Pantun-Pantun FutManu dari TTS (2)

Tarian Kreasi Baru dari Tarian Maekat & Bonet Dawan

Bag. Dua

2. Fautmetan.-TTS

46.  Muin metsini naika msi lala’a.
Orang muda Fatumetan jangan  menyanyi
Para Pemuda dari Fautmetan, bersungguh-sungguhlah dalam menyanyi.

Berarti: Tenangkanlah dirimu, dan pasanglah telinga baik2.

47.  Fe tatnin kolo kaE nakhe faijan.

Kita sedang mendengar kicauan burung pada malam hari.

Berarti: Dengarlah baik-baik! Ada orang yang berpantun.

48.  Na in he nka – kae ta tek sa.

Apakah yang dikatakannya ketika dia berkicau?

Berarti: Kepada siapakah  pantunnya diucapkan ?

49.  In he ntek bi Met nok lasi.

Dia mau menyebut  Fatumetan  dengan perkara.

Ia ingin menyebut Fautmetan yang bermasalah.

Berarti: Jika pantunnya ditujukan pada orang Fautmetan,

kita akan bertukar pikiran dengan dia.

50.  Na in he ntek bi Met nok fanu.

Ada alasan, mengapa dia menyebut Fautmetan.

Berarti: Ada maksud di balik pengucapan nama Fautmetan.

51.  Ka Fanu tsa seol loè puah.

Tidak masalah juga campur pinang.

Masalah itu bisa dicampurkan dalam penyuguhan sirih pinang.

Berarti: Adat berbalas-balasan dalam berpantun adalah biasa.

52.  Fut manbe kau au noè netu mela kau.

Tolong ikat ayamku, sungai dan bukit saya ada di mana-mana.

Berarti: Janganlah mencari-cari alasan agar kita bertengkar lewat pantun,

karena kita ini adalah satu suku bangsa.

  1. Loè puaha kau au oèl mela kau.

Suguhan pinang saja saya air darimana

Kepadaku disuguhkan hanya pinang. Darimanakah airku?

Berarti: Anda memberi kepadaku pinang. Apakah aku orang asing?

54.  Na hit bi tnaim mese lo Lut baun.

Karena kita semua bertetangga yaitu Benlutu  kecil.

Berarti: Kita semua berasal dari satu kampung yaitu kampung Benlutu.

55.  Na ho mit main luan bi Met nai kniti.

Ya, anda melihat sendiri. Kampung Fautmetan bertanah tandus.

Berarti: Anda tahu sendiri bahwa tanah Fautmetan tak mempunyai hasil.

56.  Na ho mit main bi met nuk le’uf.

Ya, anda melihat sendiri bahwa  tanah Fautmetan susah sekali.

Berarti: Anda tahu sendiri bahwa tanah Fautmetan tak mempunyai hasil.

57.  U tua´ san eu nai kniti´ tunan.

Saya berdiam di atas tanah yang tandus dan tidak subur.

Berarti : Saya salah memilih tempat tinggal yakni tanah tandus.

58.  Sen kuk opuah no mol ma nmaet.

Saya menanam pinang, tetapi hanya berdaun kuning dan akhirnya mati.

Berarti: Jika saya berusaha untuk berhasil, selalu saja gagal karena keadaan tanah.

59.  Sen kuk maonse  kakel noba taken.

Saya menanam  sirih, tetapi daunnya kuning dan akhirnya mati.

Berarti: Jika saya berusaha berhasil, selalu saja gagal karena keadaan tanah.

60.  Nah au aEn eik ko bi Met oE honis.

Wah, saya membawa lari engkau Fautmean, air hidup.

Berarti: Engkau tertipu, sebab Fatumetan berkelimpahan air.

61.  Na au u noup puah no maet ma nmoin.

Lalu saya menanam pinang yang hidup subur dan berdaun hijau.

Berarti:  Di Fatumetan saya bisa hidup baik dan makmur.

62.  Na au unoup manus no maet ma nmoin.

Lalu saya menanam sirih yang hidup subur dan berdaun hijau.

Berarti: Di Fatumetan saya bisa hidup baik.

63.  Na puah he nmoin kakole noba fuan.

Pinang sudah berbuah, walaupun masih pendek.

Berarti: Di sana orang mulai hidup makmur dan berkelimpahan.

64.  Na maunse nmoin nsaè take noba fuan.

Sirihpun hidup dan berbuah serta membungkus seluruh tiang penopang.

Berarti:  orang bisa mencapai kemakmuran hidup

65.  Na eut uteb hahaof Eu puah molo.

Ya, saya memberitahukan yang benar bahwa saya berlindung

di bawah pada buah pinang yang sudah menguning.

Berarti: Saya cukup kaya karena hasil yang diperoleh dari pohon-pohon pinang.

66.  Na eut uteb hahaof neu maun no silu.

Saya memberitahukan yang benar bahwa saya  berlindung di bawa pohon sirih,

yang berdaun rindang.

Berarti: Saya cukup kaya karena hasil dari pohon-pohon  sirih saya.

67.  Amneik kabi naika mfa fain fa fe.

Para pembawa tempat sirih,  jangan pulang duluan!

Berarti: Pembawa tempat sirih menanti dulu,

sebab saya ingin membalas pemberianmu.

68.  Na eib an molo u tua tao neu kabin.

Aku memetik  daun lantana untuk mengisi tempat sirihmu.

Berarti: Aku memberi yang sama seperti pemberianmu kepadaku.

69.  Na al an silu u tua tao neu kabin.

Aku memetik dedaunan untuk mengisi  tempat sirihmu.

Berarti: Aku membalas yang sama seperti pemberianmu kepadaku.

70.  Ok bah noni lali’ko ko mfain.

Tempat sirih berhias perak kukembalikan kepadamu.

Berarti: Tempat sirih bersulam perak bolehlah kembali karena sudah kuisi lagi.

71.  Ok bah noni mu li he mfain.

Anda harus mengembalikan tempat sirih bersulam perak.

Berarti: Tempat sirih berhias perak kukembalikan karena sudah kuisi lagi.

72.  Li ko mafain neu papne tfa.

Tetapi lalu dikembalikan ke tempat yang terbuat dari kayu di atas sana.

Berarti: Kalau dikembalikan, selalu di tempat yang sama tinggi seperti semula.

73.   Li ko mfain neu balan papne a tun.

Kalau tempat sirih itu dikembalikan, simpanlah di tempatnya di atas papan itu.

Berarti: Kalau dikembalikan selalu di tempat yang sama tinggi seperti semula.

74.   Na es nem nu nait ko kabin.

Bila orang datang berkunjung, barulah tempat sirih itu diambil.

Berarti: Jika ada tamu yang datang, barulah pantun itu diucapkan.

75.   Na es nem nu nait ko penit.

Bila orang datang berkunjung, barulah pengalas itu diambil.

Berarti: Jika ada tamu yang berkunjung, barulah pantun itu diucapkan.

(Bersambung)

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Desember 10, 2011, in Budaya, Puisi and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: