah dari mantan Ketua umum, PGI Dr. J.L.Ch Abineno, juga ikut dalam pembicaraan mereka. Pendeta Jacob memohon kepada sang raja agar tiga yang sedang ditahan di Banuin janganlah dihukum mati, melainkan diganti dengan hukuman hidup, misalnya dengan membayar denda setimpal dengan perbuatan mereka. Ia menyatakan enam orang yang sudah dipancung sudah cukup menjadi pelajaran bagi mereka yang ingin memberontak. Jawaban sang raja luar biasa, setidaknya menurut sang pendeta. Sang Raja berkata:

    “Tuan seorang pendeta dan seorang suku Rote sebegitu menaruh belas kasihan atas kebebasan mereka, mengapa saya seorang Timor yang sebangsa dengan mereka, dan mereka adalah rakyat saya, mengapa saya tidak hendak menaruh belas kasihan kepada kebebasan mereka.”
    Sang raja pun berjanji bahwa keesokan harinya tanggal 16 Juli 1942 ia akan sendiri pergi ke Banuin untuk meminta para tentara Jepang melepaskan orang-orang itu. Ia berjanji akan mengatakan bahwa ia telah meninjau kembali perkara orang-orang itu dan tidak didapati kesalahan pada diri mereka yang pantas dikenai hukuman mati. Sang pendeta juga menyatakan pesan pihak keluarga kepada sang Raja bahwa mereka ingin mempersembahkan tiga ekor kerbau jantan sebagai tanda ucapan terima kasih. Sang Raja menolak persembahan itu. Ia menyatakan rakyat sudah cukup miskin tak perlu lagi dibebani dengan pemberian semacam itu dan bahkan sang Raja berkata bahwa dia lah yang seharusnya mengucapkan terima kasih kepada sang pendeta karena telah mempedulikan rakyat sang raja. Sang raja bahkan meminta agar di lain kesempatan jika ia melakukan “hal-hal yang serupa ini, atau melakukan hal-hal yang kurang adil, saya harap tuan sudi menasihati saya dan sekali lagi jangan tuan merasa kuatir terhadap saya.” Saya Raja pun berjanji akan menyampaikan berita kelepasan para tahanan tersebut kepada sang pendeta.

    Malam itu juga mereka berpisah, sang Raja ke Buraen sedangkan sang pendeta ke rumahnya. Pihak keluarga para tahanan pun diminta oleh sang pendeta untuk datang ke rumahnya pada keesokan harinya untuk mendapatkan berita tentang kelepasan para tahanan.

    Namun keesokkan harinya mereka menunggu sampai malam di rumah sang pendeta tak kunjung tiba kabar tentang dilepasnya para tahanan. Mereka semakin kuatir lantaran menurut rencana dua hari lagi hukuman mati akan dilaksanakan. Malam itu juga sang pendeta pergi ke Buraen bersama seorang anggota keluarga para tahanan bernama Hati Keo untuk mengetahui sejauh mana perkembangan penyelesaikan kasus ini oleh sang raja. Subuh, jam 4, tanggal 17 Juli 1942 kedua orang ini berkuda sejauh 13 kilometer dari Oekabiti ke Buraen.

    Mereka tiba jam 6.30 dan sang raja sendiri terheran-heran keluar menyambut mereka di depan istana. Sang raja mengajak mereka masuk untuk sarapan bersama. Semula mereka menolak namun tak kuasa menolak permintaan sang raja. Pendeta Jacob dipersilahkan duduk di kepala meja sebagai penghormatan terhadap tamu. Barulah setelah selesai sarapan, mereka dapat mengungkapkan tujuan kedatangan mereka. Sang raja kaget dan mohon maaf atas kealpaannya mengurus masalah itu. Ia menyesal karena terlalu sibuk dan melupakan hal itu. Sang raja segera memanggil sopirnya bernama Ahmad Kosso dan segera mereka berangkat ke Banuin yang berjarak sekitar 3 kilometer dari istana (sonaf) raja di Buraen.

    Setibanya di Banuin sang Raja berbicara dengan sang overste bahwa ia telah meninjau kembali perkara ketiga orang itu dan tidak didapati satu kesalahan pun pada mereka sehingga mereka harus dilepaskan. Sang overste segera memberi perintah untuk membebaskan ketiga orang itu. Salah satu di antara para tahanan yang dibebaskan, Obe Rubu dari Batuna, sedang mendapat bisul besar (paes) di punggung sehingga sang raja meminta dokter tentara untuk merawatnya sampai sembuh sebelum dilepaskan. Sedangkan dua orang lainnya Titus Keo dan Tertulianus Messe diminta berjalan mendahului rombongan sang raja ke istananya. Di istana kedua orang yang baru dilepaskan menyatakan hendak memberi tanda terima kasih masing-masing berupa seekor kerbau kepada sang raja namun sang raja menolak persembahan itu. Ia hanya meminta mereka masing-masing membawa seekor ayam jantan dan lima butir telur kepada kepala tentara Jepang di Banuin sebagai ucapan terima kasih. Mereka kemudian disuruh pulang ke kampung mereka. Saat menulis surat kepada pendeta Middelkoop, pendeta Jacob menyatakan bahwa kedua orang ini masih hidup, berdasarkan informasi dari pendeta L. Manafe dan Fettor Oekabiti, Thobias Abineno.

    Pendeta Jacob sempat bertemu dengan salah satu dari ketiga orang itu, Titus Keo, pada 24 Juli 1942, bertepatan dengan “hari pasar” Oekabiti. Lelaki tua berusia 50 tahun dari Fatuknutu (Oebeen) itu menemui sang pendeta untuk mengantarkan hadiah berupa barang dan hewan sebagai ucapan terima kasih. Pendeta Jacob menulis:

    “Ia telah memeluk leher saya dengan mencium saya serta menangis tersedu-sedu di tengah masyarakat di jalan besar dengan mengatakan: ‘kalau bukan bapak pendeta tentu kami sudah mati dipancung kepala’. Tetapi saya menolak segala hadiah tersebut dan enggan saya menerimanya serta saya katakan: ‘bahwa kelepasan tersebut sebenarnya bukan karena kecakapan saya melainkan oleh tangan yang kuat dari Yang Mahakuasa di Surga. Umum telah maklum, siapakah kita ini, yang bisa hidup dan dapat luput dari kuasa tuan raja Buraen dan dari tangan tentara Dai Nippon kalau bukan pertolongan dari Maha Besar Tuhan, maka bukan saja saudara bertiga, tetapi mungkin sekali saya juga akan ikut binasa.”
    Setelah kejadian itu nampaknya hubungan pendeta Jacob dan sang Raja bertambah dekat. Pendeta Jacob diminta untuk menjadi penilik Sekolah Rakyat yang terlantar selama pendudukan Jepang. Ia mulai bertugas sejak 1 Agustus 1942. Para guru-guru telah melarikan diri karena ketakutan akan Jepang. Sang raja memberi perlindungan, rumah, kuda sebagai kendaraan bahkan pesuruh (arbeider) untuk mengunjungi sekolah-sekolah dan jemaat dan memberi laporan kepada sang Raja.

    Kolekte jemaat di pegang oleh sang raja untuk menjamin gaji para utusan injil dan pelayan. Buku kas dipegang oleh pendeta Jacob dan ditantangani oleh raja. Pendeta Jacob mengaku masih menyimpan buku kas pada masa pendudukan Jepang sebagai kenang-kenangan bagi sejarah gereja khusunya di Amarasi. Istana raja dipakai sebagai tempat kebaktian bahkan sampai setelah ia meninggal. Menurut Pendeta Jacob alasan dipakainya istana raja sebagai tempat kebaktian karena telah tersebar pamflet-pamflet sekutu di Amarasi yang intinnya menyatakan ancaman terhadap sang raja.

    “Beliau telah mengetahui bahwa ia akan mati oleh ancaman tersebut sebab itu setiap kali beliau mohon supaya ia sekeluarga didoakan, agar ia beroleh ketabahan iman menghadapi kemungkinan-kemungkinan sesuatu dengan ancaman pamflet Serikat yang tersebar di seluruh Amarasi,” tulis pendeta Jacob.

    Namun sebelum pihak Sekutu mendarat sang raja ditimba sakit keras. Di tengah sakitnya ia selalu meminta supaya Alkitab dibacakan baginya dan ia minta keampunan didoakan baginya. Sang raja meninggal pada 28 Oktober 1944 saat sedang mendengarkan pembacaan Alkitab yang ia mintakan.

    “Walaupun beliau adalah terhisab seorang raja yang besar kuasanya dan tidak terlawan pada waktu pendudukan Jepang dan banyak kali tidak hendak menghiraukan kehendak Allah, tetapi pada akhir-akhir hidupnya dapat ia mengaku seperti apa yang pernah dikatakan oleh Kaisar Julian yang murtad:”Bahwa pada akhirnya engkau juga yang menang Ya Yesus orang Nazareth!”

    Pendeta Jacob diminta oleh saudara almarhum H.A. Koroh untuk memimpin kebaktian penguburan yang berlangsung pada 29 Oktober. Ia memilih pembacaan Alkitab dari Keluaran 3:14. Dalam suratnya kepada pendeta Middelkoop ia juga menguraikan sedikit khotbahnya. Inti pesanya adalah “janganlah kamu takut, Aku ini ada beserta dengan kamu sampai kesudahan alam ini.” Itulah kalimat terakir khotbahnya. Rupanya tentara jepang bagian “Teketai” tersinggung dengan khotbah itu yang dianggap sebagai ejekan halus kepada tentara Jepang yang tak lama lagi akan menyerah kalah kepada pihak Sekutu. Untunlah beberapa tokoh turun tangan membela sang pendeta, antara lain I.H. Doko dan Komis Runtuwene yang menyatakan bahwa khotbah tersebut tidak mengandung politik melainkan pekabaran injil yang murni. Pendeta Jacob bebas dari kemarahan tentara Jepang.

    Pihak Sekutu mendarat hampir setahun kemudian yaitu pada 10 Oktober 1945. Sebelum meninggal sang Raja telah menyerahkan segala uang kolekte Jemaat kepada ketua Gereja N. Nisnoni. Nisnoni adalah Raja Kupang yang berkedudukan di Labat saat itu. Kas gereja ini diserahkan dengan perantaraan pendeta Jacob. Pendeta Jacob berkarya di Amarasi selama 16 tahun yaitu sejak 1 Juli 1932 sampai 1 Oktober 1948. Ia menutup suratnya dengan syukur:

    “Pada waktu pendudukan Jepang di Timor, banyak di antara kawan-kawan pendeta telah meninggalkan jemaatnya lantaran takut akan bahaya perang, tetapi syukur bahwa oleh perlindungan dan kemurahan dari pada Maha Besar Tuhan, saya sebagai gembala jumat di ressort Amarasi tetap bekerja di tempat saya di Oekabiti sampai dengan Serikat telah mendarat….untuk pekabaran gereja Tuhan yang bertanggungjawab.”

    Terima kasih pendeta Jacob. Namamu akan tercatat dalam sejarah Timor sebagai seorang gembala yang setia. Tulisan tanganmu yang bisa kami baca kembali hanya beberapa halaman, namun engkau telah mengisi sebagian besar buku hidupmu bersama umatmu dengan setia dan bertanggungjawab. Terima kasih opa Jacob!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s