Tradisi HAU PINA’ : Natal dan Silang Budaya Kota Kupang

natal

Ilustrasi by Celso Tissot via Flickr

Hau Pina adalah terjemahan dari kata Pohon Terang. Yakni Pohon Natal itu sendiri. Dalam tradisi kristen Reformasi, Natal identik dengan pohon terang itu sendiri. Bermula dari Martin Luther yang mengawali kebiasaan membuat pohon terang untuk merayakan Natal. Hingga kini, dekorasi natal yang bisa terlihat di rumah-rumah keluarga kristen adalah pohon natal warnawarni.

Orang-orang Kristen di Kota Kupang dan sekitarnya (mayoritas pemeluk Kristen Reformasi atau Protestan) mengenal perayaan Natal dengan nama Hau Pina. Ini adalah perayaan paling meriah (dari segi tradisi, bukan secara teologis). Keluarga-keluarga berkumpul di sekeliling hau pina, berdoa dan melantunkan puji-pujian, lalu bersalam-salaman dan makan minum bersama-sama.

Hau Pina ini biasanya dibuat dari ranting cemara. Kebanyakan lebih suka memakai sejenis tumbuhan mirip agave/serat sisal. Dengan pertimbangan kemudahan menacapkan batang-batang lilin pada pohon tersebut. Pokok pohon itu lunak, mirip pohon pisang, sehingga mudah menancapkan hiasan-hiasan natal. O ia, sampai sekarang pohon sejenis serat agave itu dengan enteng disebut Hau Pina, meski dalam keadaan aslinya di alam liar, bukan sebagai pohon terang.

Ketika teknologi semakin canggih, Hau Pina sekarang dengan mudah dibeli di toko-toko, berbagai ukuran dari yang muat di atas meja kerja hingga yang khusus untuk di pajang di taman.  Sebagaimana yang bisa di amati di Kota Kupang dan sekitarnya, Hau Pina sudah menjulang di mana-mana, menanti hari H ketika benar-benar menyimbolkan Kristus sebagai Pohon Terang.

Mudah-mudahan kehadiran Pohon Terang di Kota Kupang dan sekitarnya ini benar-benar menyimbolkan kehadiran Kristus sebagai terang, bukan saja ekslusif bagi orang Kristen di Kupang, namun bagi setiap orang yang kita temui dalam keseharian kita. Hidup Pohon Terang, Hidup Hau Pina! Palate….!

 

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Desember 20, 2011, in Budaya. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: