Menyimak Etika Altruistik: Utilitarianisme

Istilah “Utilitarisme” berasal dari kata Latin “utilis” yang berarti “berguna” atau “bermanfaat.” Utilitarisme merupakan suatu aliran/paham etika yang berpendapat bahwa baik-buruknya suatu tindakan ditentukanoleh kegunaan atau manfaat dari tindakan itu. Manfaat atau kegunaan yang dimaksud di sini ialah pengaruh perbuatan itu bagi si pelaku dan orang lain, baik langsung maupun tidak langsung. Norma dasar Utilitarisme berbunyi: “Bertindaklah selalu menurut kaidah sedemikian sehingga perbuatanmu membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi  sebanyak mungkin orang.”

Ada 2 masalah yang terkandung dalam norma dasar Utilitarisme. Pertama, apa yang dimaksudkan dengan ‘manfaat’ itu? Ada banyak pandangan tentang manfaat: ada yang menyamakannya dengan kesenangan (Hedonisme). Ada pula yang menyamakannya dengan kebahagiaan (Eudaimonisme). Ada pula yang melihat manfaat itu dalam kejamakan nilai yang terkandung dalam suatu tindakan (Pluralisme, entah ekonomis atau politis). Kedua, bagaimana “mengukur” manfaat yang sebesar-besarnya? Dalam kehidupan, ditemukan berbagai sikap dan criteria terhadap manfaat dari sesuatu. Ada orang yang menerima suatu tindakan sebagai baik dan normal, ada pula yang memandangnya sebagai kurang baik dan kurang pantas, ada pula yang melihatnya sebagai salah sama sekali.

  Tokoh-Tokoh Utilitarisme

Jeremy Bentham, by Henry William Pickersgill (...

Jeremy Bentham

Jeremy Bentham (1748-1832) berpendapat bahwa nilai moral suatu perbuatan harus ditentukan dengan mempertimbangkan kegunaannya untuk mencapai kebahagiaan umat manusia. Prinsip kegunaan Bentham berbunyi: “Bertindaklah sedemikian sehingga tindakan itu membawa kegunaan terbesar bagi jumlah terbesar orang.” Prinsip kegunaan ini harus diterapkan secara kuantitaif karena qualitas kesenangan selalu sama kapan dan di mana saja. Dalam bukunya Introduction to the Principles of Morals and Legislation (1789) Bentham membuat suatu “Hedonistic Calculus” untuk mengukur bersarnya manfaat suatu tindakan. Ia menggunakan 7 kriteria sebagai quantitative untuk mengukur manfaat yang hendak dicapai oleh suatu tindakan:

1. Intensity                  5. Fecundity

2. Duration                  6. Purity

3. Certanty                  7. Number of people involved

4. Propinquity (Jauh-dekatnya kegunaan itu bagi banyak orang).

Perhitungan ini akan menghasilkan suatu saldo positif jika kredit (kegunaan yang mendatangkan kesenangan) secara quantitative melebihi debetnya (ketidaksenangan yang dihasilkan oleh suatu tindakan). Akan tetapi cara perhitungan quantitative manfaat suatu tindakan ternyata kurang meyakinkan. Contoh: Apakah nonton film selama 1 jam lebih berguna ataukah studi filsafat selama 30 menit ataukah makan di restoran selama 15 menit?

John Stuart Mill

John Stuart Mill

John Stuart Mill (1806-1873) mengemukakan beberapa pokok pikiran mengenai kegunaan suatu tindakan sbb: 1) Dalam mengukur kegunaan dan kebahagiaan unsur qualitas pun harus turut dipertimbangkan.2) Kegunaan yang menjadi norma etis adalah kegunaan yang didatangkan suatu tindakan bagi banyak orang dan bukan hanya 1 orang saja. Ini berarti kepentingan dan kebahagiaan satu orang tidak pernah boleh dianggap lebih penting daripada kepengtingan orang banyak. Suatu perbuatan dianggap baik bila kebahagiaan yang dihasilkannya bagi semua orang yang terlibat di dalamnya melebihi ketidak bahagiaan, dihitung dengan cara yang sama.

Pandangan Kritis Atas Utilitarisme

1. Jasa Utilitarisme

Utilitarisme cukup berjasa dalam mengembangkan kehidupan etika. Jasanya yang pertama ialah penegasannya atas sifat rasional dari etika. Manusia tidak pernah boleh taat kepada peraturan demi peraturan itu, melainkan demi tujuan dan manfaat yang dapat dipertanggunjawabkan secara rasional. Contoh: berbohong adalah suatu tindakan yang buruk secara moral. Tapi demi keselamatan nyawa seseorang, atau demi meredakan massa yang sedang beringas, saya boleh berbohong.

Oleh karena sifat rasionalnya, Utilitarisme sering dipraktekkan Pemerintah dalam mengambil keputusan-keputusan politik dan ekonomi, entah mereka memahami paham etika atau tidak. Misalnya Pemerintah merencanakan untuk membangun sebuah pabrik semen. Tempatnya di Surabaya atau di Maumere? Faktor yang paling menentukan keputusan Pemerintah seringkali ialah “manfaat sebesar-besarnya bagi sebanyak mungkin orang” dan dengan korban sekecil mungkin.

Jasa Utilitarisme yang kedua ialah ajarannya atas universalitas nilai etis tindakan manusia. Manfaat yang harus diperhatikan bukan hanya manfaat bagi pelaku sendiri, tetapi manfaat bagi sebanyak mungkin orang yang dipengaruhi oleh tindakan itu. Ini berarti setiap orang harus memperhitungkan akibat atau dampak perbuatannya bagi orang lain. Etika Utilitarisme secara sangat eksplisit menuntut tanggungjawab terhadap sesama.

2.  Kekurangan Utilitarisme

Kekurangan pertama terletak dalam pandangannya yang tidak terlalu jelas tentang manfaat atau nilai-guna suatu tindakan. Manfaat itu dapat dipahami secara berbeda-beda oleh para penganutnya sebagai kesenangan (Hedonisme), sebagai kesenangan (Eudaimonisme) atau sebagai aneka manfaat (Pluralisme) seperti nilai politis dan ekonomis. Ketidakjelasan ini mengakibatkan bahwa istilah ‘manfaat’ atau ‘kegunaan’ dipakai untuk pelbagai kepentingan, termasuk yang bisa merugikan banyak orang.

Kekurangan kedua berkaitan dengan keadilan dan hormat terhadap hak-hak azasi manusia. Dengan menekankan prinsip “manfaat sebesar-besarnya bagi jumlah terbesar orang” sudah bisa dibayangkan bahwa selalu akan ada orang yang dikorbankan. Kasus Kedungombo, penggusuran becak dari Jakarta, pengembangan kota AMDAL yang mencakupi, dll. demi kepentingan bagi banyak orang. Tapi siapa peduli nasib mereka yang tergusur atau harus menanggung ekses dari keputusan itu? Apakah “Petrus” diperbolehkan demi keamanan dan ketertiban masyarakat luas? Apakah orang yang sudah tidak produktif bisa dihabiskan?

Karena berbagai kekurangan di atas, Utilitarisme harus dilengkapi dengan prinsip keadilan yaitu memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya.

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Desember 12, 2011, in Filsafat and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: