Etika Libertinian: Eksistensialisme Humanistis

1. Asumsi Dasar

Suatu perbuatan disebut etis atau Bermoral bila pelakunya bertindak bebas. Nilai moral tindakan kita yang bebas menentukan apakah kita telah menggunakan kebebasan kita dengan baik. Di sini kebebasan merupakan kondisi yang harus ada dalam setiap tindakan etis.

Etika Libertinian menegaskan bahwa kebebasan bukan hanya merupakan kondisi yang perlu bagi tindakan etis, tetapi terutama merupakan sumber dari norma moral. Sebagai sumber nilai, kebebasan lalu menjadi hakim atas apa yang baik dan apa yang buruk. Derajad determinasi diri menjadi ukuran bagi nilai moral tindakan kita. Singkatnya, kebebasan adalah sumber nilai. Bahkan kebebasanlah yang menciptakan nilai.

2. Tokoh-Tokoh Terkemuka

Friedrich Nietsche (sekitar 1875).

Friedrich Nietzsche

Friedrich W. Nietzsche (1844-1900) yang dikenal juga sebagai seorang exponent Eksistensialisme membedakan antara kelompok Aristokrat (orang bebas yakni bangsawan dan majikan yang memiliki “Moralias Tuan” dan kelompok para Budak (“Moralitas Budak”. Para bangsawan dan majikan berhak menciptakan nilai-nilai. Nietzsche meremehkan moral social yang hanya cocok untuk para kawanan dan para budak. Hanya manusia bebas yang dapat memberi makna dan nilai kepada hidupnya.

 

Albert Camus

Albert Camus

Albert Camus (1913-1960) mengembangkan pandangan etisnya dengan bertolak dari prinsip bahwa dunia ini bersifat absurd, dalam arti irrational, tidak dapat dipahami, tidak berguna dan hampa karena ditakdirkan untuk berakhir dalam kematian. “Karena itu hanya ada satu masalah serius dalam filsafat yaitu bunuh diri.” Hidup berarti membiarkan absurditas tetap berlangsung. Untuk mengatakan bahwa hidup itu absurd, kesadaran perlu aktif. Hanya kehendak bebas dapat memberi makna dan nilai kepada hidup yang pada dirinya sendiri tidak memiliki nilai apa-apa. Tindakan bebas disertai pemberontakanlah yang memberi nilai kepada hidup.

Dari premis-premis filosofis di atas timbullah sikap etis Camus: terhadap keputusasaan yang menyerbu jiwa di depan absurditas, manusia harus memberontak. Jika absurditas menghapus semua kemungkinan untuk bebas, saya harus meningkatkan kebebasan bertindak. Juga bunuh diri itu harus ditolak karena itu berarti menerima keterbatasan diri. Jadi untuk Camus, satu-satunya nilai moral adalah kebebasan yang memberontak terhadap absurditas (rasa sakit, kejahatan, ketidakadilan, dsb.) dan memberi makna kepada hidup.

Jean-Paul Sartre (um 1950)

Jean Paul Sartre

Jean Paul Sartre (1905-…) adalah filsuf yang mengembangkan Thesis tentang kebebasan yang menciptakan nilai. Juga bagi Sartre, dunia adalah absurd. Segala sesuatu yang ada lahir tanpa alasan, tetap bertahan karena kelemahan dan akan mati karena kebetulan. Terhadap absurditas mutlak ini kehendak bebas dapat memberi makna yang diinginkan. Hidup tidak memiliki nilai a priori. Manusia bertugas untuk memberi arti kepada hidup. Tak ada nilai moral objektif, universal dan absolute. Manusia memilih moralitasnya sendiri. Yang penting pilihan itu bebas, yakni bersifat otentik, jelas dan lepas dari konformisme dan determinasi. Kebebasan adalah dasar dari semua nilai.

3. Penilaian Kritis

3.1 Aspek Positif

1. Eksistensialisme Humanistis menjunjung tinggi martabat  manusia, persona sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Manusia yang dewasa secara moral bersikap antikonformistis, antihipokrisi dan secara batiniah bebas dan bertanggungjawab.

2. Pandangan Eksistensialisme humanistis menggarisbawahi nilai-nilai yang khas bagi moralitas seperti kejujuran, otentisitas, kemandirian, keberanian, dst. Pilihan etis akan semakin otentik bila semakin matang dalam arti bebas dari pengaruh-pengaruh yang bersifat heteronom (heteros = dari luar; nomos = hukum).

3. Juga tema tentang pemberontakan yang dimurnikan dari segala unsure yang merusak memiliki nilai posetif. Semua orang mempunyai kewajiban untuk melawan semua malapetaka yang diakibatkan oleh alam maupun kesalahan pribadi dan ketidakadilan social.

4. Tema kebebasan yang menciptakan nilai juga benar sejauh menciptakan itu berarti menemukan nilai-nilai baru dan bukan berarti mencipta dari ketiadaan. Misalnya tatapan mata seorang fakir miskin yang saya tolong adalah tatapan mata seorang manusia yang dihina orang lain, yang martabatnya terluka, suatu pandangan yang meminta bukan hanya bantuan materiil semata tapi terlebih simpati manusiawi. Jadi di sini ada suatu penemuan nilai baru dalam pelaksanaan kebebasan. Fransiskus Asisi dengan kehidupan radikal yang dipilihnya telah menciptakan nilai baru, yaitu kemiskinan total yang sangat berbeda dari cara hidup yang diidamkan oleh masyarakat sejamannya.

3.2 Aspek Negatif

Meski mengandung berbagai aspek positif seperti tercantum di atas, namun pandangan tentang kebebasan yangmenciptakan nilai harus ditolak karena tidak cocok dengan analisis atas data fenomenologi kesadaran moral.

  1. Kehendak secara aktif terarah kepada objek-objek, nilai dan kebaikan yang mengatasi dirinya. Kebebasan yang sewenang-wenang tidak bisa dipahami. Intensionalitas, entah di bidang nilai (etika) ataupun di bidang pengetahuan, selalu mengandaikan hubungan yang tak terhapuskan antara kutub subjektif dan kutub objektif. Kebebasan mutlak bertentangan dengan data kesadaran moral ini.

2. Kebebasan juga mengandung unsure rational. “Dasar dari kebebasan adalah ratio,” demikian penegasan St. Thomas Aquinas. Karena itu kebebasan yang sewenang-wenang justru bersifat irrational dan karena itu tidak manusiawi. Suatu kebebasan yang tidak terarah kepada suatu nilai apapun tidak akan bernilai. Seandainya segala sesuatu bersifat absurd, atas dasar apa saya berjuang melawan absurditas (kejahatan, ketidakadilan, penindasan, dsb.)?

3. Kebebasan juga dibatasi oleh nilai-nilai seperti kejujuran, kesetiaan, keberanian, kemurnian batin, dsb.

4. Kriteria mutlak hidup moral bukanlah kehendak bebas yang menciptakan nilai-nilai dan sewenang-wenang, melainkan subjek dalam keutuhan dan kepenuhan martabatnya sebagai manusia. Kelemahan Eksistensialisme humanistis terletak dalam hal tidak menjunjung tinggi martabat manusia, pengembangan diri dan otonomi persona, tapi dalam pandangannya yang mengabsolutkan hanya aspek subjektif dari persona manusia, yaitu kehendak bebas. Padahal martabat manusia adalah sekaligus suatu realitas subjektif dan objektif dan merupakan nilai ontologism tertinggi dalam dunia ciptaan.

5. Tradisi Skolastik membedakan 3 macam kebebasan: a). Libertas a coactione, yaitu kebebasan dari segala macam paksaan yang berasal dari luar. Kebebasan ini misalnya tidak dimiliki oleh seorang narapidana dan budak. Kebebasan ini sama dengan kebebasan social politik yaitu kemampuan dan kemungkinan untuk bertindak tanpa dihalangi oleh suatu paksaan dari luar. b). Libertas a necessitate yaitu kemampuan untuk menentukan diri sendiri secara otonom dalam arti memilih tanpa suatu paksaan batiniah berdasarkan motif tertentu (rasional intelektual) atau kondisi tertentu (psikis, ekonomis, social politik) yang mengarahkan dengan keharusan. Kebebasan dalam arti ini disebut juga Liberum arbitrium yaitu kemampuan kehendak untuk bersikap aktif dalam berhadapan dengan motif-motif dan nilai-nilai yang membimbing seseorang dalam bertindak. c). Libertas a peccato yaitu kebebasan yang meliputi baik kemampuan menentukan diri kea rah kebaikan dan nilai sejati. Kebebasan ini merangkum dan serentak mengatasi 2 kebebasan pertama di atas. Orang yang bebas dalam arti ini melakukan yang baik bukan karena paksaan dari luar atau dari dalam diri atau untuk menegaskan diri, melainkan karena cinta akan kebaikan dan nilai pada dirinya sendiri, bukan demi kepentingan diri sendiri.

Kekeliruan Eksistensialisme humanistis terletak dalam kenyataan bahwa ia tidak membedakan kebebasan dalam arti libertas a necessitate dan kebebasan dalam arti libertas a peccato di atas dan menganggap kebebasan jenis libertas a necessitate sebagai perwujudan paling sempurna dari kehendak manusia.

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Desember 13, 2011, in Filsafat, Moral and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: