Remy Silado & Refleksi tentang Perempuan (Tentang Salah Satu Penulis Favoritku)

Remy Sylado, pernah menganjurkan pemakaian kata Cina, daripada Tionghoa

Saya mengenal Remy Silado setelah membaca novelnya Kembang Jepun. Sejak saat itu tak satu pun karya terbarunya yang kulewatkan. Menurut saya yang menarik dari Remy Silado adalah refleksinya tentang keperempuanan. Untuk hal ini dia bisa dikategorikan sebagai seorang feminis tanpa perlu terjebak dalam kesalahpahaman gender. Ia melukiskan perempuan sebagaimana adanya, yang kadang cenderung dihindari oleh kaum feminis.

Refleksinya tentang perempuan ini bisa jadi bersumber dari devosinya yang besar kepada Perawan Maria. Sebagai orang katolik, jebolan Mertoyudan, kehidupan Remy Silado dipersembahkan seutuhnya kepada Perawan Maria, demikian kesaksian Raymond Toruan, wartawan senior dan Pemred Majalah Hidup.  Yang menarik, masih menurut Raymond, sampai sekarang, Remy masih tekun menggunakan mesin tik. Beratus-ratus halaman novelnya terbentuk melalui ketukan-ketukan mesin tik saban hari. Baginya, tiada hari tanpa menulis.

Ketika googling, saya menemukan artikel berikut yang saya pikir bermanfaat untuk dibagi-bagikan kepada pembaca sekalian. Ini dia artikelnya:

Remy Silado: Novel sebagai Medan Pertanggungjawaban

Prayojana. Tenahak. Bernudub. Gancang-gancang. Slilit. Kata-kata ‘antik’ semacam itu bersembulan dalam Kerudung Merah Kirmizi. Untunglah, berkat kelincahan bercerita sang pengarang, kehadirannya tidak mengganggu kenikmatan membaca novel tebal itu. Syukur-syukur malah merangsang kemelitan, mendorong kita membuka-buka kamus, mencari tahu artinya.

Dengan novel itu, Remy Silado dianugerahi Hadiah Sastra Khatulistiwa 2002. “Bagiku novel itu merupakan medan pertanggungjawaban iman. Dan sebagai orang beriman, aku ingin mengutarakan betapa banyak orang tak sempurna yang mesti mengakui kesempurnaan Allah. Manusia harus berbuat baik. Dan ending novel itu memberikan penghiburan dan pengharapan kepada pembaca. Jadi kalau juri memenangkan novel itu, aku berpikir orang-orang yang kebanyakan tak sepaham denganku telah memberikan penghargaan kepada pentingnya penghiburan dan pengharapan dalam sebuah novel,” ujarnya menyambut kemenangan tersebut.

Ia juga meyakini peran sastra sebagai pembawa suara kenabian. ”Sekarang sudah tidak ada nabi. Para sastrawanlah yang harus menggantikan. Memang berat. Namun bakat itu karunia ilahi, bukan kutukan dewata. Ia harus didayagunakan untuk mengobati masyarakat. Sastrawan jangan asyik tidak bertanggung jawab terhadap karunia ilahi yang telah dimiliki. Sastrawan harus mengarahkan masyarakat,” paparnya dalam sebuah wawancara.

Selain piawai mengolah kata-kata, pengarang yang masih menulis karya-karyanya dengan mesin ketik ini juga kerap menggarap tema dan latar budaya yang masih jarang disentuh. Pria Minahasa kelahiran Malino, Makassar, 12 Juni 1945 ini banyak melahirkan karya berlatar budaya di luar budayanya. Ca-Bau-Kan, Siau Ling dan Sam Pho Kong berlatar budaya Tionghoa. Parijs van Java menampilkan kehidupan zaman kolonial Belanda di Bandung. Kembang Jepun bercerita tentang rumah pelacuran di Surabaya yang dibangun oleh orang Jepang.

Tentang minat menggali budaya Tionghoa ini, ia menjelaskan, “Barangkali kita harus melihat dulu bahwa Cina harus diterima sebagai bagian dari kebhinekaan, lepas dari apakah mereka secara langsung melibatkan diri dalam kepentingan gerakan kebangsaan. Sebagai kenyataan, mereka ada bersama-sama dengan kita. Bahwa mereka tercerabut dari kita, itu persoalan kedua, yang seharusnya (relasi-relasi sosialnya) dibina kembali agar mereka terlibat dalam rasa senasib sepenanggungan dengan pribumi.”

Penulisan novel-novelnya didukung dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Seniman serba bisa ini (ia juga mahir melukis dan bermusik) rajin ke Perpustakaan Nasional untuk membongkar-bongkar arsip-arsip tua, dan juga menelusuri pasar buku tua. Untuk Sam Pho Kong, misalnya, ia memakai sekitar 30 acuan. Kisah tokoh itu sendiri telah dikenalnya sejak kecil karena sering menonton wayang Cina di Semarang.

Di luar kegiatan penulisan kreatif, penulis bernama asli Yapi Tambayong ini juga kerap diundang berceramah teologi. Secara khusus ia menekuni teologi kontekstual dan teologi apologetik.

Dalam film Chariots of Fire, ayah Eric Liddell mengatakan, “Engkau dapat memuji Tuhan dengan mengupas kentang, asalkan engkau mengupasnya dengan sebaik-baiknya.” Dengan kiprahnya sejauh ini, Remy Silado memperlihatkan betapa ia telah mengasah tajam-tajam ‘pisau’ kesenimannya untuk menyampaikan pertanggungjawaban iman. ***

Sumber: http://www.oocities.org/denmasmarto/artikel51.htm

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Desember 17, 2011, in Refleksi, SASTRA and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: